2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang

Jaswanto by Jaswanto
April 20, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEJAK MEMUTUSKAN merantau ke Singaraja, Bali, pada 2015 silam, sekarang saya merasa bahwa ciri khas ke-Tuban-nan saya nyaris sudah hilang. Hal itu bisa terjadi mungkin karena banyaknya budaya, kebiasaan, bahasa, dan manusia (yang berinteraksi) yang saya temui; tapi barangkali ini alasan yang paling kuat: saya jarang dan lama tak pulang ke Tuban—dan sekalinya pulang memang tak pernah lama. Dengan kata lain, saya sudah jarang berinteraksi dengan orang Tuban.

(Selama saya hidup di Singaraja, sekuat yang saya ingat, saya hanya akan pulang saat menjelang Idul Fitri. Artinya, saya hanya pulang sekali dalam setahun. Bahkan, saat pandemi corona sedang berada di puncaknya, saya merayakan Idul Fitri di Singaraja—dan itu, tentu saja, tidak enak.  Tapi sebenarnya hanya karena pertimbangan ekonomi sajalah jika kemudian saya lebih jarang pulang kampung dan, oleh karena itu, lebih berjarak dengan desa kelahiran.)

Ya, sejak saya tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Singaraja, saya lebih banyak berinteraksi dengan orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa dari luar Tuban. Tentu bukan berarti di Singaraja tidak ada mahasiswa dari Tuban, tapi mahasiswa asli Tuban di Singaraja jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan (kanan-kiri) manusia (sekarang bahkan sudah lenyap tak tersisa). Bahkan, antar mahasiswa asli dari Tuban pun, saat berinteraksi, tak jarang malah menggunakan kebiasaan orang lain, alih-alih kebiasan sendiri.

Soal bahasa, dialek, atau logat, misalnya. Di Singaraja, saya dan teman-teman lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa (atau lebih tepatnya bahasa Jawa khas Tuban). Bukannya hendak gaya-gayaan, tapi orang bodoh macam apa, sebagai orang Tuban, Jawa Timur, saat berbicara dengan orang Bali, Lombok, Sumatera, Makassar, Kupang sampai Papua, menggunakan bahasa Jawa? Alih-alih akrab, bisa jadi malah babak-belur.

Sialnya, menggunakan bahasa Indonesia nyaris setiap hari, membuat lidah saya seperti lupa mengucapkan kata, dialek, atau logat khas Tuban dengan baik dan benar.

Saya sudah jarang menggunakan kata “ngamuk” untuk kata “terserah”; “srengen”—e dibaca seperti kata serem—untuk kata “marah”; “ndhêngêr” = paham; “mlété” = sombong; “mbaít” = lihai; “ngêmpròs” = berbohong; “mêgilan” = terkenal (dalam konteks negatif); “jêmbêrên” = jijik; atau mengunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Ya, alih-alih menggunaka kata “ngamuk”, misalnya, dalam konteks bahasa Jawa, sekarang saya lebih banyak menggunakan kata “sembarang” atau “terserah” sebagai penggantinya.

Sekadar informasi, dalam bahasa Indonesia, imbuhan “-êm” dan “-nêm” sama seperti kata ganti kepemilikan “-mu”. Sedangkan penggunaannya didasarkan pada huruf akhir kata yang diimbuhi tersebut berupa huruf vokal atau konsonan.

Misal, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf vokal seperti “jahe”, imbuhan yang berlaku adalah “-nêm”, sehingga menjadi jahenêm (jahemu). Lalu, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf konsonan, seperti “kipas”, misalnya, imbuhan yang berlaku adalah “-êm”, sehingga menjadi kipasêm (kipasmu). Contoh lain: bapakêm (bapakmu), adikêm (adikmu), dan, jarinêm (jarimu), sapinêm (sapimu), atau sapunêm (sapumu), dst.

Bukan hanya itu saja, saya juga sudah jarang menggunakan seruan “lèh” sebagai penegasan pada akhiran kalimat perintah, kalimat berita, maupun kalimat tanya. Soal ini, dalam bahasa Indonesia, seruan “lèh” sama halnya seperti seruan “dong” untuk akhiran kalimat perintah dan sama seperti seruan “lho” untuk akhiran kalimat berita, juga serupa dengan seruan “kan” untuk kalimat tanya. Misal: ayo, lèh! = ayo, dong!; Iya, lèh = iya, loh; dan  iku, lèh? = itu, kan? Dst.

Sampai di sini, sekali lagi, seingat saya, saat berbicara menggunakan bahasa Jawa, saya memang sudah tidak pernah lagi menggunakan kosa kata atau istilah-istilah di atas atau menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata—untuk yang terakhir, soal imbuhan “-êm” dan “nem”, sudah lama saya menggantikannya dengan kata ganti kepemilikan “-mu”.

Saya tidak paham betul kenapa kita gampang sekali terpengaruh oleh lingkungan. Tetapi, soal bahasa, saya meyakini bahwa bahasa yang digunakan oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang ada di sekelilingnya. Dan konteks budaya tersebut, tentu juga bergantung pada status sosial, aktivitas, daerah geografis, usia, dan lainnya.

