3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Son Lomri by Son Lomri
February 23, 2024
in Opini
Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya

Gus Dur | ilustrasi tatkala.co

SETIAP lima tahun sekali dalam pemilu, termasuk pemilu yang terasa masih hangat ini, banyak politisi, termasuk capres dan cawapres mengaku diri pernah dekat dengan Gus Dur. Ada yang mengaku diri berteman baik, atau sangat berteman baik. Ada yang mengaku Gus Dur sebagai guru politiknya. Bahkan pernah ada yang mengaku menjadi tukang pijatnya.

Barangkali itu memang benar. Tak perlu dibuktikan. Yang perlu dibuktikan adalah setelah mereka terpilih, atau setelah tidak terpilih.

Jadi pertanyaannya, apakah mereka (yang mengaku-ngaku dekat Gus Dur) itu akan melakukan hal yang sama seperti Gus Dur, terutama menerapkan seperti kebijakan Gus Dur dulu yang sebagian besar enak didengar?

Atau, jika kalah, atau tidak terpilih, apakah mereka akan legowo dan bersikap dewasa, seperti Gus Dur dulu yang rela hanya pakai kolor keluar dari istana setelah didepak keluar dengan tidak sopan oleh lawan-lawan politik di sekelilingnya?

Gimick receh setiap lima tahun sekali itu sama sekali tidak mencerdaskan dalam suasana pemilu yang menentukan nasib bangsa, dan hanya membawa pada suasana pertarungan politik identitas. Kita bisa rasakan hal itu hanyalah sebuah trik jitu untuk mendapatkan simpati, terutama pada masyarakat muslim yang berlatar Nahdlatul Ulama atau umat muslim dan non mulim fans Gus Dur.

Orbituari Gus Dur, dan Mendungnya Diam-diam Demokrasi Kita Saat ini.

Langit demokrasi Indonesia memang pernah mendung berkepanjangan pada masa rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Kebebasan sipil nyaris tidak ada. Bahkan celakalah bagi siapa saja yang berbeda pendapat dan bersuara lantang saat itu. Sehingga demokrasi dirasakan seperti sebuah penjara yang nyata. Bagi masyarakat Tionghoa dan buruh misalnya, tak ada atensi sama sekali atas mereka mendapatkan haknya sebagai warga negara.

Setelah terpilihnya Gus Dur sebagai presiden yang ke-4 menggantikan BJ Habibie (1999-2001), seketika langit dan cuaca demokrasi di Indonesia mulai terlihat cerah. Kebebasan sipil mulai merebak ke setiap pelosok. Lebih-lebih etnis Tionghoa dapat merayakan hari rayanya di muka umum dan buruh mendapat haknya sebagaimana mestinya.

Walaupun Gus Dur menjabat hanya dua puluh dua bulan atau sekitar dua tahunan. Namun beberapa peninggalannya bagi bangsa ini cukup berarti, bahkan sampai sekarang. Gus Dur telah memutus rantai isu rasial yang ditanamkan oleh Orde Baru pada etnis Tionghoa. Seperti yang kita tahu di zaman itu, di mana kebencian sengaja ditanamkan sehingga terjadi penjarahan dan pemerkosaan pada orang-orang keturunan Tionghoa. Chaos.

Pada kisaran tahun 2000, Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu membuka jalan terang. Ia mengeluarkan sebuah keputusan cukup berani. Mencabut Instruksi Presiden No. 4, 1967 tentang Diskriminatif terhadap Etnis Tionghoa. Di masa kepemimpinannya juga agama Khong Hu Cu dapat diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Tak hanya itu, ketegangan negara dengan masyarakat suku Papua mulai berkurang. Gus Dur mengizinkan mereka untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora tanpa harus diperangi. Bahkan Ia juga yang telah mengembalikan nama Papua untuk digunakan yang sebelumnya bernama Irian Jaya.

Hal itu dapat kita pahami, bahwa Gus Dur sangat menghormati masyarakat adat atau kesukuan, perjuangan dan harapan mereka dalam menjalankan hidup dengan damai di tanahnya sendiri. Hal itu memiliki efek yang baik tentu saja, di mana ketegangan antara Papua dengan militer Indonesia, pun mereda. Artinya korban jiwa akibat peperangan sesama anak bangsa berkurang.

