23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Son Lomri by Son Lomri
February 23, 2024
in Opini
Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Gus Dur | ilustrasi tatkala.co

SETIAP lima tahun sekali dalam pemilu, termasuk pemilu yang terasa masih hangat ini, banyak politisi, termasuk capres dan cawapres mengaku diri pernah dekat dengan Gus Dur. Ada yang mengaku diri berteman baik, atau sangat berteman baik. Ada yang mengaku Gus Dur sebagai guru politiknya. Bahkan pernah ada yang mengaku menjadi tukang pijatnya.

Barangkali itu memang benar. Tak perlu dibuktikan. Yang perlu dibuktikan adalah setelah mereka terpilih, atau setelah tidak terpilih.

Jadi pertanyaannya, apakah mereka (yang mengaku-ngaku dekat Gus Dur) itu akan melakukan hal yang sama seperti Gus Dur, terutama menerapkan seperti kebijakan Gus Dur dulu yang sebagian besar enak didengar?

Atau, jika kalah, atau tidak terpilih, apakah mereka akan legowo dan bersikap dewasa, seperti Gus Dur dulu yang rela hanya pakai kolor keluar dari istana setelah didepak keluar dengan tidak sopan oleh lawan-lawan politik di sekelilingnya?

Gimick receh setiap lima tahun sekali itu sama sekali tidak mencerdaskan dalam suasana pemilu yang menentukan nasib bangsa, dan hanya membawa pada suasana pertarungan politik identitas. Kita bisa rasakan hal itu hanyalah sebuah trik jitu untuk mendapatkan simpati, terutama pada masyarakat muslim yang berlatar Nahdlatul Ulama atau umat muslim dan non mulim fans Gus Dur.

Orbituari Gus Dur, dan Mendungnya Diam-diam Demokrasi Kita Saat ini.

Langit demokrasi Indonesia memang pernah mendung berkepanjangan pada masa rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Kebebasan sipil nyaris tidak ada. Bahkan celakalah bagi siapa saja yang berbeda pendapat dan bersuara lantang saat itu. Sehingga demokrasi dirasakan seperti sebuah penjara yang nyata. Bagi masyarakat Tionghoa dan buruh misalnya, tak ada atensi sama sekali atas mereka mendapatkan haknya sebagai warga negara.

Setelah terpilihnya Gus Dur sebagai presiden yang ke-4 menggantikan BJ Habibie (1999-2001), seketika langit dan cuaca demokrasi di Indonesia mulai terlihat cerah. Kebebasan sipil mulai merebak ke setiap pelosok. Lebih-lebih etnis Tionghoa dapat merayakan hari rayanya di muka umum dan buruh mendapat haknya sebagaimana mestinya.

Walaupun Gus Dur menjabat hanya dua puluh dua bulan atau sekitar dua tahunan. Namun beberapa peninggalannya bagi bangsa ini cukup berarti, bahkan sampai sekarang. Gus Dur telah memutus rantai isu rasial yang ditanamkan oleh Orde Baru pada etnis Tionghoa. Seperti yang kita tahu di zaman itu, di mana kebencian sengaja ditanamkan sehingga terjadi penjarahan dan pemerkosaan pada orang-orang keturunan Tionghoa. Chaos.

Pada kisaran tahun 2000, Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu membuka jalan terang. Ia mengeluarkan sebuah keputusan cukup berani. Mencabut Instruksi Presiden No. 4, 1967 tentang Diskriminatif terhadap Etnis Tionghoa. Di masa kepemimpinannya juga agama Khong Hu Cu dapat diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Tak hanya itu, ketegangan negara dengan masyarakat suku Papua mulai berkurang. Gus Dur mengizinkan mereka untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora tanpa harus diperangi. Bahkan Ia juga yang telah mengembalikan nama Papua untuk digunakan yang sebelumnya bernama Irian Jaya.

Hal itu dapat kita pahami, bahwa Gus Dur sangat menghormati masyarakat adat atau kesukuan, perjuangan dan harapan mereka dalam menjalankan hidup dengan damai di tanahnya sendiri. Hal itu memiliki efek yang baik tentu saja, di mana ketegangan antara Papua dengan militer Indonesia, pun mereda. Artinya korban jiwa akibat peperangan sesama anak bangsa berkurang.

