4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serambi Masjid, Pengungsi Gunung Agung, dan Kampung Islam Buitan

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Feature

Foto: Ali

 

“Nanti, mudah-mudahan saya bisa kembali ke sini,” kataku sebelum meninggalkan Kampung Islam Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (30 September 2017). Terik matahari tak menghalangi langkah kami mengunjungi posko pengungsian itu. Ya sebuah posko pengungsian Bencana Gunung Agung.

Kabarnya, para pengungsi mulai datang berduyun-duyun setelah status Gunung Agung naik menjadi Awas dari Siaga pada Jumat (22/09/2017) lalu. Mereka secara berbondong-bondong pada malam hari sekitar pukul 22.00 Wita atau setelah pengumuman peningkatan level status tersebut meninggalkan wilayah Bebandem dan Kota Amlapura atau Kecamatan Karangasem yang termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB). Mereka pun menempati posko-posko yang telah didirikan pemerintah, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, dan komunitas-komunitas.

Satu di antaranya posko pengungsian di Masjid Al Hikmah. Pada hari itu, pengungsi terus berdatangan menuju di masjid tersebut. Bahkan jumlah diperkirakan mencapai 470 kepala keluarga (KK) waktu itu.

“Di kampung ini kalau lurus langsung ke pantai. Nah di situ banyak tempat mancing dan ikannya cukup banyak. Tempatnya nyaman dan bersahabat untuk para pemancing mania.”
Haji Ibnu Mundir menceritakan. Suasana di daerah cukup bagus berada di cekung pesisir Kabupaten Karangasem. “Tetapi tidak sekarang, kondisinya belum memungkinkan.”

***

Kami pun bergegas. Jam menunjukkan pukul 08.30 Wita, handphone berdering. Haji Ibnu Mundir yang menelepon. Polisi asal Desa Maguan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini mengajak berangkat menuju pengungsian bencana Gunung Agung. Sesuai janji kemarin lusa, kami diamanati mengantar bantuan dari grup Khatam Alquran al-Aqso yang anggotanya mayoritas anggota Polri yang rutin melaksanakan salat dhuha koordinator AKBP Fatma Nasution Anggota Bidkum Polda Bali.

“Siap, mari berangkat mumpung masih pagi.”

Kami menaiki ambulans milik Haji Mundir itu. Cukup lihai bapak dua anak ini membawa Mazda keluaran tahun 1998 ini. Maklum jam terbang mengemudikan ambulans dari ujung pulau Bali hingga ujung barat pulau Jawa. “Meski mesin tua tapi masih enak,” kata Haji Mundir.

Selama perjalanan cuaca pagi yang sempat mendung mulai terhempas oleh awan. Langit pun tampak putih cerah, dan matahari memancarkan sinarnya. Dalam perjalanan cerita demi cerita tak ada hentinya. Tak terasa, kami tiba di wilayah Kabupaten Karangasem. Sekitar pukul 10.00 Wita, karena sebelum sampai Karangasem kami sarapan dulu di Warung Barokah di wilayah Manggis.

Usai sarapan kucoba cari perihal pengungsi. “Supaya tidak jauh dari pemaknaan atau arti yang sebenarnya tentang kata ungsi-pengungsi-dan pengungsian,” kata dalam hati.

Dan kutemukan tentang arti kata-kata itu. Tentunya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bahwa pengungsi berasal dari kata dasar ungsi/ung•si/, mengungsi/meng•ung•si/-kata kerja- yang berarti pergi menghindarkan (menyingkirkan) diri dari bahaya atau menyelamatkan diri (ke tempat yang dirasa aman). Lalu pengungsi/peng•ung•si/ n orang yang mengungsi, serta pengungsian/peng•ung•si•an/ yang berarti proses, cara, perbuatan mengungsi atau 2 hal yaitu mengungsi atau mengungsikan yang diutamakan orang-orang tua dan anak-anak. Juga bisa berarti tempat mengungsi.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Di sepanjang tampak beberapa tenda para pengungsi menghiasi kanan jalan. Lapangan dan padepokan pencak silat juga dimanfaatkan untuk menampung para pengungsi. Setelah beberapa jam perjalanan kami akhir sampai di lokasi tujuan. Adalah Masjid Al Hikmah, Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Karangasem, posko pengungsian yang kami kunjungi. Para petugas dan volunteer atau relawan tampak antusias membantu kami menurunkan barang bantuan logistik dari komunitas.

