3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pikiran Salah terhadap Depresi

Krisna Aji by Krisna Aji
June 9, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SIAPA yang tidak tahu istilah depresi? Dengan maraknya media sosial yang membahas masalah mental, depresi adalah label yang mudah muncul saat melihat orang lain mengalami kesedihan. Atau, saat diri sendiri sedang tertekan akibat mengalami masalah besar. Padahal, gejala perasaan sedih saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosa depresi.

Perlu tambahan gejala mayor lain seperti mudah kelelahan dan hilangnya semangat serta kegembiraan dalam menjalani keseharian. Belum lagi, tambahan gejala minor seperti insomnia, nafsu makan menurun, konsentrasi menurun, percaya diri yang menurun, rasa bersalah serta tidak berguna, pandangan akan masa depan yang suram, dan ide untuk melukai diri—bahkan mengakhiri hidup.

Dari berbagai gejala tersebut, depresi pun terbagi menjadi tiga tingkatan—menurut ICD 11—menjadi depresi ringan, sedang, dan berat berdasarkan banyaknya gejala mayor dan minor yang dialami oleh seseorang.

Dari berbagai gejala yang ada, terdapat benang merah di mana seseorang yang mengalami depresi memiliki kecenderungan berkesimpulan negatif terhadap diri sendiri, dunia—atau lingkungan, dan masa depan. Tiga kesimpulan negatif ini pertama kali disodorkan oleh Aaron Beck pada tahun 1967 dan dikenal dengan Trias Kognitif Beck.

Walaupun tampak merugikan, kesimpulan negatif awalnya dibentuk manusia untuk melindungi diri dari ancaman yang mungkin terjadi. Masalahnya, senjata yang awalnya dipakai untuk bertahan, berakhir dengan memakan tuannya sendiri.

Menyimpulkan sesuatu merupakan proses evolusi untuk bertahan hidup. Jika berkaca dari proses tersebut, pada dasarnya manusia memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir, menyimpulkan, dan akhirnya memutuskan sesuatu. Saat waktu yang tersedia cukup banyak, berpikir dengan tenang dan menyimpulkan sesuatu dengan bijak dapat dilakukan.

Tetapi, jika kondisi semakin darurat, waktu yang tersedia pun akan memendek dan muncul kesimpulan otomatis yang menggantikan pikiran rasional, yang sering kali didasarkan pada pola-pola kesimpulan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalkan saja, seseorang akan langsung berlari saat dikejar anjing tanpa berpikir panjang.

Pada konteks tersebut, menghabiskan waktu untuk berpikir sebelum keputusan lari diambil akan membuat anjing dapat mengejar dan menggigit. Keputusan untuk lari pun didasarkan pada pola lama yang pernah dilakukan. Dalam psikoterapi kognitif, pola ini sering disebut dengan schema.

Kemungkinan munculnya schema akan meningkat saat kondisi semakin mengancam—dan mengesankan makin sedikitnya waktu yang dimiliki. Pola kesimpulanyang muncul saat kondisi mengancam sebenarnya adalah mode bertahan hidup dengan cara mengidentifikasi kemungkinan buruk yang akan terjadi dengan cepat—walau kurang presisi.

Awalnya pola ini bersifat positif karena membuat seseorang berada dalam posisi berjaga-jaga. Tetapi, pada kebanyakan kasus yang berujung pada depresi, pola iniberubah menjadi sangat negatif: seolah-olah semuanya berakhir buruk dan tanpa harapan.

Pada Trias Kognitif Beck yang terjadi di depresi, kesimpulan negatif mengenai diri yang bersalah dan tidak berdaya adalah bentukan dari kesalahan berpikir yang bernama personalisasi. Personalisasi adalah sikap untuk menaruh beban tanggung jawab akan segala nasib sial di diri sendiri walaupun segala nasib sial tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol diri.

Misalkan saja, seorang anak yang merasa bersalah akibat perceraian orang tuanya. Anak tersebut menganggap bahwa jika ia bisa menjadi penengah yang baik bagi perselisihan orang tua, perceraian tidak mungkin terjadi.

Variabel penyebab perceraian tidak sesederhana itu. Penyebab perceraian yang ditumpukan ke anak merupakan kesalahan logika yang dipaksakan agar sesuai dengan kebutuhan personalisasi yang menyalahkan diri sendiri.

Selain perasaan diri yang bersalah, dua variabel lain dari Trias Kognitif Beck juga sering muncul pada depresi, yaitu pandangan akan dunia dan masa depan yang suram. Kedua pandangan salah tersebut dapat berakar pada berbagai kesalahan berpikir.

Dari banyaknya kesalahan berpikir yang mendasari, beberapa di antaranya adalah abstraksi selektif, magnifikasi, generalisasi yang berlebihan, dan arbitrary inference.

Abstraksi selektif adalah menyimpulkan sesuatu dengan hanya mengambil sedikit fakta secara selektif. Padahal, ada banyak fakta lain di luar fakta yang dipilih. Cara ini menjadi bermasalah akibat dari banyaknya fakta-fakta positif, hanya fakta negatif yang diambil sehingga menghasilkan kesimpulan akhir yang negatif.

Contoh dari kasus ini adalah seseorang wanita single parent yang sangat sibuk di tempat kerja sehingga tidak bisa merayakan ulang tahun anaknya. Wanita tersebut menjadi sangat bersalah dan beranggapan bahwa dirinya bukanlah ibu yang baik bagi tumbuh kembang anaknya sehingga masa depan yang suram bagi anak adalah sebuah kepastian.

