12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

Krisna Aji by Krisna Aji
December 10, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DALAM interaksi sosial, akan terdapat tingkat kecocokan yang berbeda dalam berkomunikasi. Lalu, apa yang penyebab dari perbedaan tersebut? Jawabannya akan sangat banyak. Salah satunya adalah hal yang akan dipaparkan pada tulisan ini, yang menggunakan pandangan dari turunan teori psikoanalisis: peran alam bawah sadar yang dibawa oleh masing-masing pihak saat berkomunikasi.

Selain alam sadar yang berisi pikiran logis–dapat ditelaah dengan jelas, terdapat alam bawah sadar yang memengaruhi seseorang dalam bertindak. Dengan menggunakan konsep psikoanalisis Freud sebagai pondasi dasar, maka alam bawah sadar tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian: Id, superego, dan ego. Alam bawah sadar tersebut terbentuk dan berkembang terus, sejalan dengan perkembangan usia dan pengalaman manusia.

Menurut Freud, Id muncul terlebih dahulu saat kehidupan dimulai. Id adalah dorongan dari dalam diri manusia yang penuh hasrat untuk dipuaskan. Dengan karakteristik ini, Id yang tidak dikontrol akan terus berkembang dengan liar dan dapat menimbulkan konflik dengan kepentingan–kepentingan lain di luar manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, muncul kontrol bernama superego yang berbentuk aturan–aturan yang membatasi ruang gerak dari Id itu sendiri. Walaupun superego berakar dari kesepakatan dan norma – norma lingkungan yang luas, manusia pertama kali diperkenalkan superego–norma–yang dianut oleh lingkungan terkecilnya, yaitu orang tua.

Id dan superego tampak seperti dua kutub energi yang saling bertolak belakang. Benturan dari kedua energi ini, pada kelanjutannya akan membentuk titik kompromi yang sering dikenal dengan nama: ego.

Dengan pemahaman Id, superego, dan ego, pembahasan selanjutnya adalah teori analisis transaksional yang diperkenalkan oleh Eric Berne. Teori ini secara garis besar memaparkan tiga peran yang dimainkan alam bawah sadar yang dipakai saat berkomunikasi.

Tiga peran utama alam bawah sadar ini mencangkup: peran kanak – kanak, dewasa, dan orang tua. Peran kanak-kanak dan orang tua dapat dipecah menjadi variabel yang lebih kecil dan spesifik. Peran anak dipecah menjadi peran anak yang bebas dan penurut, sedangkan peran orang tua dipecah menjadi peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Terdapat persamaan karakter antara ketiga peran alam bawah sadar yang ditawarkan oleh Berne dengan Freud. Peran kanak-kanak memiliki persamaan dengan Id; peran orang tua memiliki kesamaan dengan superego; dan peran dewasa yang serupa dengan ego.

Peran anak adalah representasi dari Id yang berkehendak untuk selalu dipuaskan. Peran ini terbagi menjadi dua, yaitu peran anak yang bebas dan peran anak yang penurut. Peran anak yang bebas adalah representasi Id yang liar dan tidak terkontrol superego. Masih di kutub yang sama, peran anak yang patuh adalah kondisi Id yang bersedia dijinakkan oleh superego.

Peran orang tua–pada kutub yang berlawanan dengan peran anak–adalah representasi dari superego yang awalnya diberikan oleh lingkungan seseorang dan akhirnya yang diakuisisi oleh orang tersebut. Peran ini pun terbagi menjadi dua: peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Peran orang tua yang otoriter adalah kecenderungan superego untuk mengontrol segala gerak Id dengan kaku. Masih di kutub yang serupa, peran orang tua yang permisif adalah kecenderungan superego yang mengalah dan membebaskan Id.

Peran alam bawah sadar yang terakhir adalah peran yang berada di antara kanak–kanak dan orang tua. Peran ini mengambil posisi dewasa yang dapat merepresentasikan ego–jika memandang menggunakan kaca mata Freud.

Peran dewasa menempatkan logika dengan dominan dalam mengambil keputusan. Cara ini memungkinkan pengambilan keputusan yang jauh dari perasaan subjektif terhadap sesuatu. Oleh karena itu, hasil dari aksi yang disebabkan oleh peran dewasa tentu akan logis dan efektif.

Setiap manusia memiliki tiga peran tersebut. Tetapi, dalam setiap komunikasi, akan ada satu peran yang mendominasi tanpa melihat usia. Dominasi peran dapat berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada kondisi yang sedang terjadi.

