15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 20, 2023
in Feature
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Makam Wali Pitu, Loloan, Jembrana, Bali

DENGAN JARAK TEMPUH tiga jam dari Denpasar, Jembrana menjadi wilayah yang kerap dilupakan. Kabupaten di ujung barat Bali ini lebih heterogen dibandingkan wilayah Bali lainnya. Menilik sejarahnya, sejak 1653 para pendatang dari Sulawesi Selatan mulai bermigrasi ke Jembrana. Warga yang bersuku Bugis itu seperti menemukan tempat yang mirip daerah asalnya. Mereka adalah para pelaut dan  Jembrana memiliki wilayah laut yang luas.

Warga Bugis keturunan Melayu tersebut bahkan diangkat menjadi prajurit kerajaan Jembrana. Mereka dikenal tangguh dan setia. Perang antara kerajaan Jembrana dengan kerajaan lain di Bali ketika itu dimenangkan tidak terlepas dari peran pasukan tersebut.  Juga ketika penjajah Belanda ingin menguasai Jembrana. Hingga akhirnya Raja Jembrana kala itu memberikan wilayah otonom untuk warga keturunan Bugis-Melayu. Mereka menamakannya desa Loloan, yang artinya sungai yang luas dan panjang, menurut bahasa Bugis.

Kini, Loloan menjadi kelurahan, terbagi menjadi Loloan Timur dan Loloan Barat. Para pelaut memang tidak ada lagi, namun jejaknya masih lestari hingga kini berupa rumah panggung yang mengingatkan pada masa lalu, ketika Jembrana adalah wilayah hutan luas, secara etimologis berasal dari kata Jimbar dan Wana. Jimbar artinya luas, dan Wana artinya hutan.

Dahulu adalah tempat pembuangan bagi para warga dan ksatria yang kritis, membangkang dan tidak mau tunduk pada aturan kerajaan di Bali bagian timur dan selatan. Mereka menembus hutan lebat, melawan ganasnya alam, lalu membuka hutan untuk ditempati, membangun peradaban baru yang “lain” dengan Bali pada umumnya.

Eka Sabara, penulis dan pegiat sejarah asal Loloan, Jembrana, menyebut, setidaknya terdapat tiga periode awal mula yang berkaitan erat dengan keberadaan warga Loloan di Jembrana saat ini, yang diawali dengan kedatangan orang-orang Bugis Makassar yang beragama Islam ke wilayah tersebut.

“Dalam periode pertama ini juga telah berhasil dibangun hubungan sosial yang harmonis antara masyarakat muslim Bugis Makassar dengan pemerintahan dan masyarakat setempat. Wangsa yang memerintah dan berkuasa di Jembrana pada saat kedatangan suku Bugis Makassar yakni Arya Pancoran,” jelasnya.

Kedatangan rombongan skuadron Daeng Nachoda pada abad ketujuh belas masehi, untuk pertama kalinya terjadi kontak antara kerajaan Jembrana di bawah penguasa saat itu I Gusti Ngurah Pancoran IV, membuahkan kerjasama yang amat baik dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak dengan ditunjuknya Daeng Nachoda sebagai bagian dari pasukan tentara kerajaan Jembrana, dan diberikan tempat untuk mendirikan sebuah bandar atau pelabuhan, yang saat itu dinamakan Bandar Pancoran.

“Bicara tentang Loloan, maka tidaklah lepas sebuah peranan yang sangat penting dari Bapak Pendiri Loloan dalam abad ke 19 Masehi, yaitu dengan tokoh sentral Syarif Tue dan Encik Ya’qub, yang telah meletakan pondasi integrasi dan eksistansi dalam hidup keberagaman dengan tetap menjaga silaturahmi kepada masyarakat dengan konsep lama yaitu menyama braya yang sangat kental sejak berabad-abad lalu” ujar Eka.

Relasi komunikasi sosial dan agama dengan konsep menyama braya bertahan hingga kini di Jembrana. Dinamika keberagamaan Loloan dan keunikannya mampu turut serta memajukan perekonomian Jembrana dari dulu hingga sekarang. Meskipun dikenal bukan sebagai destinasi pariwisata, kabupaten pemasok hasil pertanian dan perkebunan di Bali ini memiliki “mutiara terpendam” yakni potensi pariwisata yang belum dikembangkan secara baik dan memadai.

Sebut saja wisata kuliner khas Loloan, dengan berbagai jajanan khas dan unik serta nasi plecing ayam pedas menggugah selera. Selain itu, terdapat pula wisata air, menyusuri keindahan sungai Ijo Gading di tengah kota Negara hingga ke hilir sungai yang sering disebut muara, berlokasi di selatan kota.

