27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Krisna Aji by Krisna Aji
January 23, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

“Kapankah saya akan sembuh?”

Itu adalah pertanyaan yang sering terlontar dari pasien di praktik klinis. Hal yang sangat wajar diutarakan pasien di semua bidang kedokteran. Munculnya pertanyaan ini berakar dari tujuan utama pasien datang ke praktik dokter, yaitu mencari kesembuhan.

Jawabannya tentu sangat tergantung pada kondisi medis dan penyakit yang diderita. Tingkat kesulitan untuk memprediksi waktu juga akan sangat tergantung dari variabel tersebut. Berdasarkan pengalaman saya yang sangat sedikit sebagai generalis—karena hanya 3 tahu—yang pernah bekerja sebagai dokter umum sebelum masuk ke dunia yang lebih sempit, penyakit-penyakit fisik yang jelas penyebab dan terapinya memang akan lebih mudah untuk ditebak waktu kesembuhannya.

Misalkan, cukup mudah dalam memprediksi waktu penyembuhan luka sobek pada kulit untuk memperkirakan waktu melepaskan jahitan, atau prediksi lama penyembuhan infeksi dengan antibiotik sederhana untuk memperkirakan lama waktu yang dibutuhkan untuk konsumsi antibiotik agar terhindar dari resistensi antibiotik. Dengan catatan, tidak ada variabel lain yang memperburuk keadaan seperti diabetes, masalah pembekuan darah, penyakit autoimun, atau banyak hal lainnya.

Kesulitan memprediksi waktu kesembuhan akan semakin meningkat saat variabel lain yang perlu diperhitungkan semakin banyak. Kesulitan tersebut tetap terjadi walau semua variabel yang memengaruhi dapat dihitung dengan statistik. Dengan variabel yang dapat dihitung saja masih mungkin memunculkan kesulitan, bagaimana jika sebagian dari variabel tersebut bersifat kualitatif dan tidak bisa dipaksa untuk diwakilkan dengan angka?

Kesulitan secara nyata terjadi pada bidang psikiatri yang sebagian dari pendekatannya bersifat kualitatif. Dikatakan sebagian karena masih ada variabel terukur dari psikiatri yang bersifat biologis seperti tubuh, otak, atau respons terhadap obat yang penilaiannya dapat dihitung. Tetapi, tetap saja psikiatri perlu memandang manusia seutuhnya dari sisi yang lebih luas dari pada sekadar hal-hal yang dapat diukur. Seperti perasaan, pikiran, kesadaran, dan hal-hal lain yang membentuk pengalaman subjektif yang unik yang tidak dapat disamakan dengan manusia lainnya.

Lalu, bagaimana cara menjawab jika pertanyaan tersebut terlontar di ranah psikiatri?

Jawaban yang paling memuaskan biasanya hanya berdasarkan statistik dari lama pemberian obat. Misalkan saja, pengobatan depresi atau cemas dengan obat tipe selective serotonine reuptake inhibitor (SSRI) memerlukan rata-rata waktu paling cepat 6 bulan. Itu pun sering kali meleset. Di praktik klinis yang pernah saya tangani, ada yang lebih cepat dari itu—dengan tambahan sesi psikoterapi yang dijadwalkan secara eksklusif dan rutin—tetapi ada pula yang lebih lama hingga membutuhkan waktu tahunan. Dengan realita tersebut, jawaban pragmatis dari pertanyaan tersebut adalah: tidak bisa diprediksi dengan pasti.

Pertanyaan yang sama pernah diajukan oleh teman saya saat kami masih sama-sama menjadi residen psikiatri. Latar waktu dan tempat perbincangan tersebut terjadi di warung nasi bungkus dekat RSUP Sanglah—saat ini bernama RSUP Prof. Ngoerah—sehingga arah diskusi menjadi lebih lentur dan bisa dibawa sesuka hati. Karena kelenturan tersebut, saya mencoba memandang dari sisi filosofis yang nilai kebenarannya bisa didebat. Pandangan ini juga terkesan agak tangensial, berputar, tetapi masih terikat benang merah dengan fokus diskusi utama.

Baik. Mari kita mulai.

Jika pertanyaannya adalah “Kapan saya akan sembuh”, jawabannya adalah: tidak ada yang pasti. Dengan dasar argumentasi seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Tetapi, bagaimana jika pertanyaannya digeser menjadi “Akankah saya sembuh?”.

Jawaban atas pertanyaan tersebut kurang lebih mirip dengan jawaban atas pertanyaan pertama. Akan ada banyak sekali variabel yang memengaruhi kesembuhan total dari seseorang yang mengalami masalah mental.  Hal ini secara spesifik juga pernah terjadi pada perdebatan peneliti akan pertanyaan “Akankah pasien dengan bipolar minum obat seumur hidup?” Sudut pandang yang berdasarkan penelitian terhadap kasus bipolar tersebut pun pada akhirnya berujung pada dua kubu bersebarangan: perlu minum obat seumur hidup atau tidak; emosi benar-benar terkontrol dengan terus konsumsi obat atau pada akhirnya tetap dapat stabil dengan bebas obat; masalah mental akan menetap atau tidak.

