22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Krisna Aji by Krisna Aji
February 23, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PADA praktik klinis, saya–seperti psikiater pada umumnya–banyak menemui pendamping pasien dengan gangguan jiwa yang pada akhirnya juga mengalami masalah kejiwaan. Hal tersebut dikarenakan pendampingan menghabiskan energi yang luar biasa, baik secara fisik maupun mental.

Tidak dapat dipungkiri, energi mental pendamping banyak terkuras akibat perilaku pasien. Lebih jauh lagi, saat energi mental terkuras, pendamping dapat terpancing dan mengeluarkan respons balik berupa emosi negatif terhadap pasien itu sendiri. Misalkan saja, respons marah dari keluarga yang mendampingi pasien skizofrenia yang sering marah-marah, curiga, atau bertindak tidak sesuai dengan logika dan di luar norma sosial; naik turunnya perasaan pendamping pasien bipolar yang memiliki emosi yang sangat labil–sedih sampai depresi atau euforia yang disertai tindakan yang tidak bertanggung jawab; atau orang tua yang tertekan dan mudah marah akibat menanggung beban berat dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Respons negatif tersebut tidak hanya berefek buruk terhadap pendamping, tetapi juga pada kemajuan kesembuhan dari pasien itu sendiri.

Jika melihat kondisi tersebut, akar masalah yang perlu dipecahkan adalah gangguan kejiwaan pada pasien. Di mana, cara untuk menyelesaikannya adalah memberikan terapi optimal yang melibatkan tiga pondasi penting, yaitu psikiater, pasien, dan pendamping. Psikiater berperan dalam memberikan terapi obat dan non obat–seperti psikoterapi–yang langsung dapat dirasakan dampaknya oleh pasien. Pasien, dalam hal ini memiliki peran sebagai subjek yang berusaha untuk terus bertumbuh dan nantinya dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Yang terakhir, pendamping, adalah peran yang paling banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk menemani dan memberikan dukungan yang optimal bagi pasien.

Penguatan pasien dan pendamping secara bersamaan tentu akan sangat berpengaruh terhadap perbaikan gejala dari pasien. Walaupun demikian, penguatan sering kali hanya tertuju pada pasien dan mengabaikan pendamping. Padahal, beban berat dari masalah kejiwaan juga ditanggung oleh pendamping. Apa lagi, penyembuhan dari gangguan jiwa adalah proses yang panjang dan membuat pendamping mengalami tekanan yang bertumpuk dari waktu ke waktu. Walaupun masalah kejiwaan yang terjadi pada pendamping bisa jadi lebih ringan dari pasien, tetapi hal tersebut tetap akan memengaruhi tujuan utama dari berdirinya bangunan kokoh bernama perbaikan gejala dari pasien.

Dari banyaknya jenis masalah mental yang dialami pendamping, depresi dan kecemasan adalah dua contoh tersering. Depresi pada pendamping dapat terjadi akibat perbaikan gejala pada pasien yang berjalan lama atau bahkan tidak bisa sembuh total. Hal tersebut akan memunculkan perasaan putus asa dan kesedihan pada pendamping.

Selain itu, kecemasan juga dapat terjadi akibat kekhawatiran dari pendamping akan masa depan yang tidak pasti bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa. Di luar masalah tersebut, pendamping yang mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaga untuk pasien dapat membuat–pada beberapa kasus–pendamping meninggalkan mimpi – mimpi pribadi, di mana hal ini juga akan membuat tekanan tersendiri bagi pendamping.

Lalu, apa cara yang dapat dilakukan oleh pendamping agar tetap sehat dan dapat melakukan aktivitas dalam menjaga dan menemani pasien?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, emosi negatif dari pendamping yang muncul akibat perilaku pasien adalah hal yang sering terjadi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi hal ini adalah dengan menyadari bahwa perilaku pasien bukanlah atas kemauan pasien sendiri. Yang menyebabkan perilaku negatif bukanlah pasien, tetapi penyakitnya. Siapapun yang mengalami penyakit serupa, bisa saja akan memperlihatkan perilaku yang sama. Dengan melihat perilaku dan pasien sebagai entitas yang berbeda, sikap memaafkan akan muncul dan berganti menjadi empati dan kasih sayang.

Putus asa dan kesedihan akibat harapan kesembuhan yang sering kali jauh dari realita dapat diselesaikan dengan tetap berada pada kekinian. Kesembuhan adalah jalan panjang dan–pada beberapa kasus–kesembuhan total adalah hal yang sangat sukar terjadi. Dalam hal ini, kesembuhan adalah rute maraton yang perlu ditempuh dengan stamina yang tetap terjaga. Menempatkan kebahagiaan pada keberhasilan di garis akhir pada akhirnya akan membuat stamina mental semakin terpuruk. Sebaliknya, cara pandang yang menempatkan kebahagiaan pada perbaikan – perbaikan kecil di saat ini akan membuat mental pendamping tetap terjaga. Bahkan, jika perbaikan tidak bergerak ke mana – mana, bersyukur bahwa kondisi pasien tidak menjadi lebih buruk juga dapat dilakukan.

Kecemasan yang muncul akibat takut akan masa depan dari pasien dapat diatasi dengan menyadari bahwa masa depan buruk tersebut belum terjadi. Terlalu fokus ke masa depan yang buruk pada akhirnya akan membuat pendamping melupakan kebahagiaan di masa kini: menikmati kebersamaan dalam menjalani hidup bersama orang–pasien–yang disayangi.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra dalam mendampingi pasien. Hal ini dapat mengorbankan kepentingan pribadi dari pendamping seperti terhambatnya pendamping dalam mengejar cita – cita. Masalah akan muncul saat kepentingan pribadi tersebut tetap dianggap sebagai satu – satunya hal yang dapat memberi makna hidup bagi pendamping. Oleh karena itu, cara untuk menanggulanginya adalah dengan–kembali lagi–meletakkan makna hidup di kekinian.

Bagi pendamping, masa kini adalah masa saat mendampingi pasien. Menempatkan makna pada kekinian dengan cara merasa berharga saat menjadi pahlawan bagi orang terdekat–dengan cara mendampinginya–adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Tentu saja, tindakan ini membutuhkan pengorbanan besar berupa terabaikannya kepentingan pribadi.

Tetapi, semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula makna hidup yang bisa didapat. Kemaknaan yang didapat pada kekinian sederhana akhirnya berubah menjadi makna hidup yang lebih luas. Dalam tingkatan ini, keberhasilan bukan lagi ditentukan oleh kesembuhan pasien ataupun tercapainya kepentingan pribadi dari pendamping, tetapi lebih pada berhasilnya pendamping dalam mengorbankan segala hal berharga demi orang yang disayangi. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Next Post

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co