“Wisata inilah yang saat ini harus dikembangkan ke depannya. Dengan menyusuri indahnya sungai Ijo Gading yang saat ini cukup bersih sebagai sarana melepas kepenatan, selain sebagai edukasi kepada generasi muda untuk lebih dekat dan mencintai alam,” kata Eka.

Wisata Religi

Selain jenis wisata di atas, di Loloan terdapat juga wisata religi yang menjadi andalan sejak era 1990-an yang turut serta meningkatkan perekonomian masyarakat Loloan baik di Loloan  Timur maupun di Loloan Barat. Wisata religi, merupakan wisata favorit di Kampung Loloan dengan mengunjungi atau menziarahi makam para ulama yang pernah ada di Loloan, baik di timur sungai Ijogading maupun disebelah barat sungai Ijogading. Wisata ini lebih dikenal dengan wisata ziarah makam Wali Pitu yang ada di Loloan Barat, makam Buyut Lebai di Loloan Timur, makam Syarif Tue Loloan di Loloan Timur.

Wisata religi merupakan salah satu potensi wisata di Loloan dengan keberadaan para Wali yang sering dikunjungi oleh para peziarah dari luar daerah dan luar pulau. Selain itu Loloan juga memiliki potensi wisata budaya dengan didukung oleh adanya peninggalan sejarah budaya seperti rumah panggung, dan kesenian khas melayu. Potensi wisata kuliner juga bisa dikembangkan di Loloan.

Selama masa Pandemi COVID-19, wisata religi di Loloan mengalami stagnasi karena tidak ada tamu atau peziarah yang berkunjung sehingga dampaknya sangat dirasakan oleh para pelaku wisata religi. Namun kini keadaan mulai membaik.

“Sejak awal Januari 2022 mulai ada beberapa kunjungan tamu. Hal ini cukup membuat para pelaku wisata di sini bisa bernapas lega. Peziarah yang merupakan wisatawan domestik datang ke Loloan dengan tidak lupa mematuhi protokol kesehatan,” pungkas Eka.

Para peziarah biasanya menginap di penginapan yang dikelola warga sekitar. Dalam pandangan Eka, untuk meningkatkan pariwisata Loloan ke depan, pengelola wisata religi bagus jika membuat program menginap di rumah-rumah penduduk berupa rumah panggung. Di kampung Loloan masih banyak terdapat rumah panggung yang menjadi ciri khas budaya setempat.

“Wisatawan bisa menginap atau bermalam di rumah panggung yang usianya sudah ratusan tahun. Tentu hal ini akan memberikan kesan berbeda ketimbang menginap di hotel atau penginapan. Wisatawan juga bisa melakukan perawatan wajah dengan boreh atau lulur tradisional yang banyak digunakan oleh para ibu dan remaja Loloan sejak lama,” pungkas Eka.

Komplek makam Syarif Tue Loloan ( Syarif Abdullah bin Yahya Al Qadri) | Foto Eka Sabara

Pengelolaan wisata religi di kampong Loloan masih bersifat mandiri, walaupun sudah ada kelompok guide atau pemandu wisata setempat yang tergabung dalam wadah “Guide Ijo Gading”. Hal ini memang belum dikelola oleh pemerintah daerah, akan tetapi pemerintah saat ini sudah sangat responsif melakukan perbaikan sarana-sarana jalan dan fasilitas umum yang turut serta membantu kenyamanan para tamu peziarah.

“Sudah ada rencana dari pemerintah kabupaten Jembrana untuk menjadikan Loloan sebagai destinasi desa wisata, dengan mempromosikan wisata kuliner dan lain-lain. Untuk wisata religi perlu dikembangkan lagi dengan memberikan kemudahan kepada masyarakat sekitar agar dapat berperan aktif dalam kegiatan wisata religi, dan perlu juga dilakukan renovasi atau pemugaran bangunan di makam Wali Pitu Loloan yang sudah mengalami kebocoran jika turun hujan,” kata Eka.

Ia menambahkan, hal lain yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan adalah menjaga toleransi dan harmoni serta keberagaman di tengah masyarakat yaitu tetap memelihara budaya yang sudah berjalan dan tumbuh berkembang di masyarakat Jembrana  dan Bali pada umumnya yakni konsep menyama braya yang penuh rasa kekeluargaan yang harus dilestarikan oleh para generasi muda saat ini.

Syair Wida’

Selain makam wali pitu dan para ulama, Loloan terdapat tradisi tua yang masih lestari hingga kini. Wida’, syair yang terdengar lirih, penuh kesedihan karena Ramadhan segera berakhir. Ngewida’, aktivitas membaca Wida’ dilakukan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Eka Sabara menjelaskan, sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19 Masehi, para Tuan Guru, sebutan ulama atau orang alim di Loloan pada abad ke-18, sangat bersedih menjelang tibanya sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.

