2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Jaswanto by Jaswanto
April 27, 2024
in Khas
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Para peserta lokakarya sedang mempraktikkan Igel Jongkok | Foto: Mulawali Institute

SEORANG pemuda bertanya dengan lugu setelah menonton cuplikan video singkat maestro I Ketut Marya—atau biasa disebut dan ditulis dengan nama Maria, atau Mario—saat melatih Igel Jongkok, tarian yang hari ini lebih dikenal dengan sebutan Tari Kebyar Duduk. “Kenapa di video itu Marya tidak menggunakan kipas?” tanya pemuda itu.

Ia, pemuda itu, bertanya kepada Komang Tri Ray Dewantara, seorang koreografer, yang saat itu menjadi narasumber lokakarya koreografi bertajuk “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk” di Puri Kaleran Tabanan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (26/4/2024) sore. Lokakarya ini akan dilanjut hari ini, Sabtu, 27 April 2024 ditempat yang sama.

Mang Tri, panggilan akrab Komang Tri Ray Dewantara, menjawab dengan hati-hati. Alasan kenapa dalam video tersebut Marya tidak menggunakan kipas hanya soal teknis saja, jawab Mang Tri. “Itu video saat latihan ya. Jadi, sepengalaman kakak dalam melatih Igel Jongkok, kadang juga tidak menggunakan kipas, hanya menggerakkan pergelangan tangan saja, seolah-olah sedang memainkan kipas,” sambungnya.

Sebelum pemuda tersebut bertanya, Mang Tri lebih dulu menyampaikan beberapa hal mengenai sosok I Marya dan salah satu karya monumentalnya, yakni Igel Jongkok/Kebyar Duduk. Dalam presentasinya, Mang Tri menuturkan bahwa gagasan terciptanya Igel Jongkok—atau Igel Kebyar, Kebyang, Kebyar Jongkok, saat ini Kebyar Duduk—adalah ketika I Ketut Marya diundang untuk menari di tengah-tengah latihan Gong Kebyar di Buleleng.

Mang Tri saat menjadi narasumber lokakarya koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk” | Foto: Hizkia

Benar. Embrio Tari Igel Jongkok/Kebyar Duduk, terutama gerakan jongkok yang diciptakan Mario, memang diduga terjadi pertama kali di wilayah Busungbiu, Buleleng, saat sang maestro diminta untuk merespon tabuh Gong Kebyar yang dimainkan para seniman Busungbiu kala itu.

(Hal tersebut sesuai dengan kisah yang diceritakan Budayawan I Made Bandem, atau biasa dipanggil Prof Bandem, saat konferensi pers festival “The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya” di ITB Stikom Bali, Sabtu, 13 April 2024—dan disampaikan kembali pada ceramah publik “I Marya: Sosok, Karya, dan Warisannya” di Puri Kaleran, Jumat, (26/4/2024/) malam.)

Puluhan peserta yang mengikuti lokakarya tersebut tampak serius mendengarkan dan memperhatikan apa-apa yang disampaikan narasumber. Sesekali mereka bertanya di tengah-tengah penyampaian materi. Forum menjadi hidup. Antara narasumber dan peserta seperti tak ada jarak. Keduanya menyatu dan menciptakan suasana diskusi yang dinamis.

“Marya menguasai Tari Sisia Calonarang dan Gandrung sebagai dasar atas terciptanya karya monumental Igel Jongkok. Improvisasi berdasarkan pengalaman ketubuhan adalah kata kunci utama yang selalu dipegang Marya ketika menarikan Igel Jongkok dikemudian hari,” terang Mang Tri.

Marya pada masa mudanya memang dikenal sebagai penari Gandrung yang hebat, sebagaimana dituliskan Made Adnyana Ole dalam “Tentang Mario yang Tak Banyak Diketahui: Bertemu Soekarno dan Embrio Kebyar Duduk dari Busungbiu” yang diterbitkan di tatkala.co (17/4/2024). “Tubuh dan wajahnya sangat pas dengan tarian Gandrung. Wajahnya manis, tubuhnya bagus dan tinggi,” tulis Ole.

Dalam konteks kesenian tari Bali, Marya dianggap sebagai “pemberontak”—walaupun kata “pembaharu” tampaknya lebih tepat. Ia dianggap pencipta karakter gerak yang khas, keras sekaligus romantis.

Peserta lokakarya koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk” | Foto: Hizkia

Berdasarkan materi yang disampaikan Mang Tri, Marya tidak menggunakan suatu pakem yang konsisten dalam koreografinya (sebuah kenyataan yang diakui oleh Begeg, I Wayan Rindi, Ni Ketut Arini, dan murid-murid Marya lainnya). Ini bisa jadi salah satu sebab adanya perbedaan gaya dalam Igel Jongkok.

“Setelah menonton arsip Igel Jongkok, mulai muncul pertanyaan tentang penyebab perbedaan bentuk pada arsip dengan apa yang saya pelajari,” kata Mang Tri kepada peserta lokakarya.