Dengan begitu, maka wajar jika bahasa yang digunakan masyarakat di perkotaan akan berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat daerah perdesaan. Hal itu karena konteks sosial budaya di masing-masing wilayah berbeda dan menyertai kehidupan masyarakatnya.

***

Bagi sebagain orang, mungkin hal ini tampak sepele. Tapi, bagi orang yang sering mempersoalkan banyak hal seperti saya, tentu ini cukup serius dan, tentu saja, membuat saya ketar-ketir. Dan rasa itu semakin memenuhi dada saat saya pulang ke kampung halaman.

Di kampung saya di Dusun Karang Binangun, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tak mungkin saya menggunakan bahasa Indonesia (memangnya orang Karang Binangun aneh macam apa yang melakukannya. Alih-alih kagum, sepertinya malah akan dibacakan mantra, sebab dianggap kesurupan). Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menggunakan bahasa Jawa. Sialnya, bahasa Jawa saya sudah campur aduk dengan kekhasan daerah lain.

Ya, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya berinteraksi dengan banyak orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa, termasuk bahasa dari belahan bumi Jawa yang lain—yang membuat bahasa Jawa saya tak lagi memiliki ciri khas, dangkal, blasteran, dan tak jelas.

Maka betapa remuk redam hati saya saat tetangga, kerabat, teman dekat, bahkan orang tua saya sendiri mengatakan: “Wis berubah yo sak iki. Wis gak koyo wong Karang Binangun maneh.” “Sudah berubah ya sekarang. Sudak tidak seperti orang Karang Binangun lagi.” Wah, saya pikir ungkapan ini bukan hanya sekadar ungkapan spontanitas atau sekadar bercandaan, lebih dari itu, khususnya saya pribadi, saya merasa, ucapan itu semacam bentuk kehilangan, kekecewaan, secara tidak langsung.

Parahnya, tak berhenti sampai di situ, dari urusan logat, dialek, kemudian merembet sampai urusan makanan dan hubungan kekerabatan.

Banyak orang di kampung saya mengatakan—cenderung menuduh dan tak jarang menghakimi—bahwa saya sudah tidak lagi doyan makanan kampung dan melupakan batehane (kerabatnya). “Sudah lama hidup di kota, pasti nggak mau makanan orang kampung seperti ini” juga “Dia pasti sudah lupa sama kerabatnya sendiri.” Oh, maaf, saya ralat: bukan hanya kerabat dan tetangga saja yang begitu, beberapa teman lama saya juga mengatakan hal yang sama.

Ya, ini alasan kenapa saya menganggap urusan ini cukup serius. Dan saya paham, bahwa ini adalah efek, konsekuensi, merantau.

Wajar mereka mengatakan seperti itu, wong saya sendiri merasa sudah jauh dari kampung halaman, kok. Jauh bukan hanya soal geografis, tapi juga soal-soal yang lebih filosofis dan esensial. Saya tak lagi tahu siapa orang yang meninggal, siapa yang lahir, dan siapa menikah dengan siapa. Seperti saat misan perempuan saya menikah dan betapa malunya saya saat suaminya memanggil saya sedangkan saya tidak tahu dia siapa dan menganggap dia orang lain. Atau ketaktahuan yang fatal bahwa seorang bocah tak saya kenal yang bermain di depan rumah adalah anak dari seorang sepupu.

Sampai di sini, bukankah apa yang terjadi pada saya juga terjadi dengan kebanyakan perantau? Saya tak tahu betul soal itu.

Tetapi, pada akhirnya saya cukup lega saat nenek saya dari pihak ibu berkata: “Sekolah kok nggak selesai-selesai. Garap ladang sana, bantu bapakmu!” Ia selalu menyebut saya sekolah, meskipun saat ini saya adalah seorang editor di sebuah perusahaan media dan telah setahun lulus kuliah. Saya tertawa saat pertama kali mendengarnya, tapi rasa-rasanya saya mesti berterima kasih kepada Nenek, orang yang tak pernah menggap saya berubah.

Ya, di bagian diri saya yang lain, secara psikologis, saya merasa tak pernah berubah dari pertama kali saya meninggalkan desa nyaris sembilan tahun lalu. Saya adalah bocah yang sama yang, kata Nenek, “sekolah tak selesai-selesai”. Tak peduli selama sembilan tahun saya hidup di Singaraja dan mengalami semua lika-liku ala perantau; tak peduli ke-Tuban-nan saya sudah luntur atau bahkan hilang, yang jelas, saya tetap orang Tuban dan akan tetap menjadi bagian di dalamnya—walaupun sudah jarang menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Itu bisa saya pelajari kembali, suatu saat nanti.[T]

Bulan “Akting”
Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: Bahasakampung halamankolom
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Marayana dan Wiana: Berpulangnya Tokoh Hindu dari Pesisi Utara dan Pesisi Selatan Bali

Next Post

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co