23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 24, 2020
in Esai
Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Ĕda suud ngulik sasana, miwah tattwa yan ada mbahang nyilih, Tattwajnyana Darma Putus, miwah Bhuana Kosana lan Asta Maha Jnyana Guna rum, yadin soroh Tutur Selam inger-inger palajahin. — [Geguritan Loda, Pupuh Pangkur: 4]

Jangan pernah berhenti mendalami etika dan filsafat apabila ada yang meminjami, Tattwajnyana, Darma Putus, Bhuana Kosana dan Asta Maha Jnyana Guna rum, walaupunjenis Tutur Selam, dengar-dengar pelajari!

Itulah petikan bagian akhir dari Geguritan Loda, sebuah karya sastra Bali yang memuat tuturan seorang ayah kepada anaknya tentang berbagai ajaran kehidupan (urip) dan kematian (pati). Karena Loda tumbuh menjadi pakuningrāt ‘tiang dunia’ yang pasti akan mengalami berbagai kesulitan dalam mewujudkan kebaikan, ayahnya lalu memberi pesan-pesan yang dapat dijadikan pegangan. Pesan pertama sang ayah kepada Loda adalah menjadikan shastra sebagai ayah dan ibu secara ideologis lalu menekuni filsafat (yan sih cai suba tatas tĕken śāstra, tattwajñānane gulik). Usai membuka dengan nasihat itu, sang ayah mengalirkan berbagai pengetahuan wahya-dhyatmika kepada Loda seperti evolusi mistis aksara, sapta weci, suduk swari, sasana, dan brata. Di penghujung pesan, Loda disarankan oleh sang ayah agar tidak pernah berhenti mempelajari berbagai teks tattwa seperti Tattawajnyana, Dharma Putus, Bhuwana Kosa, Asta Mahajnyana Gunarum, termasuk juga Tutur Islam.   

Kenapa karya sastra yang banyak mengulas aspek wahya-diatmika itu menyarankan pembaca karyanya untuk mempelajari juga ajaran-ajaran Islam? Apakah itu hanya merupakan ungkapan motivasi agar seseorang melakukan studi perbandingan lintas keyakinan? Ataukah nun jauh di dasar kedalaman pencarian keilahian, anasir-anasir Islami memang bertemu dengan ajaran Hindhu dalam sistem peradaban batin Bali?

Sejumlah pertanyaan itu boleh jadi membayang dalam pikiran pembaca ketika dalam satu teks yang secara dominan memuat ajaran Hindhu juga berisi ajakan untuk mempelajari tutur Islam. Di sisi lain, ajakan itu seakan bertolak belakang dengan narasi sejarah seperti yang terkandung dalam Babad Dalem. Bersumber dari karya sastra yang menceritakan pergolakan politik pada masa Bali Tengahan itu, kita dapat mengetahui bahwa pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong sekitar abad XVI di Gelgel, usaha untuk mengislamkan Pulau Bali seperti wilayah-wilayah lainnya di Nusantara konon telah diupayakan melalui jalur dialogis.

Babad Dalem menarasikan adanya utusan dari Mekah yang melakukan pendekatan kepada Dalem Waturenggong agar berkenan beralih keyakinan. Ketika dua utusan sampai di balairung kerajaan seraya menyampaikan tujuannya, Dalem Waturenggong lalu memberikan tantangan. Isi tantangannya adalah apabila mereka berhasil memotong bulu tangan raja maka semua permohonan mereka akan dikabulkan. Sama seperti yang pembaca pikirkan, teks yang diproduksi di Bali itu mengisahkan sang utusan tidak dapat menuntaskan tantangan. Mereka pulang dengan damai.  

Ketidakberhasilan utusan dari Mekah dalam menunaikan tugasnya itu adalah cara pengarang Babad Dalem melegitimasi keunggulan Dalem Waturenggong. Babad Dalem yang termasuk genre sastra historiografi lokal Bali ini ingin menegaskan bahwa pada masa kepemimpinan Dalem Waturenggong-lah Bali mencapai puncak kejayaan, baik secara politik maupun peradaban.  

Meskipun utusan dari Mekah gagal melaksanakan misinya, anasir-anasir ajaran Islam tetap masuk ke Bali melalui tradisi literasi yang saat itu masih menggunakan media lontar. Warisan sastra Bali menunjukkan bahwa unsur-unsur ajaran Islam terjalin dalam satu tenunan spiritualitas yang rapat dengan sejumlah ajaran Hindu Bali. Dalam bidang pengobatan tradisional, Usadha Manak yang banyak menjelaskan resep-resep pengobatan untuk penyakit  saat seseorang mengandung dan melahirkan penting disimak untuk mengetahui pertemuan dua ajaran itu.

Pustaka tersebut memuat mantra untuk menyembuhkan orang yang sering keguguran dengan campuran bahasa Arab dan mantra yang ditujukan kepada Allah serta Muhamad [ditulis Muhamat]. Untuk meyakinkan, kita cukil beberapa mantranya sebagai berikut.

