23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pantun Lagi Naik Daun

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
December 10, 2023
in Esai
Pantun Lagi Naik Daun

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

CHRIS MARTIN dalam konsernya beberapa hari lalu di Gelora Bung Karno mem-viralkan sebuah pantun yang bernada sindiran, kepada siapa pun.  “Hari Selasa ujian Fisika, giat belajar agar lulus, apa kabar kota Jakarta? Boleh dong pinjam seratus?”

Pantun ini mendapat respon dari berbagai kalangan, termasuk kaum terpelajar yang berusaha mengulik makna di balik pantun itu, yang dikontekstualkan dengan situasi belakangan ini di sini. Chirs seolah memantik narasi yang beragam sebagai cermin hidupnya gairah berdemokrasi melalui pantun.

Belakangan ini, pantun memang sedang naik daun. Politisi, artis, pewara, pendidik, pengacara  dan profesi lain  sering  memanfaatkan pantun sebagai strategi komunikasi. Sebagai strategi komunikasi, pantun dapat digunakan untuk memuji, menyindir, mendebat, menasihati, bahkan berkelakar secara satire.

Dalam dunia pendidikan, di Program Sekolah Penggerak (PSP) yang dilaksanakan Balai Guru Penggerak Bali, pantun tampaknya menjadi “lagu wajib”. Pemantun dan terpantun saling sapa. Setiap sampiran dan  isi yang diucapkan pemantun selalu dijawab dengan: cakep oleh terpantun (belum jelas dari mana asal muasal cakep itu, mengapa tidak cantik, misalnya).

Namun demikian, pantun menyuguhkan komunikasi dialogis yang hangat penuh semangat. Tak ubahnya secangkir kopi hangat pagi yang menggairahkan. Nikmat tak tepermanai.

Kehadiran pantun di ruang publik dalam berkomunikasi menarik dicermati dalam sejumlah hal. Pertama, pantun menjadi alat komunikasi yang menarik, menggelitik, dan menghibur. Terkadang isinya protes atau sindiran tetapi tetap menghibur tanpa ada yang merasa tersakiti, baik dalam konteks keluarga maupun dalam konteks berbangsa.

Contohnya, maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, ayo kawan janganlah bingung, jagalah keutuhan jangan bercerai.

Pantun ini mengamanatkan bercerai tidak saja mengganggu keutuhan keluarga, tetapi juga mendistorsi keutuhan paragraf kebangsaan yang seharusnya ditenun dengan piranti kohesi dan koherensi yang padu dan telah diperjuangkan dengan susah payah untuk melahirkan keindahan demi kesejahteraan lahir batin. Selaras dengan moto pejuang bangsa terdahulu, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Kedua, sebagai bentuk puisi lama, pantun mendapat panggung yang diagungkan dalam  berbagai event. Ini patut disyukuri bahwa masyarakat Indonesia masih mencintai tradisi berpantun, sebagai bagian dari kebudayaan.

Pantun telah menjadi sumber kreativitas seni berbahasa yang mampu beradaptasi dengan keadaan, termasuk zaman Covid-19, selaras dengan kodrat anak, kodrat zaman, dan kodrat alam. Contohnya:   Dari Cina kita berlayar, tetap rajin membayar pajak, dari Corona kita belajar, selalu disiplin menjaga jarak.

Ketiga, pantun dapat dilagukan dengan rimanya yang bersilang dan tampak kompak serasi sebagai pasangan idaman. Sampiran dan isi boleh jadi tiada hubungan maknawi, tetap ditautkan oleh rima yang membuat syahdu.

Tafsir pun bisa bersifat kontekstual dan menimbulkan kegandaan makna bergantung pada respon terhadap situasi yang dikritisi, seperti pantun Chris Martin di atas. Dengan demikian, pantun adalah salah satu produk budaya untuk mengasah keterampilan berpikir kritis yang memenuhi syarat estetis humanis.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, pantun pun dapat menjadi hallo efect yang memikat, sebagai bahan apersepsi pada awal pembelajaran dan bahan refleksi pada akhir pembelajaran.

Pantun juga dapat digunakan sebagai selingan di tengah-tengah pembelajaran untuk mencairkan kevakuman suasana kelas. Kepiawaian guru sebagai komunikator di kelas dapat menjadikan pantun sebagai ice breaking sehingga kelas menjadi hidup: menggairahkan.

Kelas yang menggairahkan adalah pintu kesadaran keberterimaan dalam hubungan guru – siswa. Keberterimaan sejati hanya dapat berlangsung bila adanya kesamaan frekuensi di antara kedua pihak. Pantun adalah jembatan menarik untuk penguatan profil pelajar Pancasila.

Untuk menguatkan elemen bertakwa, beriman, dan berakhlak mulia, misalnya, dapat diselipkan pantun nasihat. Musim kering makan mentimun, makan mentimun bersama teman, musim gering menjaga imun, menjaga imun merawat iman.

Untuk aspek bergotong royong, misalnya dapat dipilih pantun yang membersamai. Penyakit koreng tandanya gatal, orang sial jangan ditertawakan, walaupun bertemu secara digital, hubungan sosial jangan dilupakan.

Dalam menanamkan sikap kritis terhadap media sosial, guru bisa beraksi dengan pantun. Bersama makan kue kering, Kue kering terasa garing, Belajar pada masa daring, saringlah sebelum sharing. Pantun lain misalnya, Ke swalayan membeli kue kering, bertemu ayah Si Lecir, pandai-pandailah belajar daring, jangan sampai anda tergelincir.

Begitulah pantun menyediakan ruang bebas berekspresi bagi guru mengawal pembelajaran di kelas dengan Kurikulum Merdeka. Merdeka belajar bagi guru dan siswa. Merdeka berpantun untuk tetap santun dan berkepribadian dalam kebudayaan mengawal NKRI. 

Di tangan guru kreatif, pantun dapat menjadi produk dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan sentuhan budaya lokal dalam bentuk dolanan, misalnya. Kolaborasi tidak dapat dihindarkan.

Instrumen musik daerah bisa dihadirkan. Syairnya bisa dilagukan. Kekhasan busana daerah ditampilkan. Tarian  juga bisa digerakkan. Kewirausahaan pasti bisa dikembangkan. Keterampilan bahasa makin terasah. Mari berpantun.

Bapak ibu mohon dituntun,
Kami bersedia duduk sejajar bersila,
Ayo mari kita berpantun,
Menguatkan profil pelajar Pancasila
.[T]

“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri
Membaca Pantun Menguji Wacana – Mengingat Kembali Cicak vs Buaya
Pinjam Dulu Seratus!
Tags: esaipantun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuban dan Sedikit Hal di Baliknya: Sebuah Celotehan

Next Post

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co