Kesimpulan tersebut berakhir negatif akibat fakta yang dipakai hanyalah satu kejadian negatif tanpa peduli berbagai fakta positif lain yang dapat membuat kesimpulan akhir menjadi berkebalikan, seperti rela bekerja siang malam agar anak dapat hidup layak. Pada contoh kasus ini, jika kembali pada Trias Kognitif Beck, selain pandangan akan masa depan yang suram, muncul juga pandangan negatif terhadap diri.

Terlalu memperbesar sebuah kejadian (magnifikasi) juga sering terjadi pada depresi. Contoh dari tindakan ini adalah menganggap bahwa segalanya sudah berakhir saat seseorang baru saja dipecat dari tempatnya bekerja. Padahal, diberhentikannya seseorang dari tempat kerja bukanlah akhir dari dunia.

Lagi pula, dunia tidak hanya berputar sebatas pekerjaan semata. Terlalu memperbesar masalah akhirnya membuat kesimpulan akan dunia yang sudah berakhir dan masa depan yang suram pun muncul.

Selain magnifikasi, generalisasi yang berlebihan terhadap sebuah kejadian sering terjadi pada berbagai kasus depresi yang saya tangani di praktik klinis. Generalisasi adalah menganggap satu kejadian pasti mewakili semua kejadian.

Contoh dari cara berpikir ini adalah seorang laki-laki yang menganggap bahwa semua orang di lingkungan kerja tidak menyukai dirinya akibat pernah ada satu orang pegawai yang secara terang-terangan mengatakan tidak menyukai laki-laki tersebut.

Kesimpulan ini menjadi tidak tepat karena sikap satu pegawai yang tidak menyukai laki-laki tersebut tidak bisa mewakili sikap semua pegawai. Kesalahan logika ini pada akhirnya memunculkan pandangan negatif dan pesimisme terhadap lingkungan.

Jika meneruskan contoh kasus laki-laki yang merasa lingkungan kerjanya adalah tempat yang tidak kondusif, kesalahan logika lain bisa saja ikut muncul. Misalkan, pada akhirnya laki-laki tersebut semakin menganggap bahwa tidak ada yang menyukainya di tempat kerja karena ia tidak pernah mendapatkan pujian dari pegawai lain saat hasil kerjanya baik.

Dalam konteks ini, ketiadaan bukti yang dipakai untuk menyimpulkan sesuatu adalah contoh dari arbitrary inference yang juga dapat berujung pada pesimisme terhadap lingkungan.

Jika logika yang salah dapat menyebabkan depresi, maka cara untuk terhindar dari depresi adalah dengan membetulkan kesalahan logika tersebut. Cara untuk mengatasi logika yang terdistorsi adalah dengan merunut akar logika dengan memahami ulang berbagai fakta yang ada dan menganalisis kembali kesimpulan yang terbentuk.

Cara yang sering dipakai untuk merunut kesalahan logika dalam psikoterapi berbasis kognitif—salah satunya, cognitive behaviour therapy—adalah dengan melakukan pertanyaan sokrates (socratic question).

Pertanyaan sokrates adalah menanyakan kembali pikiran; berpikir ulang mengenai apa yang dipikirkan. Beberapa contoh dari pertanyaan ini adalah: “Apa alasan dari munculnya kesimpulan bahwa dunia ini sudah berakhir? Apakah dasar dari kesimpulan bahwa diri ini penyebab dari semua masalah? Apakah ada fakta-fakta lain yang terlewat dan tidak dilibatkan dalam membangun kesimpulan ini?”

Walaupun tampak sederhana, pertanyaan sokrates sering terkesan menyerang dan memberikan rasa tidak nyaman. Hal tersebut terjadi akibat seseorang sudah merasa aman dengan kesimpulan otomatisnya—walaupun kesimpulan itu bersifat negatif.

Lagi pula, jika pertanyaan akan suatu pikiran terus dilakukan, ketidaktahuan akan selalu hadir sebagai jawaban akhir. Bahkan, jika jawaban akan ketidaktahuan awal akhirnya tercapai, ketidaktahuan baru akan tetap membayangi.

Dalam kondisi ini, amygdala akan menemui sumber ketakutan terbesarnya, yaitu ketidaktahuan. Selain itu, jika melihat pikiran dan perasaan sebagai dua entitas berbeda yang saling berhubungan secara timbal balik, perasaan negatif yang memuncak akan memaksa kesimpulan otomatis tetap muncul dan menghambat hadirnya pikiran logis walaupun sudah diarahkan dengan cara berpikir yang benar.

Lalu, apa solusi agar otak dapat diajak berpikir logis saat derasnya perasaan negatif masih membuat kesimpulan salah tidak dapat dibendung? Seperti halnya mesin yang tidak dapat dipegang dan diperbaiki saat masih sangat panas, tentu saja caranya adalah dengan mendinginkan dahulu mesin tersebut.

Dalam hal ini, diperlukan terapi obat yang berfungsi mendinginkan perasaan untuk sementara waktu sampai kerusakannya pikiran dapat diperbaiki kembali. Pernyataan ini senada dengan banyaknya penelitian metaanalisis yang menyebutkan bahwa terapi obat yang diberikan bersamaan dengan psikoterapi menunjukan hasil yang jauh lebih baik daripada terapi obat tunggal atau intervensi psikoterapi tunggal.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: depresipsekiaterPsikologistress
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra, Singosari, dan Indonesia   

Next Post

Membincang Etika Komunikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Membincang Etika Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co