Sedangkan bagi buruh, Gus Dur pula yang memberikan perhatian lebih pada mereka yang pekerja. Melalui kebijakannya yang pro pada buruh telah membuka harapan baru bagi dunia kerja di Indonesia, khususnya para buruh. Gus Dur telah mendorong aturan melalui Menteri Tenaga Kerja tentang peraturan PHK, pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan ganti kerugian. Sehingga peraturan tersebut memperkuat gerakan buruh ketika berhadapan langsung dengan para despot.

Namun akhir-akhir ini. Masyarakat kita, atau mungkin kita sendiri, sama mudahnya tertipu pada hal-hal yang berbau selebrasi. Diperkuat oleh tokoh-tokoh penting di masyarakat, seperti kiai, tetua adat, kepala desa yang mengirim sinyal mendukung siapa. Suasana demokrasi kian dirasakan seperti pesta pertarungan suatu golongan.

Jika melihat kembali tahun 2019 ketika Jokowi-Ma’ruf Amin menang atas Prabowo-Sandi, sosok Ma’ruf Amin yang latar belakangnya sebagai tokoh NU, bisa kita rasakan memiliki pengaruh besar dalam mendulang suaranya saat pemilu. Tetapi, bagaimana ketika mereka sudah terpilih, apakah perjuangan Gus Dur mereka teruskan?

Justru sebaliknya, pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang bernegara dan berdemokrasi dijauhi. Ada banyak kontradiktif atas apa yang disebut sebagai golongan Gus Dur yang hijau dan menyenangkan itu. Seperti satu tahun silam kita dihebohkan berita tentang penggusuran di Pulau Rempang. Atau, penggusuran tanah adat di Kalimantan beberapa tahun silam. Atau, penggusuran masyarakat adat Besipae di NTT yang mana masyarakat, para orang tua, tinggal di bawah pohon beserta dengan anak-anaknya (2020).

Kemudian, terjadi kebijakan-kebijakan yang telah merugikan para buruh dan kebijakan-kebijakan lainnya dalam Omnibuslaw misalnya.  Belum lagi kebijakan Mahkamah Konstitusi yang terkesan terburu-buru dalam merevisi aturan terkait pemilu terasa masih hangat di kepala kita. Tentu ini menciderai nilai-nilai demokrasi yang sebenarnya.

Indeks Demokrasi kita memang naik tiga kali beruntun sejak tahun 2022 (lihat data BPS). Tapi itu rasanya tak sebanding dengan apa yang kita rasakan saat ini. Selain pesta demokrasi kemarin yang sudah kacau bahkan sebelum hari pencoblosan, di jalanan orang-orang gencar menolak ketimpangan itu.  

Tetapi tak ada yang menggubris. Padahal, dalam kekuasaan itu, ada Ma’ruf Amin yang tentu saja pernah mendengar bahwa Gus Dur adalah seseorang yang membumikan demokrasi di jalanan, di sudut kota, di mana-mana yang dianggap orang sulit mendapatkan kebebasan di masa Orde Baru.

Sama sekali tak ada “pengaruh” Gus Dur pada setiap kebijakan yang dilahirkan orang-orang pada lingkar pada demokrasi bangsa ini.

Pada akhirnya kita mesti mengakui, bahwa Gus Dur telah wafat dan belum ada reinkarnasi atas perjuangan dirinya saat ini. Dan kita mesti mengakui jika lima tahun sekali dalam pesta demokrasi, tak ada tokoh yang benar-benar mutlak netral di tengah masyarakat. Semua bisa menjadi pemain dan memberikan noda pada demokrasi yang sudah diperjuangkan oleh orang-orang terdahulu, termasuk oleh Gus Dur. [T]

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan
Sukarno, Gus Dur, Jokowi, dan Punakawan Unfriend dalam Karya Rupa Butet
Tags: demokrasiGus DurPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Video Musik “Sing Kuat” dari Lebri Partami: Gambaran Kekerasan yang Sunyi  

Next Post

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co