23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Krisna Aji by Krisna Aji
January 23, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

“Kapankah saya akan sembuh?”

Itu adalah pertanyaan yang sering terlontar dari pasien di praktik klinis. Hal yang sangat wajar diutarakan pasien di semua bidang kedokteran. Munculnya pertanyaan ini berakar dari tujuan utama pasien datang ke praktik dokter, yaitu mencari kesembuhan.

Jawabannya tentu sangat tergantung pada kondisi medis dan penyakit yang diderita. Tingkat kesulitan untuk memprediksi waktu juga akan sangat tergantung dari variabel tersebut. Berdasarkan pengalaman saya yang sangat sedikit sebagai generalis—karena hanya 3 tahu—yang pernah bekerja sebagai dokter umum sebelum masuk ke dunia yang lebih sempit, penyakit-penyakit fisik yang jelas penyebab dan terapinya memang akan lebih mudah untuk ditebak waktu kesembuhannya.

Misalkan, cukup mudah dalam memprediksi waktu penyembuhan luka sobek pada kulit untuk memperkirakan waktu melepaskan jahitan, atau prediksi lama penyembuhan infeksi dengan antibiotik sederhana untuk memperkirakan lama waktu yang dibutuhkan untuk konsumsi antibiotik agar terhindar dari resistensi antibiotik. Dengan catatan, tidak ada variabel lain yang memperburuk keadaan seperti diabetes, masalah pembekuan darah, penyakit autoimun, atau banyak hal lainnya.

Kesulitan memprediksi waktu kesembuhan akan semakin meningkat saat variabel lain yang perlu diperhitungkan semakin banyak. Kesulitan tersebut tetap terjadi walau semua variabel yang memengaruhi dapat dihitung dengan statistik. Dengan variabel yang dapat dihitung saja masih mungkin memunculkan kesulitan, bagaimana jika sebagian dari variabel tersebut bersifat kualitatif dan tidak bisa dipaksa untuk diwakilkan dengan angka?

Kesulitan secara nyata terjadi pada bidang psikiatri yang sebagian dari pendekatannya bersifat kualitatif. Dikatakan sebagian karena masih ada variabel terukur dari psikiatri yang bersifat biologis seperti tubuh, otak, atau respons terhadap obat yang penilaiannya dapat dihitung. Tetapi, tetap saja psikiatri perlu memandang manusia seutuhnya dari sisi yang lebih luas dari pada sekadar hal-hal yang dapat diukur. Seperti perasaan, pikiran, kesadaran, dan hal-hal lain yang membentuk pengalaman subjektif yang unik yang tidak dapat disamakan dengan manusia lainnya.

Lalu, bagaimana cara menjawab jika pertanyaan tersebut terlontar di ranah psikiatri?

Jawaban yang paling memuaskan biasanya hanya berdasarkan statistik dari lama pemberian obat. Misalkan saja, pengobatan depresi atau cemas dengan obat tipe selective serotonine reuptake inhibitor (SSRI) memerlukan rata-rata waktu paling cepat 6 bulan. Itu pun sering kali meleset. Di praktik klinis yang pernah saya tangani, ada yang lebih cepat dari itu—dengan tambahan sesi psikoterapi yang dijadwalkan secara eksklusif dan rutin—tetapi ada pula yang lebih lama hingga membutuhkan waktu tahunan. Dengan realita tersebut, jawaban pragmatis dari pertanyaan tersebut adalah: tidak bisa diprediksi dengan pasti.

Pertanyaan yang sama pernah diajukan oleh teman saya saat kami masih sama-sama menjadi residen psikiatri. Latar waktu dan tempat perbincangan tersebut terjadi di warung nasi bungkus dekat RSUP Sanglah—saat ini bernama RSUP Prof. Ngoerah—sehingga arah diskusi menjadi lebih lentur dan bisa dibawa sesuka hati. Karena kelenturan tersebut, saya mencoba memandang dari sisi filosofis yang nilai kebenarannya bisa didebat. Pandangan ini juga terkesan agak tangensial, berputar, tetapi masih terikat benang merah dengan fokus diskusi utama.

Baik. Mari kita mulai.

Jika pertanyaannya adalah “Kapan saya akan sembuh”, jawabannya adalah: tidak ada yang pasti. Dengan dasar argumentasi seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Tetapi, bagaimana jika pertanyaannya digeser menjadi “Akankah saya sembuh?”.

Jawaban atas pertanyaan tersebut kurang lebih mirip dengan jawaban atas pertanyaan pertama. Akan ada banyak sekali variabel yang memengaruhi kesembuhan total dari seseorang yang mengalami masalah mental.  Hal ini secara spesifik juga pernah terjadi pada perdebatan peneliti akan pertanyaan “Akankah pasien dengan bipolar minum obat seumur hidup?” Sudut pandang yang berdasarkan penelitian terhadap kasus bipolar tersebut pun pada akhirnya berujung pada dua kubu bersebarangan: perlu minum obat seumur hidup atau tidak; emosi benar-benar terkontrol dengan terus konsumsi obat atau pada akhirnya tetap dapat stabil dengan bebas obat; masalah mental akan menetap atau tidak.

