23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Krisna Aji by Krisna Aji
February 23, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PADA praktik klinis, saya–seperti psikiater pada umumnya–banyak menemui pendamping pasien dengan gangguan jiwa yang pada akhirnya juga mengalami masalah kejiwaan. Hal tersebut dikarenakan pendampingan menghabiskan energi yang luar biasa, baik secara fisik maupun mental.

Tidak dapat dipungkiri, energi mental pendamping banyak terkuras akibat perilaku pasien. Lebih jauh lagi, saat energi mental terkuras, pendamping dapat terpancing dan mengeluarkan respons balik berupa emosi negatif terhadap pasien itu sendiri. Misalkan saja, respons marah dari keluarga yang mendampingi pasien skizofrenia yang sering marah-marah, curiga, atau bertindak tidak sesuai dengan logika dan di luar norma sosial; naik turunnya perasaan pendamping pasien bipolar yang memiliki emosi yang sangat labil–sedih sampai depresi atau euforia yang disertai tindakan yang tidak bertanggung jawab; atau orang tua yang tertekan dan mudah marah akibat menanggung beban berat dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Respons negatif tersebut tidak hanya berefek buruk terhadap pendamping, tetapi juga pada kemajuan kesembuhan dari pasien itu sendiri.

Jika melihat kondisi tersebut, akar masalah yang perlu dipecahkan adalah gangguan kejiwaan pada pasien. Di mana, cara untuk menyelesaikannya adalah memberikan terapi optimal yang melibatkan tiga pondasi penting, yaitu psikiater, pasien, dan pendamping. Psikiater berperan dalam memberikan terapi obat dan non obat–seperti psikoterapi–yang langsung dapat dirasakan dampaknya oleh pasien. Pasien, dalam hal ini memiliki peran sebagai subjek yang berusaha untuk terus bertumbuh dan nantinya dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Yang terakhir, pendamping, adalah peran yang paling banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk menemani dan memberikan dukungan yang optimal bagi pasien.

Penguatan pasien dan pendamping secara bersamaan tentu akan sangat berpengaruh terhadap perbaikan gejala dari pasien. Walaupun demikian, penguatan sering kali hanya tertuju pada pasien dan mengabaikan pendamping. Padahal, beban berat dari masalah kejiwaan juga ditanggung oleh pendamping. Apa lagi, penyembuhan dari gangguan jiwa adalah proses yang panjang dan membuat pendamping mengalami tekanan yang bertumpuk dari waktu ke waktu. Walaupun masalah kejiwaan yang terjadi pada pendamping bisa jadi lebih ringan dari pasien, tetapi hal tersebut tetap akan memengaruhi tujuan utama dari berdirinya bangunan kokoh bernama perbaikan gejala dari pasien.

Dari banyaknya jenis masalah mental yang dialami pendamping, depresi dan kecemasan adalah dua contoh tersering. Depresi pada pendamping dapat terjadi akibat perbaikan gejala pada pasien yang berjalan lama atau bahkan tidak bisa sembuh total. Hal tersebut akan memunculkan perasaan putus asa dan kesedihan pada pendamping.

Selain itu, kecemasan juga dapat terjadi akibat kekhawatiran dari pendamping akan masa depan yang tidak pasti bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa. Di luar masalah tersebut, pendamping yang mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaga untuk pasien dapat membuat–pada beberapa kasus–pendamping meninggalkan mimpi – mimpi pribadi, di mana hal ini juga akan membuat tekanan tersendiri bagi pendamping.

Lalu, apa cara yang dapat dilakukan oleh pendamping agar tetap sehat dan dapat melakukan aktivitas dalam menjaga dan menemani pasien?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, emosi negatif dari pendamping yang muncul akibat perilaku pasien adalah hal yang sering terjadi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi hal ini adalah dengan menyadari bahwa perilaku pasien bukanlah atas kemauan pasien sendiri. Yang menyebabkan perilaku negatif bukanlah pasien, tetapi penyakitnya. Siapapun yang mengalami penyakit serupa, bisa saja akan memperlihatkan perilaku yang sama. Dengan melihat perilaku dan pasien sebagai entitas yang berbeda, sikap memaafkan akan muncul dan berganti menjadi empati dan kasih sayang.

Putus asa dan kesedihan akibat harapan kesembuhan yang sering kali jauh dari realita dapat diselesaikan dengan tetap berada pada kekinian. Kesembuhan adalah jalan panjang dan–pada beberapa kasus–kesembuhan total adalah hal yang sangat sukar terjadi. Dalam hal ini, kesembuhan adalah rute maraton yang perlu ditempuh dengan stamina yang tetap terjaga. Menempatkan kebahagiaan pada keberhasilan di garis akhir pada akhirnya akan membuat stamina mental semakin terpuruk. Sebaliknya, cara pandang yang menempatkan kebahagiaan pada perbaikan – perbaikan kecil di saat ini akan membuat mental pendamping tetap terjaga. Bahkan, jika perbaikan tidak bergerak ke mana – mana, bersyukur bahwa kondisi pasien tidak menjadi lebih buruk juga dapat dilakukan.

Kecemasan yang muncul akibat takut akan masa depan dari pasien dapat diatasi dengan menyadari bahwa masa depan buruk tersebut belum terjadi. Terlalu fokus ke masa depan yang buruk pada akhirnya akan membuat pendamping melupakan kebahagiaan di masa kini: menikmati kebersamaan dalam menjalani hidup bersama orang–pasien–yang disayangi.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra dalam mendampingi pasien. Hal ini dapat mengorbankan kepentingan pribadi dari pendamping seperti terhambatnya pendamping dalam mengejar cita – cita. Masalah akan muncul saat kepentingan pribadi tersebut tetap dianggap sebagai satu – satunya hal yang dapat memberi makna hidup bagi pendamping. Oleh karena itu, cara untuk menanggulanginya adalah dengan–kembali lagi–meletakkan makna hidup di kekinian.

Bagi pendamping, masa kini adalah masa saat mendampingi pasien. Menempatkan makna pada kekinian dengan cara merasa berharga saat menjadi pahlawan bagi orang terdekat–dengan cara mendampinginya–adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Tentu saja, tindakan ini membutuhkan pengorbanan besar berupa terabaikannya kepentingan pribadi.

Tetapi, semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula makna hidup yang bisa didapat. Kemaknaan yang didapat pada kekinian sederhana akhirnya berubah menjadi makna hidup yang lebih luas. Dalam tingkatan ini, keberhasilan bukan lagi ditentukan oleh kesembuhan pasien ataupun tercapainya kepentingan pribadi dari pendamping, tetapi lebih pada berhasilnya pendamping dalam mengorbankan segala hal berharga demi orang yang disayangi. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Next Post

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co