Misalkan saja, terdapat peran anak bebas yang mendominasi pada orang tua yang sedang bermain judi; peran orang tua yang otoriter pada anak kecil yang memerintah adiknya untuk tidak jajan sembarangan; atau peran dewasa pada pebisnis yang membicarakan data penjualan dengan logika yang jernih.

Selain menggunakan satu peran yang dominan, alam bawah sadar seseorang juga mengharapkan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu dari lawan komunikasinya. Alam bawah sadar dari lawan komunikasi tersebut ditangkap dari sinyal– sinyal, baik verbal atau nonverbal, yang berupa gestur, cara bicara, atau nada. Bahkan, semua sinyal tersebut dapat dimanipulasi agar seolah – olah muncul peran alam bawah yang berbeda dari yang sejatinya ada.

Contoh kasus dari pengharapan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu adalah pada seseorang laki–laki berusia 30 tahun yang dengan semangat mengajak istrinya untuk bertamasya ke luar kota. Pada kondisi itu, laki–laki tersebut menggunakan peran anak bebas yang juga mengharapkan umpan balik berupa peran anak bebas yang digunakan oleh istri.

Komunikasi tersebut dapat berjalan baik jika sang istri juga menggunakan peran anak bebas yang setuju untuk bertamasya dengan semangat menggelora. Kesepakatan untuk bertamasya yang bebas konflik pun dapat terjadi.

Lalu, apa yang terjadi jika istri tidak mengeluarkan peran anak yang bebas? Misalkan saja, sang istri menggunakan peran dewasa yang berargumen mengenai untung rugi dari bertamasya; peran orang tua yang otoriter dengan langsung menolak karena bertamasya hanya akan menghamburkan uang; atau peran orang tua yang permisif yang setuju untuk bertamasya, tetapi tidak terlalu bersemangat jika dibandingkan dengan peran anak bebas.

Konflik besar akan terjadi jika peran dewasa dan orang tua yang otoriter muncul dari pihak istri. Walaupun konflik besar tidak terjadi saat istri mengeluarkan peran orang tua yang permisif, kondisi ini akan membuat tamasya menjadi lebih hambar jika dibandingkan dengan istri yang menggunakan peran anak yang bebas.

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa permainan peran adalah hal yang krusial dalam interaksi sosial. Interaksi sosial yang menjadi baik atau buruk, dapat ditentukan oleh kecocokan antara peran yang diambil dan munculnya peran yang diharapkan dari lawan komunikasinya. Bahkan, konsep peran ini dapat digunakan lebih jauh untuk memanipulasi orang lain. Manipulasi tersebut digunakan dengan cara memanfaatkan kelemahan dari masing – masing peran.

Misalkan saja, seorang penjaga toko yang mengompori pembeli untuk membeli produknya dengan memanfaatkan sisi lemah dari peran anak bebas. Penjaga toko tersebut seolah menantang pembeli dengan mengatakan bahwa pembeli tidak akan mampu membeli produk di toko tersebut.

Pada kondisi tersebut, penjaga toko menggunakan topeng berupa peran anak bebas yang menantang pembeli yang sedang berperan sebagai anak bebas. Karena sisi lemah dari peran anak bebas adalah tidak suka diremehkan, maka pembeli akan terpancing untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalahkan tantangan dari penjual.

Atau, penjual mobil yang menyadari kesempatan pada pasangan suami–istri yang sedang menentukan pembelian sebuah mobil. Pada kondisi tersebut, penjual mobil melihat permainan peran di antara pasangan suami–istri tersebut adalah istri yang berperan sebagai orang tua otoriter dan suami yang berperan sebagai anak yang penurut.

Peran yang dimainkan oleh suami–istri tersebut membuat penjual mobil cukup melakukan persuasi terhadap istri–yang berperan sebagai orang tua otoriter–sehingga suami–yang berperan sebagai anak penurut–akan mengikuti apapun kata istrinya.

Pada akhirnya, interaksi sosial tidak hanya berupa sesuatu yang kasat mata. Variabel abstrak seperti alam bawah sadar yang bermain peran juga sangat berpengaruh dan perlu untuk diperhitungkan. Seseorang dapat memanfaatkan variabel ini untuk memanipulasi keadaan setelah paham cara kerjanya—atau dimanipulasi oleh orang lain yang lebih mengerti cara kerja bermain peran.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantun Lagi Naik Daun

Next Post

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co