“Kesedihan para Tuan Guru atau ulama dahulu, ditumpahkan dalam bentuk pujian-pujian dengan menggubah syair-syair khas Bugis-Melayu Loloan, yang bertujuan untuk menghidupkan suasana sepuluh malam terakhir Ramadhan sampai akhir malam Ramadhan,” tukasnya.

Eka menambahkan, syair Wida’ yang cukup populer dibaca oleh para ahli Wida’ yaitu syair Rakbi. Tradisi Ngewida’ ini dilakukan pada sekitar jam 12 malam hingga jam 2 pagi.

“Wida’ dilantunkan dengan suara lengkingan yang cukup panjang dan tinggi, memecah kesunyian dan keheningan malam, terdengar syair alunan kesedihan akan berakhirnya bulan Ramadhan,” jelasnya.

Makam Tuan Guru Haji Moh.Said ulama Besar Loloan 1887 Masehi | Foto: Eka Sabara

Ia menuturkan, kata Wida’ berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan. Oleh para ahli syair wida’ tradisi ini sering disebut Ngewida’. Tradisi ini hanya ada di Loloan saja. “Wida’ sebenarnya merupakan warisan tradisi Bugis Melayu Loloan, karena kata Wida’ juga berasal dari serapan bahasa Bugis yang berarti “selamat tinggal,” ujar Eka.

Cerita tentang kepercayaan masyarakat Loloan terkait bulan Ramadhan, diceritakan langsung oleh H. Ichsan kepada keponakannya yang bernama Suldan.

“Pada bulan Ramadhan para datuk-datuk kita mendapatkan “remisi” dari Allah SWT pulang ke rumah asalnya semasih di dunia fana ini. Nah, selama satu bulan tidak ade (ada) pertanyaan dari malaikat alam barzah, sehingga dengan syair Wida’ itu membantu mengantar para datuk-datuk awak (kita) pulang lagi ke alam Barzah. Setelah mendapat libur atau “remisi” selama satu bulan di bulan Ramadhan, libur satu bulan itu sama dengan libur setahun tidak mendapatkan pertanyaan dari malaikat,” tutur H. Ichsan kepada Suldan.

Hikmah dari tradisi Ngewida’, kata Eka, menggambarkan pesan dan kesan sedih karena rasa kehilangan kegembiraan Ramadhan. Sebaliknya, muncul rasa senang karena lepas dari kewajiban puasa dan mendapat hadiah hari raya Idul Fitri.

“Pada tahun 1980-an, pewida’ yang paling terkenal karena khas suara sedihnya, yaitu suara Pak Tabrani, Pak Zaki, dan Pak Huzaimi. Semua sudah almarhum saat ini,” ujarnya.

Generasi Muda

Yusuf Mudatsir, salah satu generasi muda Loloan mempunyai pengalaman pribadi saat mendengarkan Wida’ dilantunkan. Menurutnya, dari segi seni tarik suara, Wida’ memiliki note dan tangga nada yang khas, percampuran antara sika-nya note Melayu dan tembangnya note Bali. Maka di dalam mendengarkan Wida’ ia dapat merasakan bagaimana toleransi perpaduan seni tarik suara disuguhkan.

“Di samping itu dalam syair Wida’ juga terdapat keindahan dalam kesedihan. Ada soul di dalamnya, ada history dalam lantunannya seperti contoh perjalanan pendakian seorang hamba yang mendambakan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan,” kata Yusuf.

Sebagai seorang Muslim, rasa sedih berpisah dengan Ramadhan juga ia rasakan. Baginya, lantunan Wida’ merupakan representasi jiwa-jwa para hamba yang sedang gundah dalam mendaki dan meraih Lailatul Qadar.

“Maka jika Anda pejamkan mata Anda ketika mendengar Wida’, seolah-olah jiwa kita merasakan rintihan kesakitan saat detik-detik Ramadhan akan pergi. Ini berlaku kepada siapa pun walau tidak mengerti apa itu Wida’. Hal ini telah terbukti dengan eksperimen sosial yang kami lakukan dengan beberapa kawan dari luar daerah Loloan maupun luar Bali,” jelas Yusuf yang merupakan bagian dari Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

| Foto: Eka Sabara

Ia memandang Wid’a dan aktivitas Ngewida’ sangatlah baik karena merupakan tradisi masa silam yang masih tetap terpelihara hingga kini. Pelestarian warisan budaya tersebut, menurutnya sangat perlu dilakukan karena tradisi ini sesuatu yang sangat langka dan hanya didapati pada momen-momen tertentu yakni menjelang berakhirnya Ramadhan.

