23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 24, 2020
in Esai
Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Ĕda suud ngulik sasana, miwah tattwa yan ada mbahang nyilih, Tattwajnyana Darma Putus, miwah Bhuana Kosana lan Asta Maha Jnyana Guna rum, yadin soroh Tutur Selam inger-inger palajahin. — [Geguritan Loda, Pupuh Pangkur: 4]

Jangan pernah berhenti mendalami etika dan filsafat apabila ada yang meminjami, Tattwajnyana, Darma Putus, Bhuana Kosana dan Asta Maha Jnyana Guna rum, walaupunjenis Tutur Selam, dengar-dengar pelajari!

Itulah petikan bagian akhir dari Geguritan Loda, sebuah karya sastra Bali yang memuat tuturan seorang ayah kepada anaknya tentang berbagai ajaran kehidupan (urip) dan kematian (pati). Karena Loda tumbuh menjadi pakuningrāt ‘tiang dunia’ yang pasti akan mengalami berbagai kesulitan dalam mewujudkan kebaikan, ayahnya lalu memberi pesan-pesan yang dapat dijadikan pegangan. Pesan pertama sang ayah kepada Loda adalah menjadikan shastra sebagai ayah dan ibu secara ideologis lalu menekuni filsafat (yan sih cai suba tatas tĕken śāstra, tattwajñānane gulik). Usai membuka dengan nasihat itu, sang ayah mengalirkan berbagai pengetahuan wahya-dhyatmika kepada Loda seperti evolusi mistis aksara, sapta weci, suduk swari, sasana, dan brata. Di penghujung pesan, Loda disarankan oleh sang ayah agar tidak pernah berhenti mempelajari berbagai teks tattwa seperti Tattawajnyana, Dharma Putus, Bhuwana Kosa, Asta Mahajnyana Gunarum, termasuk juga Tutur Islam.   

Kenapa karya sastra yang banyak mengulas aspek wahya-diatmika itu menyarankan pembaca karyanya untuk mempelajari juga ajaran-ajaran Islam? Apakah itu hanya merupakan ungkapan motivasi agar seseorang melakukan studi perbandingan lintas keyakinan? Ataukah nun jauh di dasar kedalaman pencarian keilahian, anasir-anasir Islami memang bertemu dengan ajaran Hindhu dalam sistem peradaban batin Bali?

Sejumlah pertanyaan itu boleh jadi membayang dalam pikiran pembaca ketika dalam satu teks yang secara dominan memuat ajaran Hindhu juga berisi ajakan untuk mempelajari tutur Islam. Di sisi lain, ajakan itu seakan bertolak belakang dengan narasi sejarah seperti yang terkandung dalam Babad Dalem. Bersumber dari karya sastra yang menceritakan pergolakan politik pada masa Bali Tengahan itu, kita dapat mengetahui bahwa pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong sekitar abad XVI di Gelgel, usaha untuk mengislamkan Pulau Bali seperti wilayah-wilayah lainnya di Nusantara konon telah diupayakan melalui jalur dialogis.

Babad Dalem menarasikan adanya utusan dari Mekah yang melakukan pendekatan kepada Dalem Waturenggong agar berkenan beralih keyakinan. Ketika dua utusan sampai di balairung kerajaan seraya menyampaikan tujuannya, Dalem Waturenggong lalu memberikan tantangan. Isi tantangannya adalah apabila mereka berhasil memotong bulu tangan raja maka semua permohonan mereka akan dikabulkan. Sama seperti yang pembaca pikirkan, teks yang diproduksi di Bali itu mengisahkan sang utusan tidak dapat menuntaskan tantangan. Mereka pulang dengan damai.  

Ketidakberhasilan utusan dari Mekah dalam menunaikan tugasnya itu adalah cara pengarang Babad Dalem melegitimasi keunggulan Dalem Waturenggong. Babad Dalem yang termasuk genre sastra historiografi lokal Bali ini ingin menegaskan bahwa pada masa kepemimpinan Dalem Waturenggong-lah Bali mencapai puncak kejayaan, baik secara politik maupun peradaban.  

Meskipun utusan dari Mekah gagal melaksanakan misinya, anasir-anasir ajaran Islam tetap masuk ke Bali melalui tradisi literasi yang saat itu masih menggunakan media lontar. Warisan sastra Bali menunjukkan bahwa unsur-unsur ajaran Islam terjalin dalam satu tenunan spiritualitas yang rapat dengan sejumlah ajaran Hindu Bali. Dalam bidang pengobatan tradisional, Usadha Manak yang banyak menjelaskan resep-resep pengobatan untuk penyakit  saat seseorang mengandung dan melahirkan penting disimak untuk mengetahui pertemuan dua ajaran itu.

Pustaka tersebut memuat mantra untuk menyembuhkan orang yang sering keguguran dengan campuran bahasa Arab dan mantra yang ditujukan kepada Allah serta Muhamad [ditulis Muhamat]. Untuk meyakinkan, kita cukil beberapa mantranya sebagai berikut.