Gaya Igel Jongkok yang Beragam

Dalam beberapa rekaman arsip, setiap pelaku/penari Igel Jongkok, yang notabene merupakan murid langsung Ketut Marya, terlihat memiliki gaya berbeda pada setiap respon tubuh terhadap gamelan dan pengajaran Marya.

Nama-nama seperti Nyoman Nyongnyong (Belaluan), Wayan Sampih (Bongkasa/Kutuh Sayan/Peliatan), I Wayan Rindi (Lebah/Denpasar), dan Gusti Ngurah Raka (Penebel), memiliki gayanya masing-masing. Hal ini seolah membuktikan bahwa Marya sangat membebaskan murid-muridnya dalam merespon pengetahuan yang dibagikan dan diajarkannya. Sampai di sini, sebagaimana telah disampaikan di atas, hal tersebut menjadi masuk akal sebab dalam koreografinya sendiri Marya juga tidak menggunakan suatu pakem tertentu—atau konsisten.

“Bahkan di Peliatan hingga hari ini, setiap penari memiliki struktur dan ragam gerak yang berbeda dalam menarikan Igel Jongkok dengan gubahan gending yang masih dipertahankan dari pertama kali dituangkan di Peliatan,” ujar Mang Tri menguatkan pendapat tersebut.

Mengenai hal tersebut, menurut Mang Tri, bisa jadi karena latar belakang dasar tarian yang dikuasi para penari sebelum belajar dan menarikan Igel Jongkok. Ketut Marya sendiri berangkat dari Tari Sisia Calonarang dan Gandrung, yang memiliki ciri khas ngelo dan luk nerudut pada ragam geraknya. Sedangkan salah satu muridnya, Nyoman Nyongnyong, menampilkan bentuk sledet yang hampir mirip dengan sledet capung saat menarikan Igel Jongkok.

Murid Marya lainnya, Wayan Sampih, justru menarikan Igel Jongkok dengan karakter yang keras, sebab Sampih pada awalnya adalah seorang penari Condong Legong (Nandir) dan sempat belajar Tari Baris bersama Kakul di Batuan.

Peserta lokaraya sedang mempraktikkan Igel Jongkok | Foto: Mulawali Institute

I Wayan Rindi lain lagi. Sama seperti gurunya (Marya), Rindi adalah seorang penari Gandrung dan Condong Nandir. Hal ini sangat memengaruhi gaya Igel Jongkok-nya yang cenderung halus dengan hentakan-hentakan kecil.

Sekadar menyebut satu contoh lagi, Gusti Ngurah Raka, seorang penari Topeng, memberikan tekanan pada akhir agem atau perpindahan gerak Igel Jongkok-nya. Menurut Mang Tri, itu karena pengaruh gaya dan pose yang terdapat dalam Tari Topeng.

Namun, hari ini, sejak adanya legitimasi beberapa tokoh maupun instansi kesenian, Igel Jongkok bukan lagi tarian improvisasi atas gamelan. Pemakeman struktur tari, ragam gerak, bahkan pose, seakan-akan mengekang segala bentuk keanekaragaman, kekayaan, yang tercipta dari tubuh penarinya saat ini. Dengan kata lain, seolah ada usaha penyeragaman gaya Igel Jongkok belakangan ini. Mang Tri sangat menyayangkan akan hal itu.

Hari berputar secepat penari menyeledetkan matanya. Mang Tri meminta peserta lokakarya untuk membentuk barisan, seperti hendak upacara bendera, di depannya. Koreografer muda yang sedang menempuh pendidikan di ISI Denpasar itu, mengajak peserta mempraktikkan Igel Jongkok. Dengan sabar ia membimbing dan menunjukkan tahapan-tahapan Igel Jongkok, sebagaimana—mungkin—Ketut Marya juga melakukannya saat mengajar murid-muridnya, dulu.

Lokakarya tersebut merupakan salah satu mata acara festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya yang digelar Mulawali Institute di kawasan Puri Kaleran Tabanan yang berlangsung dari tanggal 26-28 April 2024.

Festival ini digelar untuk melihat secara lebih saksama dan membicarakan kembali secara lebih rinci dan serius seniman besar I Ketut Marya (Maria/Mario) dengan karya-karya monumentalnya, seperti Tari Igel Jongkok/Kebyar Duduk, Kebyar Terompong, dan Oleg Tamulilingan.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Mari Merayakan Ketut Marya dan Igel Jongkok di Tabanan, 26-28 April 2024
Tentang Mario yang Tak Banyak Diketahui: Bertemu Soekarno dan Embrio Kebyar Duduk dari Busungbiu
“I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”, Buku dari Prof. Dibia
Oleg Tambulilingan dari “Sleeping Beauty”, dan Perubahan-Perubahannya Kemudian
Tags: I Ketut MaryaIgel JongkokKetut MarioMerayakan MaryaMulawali Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Disfungsi Komunikasi dalam Keluarga

Next Post

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co