24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pikiran Salah terhadap Depresi

Krisna Aji by Krisna Aji
June 9, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SIAPA yang tidak tahu istilah depresi? Dengan maraknya media sosial yang membahas masalah mental, depresi adalah label yang mudah muncul saat melihat orang lain mengalami kesedihan. Atau, saat diri sendiri sedang tertekan akibat mengalami masalah besar. Padahal, gejala perasaan sedih saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosa depresi.

Perlu tambahan gejala mayor lain seperti mudah kelelahan dan hilangnya semangat serta kegembiraan dalam menjalani keseharian. Belum lagi, tambahan gejala minor seperti insomnia, nafsu makan menurun, konsentrasi menurun, percaya diri yang menurun, rasa bersalah serta tidak berguna, pandangan akan masa depan yang suram, dan ide untuk melukai diri—bahkan mengakhiri hidup.

Dari berbagai gejala tersebut, depresi pun terbagi menjadi tiga tingkatan—menurut ICD 11—menjadi depresi ringan, sedang, dan berat berdasarkan banyaknya gejala mayor dan minor yang dialami oleh seseorang.

Dari berbagai gejala yang ada, terdapat benang merah di mana seseorang yang mengalami depresi memiliki kecenderungan berkesimpulan negatif terhadap diri sendiri, dunia—atau lingkungan, dan masa depan. Tiga kesimpulan negatif ini pertama kali disodorkan oleh Aaron Beck pada tahun 1967 dan dikenal dengan Trias Kognitif Beck.

Walaupun tampak merugikan, kesimpulan negatif awalnya dibentuk manusia untuk melindungi diri dari ancaman yang mungkin terjadi. Masalahnya, senjata yang awalnya dipakai untuk bertahan, berakhir dengan memakan tuannya sendiri.

Menyimpulkan sesuatu merupakan proses evolusi untuk bertahan hidup. Jika berkaca dari proses tersebut, pada dasarnya manusia memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir, menyimpulkan, dan akhirnya memutuskan sesuatu. Saat waktu yang tersedia cukup banyak, berpikir dengan tenang dan menyimpulkan sesuatu dengan bijak dapat dilakukan.

Tetapi, jika kondisi semakin darurat, waktu yang tersedia pun akan memendek dan muncul kesimpulan otomatis yang menggantikan pikiran rasional, yang sering kali didasarkan pada pola-pola kesimpulan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalkan saja, seseorang akan langsung berlari saat dikejar anjing tanpa berpikir panjang.

Pada konteks tersebut, menghabiskan waktu untuk berpikir sebelum keputusan lari diambil akan membuat anjing dapat mengejar dan menggigit. Keputusan untuk lari pun didasarkan pada pola lama yang pernah dilakukan. Dalam psikoterapi kognitif, pola ini sering disebut dengan schema.

Kemungkinan munculnya schema akan meningkat saat kondisi semakin mengancam—dan mengesankan makin sedikitnya waktu yang dimiliki. Pola kesimpulanyang muncul saat kondisi mengancam sebenarnya adalah mode bertahan hidup dengan cara mengidentifikasi kemungkinan buruk yang akan terjadi dengan cepat—walau kurang presisi.

Awalnya pola ini bersifat positif karena membuat seseorang berada dalam posisi berjaga-jaga. Tetapi, pada kebanyakan kasus yang berujung pada depresi, pola iniberubah menjadi sangat negatif: seolah-olah semuanya berakhir buruk dan tanpa harapan.

Pada Trias Kognitif Beck yang terjadi di depresi, kesimpulan negatif mengenai diri yang bersalah dan tidak berdaya adalah bentukan dari kesalahan berpikir yang bernama personalisasi. Personalisasi adalah sikap untuk menaruh beban tanggung jawab akan segala nasib sial di diri sendiri walaupun segala nasib sial tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol diri.

Misalkan saja, seorang anak yang merasa bersalah akibat perceraian orang tuanya. Anak tersebut menganggap bahwa jika ia bisa menjadi penengah yang baik bagi perselisihan orang tua, perceraian tidak mungkin terjadi.

Variabel penyebab perceraian tidak sesederhana itu. Penyebab perceraian yang ditumpukan ke anak merupakan kesalahan logika yang dipaksakan agar sesuai dengan kebutuhan personalisasi yang menyalahkan diri sendiri.

Selain perasaan diri yang bersalah, dua variabel lain dari Trias Kognitif Beck juga sering muncul pada depresi, yaitu pandangan akan dunia dan masa depan yang suram. Kedua pandangan salah tersebut dapat berakar pada berbagai kesalahan berpikir.

Dari banyaknya kesalahan berpikir yang mendasari, beberapa di antaranya adalah abstraksi selektif, magnifikasi, generalisasi yang berlebihan, dan arbitrary inference.

Abstraksi selektif adalah menyimpulkan sesuatu dengan hanya mengambil sedikit fakta secara selektif. Padahal, ada banyak fakta lain di luar fakta yang dipilih. Cara ini menjadi bermasalah akibat dari banyaknya fakta-fakta positif, hanya fakta negatif yang diambil sehingga menghasilkan kesimpulan akhir yang negatif.

Contoh dari kasus ini adalah seseorang wanita single parent yang sangat sibuk di tempat kerja sehingga tidak bisa merayakan ulang tahun anaknya. Wanita tersebut menjadi sangat bersalah dan beranggapan bahwa dirinya bukanlah ibu yang baik bagi tumbuh kembang anaknya sehingga masa depan yang suram bagi anak adalah sebuah kepastian.