Sedangkan bagi buruh, Gus Dur pula yang memberikan perhatian lebih pada mereka yang pekerja. Melalui kebijakannya yang pro pada buruh telah membuka harapan baru bagi dunia kerja di Indonesia, khususnya para buruh. Gus Dur telah mendorong aturan melalui Menteri Tenaga Kerja tentang peraturan PHK, pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan ganti kerugian. Sehingga peraturan tersebut memperkuat gerakan buruh ketika berhadapan langsung dengan para despot.

Namun akhir-akhir ini. Masyarakat kita, atau mungkin kita sendiri, sama mudahnya tertipu pada hal-hal yang berbau selebrasi. Diperkuat oleh tokoh-tokoh penting di masyarakat, seperti kiai, tetua adat, kepala desa yang mengirim sinyal mendukung siapa. Suasana demokrasi kian dirasakan seperti pesta pertarungan suatu golongan.

Jika melihat kembali tahun 2019 ketika Jokowi-Ma’ruf Amin menang atas Prabowo-Sandi, sosok Ma’ruf Amin yang latar belakangnya sebagai tokoh NU, bisa kita rasakan memiliki pengaruh besar dalam mendulang suaranya saat pemilu. Tetapi, bagaimana ketika mereka sudah terpilih, apakah perjuangan Gus Dur mereka teruskan?

Justru sebaliknya, pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang bernegara dan berdemokrasi dijauhi. Ada banyak kontradiktif atas apa yang disebut sebagai golongan Gus Dur yang hijau dan menyenangkan itu. Seperti satu tahun silam kita dihebohkan berita tentang penggusuran di Pulau Rempang. Atau, penggusuran tanah adat di Kalimantan beberapa tahun silam. Atau, penggusuran masyarakat adat Besipae di NTT yang mana masyarakat, para orang tua, tinggal di bawah pohon beserta dengan anak-anaknya (2020).

Kemudian, terjadi kebijakan-kebijakan yang telah merugikan para buruh dan kebijakan-kebijakan lainnya dalam Omnibuslaw misalnya.  Belum lagi kebijakan Mahkamah Konstitusi yang terkesan terburu-buru dalam merevisi aturan terkait pemilu terasa masih hangat di kepala kita. Tentu ini menciderai nilai-nilai demokrasi yang sebenarnya.

Indeks Demokrasi kita memang naik tiga kali beruntun sejak tahun 2022 (lihat data BPS). Tapi itu rasanya tak sebanding dengan apa yang kita rasakan saat ini. Selain pesta demokrasi kemarin yang sudah kacau bahkan sebelum hari pencoblosan, di jalanan orang-orang gencar menolak ketimpangan itu.  

Tetapi tak ada yang menggubris. Padahal, dalam kekuasaan itu, ada Ma’ruf Amin yang tentu saja pernah mendengar bahwa Gus Dur adalah seseorang yang membumikan demokrasi di jalanan, di sudut kota, di mana-mana yang dianggap orang sulit mendapatkan kebebasan di masa Orde Baru.

Sama sekali tak ada “pengaruh” Gus Dur pada setiap kebijakan yang dilahirkan orang-orang pada lingkar pada demokrasi bangsa ini.

Pada akhirnya kita mesti mengakui, bahwa Gus Dur telah wafat dan belum ada reinkarnasi atas perjuangan dirinya saat ini. Dan kita mesti mengakui jika lima tahun sekali dalam pesta demokrasi, tak ada tokoh yang benar-benar mutlak netral di tengah masyarakat. Semua bisa menjadi pemain dan memberikan noda pada demokrasi yang sudah diperjuangkan oleh orang-orang terdahulu, termasuk oleh Gus Dur. [T]

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan
Sukarno, Gus Dur, Jokowi, dan Punakawan Unfriend dalam Karya Rupa Butet
Tags: demokrasiGus DurPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Video Musik “Sing Kuat” dari Lebri Partami: Gambaran Kekerasan yang Sunyi  

Next Post

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co