2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Krisna Aji by Krisna Aji
February 23, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PADA praktik klinis, saya–seperti psikiater pada umumnya–banyak menemui pendamping pasien dengan gangguan jiwa yang pada akhirnya juga mengalami masalah kejiwaan. Hal tersebut dikarenakan pendampingan menghabiskan energi yang luar biasa, baik secara fisik maupun mental.

Tidak dapat dipungkiri, energi mental pendamping banyak terkuras akibat perilaku pasien. Lebih jauh lagi, saat energi mental terkuras, pendamping dapat terpancing dan mengeluarkan respons balik berupa emosi negatif terhadap pasien itu sendiri. Misalkan saja, respons marah dari keluarga yang mendampingi pasien skizofrenia yang sering marah-marah, curiga, atau bertindak tidak sesuai dengan logika dan di luar norma sosial; naik turunnya perasaan pendamping pasien bipolar yang memiliki emosi yang sangat labil–sedih sampai depresi atau euforia yang disertai tindakan yang tidak bertanggung jawab; atau orang tua yang tertekan dan mudah marah akibat menanggung beban berat dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Respons negatif tersebut tidak hanya berefek buruk terhadap pendamping, tetapi juga pada kemajuan kesembuhan dari pasien itu sendiri.

Jika melihat kondisi tersebut, akar masalah yang perlu dipecahkan adalah gangguan kejiwaan pada pasien. Di mana, cara untuk menyelesaikannya adalah memberikan terapi optimal yang melibatkan tiga pondasi penting, yaitu psikiater, pasien, dan pendamping. Psikiater berperan dalam memberikan terapi obat dan non obat–seperti psikoterapi–yang langsung dapat dirasakan dampaknya oleh pasien. Pasien, dalam hal ini memiliki peran sebagai subjek yang berusaha untuk terus bertumbuh dan nantinya dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Yang terakhir, pendamping, adalah peran yang paling banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk menemani dan memberikan dukungan yang optimal bagi pasien.

Penguatan pasien dan pendamping secara bersamaan tentu akan sangat berpengaruh terhadap perbaikan gejala dari pasien. Walaupun demikian, penguatan sering kali hanya tertuju pada pasien dan mengabaikan pendamping. Padahal, beban berat dari masalah kejiwaan juga ditanggung oleh pendamping. Apa lagi, penyembuhan dari gangguan jiwa adalah proses yang panjang dan membuat pendamping mengalami tekanan yang bertumpuk dari waktu ke waktu. Walaupun masalah kejiwaan yang terjadi pada pendamping bisa jadi lebih ringan dari pasien, tetapi hal tersebut tetap akan memengaruhi tujuan utama dari berdirinya bangunan kokoh bernama perbaikan gejala dari pasien.

Dari banyaknya jenis masalah mental yang dialami pendamping, depresi dan kecemasan adalah dua contoh tersering. Depresi pada pendamping dapat terjadi akibat perbaikan gejala pada pasien yang berjalan lama atau bahkan tidak bisa sembuh total. Hal tersebut akan memunculkan perasaan putus asa dan kesedihan pada pendamping.

Selain itu, kecemasan juga dapat terjadi akibat kekhawatiran dari pendamping akan masa depan yang tidak pasti bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa. Di luar masalah tersebut, pendamping yang mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaga untuk pasien dapat membuat–pada beberapa kasus–pendamping meninggalkan mimpi – mimpi pribadi, di mana hal ini juga akan membuat tekanan tersendiri bagi pendamping.

Lalu, apa cara yang dapat dilakukan oleh pendamping agar tetap sehat dan dapat melakukan aktivitas dalam menjaga dan menemani pasien?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, emosi negatif dari pendamping yang muncul akibat perilaku pasien adalah hal yang sering terjadi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi hal ini adalah dengan menyadari bahwa perilaku pasien bukanlah atas kemauan pasien sendiri. Yang menyebabkan perilaku negatif bukanlah pasien, tetapi penyakitnya. Siapapun yang mengalami penyakit serupa, bisa saja akan memperlihatkan perilaku yang sama. Dengan melihat perilaku dan pasien sebagai entitas yang berbeda, sikap memaafkan akan muncul dan berganti menjadi empati dan kasih sayang.

Putus asa dan kesedihan akibat harapan kesembuhan yang sering kali jauh dari realita dapat diselesaikan dengan tetap berada pada kekinian. Kesembuhan adalah jalan panjang dan–pada beberapa kasus–kesembuhan total adalah hal yang sangat sukar terjadi. Dalam hal ini, kesembuhan adalah rute maraton yang perlu ditempuh dengan stamina yang tetap terjaga. Menempatkan kebahagiaan pada keberhasilan di garis akhir pada akhirnya akan membuat stamina mental semakin terpuruk. Sebaliknya, cara pandang yang menempatkan kebahagiaan pada perbaikan – perbaikan kecil di saat ini akan membuat mental pendamping tetap terjaga. Bahkan, jika perbaikan tidak bergerak ke mana – mana, bersyukur bahwa kondisi pasien tidak menjadi lebih buruk juga dapat dilakukan.

Kecemasan yang muncul akibat takut akan masa depan dari pasien dapat diatasi dengan menyadari bahwa masa depan buruk tersebut belum terjadi. Terlalu fokus ke masa depan yang buruk pada akhirnya akan membuat pendamping melupakan kebahagiaan di masa kini: menikmati kebersamaan dalam menjalani hidup bersama orang–pasien–yang disayangi.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra dalam mendampingi pasien. Hal ini dapat mengorbankan kepentingan pribadi dari pendamping seperti terhambatnya pendamping dalam mengejar cita – cita. Masalah akan muncul saat kepentingan pribadi tersebut tetap dianggap sebagai satu – satunya hal yang dapat memberi makna hidup bagi pendamping. Oleh karena itu, cara untuk menanggulanginya adalah dengan–kembali lagi–meletakkan makna hidup di kekinian.

Bagi pendamping, masa kini adalah masa saat mendampingi pasien. Menempatkan makna pada kekinian dengan cara merasa berharga saat menjadi pahlawan bagi orang terdekat–dengan cara mendampinginya–adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Tentu saja, tindakan ini membutuhkan pengorbanan besar berupa terabaikannya kepentingan pribadi.

Tetapi, semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula makna hidup yang bisa didapat. Kemaknaan yang didapat pada kekinian sederhana akhirnya berubah menjadi makna hidup yang lebih luas. Dalam tingkatan ini, keberhasilan bukan lagi ditentukan oleh kesembuhan pasien ataupun tercapainya kepentingan pribadi dari pendamping, tetapi lebih pada berhasilnya pendamping dalam mengorbankan segala hal berharga demi orang yang disayangi. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Next Post

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co