24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Son Lomri by Son Lomri
February 23, 2024
in Opini
Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Gus Dur | ilustrasi tatkala.co

SETIAP lima tahun sekali dalam pemilu, termasuk pemilu yang terasa masih hangat ini, banyak politisi, termasuk capres dan cawapres mengaku diri pernah dekat dengan Gus Dur. Ada yang mengaku diri berteman baik, atau sangat berteman baik. Ada yang mengaku Gus Dur sebagai guru politiknya. Bahkan pernah ada yang mengaku menjadi tukang pijatnya.

Barangkali itu memang benar. Tak perlu dibuktikan. Yang perlu dibuktikan adalah setelah mereka terpilih, atau setelah tidak terpilih.

Jadi pertanyaannya, apakah mereka (yang mengaku-ngaku dekat Gus Dur) itu akan melakukan hal yang sama seperti Gus Dur, terutama menerapkan seperti kebijakan Gus Dur dulu yang sebagian besar enak didengar?

Atau, jika kalah, atau tidak terpilih, apakah mereka akan legowo dan bersikap dewasa, seperti Gus Dur dulu yang rela hanya pakai kolor keluar dari istana setelah didepak keluar dengan tidak sopan oleh lawan-lawan politik di sekelilingnya?

Gimick receh setiap lima tahun sekali itu sama sekali tidak mencerdaskan dalam suasana pemilu yang menentukan nasib bangsa, dan hanya membawa pada suasana pertarungan politik identitas. Kita bisa rasakan hal itu hanyalah sebuah trik jitu untuk mendapatkan simpati, terutama pada masyarakat muslim yang berlatar Nahdlatul Ulama atau umat muslim dan non mulim fans Gus Dur.

Orbituari Gus Dur, dan Mendungnya Diam-diam Demokrasi Kita Saat ini.

Langit demokrasi Indonesia memang pernah mendung berkepanjangan pada masa rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Kebebasan sipil nyaris tidak ada. Bahkan celakalah bagi siapa saja yang berbeda pendapat dan bersuara lantang saat itu. Sehingga demokrasi dirasakan seperti sebuah penjara yang nyata. Bagi masyarakat Tionghoa dan buruh misalnya, tak ada atensi sama sekali atas mereka mendapatkan haknya sebagai warga negara.

Setelah terpilihnya Gus Dur sebagai presiden yang ke-4 menggantikan BJ Habibie (1999-2001), seketika langit dan cuaca demokrasi di Indonesia mulai terlihat cerah. Kebebasan sipil mulai merebak ke setiap pelosok. Lebih-lebih etnis Tionghoa dapat merayakan hari rayanya di muka umum dan buruh mendapat haknya sebagaimana mestinya.

Walaupun Gus Dur menjabat hanya dua puluh dua bulan atau sekitar dua tahunan. Namun beberapa peninggalannya bagi bangsa ini cukup berarti, bahkan sampai sekarang. Gus Dur telah memutus rantai isu rasial yang ditanamkan oleh Orde Baru pada etnis Tionghoa. Seperti yang kita tahu di zaman itu, di mana kebencian sengaja ditanamkan sehingga terjadi penjarahan dan pemerkosaan pada orang-orang keturunan Tionghoa. Chaos.

Pada kisaran tahun 2000, Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu membuka jalan terang. Ia mengeluarkan sebuah keputusan cukup berani. Mencabut Instruksi Presiden No. 4, 1967 tentang Diskriminatif terhadap Etnis Tionghoa. Di masa kepemimpinannya juga agama Khong Hu Cu dapat diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Tak hanya itu, ketegangan negara dengan masyarakat suku Papua mulai berkurang. Gus Dur mengizinkan mereka untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora tanpa harus diperangi. Bahkan Ia juga yang telah mengembalikan nama Papua untuk digunakan yang sebelumnya bernama Irian Jaya.

Hal itu dapat kita pahami, bahwa Gus Dur sangat menghormati masyarakat adat atau kesukuan, perjuangan dan harapan mereka dalam menjalankan hidup dengan damai di tanahnya sendiri. Hal itu memiliki efek yang baik tentu saja, di mana ketegangan antara Papua dengan militer Indonesia, pun mereda. Artinya korban jiwa akibat peperangan sesama anak bangsa berkurang.