Munculnya gangguan mental yang relatif menetap terjadi karena pergantian sel lama dengan yang baru dan berkelanjutan dari otak–sering disebut dengan neuroplastisitas. Pada dasarnya, restrukturisasi berkelanjutan dari otak dapat mengarah ke hal baik atau pun buruk, tergantung dari bagaimana arah pertumbuhan tersebut digiring. Jika dipupuk dengan baik, neuroplastisitas akan tumbuh ke arah yang sehat. Sebaliknya, jika terjadi gangguan dan tidak dibenahi, neuroplastisitas akan bertumbuh ke arah negatif lalu menghasilkan masalah mental.

Neuroplastisitas paling banyak terjadi di masa remaja. Di masa itu, secara masif terjadi penggantian sel-sel otak baru dan hanya menyisakan setengah sampai dua per tiga dari sel – sel lama yang sudah ada sejak masa kanak. Saat masalah psikis terjadi di usia itu, maka sel buruk sebagai akibat dari tekanan psikis akan muncul dalam jumlah besar sebagai sel baru yang menggantikan sel lama. Restrukturisasi di masa itu akan membuat masalah mental relatif bertahan jika dibandingkan dengan adanya masalah di usia selanjutnya. Penyembuhannya pun akan lebih sukar saat dilakukan di usia yang lebih tua karena menurunnya persentase pergantian sel baru.

Ada beberapa kasus di mana penyembuhan dapat berjalan dengan sempurna sehingga pasien dapat bebas obat dan lepas dari psikoterapi psikiaternya. Hal tersebut disebabkan bekas trauma pada neuroplastisitas masih bisa diubah dan ada usaha yang konsisten untuk mengubah kesehatan psikis yang pada akhirnya memengaruhi penggantian sel baru yang lebih baik. Waktu yang diperlukan pun tergantung dari besarnya trauma psikis yang terjadi dalam neuroplastisitas otak. Banyak masalah psikis yang berdampak pada neuroplastisitas yang relatif permanen walau sudah diterapi dengan maksimal. Hal tersebut sering menyebabkan tahap maksimal dari penyembuhan hanya berada pada terapi obat seumur hidup.

Dari berbagai hal yang telah disebutkan, kesembuhan bukan sesuatu yang pasti, tapi lebih ke sesuatu yang “mungkin” terjadi. Tetapi, jika kita kerucutkan lagi pada kemungkinan pasien yang pada akhirnya sembuh, apakah kesembuhan paripurna benar-benar terjadi?

Cara memandang hal ini tentu agak berbeda jika dibandingkan dengan melihat penyakit fisik. Pada penyakit fisik, kembalinya tubuh ke fungsi optimalnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa kesembuhan sudah tercapai. Untuk masalah mental, parameternya bisa jadi lebih kompleks.

Memang benar bahwa seseorang dikatakan sehat secara mental jika sudah mampu merasa nyaman dengan diri sendiri, mengenali potensi diri, dapat menerima realita dan orang lain apa adanya, produktif, dan mampu mengatasi stres sehari – hari. Ukuran dari sehat mental cukup jelas di situ. Tetapi, bagaimana jika kita melihat dari peningkatan kesehatan mental seseorang yang tidak memiliki ujung?

Maksudnya begini. Saat hari ini, secara mental seseorang sudah lebih baik dari hari sebelumnya, bukankah kondisi hari ini dapat dikatakan berada di posisi “sehat” dan di hari sebelumnya orang tersebut dikatakan lebih “sakit” dari sekarang? Jika kita teruskan lagi, saat hari ini kondisi mental benar-benar bagus dan tidak ada satu pun masalah signifikan yang muncul, kemudian di hari berikutnya orang tersebut bertumbuh menjadi lebih baik, bukankah kondisi hari ini relatif lebih “sakit” dibandingkan hari berikutnya?

Lalu, jika dalam ranah psikiatri, bagaimana cara menjawab pertanyaan – pertanyaan pasien tersebut? Kapankah saya akan sembuh? Atau, apakah saya bisa sembuh? Sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, saya pun tidak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa berkelit dan bersembunyi di balik jawaban filosofis yang tak berisi. Jawaban berbentuk pertanyaan yang membuka celah diskusi baru bagi hubungan dokter-pasien:

“Bahkan, jika manusia terus tumbuh ke arah yang lebih baik, apakah manusia pernah benar-benar berada di posisi sembuh yang absolut?” [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah

Next Post

Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co