2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 24, 2020
in Esai
Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Ĕda suud ngulik sasana, miwah tattwa yan ada mbahang nyilih, Tattwajnyana Darma Putus, miwah Bhuana Kosana lan Asta Maha Jnyana Guna rum, yadin soroh Tutur Selam inger-inger palajahin. — [Geguritan Loda, Pupuh Pangkur: 4]

Jangan pernah berhenti mendalami etika dan filsafat apabila ada yang meminjami, Tattwajnyana, Darma Putus, Bhuana Kosana dan Asta Maha Jnyana Guna rum, walaupunjenis Tutur Selam, dengar-dengar pelajari!

Itulah petikan bagian akhir dari Geguritan Loda, sebuah karya sastra Bali yang memuat tuturan seorang ayah kepada anaknya tentang berbagai ajaran kehidupan (urip) dan kematian (pati). Karena Loda tumbuh menjadi pakuningrāt ‘tiang dunia’ yang pasti akan mengalami berbagai kesulitan dalam mewujudkan kebaikan, ayahnya lalu memberi pesan-pesan yang dapat dijadikan pegangan. Pesan pertama sang ayah kepada Loda adalah menjadikan shastra sebagai ayah dan ibu secara ideologis lalu menekuni filsafat (yan sih cai suba tatas tĕken śāstra, tattwajñānane gulik). Usai membuka dengan nasihat itu, sang ayah mengalirkan berbagai pengetahuan wahya-dhyatmika kepada Loda seperti evolusi mistis aksara, sapta weci, suduk swari, sasana, dan brata. Di penghujung pesan, Loda disarankan oleh sang ayah agar tidak pernah berhenti mempelajari berbagai teks tattwa seperti Tattawajnyana, Dharma Putus, Bhuwana Kosa, Asta Mahajnyana Gunarum, termasuk juga Tutur Islam.   

Kenapa karya sastra yang banyak mengulas aspek wahya-diatmika itu menyarankan pembaca karyanya untuk mempelajari juga ajaran-ajaran Islam? Apakah itu hanya merupakan ungkapan motivasi agar seseorang melakukan studi perbandingan lintas keyakinan? Ataukah nun jauh di dasar kedalaman pencarian keilahian, anasir-anasir Islami memang bertemu dengan ajaran Hindhu dalam sistem peradaban batin Bali?

Sejumlah pertanyaan itu boleh jadi membayang dalam pikiran pembaca ketika dalam satu teks yang secara dominan memuat ajaran Hindhu juga berisi ajakan untuk mempelajari tutur Islam. Di sisi lain, ajakan itu seakan bertolak belakang dengan narasi sejarah seperti yang terkandung dalam Babad Dalem. Bersumber dari karya sastra yang menceritakan pergolakan politik pada masa Bali Tengahan itu, kita dapat mengetahui bahwa pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong sekitar abad XVI di Gelgel, usaha untuk mengislamkan Pulau Bali seperti wilayah-wilayah lainnya di Nusantara konon telah diupayakan melalui jalur dialogis.

Babad Dalem menarasikan adanya utusan dari Mekah yang melakukan pendekatan kepada Dalem Waturenggong agar berkenan beralih keyakinan. Ketika dua utusan sampai di balairung kerajaan seraya menyampaikan tujuannya, Dalem Waturenggong lalu memberikan tantangan. Isi tantangannya adalah apabila mereka berhasil memotong bulu tangan raja maka semua permohonan mereka akan dikabulkan. Sama seperti yang pembaca pikirkan, teks yang diproduksi di Bali itu mengisahkan sang utusan tidak dapat menuntaskan tantangan. Mereka pulang dengan damai.  

Ketidakberhasilan utusan dari Mekah dalam menunaikan tugasnya itu adalah cara pengarang Babad Dalem melegitimasi keunggulan Dalem Waturenggong. Babad Dalem yang termasuk genre sastra historiografi lokal Bali ini ingin menegaskan bahwa pada masa kepemimpinan Dalem Waturenggong-lah Bali mencapai puncak kejayaan, baik secara politik maupun peradaban.  

Meskipun utusan dari Mekah gagal melaksanakan misinya, anasir-anasir ajaran Islam tetap masuk ke Bali melalui tradisi literasi yang saat itu masih menggunakan media lontar. Warisan sastra Bali menunjukkan bahwa unsur-unsur ajaran Islam terjalin dalam satu tenunan spiritualitas yang rapat dengan sejumlah ajaran Hindu Bali. Dalam bidang pengobatan tradisional, Usadha Manak yang banyak menjelaskan resep-resep pengobatan untuk penyakit  saat seseorang mengandung dan melahirkan penting disimak untuk mengetahui pertemuan dua ajaran itu.

Pustaka tersebut memuat mantra untuk menyembuhkan orang yang sering keguguran dengan campuran bahasa Arab dan mantra yang ditujukan kepada Allah serta Muhamad [ditulis Muhamat]. Untuk meyakinkan, kita cukil beberapa mantranya sebagai berikut.

