3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tuban dan Sedikit Hal di Baliknya: Sebuah Celotehan

Jaswanto by Jaswanto
December 9, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEPANJANG perjalanan dari Banyuwangi sampai Surabaya, di dalam gerbong lima kereta Probowangi (kereta yang membawa saya dari Stasiun Banyuwangi Baru ke Stasiun Gubeng Surabaya), selain tidur dan berbincang dengan perempuan yang saya anggap kekasih, sesekali saya sempatkan untuk membaca novel otobiografi—atau semacam memoar—pemenang hadiah Nobel Sastra 2012 Mo Yan, Di Bawah Bendera Merah (2013).

Novel terjemahan Fahmy Yamani itu, meski belum selesai saya baca, berdasarkan pengantar dari Peminpin Redaksi Penerbit Serambi, Anton Kurnia, saya tahu bahwa ini adalah memoar dalam bentuk novel pendek yang mengisahkan masa 40 tahun kehidupan Mo Yan antara 1969-2009 dengan benang merah kenangan masa kecilnya dan perubahan kehidupannya sejak bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat atau Tentara Merah yang menjadi gerbang emas baginya untuk memperbaiki taraf hidup dan merintis karier sebagai penulis.

Sejak membaca halaman pertama hingga bagian keempat, saya langsung terpikat. Dalam buku ini, dengan kalimat-kalimat lancar memikat—terkadang nakal dan menggelitik seperti kata Anton—Mo Yan mendedah kisah cinta sekolah rendah (yang terus membayanginya hingga puluhan tahun), perubahan situasi sosial politik China di bawah kibaran bendera merah (yang diwarnai segenap suka dan duka), serta kronik sejarah (yang dikaitkan dengan pengalaman personalnya dan orang-orang yang dikenalnya sejak kecil).

Sampai di sini, dan ini yang membuat saya kagum, tak seperti narasi-narasi lain yang membahas China sebagai salah satu negara komunis terbesar dan sukses sepanjang sejarah—salah satu macan ekonomi dan politik dunia saat ini—buku ini mewakili sejarah orang-orang kecil, meminjam istilah Anton, “semacam petite histoire yang dituturkan dengan sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung refleksi yang cerdas dan dalam.” Ya, begitulah seharusnya seorang maestro sastra menceritakan kisahnya.

Tetapi ini bukan tentang Di Bawah Bendera Merah karya Mo Yan—sastrawan yang oleh New York Times disebut sebagai salah satu penulis terbaik dunia dari China itu. Ini tentang refleksi sederhana saat saya, untuk kesekian kalinya, kembali menginjakkan kaki di kota kelahiran saya, Tuban, Jawa Timur.

***

Saya tiba di Tuban tepat setelah orang-orang selesai menunaikan ibadah salat jumat. Bus Sinar Mandiri jurusan Surabaya-Tuban-Semarang yang lajunya mobat-mabit itu menurunkan saya di halte selatan Patung Letda Soetjipto yang gagah dan legendaris yang berdiri di sisi barat kota itu. Mengenai Letda Soetjipto, bersama pasukannya selama Agresi Militer II di Tuban-Bojonegoro, adalah mimpi buruk bagi pasukan Belanda ketika itu.

(Perjuangannya bersama Brigade Ronggolawe dapat dibaca di Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe (1985) oleh Panitia Penyusun Sejarah Brigade Ronggolawe dan Dewan Harian Cabang 45: Riwayat Singkat Letda Soetjipto.)

Sebagai kota tua, Tuban memiliki sejarah yang panjang. Sejak zaman Majapahit kota ini menjadi salah satu kota terpenting dengan pelabuhannya, Kambang Putih, yang memiliki riwayat dahsyat itu. Bahkan, beberapa riwayat menyebut bahwa Pelabuhan Kambang Putih sudah ada sejak pemerintahan Airlangga di Kahuripan.

Lebih daripada itu, sumber China pada awal abad ke-15 yang termuat dalam kitab Ying Yai Shing-Lan menyebutkan bahwa Tuban merupakan salah satu dari empat kota besar di Jawa (Majapahit) yang tidak memiliki tembok kota.

Dan sebagai kota pelabuhan di Nusantara, Tuban barangkali, mungkin, sama pentingnya dengan Banten dan Makassar sebelum VOC merubah segala-galanya. Oleh karena itu, berbicara wilayah maritim di Nusantara rasanya kurang afdhol jika tidak menyebut satu kota bernama Tuban. Dan mengenai kemundurannya yang menyebabkan gaung-namanya pelan-pelan tenggelam dan dilupakan, kita perlu kembali ke masa yang lebih awal, keruntuhan Majapahit.