Kesimpulan tersebut berakhir negatif akibat fakta yang dipakai hanyalah satu kejadian negatif tanpa peduli berbagai fakta positif lain yang dapat membuat kesimpulan akhir menjadi berkebalikan, seperti rela bekerja siang malam agar anak dapat hidup layak. Pada contoh kasus ini, jika kembali pada Trias Kognitif Beck, selain pandangan akan masa depan yang suram, muncul juga pandangan negatif terhadap diri.

Terlalu memperbesar sebuah kejadian (magnifikasi) juga sering terjadi pada depresi. Contoh dari tindakan ini adalah menganggap bahwa segalanya sudah berakhir saat seseorang baru saja dipecat dari tempatnya bekerja. Padahal, diberhentikannya seseorang dari tempat kerja bukanlah akhir dari dunia.

Lagi pula, dunia tidak hanya berputar sebatas pekerjaan semata. Terlalu memperbesar masalah akhirnya membuat kesimpulan akan dunia yang sudah berakhir dan masa depan yang suram pun muncul.

Selain magnifikasi, generalisasi yang berlebihan terhadap sebuah kejadian sering terjadi pada berbagai kasus depresi yang saya tangani di praktik klinis. Generalisasi adalah menganggap satu kejadian pasti mewakili semua kejadian.

Contoh dari cara berpikir ini adalah seorang laki-laki yang menganggap bahwa semua orang di lingkungan kerja tidak menyukai dirinya akibat pernah ada satu orang pegawai yang secara terang-terangan mengatakan tidak menyukai laki-laki tersebut.

Kesimpulan ini menjadi tidak tepat karena sikap satu pegawai yang tidak menyukai laki-laki tersebut tidak bisa mewakili sikap semua pegawai. Kesalahan logika ini pada akhirnya memunculkan pandangan negatif dan pesimisme terhadap lingkungan.

Jika meneruskan contoh kasus laki-laki yang merasa lingkungan kerjanya adalah tempat yang tidak kondusif, kesalahan logika lain bisa saja ikut muncul. Misalkan, pada akhirnya laki-laki tersebut semakin menganggap bahwa tidak ada yang menyukainya di tempat kerja karena ia tidak pernah mendapatkan pujian dari pegawai lain saat hasil kerjanya baik.

Dalam konteks ini, ketiadaan bukti yang dipakai untuk menyimpulkan sesuatu adalah contoh dari arbitrary inference yang juga dapat berujung pada pesimisme terhadap lingkungan.

Jika logika yang salah dapat menyebabkan depresi, maka cara untuk terhindar dari depresi adalah dengan membetulkan kesalahan logika tersebut. Cara untuk mengatasi logika yang terdistorsi adalah dengan merunut akar logika dengan memahami ulang berbagai fakta yang ada dan menganalisis kembali kesimpulan yang terbentuk.

Cara yang sering dipakai untuk merunut kesalahan logika dalam psikoterapi berbasis kognitif—salah satunya, cognitive behaviour therapy—adalah dengan melakukan pertanyaan sokrates (socratic question).

Pertanyaan sokrates adalah menanyakan kembali pikiran; berpikir ulang mengenai apa yang dipikirkan. Beberapa contoh dari pertanyaan ini adalah: “Apa alasan dari munculnya kesimpulan bahwa dunia ini sudah berakhir? Apakah dasar dari kesimpulan bahwa diri ini penyebab dari semua masalah? Apakah ada fakta-fakta lain yang terlewat dan tidak dilibatkan dalam membangun kesimpulan ini?”

Walaupun tampak sederhana, pertanyaan sokrates sering terkesan menyerang dan memberikan rasa tidak nyaman. Hal tersebut terjadi akibat seseorang sudah merasa aman dengan kesimpulan otomatisnya—walaupun kesimpulan itu bersifat negatif.

Lagi pula, jika pertanyaan akan suatu pikiran terus dilakukan, ketidaktahuan akan selalu hadir sebagai jawaban akhir. Bahkan, jika jawaban akan ketidaktahuan awal akhirnya tercapai, ketidaktahuan baru akan tetap membayangi.

Dalam kondisi ini, amygdala akan menemui sumber ketakutan terbesarnya, yaitu ketidaktahuan. Selain itu, jika melihat pikiran dan perasaan sebagai dua entitas berbeda yang saling berhubungan secara timbal balik, perasaan negatif yang memuncak akan memaksa kesimpulan otomatis tetap muncul dan menghambat hadirnya pikiran logis walaupun sudah diarahkan dengan cara berpikir yang benar.

Lalu, apa solusi agar otak dapat diajak berpikir logis saat derasnya perasaan negatif masih membuat kesimpulan salah tidak dapat dibendung? Seperti halnya mesin yang tidak dapat dipegang dan diperbaiki saat masih sangat panas, tentu saja caranya adalah dengan mendinginkan dahulu mesin tersebut.

Dalam hal ini, diperlukan terapi obat yang berfungsi mendinginkan perasaan untuk sementara waktu sampai kerusakannya pikiran dapat diperbaiki kembali. Pernyataan ini senada dengan banyaknya penelitian metaanalisis yang menyebutkan bahwa terapi obat yang diberikan bersamaan dengan psikoterapi menunjukan hasil yang jauh lebih baik daripada terapi obat tunggal atau intervensi psikoterapi tunggal.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: depresipsekiaterPsikologistress
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra, Singosari, dan Indonesia   

Next Post

Membincang Etika Komunikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Membincang Etika Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co