Nihan tamban krêng ngalabuhang…..Ma, Om tutup kañcing bwana Alah bwana kêling, tutupana gêdong Alah, wuwus pêpêt, śarìrane syanu, têka pêpêt, 3, śa, yeh mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggon makoñceng. Pangañcing, ma, Om mang Alah Om mang, kañcing kukañcing Alah, kinañcingan dening Muhamat, apan aku ngadok dewa pamungkah, pangañcing Muhamat, lah ilah, ilêlah, Muhamat darahsululah, śa, yeh añar mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggen makoñceng.

Kutipan di atas menunjukkan obat untuk seseorang yang sering keguguran [nglabuhang] menggunakan sarana air yang diwadahi kelapa [sibuh]. Mantra yang digunakan sebagai pengunci agar janin tidak keguguran diawali dengan Om sebagai pemujaan kepada Siwa, lalu dilanjutkan dengan untaian kalimat yang ditujukan kepada Alah dan Muhamad. Fakta penggunaan kombinasi mantra Hindu dengan Islam tersebutlah yang menyebabkan di awal tulisan ini dinyatakan ada tenunan ajaran yang rapat.  

Tidak hanya dalam bidang pengobatan, pustaka lontar Kanda Wesi yang menguraikan kesejajaran filosofis antara besi yang ada di alam dan di sarira manusia juga menunjukkan nuansa Islami. Ketika menjelaskan mengenai saudara mistis manusia yang terdiri atas I Jabrail, I Mekail, I Srapil, I Raman, dan I Katibin, pustaka itu menyebutkan cara untuk mengajak mereka makan bersama dengan ungkapan berikut.

I Jabrail, I Mĕkail, I Srapil, I Ramān, I Katibin, ĩki ñama pĕtpĕt, ragāne di tngah. Ngaturin madhahār, bisĕmilah, ĩka ngaturin madhahar.

Penggunaan kata bisĕmillah dalam petikan di atas menegaskan adanya sisipan doa yang merujuk ke agama Islam dalam tradisi mistis Bali. Sebagai bukti penguat masuknya unsur-unsur Islami dalam pustaka lontar Bali, mari kita baca bagian dari Geguritan Nengah Jimbaran karya yang juga diduga karya Cokorda Denpasar. Karya sastra yang berbahasa Melayu tersebut menceritakan kisah seorang tokoh bernama Nengah Jimbaran. Ia ditinggal mati oleh istrinya akibat penyakit kolera yang mewabah di Denpasar. Karena mendapatkan petunjuk dari seorang kakek tua, Nengah Jimbaran berhasil bertemu dengan badan astral istrinya. Sebelum bertemu, kakek tua menasihatinya agar tidak berkata apapun ketika pertemuan berlangsung. Saat itu Nengah Jimbaran menjawab dengan ucapan berikut.

Hamba junjung sribu junjung, ingĕtkĕn di dalĕm hati, insaallah jangan lupa, berkatnya tuan sendiri, orang tua lantas jalan, perlahan ke atas naik.

Kata insaallah di atas menjadi penguat yang cukup meyakinkan bahwa dalam tradisi literasi Bali, nuansa Islami masuk menjadi pelangi yang memperkaya peradaban batin Bali. Lalu kenapa ajaran-ajaran itu menubuh dalam warisan pustaka-pustaka lontar Bali? Agaknya di masa lampau para intelektual-spiritual Bali melakukan semacam studi komparatif terhadap berbagai ajaran, termasuk Islam. Mereka juga tidak hanya mendalami ajaran yang tersedia dalam khazanah agamanya sendiri sehingga menjadi kering dan sempit, tetapi juga tekun menjelajahi kekayaan rohani agama lainnya. Kekayaan rohani yang sesuai dengan keyakinannya lalu disinergikan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan, tanpa mengubah dasar keyakinan yang telah dianut sebelumnya.

Para spiritual sejati itu seperti petani dengan kemampuan mengidentifikasi gen tumbuhan untuk disambung dengan tumbuhan sejenis yang unggul. Setelah disambung, pohon itu sendiri tidak akan berubah menjadi pohon lain, tetapi mendapatkan keunggulan baru dari sambungan tumbuhan lainnya. Warisan kearifan ini penting  menjadi “tuan rumah di lubuk-lubuk batin” setiap masyarakat Bali dan Indonesia umumnya. Dengan demikian, intoleransi agama yang terjadi belakangan ini akibat dinamika politik bisa diredam. Memang agak utopis, tetapi suatu saat akan lebih gagah rasanya jika para pemuda, anak, cucu kita berani menyatakan, “jika ingin melihat model kerukunan agama” datanglah ke sebuah negara bernama Indonesia.

Selamat idul Fitri.       [T]

Tags: baliIslamlontar
Share363TweetSendShareSend
Previous Post

“Herd Immunity” yang Kita Harapkan

Next Post

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co