4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan Wayang Kaca Nagasepaha, Nasibmu Kini…

Komang Yudha by Komang Yudha
February 2, 2018
in Esai

Pelukis kaca sedang melukis di DEsa Nagasepaha, Buleleng

 

BULELENG punya satu potensi penting di bidang seni rupa. Yakni lukisan kaca. Di Buleleng, lukisan ini banyak ditemui di Desa Nagasepeha. Desa ini adalah pelopor di bidang lukisan dengan media kaca, kemudian diikuti sejumlah warga dari desa lain.

Jika digarap dengan baik dan dikaitkan dengan pariwisata-budaya, lukisan kaca bisa jadi salah satu ciri khas bagi Buleleng. Bahkan, jika mau lebih serius, Desa Nagasepaha pun bisa dijadikan desa wisata dengan kekhususan di bidang seni rupa dan kerajinan.
Lukisan kaca di Desa Nagasepaha sangat unik dan otentik. Hanya wayang yang dilukis. Itu pun mengambil tokoh dari epos Ramayana dan Mahabrata. Cara membuatnya juga unik. Melukis dengan cara terbalik.

Sepintas membuat lukisan kaca terlihat amat sangat sulit. Tapi, jika kita ingin menyelami teknik melukis wayang kaca, tidak butuh waktu lama. Hanya butuh waktu seminggu atau maksimal dua minggu, jika kita melatihnya secara rutin.

Sayang, kini ekonomi tengah lesu. Nasib perajin (atau pelukis?) wayang kaca di Desa Nagasepaha ikut lesu. Lukisan hanya laku sewaktu-waktu.

Memang, lukisan kaca dari sejumlah pelukis di Nagasepaha beberapa kali sempat ikut pameran di galeri-galeri penting di Indonesia. Tapi itu tampaknya belum cukup untuk mendongkrak perkembangan seni lukis kaca di desa itu. Perlu upaya lebih serius, bukan hanya dari pemerhati seni, namun juga upaya dari pemerintah dan lembaga-lembaga lain.

Saya sendiri adalah penerus pelukis wayang kaca. Sayang saya sendiri tidak ahli dalam pembuatan lukisan kaca ini. Saya justru lebih menggeluti dunia jurnalistik. Padahal keluarga tidak ada yang jadi wartawan.

Saya pernah merenung. Merasa bingung, kenapa saya memilih berkecimpung di dunia kewartawan. Ketimbang menggeluti lukisan kaca, sekaligus menjaga kelestarian warisan nenek moyang saya. Saya merasa tersesat.

Beruntung warisan itu tidak terputus begitu saja di keluarga saya. Keahlian membuat lukisan kaca kini diwarisi oleh bapak, kakak sepupu, dan keponakan – keponakan saya. Ilmu itu diturunkan oleh kakek saya sejak tahun 1980. Anehnya, hanya saya yang tidak meresapi ilmu itu.

Bukanya tidak ada keinginan untuk menjaga warisan ini. Tapi waktu dan kesempatan telah menuntun saya, pada pekerjaan lainnya. Pekerjaan yang saya impikan semenjak baru tamat SMP.

Kini saat pasar sedang lesu, ayah saya, I Nyoman Netep, yang perajin lukisan wayang kaca juga ikut lesu. Ayah sempat menyampaikan rasa khawatirnya pada saya. Dia takut lukisan kaca akan punah, karena makin sedikit yang menggelutinya.

“Penerus saja tidak cukup menjaga kelestarian lukisan kaca ini. Banyak yang memilih pekerjaan lain,ketimbang menjaga warisan dari nenek moyangnya. Ada yang jadi penjual permata, kuli bangunan, jadi tukang cat juga ada,” kata ayah pada saya. Jujur saja, saat ayah mengeluh begitu, saya merasa tersindir.

Menggeluti profesi sebagai pelukis wayang kaca, seperti yang dijalani ayah saya, bukan pekerjaan mudah. Prosesnya yang cukup rumit, menyebabkan harganya relatif mahal. Bukankah kesulitan berbanding lurus dengan harga? Menjualnya dengan harga murah, tentu tak sepadan dengan kesulitannya.

Ini yang membuat pelukis kaca berada dalam posisi terjepit. Bila dibandrol dengan harga tinggi, dianggap jual mahal. Pasang harga murah, kok ya kebangetan. Tidak menghargai karya seni.

Jujur saja, lukisan wayang kaca, sangat layak jadi barang koleksi. Apalagi lukisan wayang kaca sangat khas dari segi ukiran dan bentuk wayang.

Hal semacam itu membuat 20 orang pelukis yang gabung dalam Kelompok Lukis Desa Nagasepaha jadi makin lesu. Apalagi kebanyakan sudah sepuh. Usianya sudah 50 tahun ke atas.

Dalam posisi lesu seperti itu, pelukis berharap mendapat dukungan maupun binaan dari pemerintah. Ini membuat posisi serba dilematis. Pelukis akan diposisikan sebagai perajin. Hasil jerih payahnya dianggap produk kerajinan. Padahal lukisan kaca lebih dari sekadar kerajinan buah tangan, tapi karya seni.

Dulu, sebenarnya sempat ada pelatihan yang dilakukan. Harapannya agar ada generasi muda mau menggeluti lukisan kaca. Pelatihannya hanya sebulan. Seperti pelatihan yang lain, habis pelatihan tidak ada tindak lanjut. Dilepas begitu saja. Ironisnya lagi, ada dugaan, dana pelatihan tak tersalur lancar untuk kegiatan pelatihan. Ini seperti pepatah: sudah jatuh, tertimpa tangga, kejatuhan genteng pula.

Ada pula yang menyarankan agar memasarkan lukisan secara online. Tapi praktiknya tidak semudah itu. Belum ada hak kekayaan intelektual yang melindungi pelukis kaca. Begitu beredar secara online, hasil karya pelukis, sangat rentan dijiplak bahkan diklaim orang lain.

Sejauh ini belum ada tanda – tanda akan kemunculan bibit baru pelukis kaca Desa Nagasepaha. Kini kita tinggal menunggu, apakah lukisan kaca akan terjaga keberadaanya? Apakah akan punah? Jangan-jangan nanti diklaim daerah lain. (T)

Tags: bulelengLukisan KacaSeni Rupa
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Serambi Masjid, Pengungsi Gunung Agung, dan Kampung Islam Buitan

Next Post

Bondowoso Bisa Kembangkan Pariwisata Berbasis Masyarakat – Bisa Bercermin dari Bali

Komang Yudha

Komang Yudha

Lahir di Buleleng., bercita-cita membangun desa, eh, bukannya jadi kepala desa, malah jadi wartawan

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post

Bondowoso Bisa Kembangkan Pariwisata Berbasis Masyarakat – Bisa Bercermin dari Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co