Bukan maksud saya mengulang pelajaran sejarah di sekolah, tapi ada baiknya kita menyimak kisah jatuh-bangun Tuban sebagai akar dari gerak memunggungi laut. Mengenai keruntuhan Pelabuhan Kambang Putih, dalam pidato kebudayaannya yang bertajuk Arus Balik Kebudayaan: Sejarah Sebagai Kritik, yang dibacakannya di Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 silam, Hilmar Farid mengatakan:

“Ada banyak teori dan versi mengenai sebab keruntuhannya (Majapahit), tapi narasi yang paling menarik tidak datang dari ahli arkeologi atau sejarah, melainkan seorang novelis: Pramoedya Ananta Toer. Dalam novelnya Arus Balik Pramoedya bercerita mengenai keruntuhan Tuban, kota pelabuhan terakhir di pantai utara Jawa yang masih setia kepada Majapahit.”

Arus Balik merupakan novel pertama yang ditulis Pram ketika ditahan tanpa pengadilan oleh penguasa Orde Baru di Pulau Buru yang, menurut Hilmar Farid, menggambarkan degenerasi penguasa Tuban, seorang adipati yang berpikiran sempit, mau menang sendiri, berperilaku feodal, persis seperti yang digambarkan oleh budayawan Mochtar Lubis pada tahun 1977 dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban.

Di tangan sang adipati Tuban ketika itu, wilayah penting Majapahit itu seperti kehilangan orientasi. Seperti kata Hilmar, daerah pedalaman sudah tidak lagi bisa memberikan supply yang diperlukan, tidak ada lagi kehidupan ekonomi yang meriah, produksi berhenti, dan tidak ada lagi arus barang, tenaga dan pengetahuan dari selatan ke utara. Alih-alih berdagang dengan negeri yang jauh, Tuban malah disibukkan oleh serangan para penguasa pantai utara Jawa yang lain.

Novel panjang dengan adegan perang yang rinci dan mengasyikkan sebagai sebuah cerita itu, sebagaimana telah disampaikan Hilmar Farid dalam pidatonya, punya misi lebih besar lagi: menjelaskan transformasi kultural yang terjadi di masa akhir kejayaan Majapahit. Galeng—tokoh dalam Arus Balik— yang ditempa oleh perang dan perebutan kekuasaan, di akhir novel bercerita setelah berhasil merebut kembali Tuban dari tangan Portugis, mengomentari perubahan besar yang melanda:

“Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”

Namun, semua itu hanya kejayaan masa lalu. Kini wajah Tuban sudah jauh berbeda, meski beberapa pemimpinnya masih ada yang berpikiran sempit, mau menang sendiri, dan berperilaku feodal. Dan mungkin karena sikap seperti itulah, Kabupaten Tuban masih setia bertengger di urutan kelima sebagai daerah dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Jawa Timur.

Hal tersebut tentu sangat kontradiktif dengan realita Tuban sebagai kota industri dan memiliki kekayaan alam melimpah. Oh, mungkin, adanya industri sepertinya tak ada hubungannya dengan berkurangnya jumlah kemiskinan. Saya malah curiga, dengan adanya industri justru kemiskinan malah semakin terlihat jelas. Ketimpangan ada di mana-mana. Kesejahteraan yang ditawarkan industri hanya berlaku bagi segelintir orang saja.

 Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan Wahyu Eka Setyawan—manajer kampanye WALHI Jatim—di Indoprogress.com. Judulnya “Negara Hadir di Kilang Minyak Tuban untuk Merampas Ruang Hidup Rakyat”. Sebuah tulisan berat bagi pemuda malas seperti saya. Tetapi karena saya ingin tahu, akhirnya saya membacanya sampai selesai.

Saya mendapat banyak informasi dari tulisan panjang itu. Salah satunya adalah tentang Tuban yang masuk dalam wilayah pengembangan sarana dan prasarana terkait migas. Dalam RTRW Provinsi Jawa Timur poin ke-6, tulis Wahyu, Tuban adalah salah satu daerah yang diprioritaskan untuk pembangunan proyek strategis migas nasional.

Lebih jauh, pada pasal 92 menyebutkan Tuban masuk dalam rencana Kawasan Strategis Nasional (KSN). Tak tanggung-tanggung, lokasi ini digadang-gadang akan menghasilkan 300 ribu barel minyak per hari. “Inilah ambisi pemerintah memproduksi minyak secara efisien sehingga mendapatkan keuntung besar,” kata Wahyu dalam tulisannya.

Membaca tulisan tentang kilang minyak, saya teringat kengerian lumpur Lapindo—yang sampai sekarang, masih mendaulat Porong dan sekitarnya. 14 tahun berlalu, semburan lumpur Lapindo belum juga berhenti. Berawal dari tahun 2006, saat PT. Lapindo Brantas, perusahaan milik Grup Bakri, melakukan pengeboran kilang minyak di sana. Naas. Bukan malah membawa kesejahteraan, tapi malah membawa bencana yang mengerikan.