Sedangkan bagi buruh, Gus Dur pula yang memberikan perhatian lebih pada mereka yang pekerja. Melalui kebijakannya yang pro pada buruh telah membuka harapan baru bagi dunia kerja di Indonesia, khususnya para buruh. Gus Dur telah mendorong aturan melalui Menteri Tenaga Kerja tentang peraturan PHK, pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan ganti kerugian. Sehingga peraturan tersebut memperkuat gerakan buruh ketika berhadapan langsung dengan para despot.

Namun akhir-akhir ini. Masyarakat kita, atau mungkin kita sendiri, sama mudahnya tertipu pada hal-hal yang berbau selebrasi. Diperkuat oleh tokoh-tokoh penting di masyarakat, seperti kiai, tetua adat, kepala desa yang mengirim sinyal mendukung siapa. Suasana demokrasi kian dirasakan seperti pesta pertarungan suatu golongan.

Jika melihat kembali tahun 2019 ketika Jokowi-Ma’ruf Amin menang atas Prabowo-Sandi, sosok Ma’ruf Amin yang latar belakangnya sebagai tokoh NU, bisa kita rasakan memiliki pengaruh besar dalam mendulang suaranya saat pemilu. Tetapi, bagaimana ketika mereka sudah terpilih, apakah perjuangan Gus Dur mereka teruskan?

Justru sebaliknya, pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang bernegara dan berdemokrasi dijauhi. Ada banyak kontradiktif atas apa yang disebut sebagai golongan Gus Dur yang hijau dan menyenangkan itu. Seperti satu tahun silam kita dihebohkan berita tentang penggusuran di Pulau Rempang. Atau, penggusuran tanah adat di Kalimantan beberapa tahun silam. Atau, penggusuran masyarakat adat Besipae di NTT yang mana masyarakat, para orang tua, tinggal di bawah pohon beserta dengan anak-anaknya (2020).

Kemudian, terjadi kebijakan-kebijakan yang telah merugikan para buruh dan kebijakan-kebijakan lainnya dalam Omnibuslaw misalnya.  Belum lagi kebijakan Mahkamah Konstitusi yang terkesan terburu-buru dalam merevisi aturan terkait pemilu terasa masih hangat di kepala kita. Tentu ini menciderai nilai-nilai demokrasi yang sebenarnya.

Indeks Demokrasi kita memang naik tiga kali beruntun sejak tahun 2022 (lihat data BPS). Tapi itu rasanya tak sebanding dengan apa yang kita rasakan saat ini. Selain pesta demokrasi kemarin yang sudah kacau bahkan sebelum hari pencoblosan, di jalanan orang-orang gencar menolak ketimpangan itu.  

Tetapi tak ada yang menggubris. Padahal, dalam kekuasaan itu, ada Ma’ruf Amin yang tentu saja pernah mendengar bahwa Gus Dur adalah seseorang yang membumikan demokrasi di jalanan, di sudut kota, di mana-mana yang dianggap orang sulit mendapatkan kebebasan di masa Orde Baru.

Sama sekali tak ada “pengaruh” Gus Dur pada setiap kebijakan yang dilahirkan orang-orang pada lingkar pada demokrasi bangsa ini.

Pada akhirnya kita mesti mengakui, bahwa Gus Dur telah wafat dan belum ada reinkarnasi atas perjuangan dirinya saat ini. Dan kita mesti mengakui jika lima tahun sekali dalam pesta demokrasi, tak ada tokoh yang benar-benar mutlak netral di tengah masyarakat. Semua bisa menjadi pemain dan memberikan noda pada demokrasi yang sudah diperjuangkan oleh orang-orang terdahulu, termasuk oleh Gus Dur. [T]

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan
Sukarno, Gus Dur, Jokowi, dan Punakawan Unfriend dalam Karya Rupa Butet
Tags: demokrasiGus DurPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Video Musik “Sing Kuat” dari Lebri Partami: Gambaran Kekerasan yang Sunyi  

Next Post

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co