Di posko masjid Al Hikmah tersebut pada Sabtu (30/09/ 2017) jumlah pengungsi terdapat 422 orang. Dari jumlah itu terdiri 238 laki-laki dan 184 perempuan. Kami lihat melihat sekeliling posko itu. Tenda kesehatan dan tenda logistik terpisah. Para pengungsi berada di serambi masjid. Tempat ibadah itu pun tampak dijejali para pengungsi. Barang seperti tas juga tampak berjejer di samping pintu masjid. Ada yang diam di serambi masjid itu, ada juga yang berbicara satu dengan yang lain. Anak-anak mereka berlari dan bermain di area masjid. Ada juga yang di luar area masjid.

“Kalau malam tidur penuh di masjid. Bahkan sebagaian harus di luar. Serambi juga penuh. Bisa dibayangkan jumlah orang mencapai ratusan, dan luas masjid segitu. Tetapi syukur masih memadai,” ujar Ramadhan tokoh masyarakat Desa Buitan, ketika kami temui.
Kondisi itu menunjukkan masjid memiliki fungsi selain sebagai tempat ibadah. Masjid memiliki peranan penting bahkan sangat besar bagi masyarakat.

Ahmad Sarwono dalam bukunya Masjid Jantung Masyarakat (Rahasia dan Manfaat Memakmurkan Masjid) hal. 9 menyebutkan, masjid sebagia jantung masyarakat sebab masjid berkaitan erat dengan kegiatan sehari-hari umat Islam, bukan hanya sebagai simbol namun untuk mewujudkan kemajuan perabadan, kemasyarakatan, dan keruharian umat.

Dalam tulisan Afiful Ikhwan, fungsi awal dari masjid dalah sebagai agen perubahan. Masjid sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk bersujud, juga berarti dapat digunakan kegiatan-kegiatan berdimensi sosial yang melibatkan manusia dengan menjadikannya sebagai sentral kegiatan.

Ramadhan melanjutkan, penduduk di Buitan ini mayoritas beragama Islam. Ada sekitar 44 kepala keluarga. Mereka berasal dari berbagai kota/kabupaten baik di Bali maupun luar Bali. Ada dari Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, dan Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kemudian sekitar pukul 10.45 Wita terdengar panggilan dari petugas melalui pengeras suara. “Waktunya sarapan.” Lalu kami melangkah meninggalkan masjid dan mengunjungi pengungsi di gedung setengah jadi yang letaknya tak jauh dari masjid. Mereka tampak menikmati sarapan pagi setengah siang itu.

Lantas kami lanjutkan dengan melihat tiga tenda yang telah terpasang di sebelah timur masjid. Tenda dengan tulisan Kementerian Sosial itu tampak sajadah, dan dua lainnya kosong. Menurut keterangan petugas, tenda tersebut sengaja tidak ditempati, karena ketika siang udara cukup panas. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak kepada para pengungsi.

Di samping tenda itu tampak ada 5 toilet darurat. Air dari sumur bor mengalir melalui sambungan selang plastik yang mengarah pada tandon.Tampak ada beberapa posko didirikan di area itu. Di antaranya, posko NU Peduli Bencana Gunung Agung, yang dibuat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU. Cukup kegiatan gerakan 30 S ini kami pun pamitan dan menuju Kota Denpasar. Mudah-mudahan semua dijauhkan dari segala bencana dan semuanya diberikan keselamatan. (T)

Tags: erupsiGunung AgungkarangasemMuslim
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Ini Universitas, Bung! Bukan Panci Bertekanan

Next Post

Lukisan Wayang Kaca Nagasepaha, Nasibmu Kini…

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails
Next Post

Lukisan Wayang Kaca Nagasepaha, Nasibmu Kini…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co