Dampaknya: 6 desa di 3 kecamatan tenggelam.; 25 ribu warga harus mengungsi; 8.200 warga dievakuasi; 10.426 rumah hunian; 77 ribu rumah ibadah tergenang; 600 hektar lahan terendam; dan 30 pabrik yang hancur membuat 1.873 pekerja kehilangan pekerjaan. Malangnya, kontrak mengelola migas yang seharusnya berakhir 22 April 2020 lalu, pada 2018 resmi diperpanjang  oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, hingga tahun 2040. Ironis! Asal-asalan dalam beroprasi hingga mengabaikan ruang hidup, tapi masih diberi kesempatan. Lumpur Lapindo hanya menambah catatan kelam industrialisasi.

Tak ada pembangunan tanpa konsekuensi. Ada yang dipilih, artinya ada yang harus dikorbankan. Pemerintah memilih membangun kilang miyak di Tuban, artinya pemerintah harus mengorbankan lahan pertanian produktif seluas 841 hektar: 348 hektar milik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); 109 hektar milik PT Perhutani; dan sisanya, 384 hektar milik warga.

Bukan hanya itu, karena pemerintah memilih kilang minyak, artinya pemerintah juga mengorbankan  6.738 ton gabah. Sebutan Tuban lumbung pangan Jawa Timur pun hanya akan menjadi masa lalu. Dan bagaimana nasib petani yang tanahnya masuk dalam daftar? Sial, dengan suka cita mereka malah menikmati uang hasil jual tanah produktifnya dengan membabi-buta.

Seketika mereka membangun rumah mewah, membeli mobil mewah, yang menurut sebuah artikel di Tirto.id dikatakan “tak bijak dari sudut pandang pengelolaan keuangan. Rezeki nomplok itu tak akan bertahan lama dan sewaktu-waktu warga akan kekurangan bahkan kemungkinan terburuk jatuh miskin.”

Namun, di lain sisi, sebagaimana disampaikan Vincent Fabian dalam “Aksi Warga Tuban Beli Mobil Cermin Minimnya Literasi Keuangan”, pengalaman warga lain bisa jadi preseden. Video dokumenter Watchdoc dengan judul “Samin vs Semen” yang terbit 2015 lalu memuat cerita pahit sejumlah warga Tuban setelah 20 tahun menjual tanah ke pabrik semen. Ketika ditanya apakah uang itu masih ada, seorang warga yang kebetulan lewat menjawab, “Ya, habis. Malah sekarang kekurangan” (menit ke-32). Kilang minyak dan pabrik semen hanya dua di antara berbagai masalah yang ada di Tuban.

***

Tuban… ah, rasanya sudah lama sekali tak saya kunjungi. Padahal lebaran kemarin baru saja saya hirup udaranya. Tapi mungkin begitulah cara kerja tanah kelahiran. Selain Singaraja, saya meyakini bahwa ada sesuatu yang istimewa mengenai kampung saya—walaupun kondisinya demikian.

Ketika saya sampai rumah nanti, pikir saya sebelum angkot merah Singaraja-Gilimanuk dengan semena-mena membawa tubuh saya, secara harfiah mungkin ada ilalang di jalan yang menyebabkan sesuatu yang tak diinginkan; dan mungkin saya akan mendapati dua atau tiga warung kopi baru berdiri di sana. Atau malah saya akan terkejut ketika mendapati bahwa saya tidak mengenali seorang pun. Itu memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya hanya berandai-andai saja.

 “Apakah Karang Binangun rumahmu?” tanya seorang teman.

Lagi-lagi, ada sedikit keraguan dalam diri saya. “Saya sudah berada di sana sebelum di sini, jadi saya kira itulah rumah saya. Semua bagian yang saya sayangi ada di sana.”

Mendengar jawaban saya sendiri, saya teringat pada sesuatu yang disampaikan seorang sutradara film Islandia untuk menjawab pertanyaan Eric Weiner, penulis buku The Geography of Bliss yang terkenal itu. Ada sebuah pertanyaan sederhana, katanya, yang jawabannya mengidentifikasi rumah sejati Anda. Pertanyaannya adalah: “Di mana Anda ingin meninggal dunia?”

“Di Vermont, tempat saya dibesarkan,” kata sutradara film itu. Di sanalah, bukan di tempat lain, di mana dia ingin abunya ditaburkan.

Pada titik ini saya pun demikian, meski saya tidak paham betul apa makna sebuah kepulangan. Namun, mungkin, seperti kata Gunawan Mohamad, barangkali, bahwa mencintai tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain selain dari yang satu itu. Sekali lagi mungkin, itulah kenapa setiap kali pulang kampung, saya merasa bahagia. Sebab saya merasa, tak ada negeri lain, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk terus hidup, bekerja, dan terutama untuk mati, selain negeri tanah kelahiran.[T]

(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: IndustriJawa Timurkampung halaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perahu | Cerpen Dian Suryantini

Next Post

Pantun Lagi Naik Daun

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pantun Lagi Naik Daun

Pantun Lagi Naik Daun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co