Munculnya gangguan mental yang relatif menetap terjadi karena pergantian sel lama dengan yang baru dan berkelanjutan dari otak–sering disebut dengan neuroplastisitas. Pada dasarnya, restrukturisasi berkelanjutan dari otak dapat mengarah ke hal baik atau pun buruk, tergantung dari bagaimana arah pertumbuhan tersebut digiring. Jika dipupuk dengan baik, neuroplastisitas akan tumbuh ke arah yang sehat. Sebaliknya, jika terjadi gangguan dan tidak dibenahi, neuroplastisitas akan bertumbuh ke arah negatif lalu menghasilkan masalah mental.

Neuroplastisitas paling banyak terjadi di masa remaja. Di masa itu, secara masif terjadi penggantian sel-sel otak baru dan hanya menyisakan setengah sampai dua per tiga dari sel – sel lama yang sudah ada sejak masa kanak. Saat masalah psikis terjadi di usia itu, maka sel buruk sebagai akibat dari tekanan psikis akan muncul dalam jumlah besar sebagai sel baru yang menggantikan sel lama. Restrukturisasi di masa itu akan membuat masalah mental relatif bertahan jika dibandingkan dengan adanya masalah di usia selanjutnya. Penyembuhannya pun akan lebih sukar saat dilakukan di usia yang lebih tua karena menurunnya persentase pergantian sel baru.

Ada beberapa kasus di mana penyembuhan dapat berjalan dengan sempurna sehingga pasien dapat bebas obat dan lepas dari psikoterapi psikiaternya. Hal tersebut disebabkan bekas trauma pada neuroplastisitas masih bisa diubah dan ada usaha yang konsisten untuk mengubah kesehatan psikis yang pada akhirnya memengaruhi penggantian sel baru yang lebih baik. Waktu yang diperlukan pun tergantung dari besarnya trauma psikis yang terjadi dalam neuroplastisitas otak. Banyak masalah psikis yang berdampak pada neuroplastisitas yang relatif permanen walau sudah diterapi dengan maksimal. Hal tersebut sering menyebabkan tahap maksimal dari penyembuhan hanya berada pada terapi obat seumur hidup.

Dari berbagai hal yang telah disebutkan, kesembuhan bukan sesuatu yang pasti, tapi lebih ke sesuatu yang “mungkin” terjadi. Tetapi, jika kita kerucutkan lagi pada kemungkinan pasien yang pada akhirnya sembuh, apakah kesembuhan paripurna benar-benar terjadi?

Cara memandang hal ini tentu agak berbeda jika dibandingkan dengan melihat penyakit fisik. Pada penyakit fisik, kembalinya tubuh ke fungsi optimalnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa kesembuhan sudah tercapai. Untuk masalah mental, parameternya bisa jadi lebih kompleks.

Memang benar bahwa seseorang dikatakan sehat secara mental jika sudah mampu merasa nyaman dengan diri sendiri, mengenali potensi diri, dapat menerima realita dan orang lain apa adanya, produktif, dan mampu mengatasi stres sehari – hari. Ukuran dari sehat mental cukup jelas di situ. Tetapi, bagaimana jika kita melihat dari peningkatan kesehatan mental seseorang yang tidak memiliki ujung?

Maksudnya begini. Saat hari ini, secara mental seseorang sudah lebih baik dari hari sebelumnya, bukankah kondisi hari ini dapat dikatakan berada di posisi “sehat” dan di hari sebelumnya orang tersebut dikatakan lebih “sakit” dari sekarang? Jika kita teruskan lagi, saat hari ini kondisi mental benar-benar bagus dan tidak ada satu pun masalah signifikan yang muncul, kemudian di hari berikutnya orang tersebut bertumbuh menjadi lebih baik, bukankah kondisi hari ini relatif lebih “sakit” dibandingkan hari berikutnya?

Lalu, jika dalam ranah psikiatri, bagaimana cara menjawab pertanyaan – pertanyaan pasien tersebut? Kapankah saya akan sembuh? Atau, apakah saya bisa sembuh? Sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, saya pun tidak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa berkelit dan bersembunyi di balik jawaban filosofis yang tak berisi. Jawaban berbentuk pertanyaan yang membuka celah diskusi baru bagi hubungan dokter-pasien:

“Bahkan, jika manusia terus tumbuh ke arah yang lebih baik, apakah manusia pernah benar-benar berada di posisi sembuh yang absolut?” [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah

Next Post

Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co