Nihan tamban krêng ngalabuhang…..Ma, Om tutup kañcing bwana Alah bwana kêling, tutupana gêdong Alah, wuwus pêpêt, śarìrane syanu, têka pêpêt, 3, śa, yeh mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggon makoñceng. Pangañcing, ma, Om mang Alah Om mang, kañcing kukañcing Alah, kinañcingan dening Muhamat, apan aku ngadok dewa pamungkah, pangañcing Muhamat, lah ilah, ilêlah, Muhamat darahsululah, śa, yeh añar mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggen makoñceng.

Kutipan di atas menunjukkan obat untuk seseorang yang sering keguguran [nglabuhang] menggunakan sarana air yang diwadahi kelapa [sibuh]. Mantra yang digunakan sebagai pengunci agar janin tidak keguguran diawali dengan Om sebagai pemujaan kepada Siwa, lalu dilanjutkan dengan untaian kalimat yang ditujukan kepada Alah dan Muhamad. Fakta penggunaan kombinasi mantra Hindu dengan Islam tersebutlah yang menyebabkan di awal tulisan ini dinyatakan ada tenunan ajaran yang rapat.  

Tidak hanya dalam bidang pengobatan, pustaka lontar Kanda Wesi yang menguraikan kesejajaran filosofis antara besi yang ada di alam dan di sarira manusia juga menunjukkan nuansa Islami. Ketika menjelaskan mengenai saudara mistis manusia yang terdiri atas I Jabrail, I Mekail, I Srapil, I Raman, dan I Katibin, pustaka itu menyebutkan cara untuk mengajak mereka makan bersama dengan ungkapan berikut.

I Jabrail, I Mĕkail, I Srapil, I Ramān, I Katibin, ĩki ñama pĕtpĕt, ragāne di tngah. Ngaturin madhahār, bisĕmilah, ĩka ngaturin madhahar.

Penggunaan kata bisĕmillah dalam petikan di atas menegaskan adanya sisipan doa yang merujuk ke agama Islam dalam tradisi mistis Bali. Sebagai bukti penguat masuknya unsur-unsur Islami dalam pustaka lontar Bali, mari kita baca bagian dari Geguritan Nengah Jimbaran karya yang juga diduga karya Cokorda Denpasar. Karya sastra yang berbahasa Melayu tersebut menceritakan kisah seorang tokoh bernama Nengah Jimbaran. Ia ditinggal mati oleh istrinya akibat penyakit kolera yang mewabah di Denpasar. Karena mendapatkan petunjuk dari seorang kakek tua, Nengah Jimbaran berhasil bertemu dengan badan astral istrinya. Sebelum bertemu, kakek tua menasihatinya agar tidak berkata apapun ketika pertemuan berlangsung. Saat itu Nengah Jimbaran menjawab dengan ucapan berikut.

Hamba junjung sribu junjung, ingĕtkĕn di dalĕm hati, insaallah jangan lupa, berkatnya tuan sendiri, orang tua lantas jalan, perlahan ke atas naik.

Kata insaallah di atas menjadi penguat yang cukup meyakinkan bahwa dalam tradisi literasi Bali, nuansa Islami masuk menjadi pelangi yang memperkaya peradaban batin Bali. Lalu kenapa ajaran-ajaran itu menubuh dalam warisan pustaka-pustaka lontar Bali? Agaknya di masa lampau para intelektual-spiritual Bali melakukan semacam studi komparatif terhadap berbagai ajaran, termasuk Islam. Mereka juga tidak hanya mendalami ajaran yang tersedia dalam khazanah agamanya sendiri sehingga menjadi kering dan sempit, tetapi juga tekun menjelajahi kekayaan rohani agama lainnya. Kekayaan rohani yang sesuai dengan keyakinannya lalu disinergikan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan, tanpa mengubah dasar keyakinan yang telah dianut sebelumnya.

Para spiritual sejati itu seperti petani dengan kemampuan mengidentifikasi gen tumbuhan untuk disambung dengan tumbuhan sejenis yang unggul. Setelah disambung, pohon itu sendiri tidak akan berubah menjadi pohon lain, tetapi mendapatkan keunggulan baru dari sambungan tumbuhan lainnya. Warisan kearifan ini penting  menjadi “tuan rumah di lubuk-lubuk batin” setiap masyarakat Bali dan Indonesia umumnya. Dengan demikian, intoleransi agama yang terjadi belakangan ini akibat dinamika politik bisa diredam. Memang agak utopis, tetapi suatu saat akan lebih gagah rasanya jika para pemuda, anak, cucu kita berani menyatakan, “jika ingin melihat model kerukunan agama” datanglah ke sebuah negara bernama Indonesia.

Selamat idul Fitri.       [T]

Tags: baliIslamlontar
Share363TweetSendShareSend
Previous Post

“Herd Immunity” yang Kita Harapkan

Next Post

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co