2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pantun Lagi Naik Daun

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
December 10, 2023
in Esai
Pantun Lagi Naik Daun

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

CHRIS MARTIN dalam konsernya beberapa hari lalu di Gelora Bung Karno mem-viralkan sebuah pantun yang bernada sindiran, kepada siapa pun.  “Hari Selasa ujian Fisika, giat belajar agar lulus, apa kabar kota Jakarta? Boleh dong pinjam seratus?”

Pantun ini mendapat respon dari berbagai kalangan, termasuk kaum terpelajar yang berusaha mengulik makna di balik pantun itu, yang dikontekstualkan dengan situasi belakangan ini di sini. Chirs seolah memantik narasi yang beragam sebagai cermin hidupnya gairah berdemokrasi melalui pantun.

Belakangan ini, pantun memang sedang naik daun. Politisi, artis, pewara, pendidik, pengacara  dan profesi lain  sering  memanfaatkan pantun sebagai strategi komunikasi. Sebagai strategi komunikasi, pantun dapat digunakan untuk memuji, menyindir, mendebat, menasihati, bahkan berkelakar secara satire.

Dalam dunia pendidikan, di Program Sekolah Penggerak (PSP) yang dilaksanakan Balai Guru Penggerak Bali, pantun tampaknya menjadi “lagu wajib”. Pemantun dan terpantun saling sapa. Setiap sampiran dan  isi yang diucapkan pemantun selalu dijawab dengan: cakep oleh terpantun (belum jelas dari mana asal muasal cakep itu, mengapa tidak cantik, misalnya).

Namun demikian, pantun menyuguhkan komunikasi dialogis yang hangat penuh semangat. Tak ubahnya secangkir kopi hangat pagi yang menggairahkan. Nikmat tak tepermanai.

Kehadiran pantun di ruang publik dalam berkomunikasi menarik dicermati dalam sejumlah hal. Pertama, pantun menjadi alat komunikasi yang menarik, menggelitik, dan menghibur. Terkadang isinya protes atau sindiran tetapi tetap menghibur tanpa ada yang merasa tersakiti, baik dalam konteks keluarga maupun dalam konteks berbangsa.

Contohnya, maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, ayo kawan janganlah bingung, jagalah keutuhan jangan bercerai.

Pantun ini mengamanatkan bercerai tidak saja mengganggu keutuhan keluarga, tetapi juga mendistorsi keutuhan paragraf kebangsaan yang seharusnya ditenun dengan piranti kohesi dan koherensi yang padu dan telah diperjuangkan dengan susah payah untuk melahirkan keindahan demi kesejahteraan lahir batin. Selaras dengan moto pejuang bangsa terdahulu, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Kedua, sebagai bentuk puisi lama, pantun mendapat panggung yang diagungkan dalam  berbagai event. Ini patut disyukuri bahwa masyarakat Indonesia masih mencintai tradisi berpantun, sebagai bagian dari kebudayaan.

Pantun telah menjadi sumber kreativitas seni berbahasa yang mampu beradaptasi dengan keadaan, termasuk zaman Covid-19, selaras dengan kodrat anak, kodrat zaman, dan kodrat alam. Contohnya:   Dari Cina kita berlayar, tetap rajin membayar pajak, dari Corona kita belajar, selalu disiplin menjaga jarak.

Ketiga, pantun dapat dilagukan dengan rimanya yang bersilang dan tampak kompak serasi sebagai pasangan idaman. Sampiran dan isi boleh jadi tiada hubungan maknawi, tetap ditautkan oleh rima yang membuat syahdu.

Tafsir pun bisa bersifat kontekstual dan menimbulkan kegandaan makna bergantung pada respon terhadap situasi yang dikritisi, seperti pantun Chris Martin di atas. Dengan demikian, pantun adalah salah satu produk budaya untuk mengasah keterampilan berpikir kritis yang memenuhi syarat estetis humanis.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, pantun pun dapat menjadi hallo efect yang memikat, sebagai bahan apersepsi pada awal pembelajaran dan bahan refleksi pada akhir pembelajaran.

Pantun juga dapat digunakan sebagai selingan di tengah-tengah pembelajaran untuk mencairkan kevakuman suasana kelas. Kepiawaian guru sebagai komunikator di kelas dapat menjadikan pantun sebagai ice breaking sehingga kelas menjadi hidup: menggairahkan.

Kelas yang menggairahkan adalah pintu kesadaran keberterimaan dalam hubungan guru – siswa. Keberterimaan sejati hanya dapat berlangsung bila adanya kesamaan frekuensi di antara kedua pihak. Pantun adalah jembatan menarik untuk penguatan profil pelajar Pancasila.

Untuk menguatkan elemen bertakwa, beriman, dan berakhlak mulia, misalnya, dapat diselipkan pantun nasihat. Musim kering makan mentimun, makan mentimun bersama teman, musim gering menjaga imun, menjaga imun merawat iman.

Untuk aspek bergotong royong, misalnya dapat dipilih pantun yang membersamai. Penyakit koreng tandanya gatal, orang sial jangan ditertawakan, walaupun bertemu secara digital, hubungan sosial jangan dilupakan.

Dalam menanamkan sikap kritis terhadap media sosial, guru bisa beraksi dengan pantun. Bersama makan kue kering, Kue kering terasa garing, Belajar pada masa daring, saringlah sebelum sharing. Pantun lain misalnya, Ke swalayan membeli kue kering, bertemu ayah Si Lecir, pandai-pandailah belajar daring, jangan sampai anda tergelincir.

Begitulah pantun menyediakan ruang bebas berekspresi bagi guru mengawal pembelajaran di kelas dengan Kurikulum Merdeka. Merdeka belajar bagi guru dan siswa. Merdeka berpantun untuk tetap santun dan berkepribadian dalam kebudayaan mengawal NKRI. 

Di tangan guru kreatif, pantun dapat menjadi produk dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan sentuhan budaya lokal dalam bentuk dolanan, misalnya. Kolaborasi tidak dapat dihindarkan.

Instrumen musik daerah bisa dihadirkan. Syairnya bisa dilagukan. Kekhasan busana daerah ditampilkan. Tarian  juga bisa digerakkan. Kewirausahaan pasti bisa dikembangkan. Keterampilan bahasa makin terasah. Mari berpantun.

Bapak ibu mohon dituntun,
Kami bersedia duduk sejajar bersila,
Ayo mari kita berpantun,
Menguatkan profil pelajar Pancasila
.[T]

“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri
Membaca Pantun Menguji Wacana – Mengingat Kembali Cicak vs Buaya
Pinjam Dulu Seratus!
Tags: esaipantun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuban dan Sedikit Hal di Baliknya: Sebuah Celotehan

Next Post

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co