Nihan tamban krêng ngalabuhang…..Ma, Om tutup kañcing bwana Alah bwana kêling, tutupana gêdong Alah, wuwus pêpêt, śarìrane syanu, têka pêpêt, 3, śa, yeh mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggon makoñceng. Pangañcing, ma, Om mang Alah Om mang, kañcing kukañcing Alah, kinañcingan dening Muhamat, apan aku ngadok dewa pamungkah, pangañcing Muhamat, lah ilah, ilêlah, Muhamat darahsululah, śa, yeh añar mawadah sibuh inumakêna, śisanya anggen makoñceng.

Kutipan di atas menunjukkan obat untuk seseorang yang sering keguguran [nglabuhang] menggunakan sarana air yang diwadahi kelapa [sibuh]. Mantra yang digunakan sebagai pengunci agar janin tidak keguguran diawali dengan Om sebagai pemujaan kepada Siwa, lalu dilanjutkan dengan untaian kalimat yang ditujukan kepada Alah dan Muhamad. Fakta penggunaan kombinasi mantra Hindu dengan Islam tersebutlah yang menyebabkan di awal tulisan ini dinyatakan ada tenunan ajaran yang rapat.  

Tidak hanya dalam bidang pengobatan, pustaka lontar Kanda Wesi yang menguraikan kesejajaran filosofis antara besi yang ada di alam dan di sarira manusia juga menunjukkan nuansa Islami. Ketika menjelaskan mengenai saudara mistis manusia yang terdiri atas I Jabrail, I Mekail, I Srapil, I Raman, dan I Katibin, pustaka itu menyebutkan cara untuk mengajak mereka makan bersama dengan ungkapan berikut.

I Jabrail, I Mĕkail, I Srapil, I Ramān, I Katibin, ĩki ñama pĕtpĕt, ragāne di tngah. Ngaturin madhahār, bisĕmilah, ĩka ngaturin madhahar.

Penggunaan kata bisĕmillah dalam petikan di atas menegaskan adanya sisipan doa yang merujuk ke agama Islam dalam tradisi mistis Bali. Sebagai bukti penguat masuknya unsur-unsur Islami dalam pustaka lontar Bali, mari kita baca bagian dari Geguritan Nengah Jimbaran karya yang juga diduga karya Cokorda Denpasar. Karya sastra yang berbahasa Melayu tersebut menceritakan kisah seorang tokoh bernama Nengah Jimbaran. Ia ditinggal mati oleh istrinya akibat penyakit kolera yang mewabah di Denpasar. Karena mendapatkan petunjuk dari seorang kakek tua, Nengah Jimbaran berhasil bertemu dengan badan astral istrinya. Sebelum bertemu, kakek tua menasihatinya agar tidak berkata apapun ketika pertemuan berlangsung. Saat itu Nengah Jimbaran menjawab dengan ucapan berikut.

Hamba junjung sribu junjung, ingĕtkĕn di dalĕm hati, insaallah jangan lupa, berkatnya tuan sendiri, orang tua lantas jalan, perlahan ke atas naik.

Kata insaallah di atas menjadi penguat yang cukup meyakinkan bahwa dalam tradisi literasi Bali, nuansa Islami masuk menjadi pelangi yang memperkaya peradaban batin Bali. Lalu kenapa ajaran-ajaran itu menubuh dalam warisan pustaka-pustaka lontar Bali? Agaknya di masa lampau para intelektual-spiritual Bali melakukan semacam studi komparatif terhadap berbagai ajaran, termasuk Islam. Mereka juga tidak hanya mendalami ajaran yang tersedia dalam khazanah agamanya sendiri sehingga menjadi kering dan sempit, tetapi juga tekun menjelajahi kekayaan rohani agama lainnya. Kekayaan rohani yang sesuai dengan keyakinannya lalu disinergikan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan, tanpa mengubah dasar keyakinan yang telah dianut sebelumnya.

Para spiritual sejati itu seperti petani dengan kemampuan mengidentifikasi gen tumbuhan untuk disambung dengan tumbuhan sejenis yang unggul. Setelah disambung, pohon itu sendiri tidak akan berubah menjadi pohon lain, tetapi mendapatkan keunggulan baru dari sambungan tumbuhan lainnya. Warisan kearifan ini penting  menjadi “tuan rumah di lubuk-lubuk batin” setiap masyarakat Bali dan Indonesia umumnya. Dengan demikian, intoleransi agama yang terjadi belakangan ini akibat dinamika politik bisa diredam. Memang agak utopis, tetapi suatu saat akan lebih gagah rasanya jika para pemuda, anak, cucu kita berani menyatakan, “jika ingin melihat model kerukunan agama” datanglah ke sebuah negara bernama Indonesia.

Selamat idul Fitri.       [T]

Tags: baliIslamlontar
Share363TweetSendShareSend
Previous Post

“Herd Immunity” yang Kita Harapkan

Next Post

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co