Bahkan, sambung Yusuf, tradisi Wida’ tak tertutup kemungkinan bisa menjadi daya tarik pariwisata, khususnya wisata religi. Ia melihat, dari kekhususannya Wida’ memiliki potensi untuk bisa dikenalkan ke khalayak ramai.

“Untuk caranya bisa bermacam-macam, tergantung apa yang kita ingin capai. Seperti contoh pagelaran festival dan memberikan reward kepada pelaku-pelaku Wida’ tempo dulu. Lagi pula, zaman sekarang budaya harus diimbangi juga dengan story telling, kan?” katanya.

Story telling yang dimaksudkan Yusuf adalah menulis tentang Wida’, misalkan asal-usul Wida’ dan berbagai seluk-beluknya baik di laman pribadi atau media sosial kelurahan Loloan maupun mengirimkannya ke media lokal, nasional bahkan internasional. 

“Untuk mengenalkan Wida’, banyak hal yang rencananya akan kami selaku pemuda-pemudi Loloan lakukan. Diantaranya, membuat film dokumenter tentang Wida’ dan Ngewida’. Hal itu sebagai bentuk rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan leluhur, para datuk dan ulama Loloan yang bisa jadi jenis kesenian ini satu-satunya di Indonesia,” sebutnya.

Tentang regenerasi pelantun syair Wida’, Yusuf mengatakan hal tersebut terus dilakukan. Banyak generasi muda Loloan yang tertarik mempelajari Wida’ dan Ngewida’. Ia sendiri beberapa kali pernah membawakan Wida’ walau masih taraf musholla depan rumah.

Yusuf mengaku, dari Ngewida’ ia dapat menggambarkan bagaimana cara penyampaian soul atau jiwa dari Wida’, teknik apa saja yang ada saat melantunkannya. Seperti yang ia singgung di atas, ada perpaduan tembang Melayu dan Bali.

Kini, pelantun Wida’ di Loloan yang dikenal banyak orang adalah Ustadz Suldan yang merupakan paman Yusuf. Darinya ia banyak belajar bagaimana melantunkan Wida’

Desa Wisata

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana saat dimintai keterangan tentang desa wisata menjelaskan, dalam rangka pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pariwisata berbasis masyarakat, Pemerintah Kabupaten Jembrana telah mencanangkan pembentukan desa wisata sesuai potensi wisata pada masing-masing desa atau kelurahan.

Kebijakan pengembangan desa wisata telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Jembrana Nomor 2 Tahun 2018 tentang desa wisata. Hingga saat ini,  sudah terbentuk tujuh desa wisata yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati Jembrana Nomor 209/Disparbud/2021.Loloan saat ini memang belum ditetapkan sebagai desa wisata, namun demikian di kelurahan Loloan Timur telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata Ambenan Ijogading yang aktif melaksanakan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan diharapkan akan dapat berkembang sebagai pengelola desa wisata di Loloan Timur.

Otentisitas dan keunikan desa wisata di Bali selama ini identik dengan budaya Bali dengan religi Hindu sebagai corak utama. Namun perlu juga diingat bahwa Bali memiliki sejarah panjang terkait budaya “luar”. Hal itu menjadi tantangan dan peluang, menjadikan Bali wilayah di Nusantara yang sejak dulu kala terbuka dengan kebudayaan liyan. Apresiasi, tidak sekadar toleransi. Bukan sejak puluhan tahun, bahkan ratusan dan mungkin ribuan tahun lalu sudah ada.

Akulturasi dan asimilasi budaya bukan hal aneh di Bali. Justru itu makin memperkuat dan memperkaya Bali. Desa wisata yang mengemuka beberapa tahun belakangan semoga tidak melupakan sejarah Bali termasuk adanya wisata religi islami. Tak hanya Jembrana namun juga di Buleleng, Karangasem, dan Klungkung yang mana terdapat kantong-kantong Islam sejak ratusan tahun lalu.

Akan sangat indah misalnya warga muslim di luar Bali selain menikmati destinasi pariwisata di Bali juga melakukan ziarah ke makam ulama dan Wali Pitu seperti yang ada di Jembrana. Potensi ini belum dikelola dengan baik, hanya dilakukan oleh warga secara mandiri. Pemerintah lokal perlu turut andil dalam mendukung dan memasukkan wisata religi Islami di Bali dalam promosi pariwisata, Dengan ini, keunikan dan keterbukaan Bali benar-benar terasa. [T]

Puisi-Puisi Islami Angga Wijaya | Apresiasi Keberagaman
Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali
Serambi Masjid, Pengungsi Gunung Agung, dan Kampung Islam Buitan
Tags: baliIslamIslam di BalijembranaKampung Loloanwisatawisata religi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang

Next Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
0
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

Read moreDetails

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
0
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

Read moreDetails

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

Read moreDetails

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails
Next Post
Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co