3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan by Ananda Sukarlan
April 27, 2024
in Esai
JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Joko Pinurbo | Majalah Tempo

SEBAGAI komponis yang “kebiasaan” mengobrak-abrik puisi orang untuk menjadikannya musik, sebetulnya saya belum merasa puas mengutak-utik puisi Joko Pinurbo. Well, banyak sih puisinya yang saya jadikan musik, hanya saja beberapa puisi itu menjadi satu karya utuh, dan bukan “tembang puitik” seperti yang biasa saya bikin, tapi karya untuk paduan suara.

Saya ingat, tahun 2009 paduan suara Institut Teknologi Bandung meminta saya untuk membuat suatu karya yang “beda” (yahhh, apa sih yang diharapkan dari saya, kecuali memang musik saya cukup “beda” hahaha) untuk mereka nyanyikan di kompetisi di dalam dan luar negeri.

Nah, karena saya pikir saya harus lebih beda lagi daripada musik-musik beda saya yang lain, saya mencari puisi yang beda. Jatuhlah pilihan saya ke puisi-puisi Joko “Jokpin” Pinurbo. Dan bukan satu puisi, tapi banyak puisi yang semua sangat-sangat pendek. Salah satunya hanya satu baris: “Ayo buku, baca mataku!” Dan judul karya saya, karena terdiri dari banyak puisi Jokpin, tentu tidak bisa mengambil judul salah satu saja dari puisinya. Jadilah “Jokpiniana no. 1”.

Jokpiniana no. 1 ini adalah eksperimen saya yang cukup memuaskan secara artistik, karena saya “belajar sesuatu yang baru” yang tidak bisa dipelajari sebelumnya, hanya bisa “learning by doing”. Ibaratnya saya pergi ke hutan yang asing tanpa bekal, tanpa peta (karena memang hutan itu belum dipetakan), dan belajar survival dengan mempelajari situasi hutan itu.

Saya bilang eksperimen karena saya mencoba menggabungkan beberapa puisi yang saling tidak berhubungan, dan itu tidak mudah, dan berpotensi …. well, tambal sulam. Saya rasa belum pernah ada karya musik klasik seperti ini, dan hanya Joko Pinurbo yang bisa menyediakan material untuk hal ini. Sama sekali tidak ada model untuk saya pelajari sebelumnya. Sekarang, banyak penyair yang sudah meniru Jokpin, walaupun tentu dengan karakter artistik yang tidak sekuat Jokpin. Maunya beda, tapi jadi semuanya sama.

Bisnis urusan beda-beda dengan puisi Jokpin yang bisa dibilang sukses ini membuat beberapa paduan suara lain meminta saya untuk membikin karya serupa, sehingga jadilah Jokpiniana no. 2 dan 3. Itu sebabnya saya jarang sekali memainkan puisi Jokpin di berbagai konser piano saya, karena memang saya tidak pernah menggubah puisinya menjadi Tembang Puitik, yang artinya untuk satu solo vokal diiringi instrumen (biasanya piano).

Saya selalu buat untuk paduan suara, karena puisinya menyediakan ruang untuk bermain dengan efek antifonal paduan suara tersebut. Ehhh, pernah kok saya bikin tembang puitik! Dua puisi pendeknya yang nyeleneh, “Naik Bus di Jakarta” dan “Kekasihku” (yang mulai dengan “pacar kecil duduk manis di jendela”), bisa dicari saja dengan kata kunci itu di YouTube.

Dalam karya-karya paduan suara serial “Jokpiniana”, cara saya menggunakan motif adalah dengan bereksperimen dengan distorsi, seperti yang dilakukan Pablo Picasso misalnya di lukisan “Les Demoiselles d’Avignon”, yang merepresentasikan objek yang terfragmentasi secara radikal. Pendekatan inovatif ini memecah komponen-komponen unsur musik (yang berasal dari unsur puisi Joko Pinurbo) menjadi beberapa segi tersendiri, menghadirkan beberapa aspek berbeda pada satu objek (bisa berupa melodi, atau progresi harmoni, atau pola ritme) dari berbagai sudut secara bersamaan.

Saya juga menyandingkan atmosfir yang berbeda, seringkali kontras, (sekali lagi, berasal dari beberapa puisi dengan “mood” yang kontras) sambung-menyambung. Yang ingin saya tekankan berulang kali, terutama kepada para penulis dan kritikus yang selalu salah memahami cara berpikir kreatif saya, adalah bahwa saya tidak sekadar membaca puisi kata demi kata dan menjadikannya melodi.

Proses saya beda sekali dengan “musikalisasi puisi” yang cukup populer di Indonesia. Saya berkonsentrasi pada warna dan suasana puisi secara keseluruhan. Begitu saya mendapatkan musiknya, kata-kata (atau frasa) menjadi (agak) kurang penting.

Meski demikian, saya tidak pernah menggunakan unsur fonetik di luar puisi: misalnya, kata “dang” dan “dut” di Jokpiniana no. 1 itu memang ada dalam puisi “Dangdut” itu sendiri. Saya hanya menggunakannya sebagai elemen independen, memperlakukannya murni sebagai bunyi dan bukan sebagai kata yang mempunyai makna. Saya selalu menganggap penyair hebat sebagai pelukis hebat: mereka tahu bagaimana memilih kata yang tepat untuk “cat” sebagai bahan untuk membuat gambarnya.

Jadi, jangan salah paham: kata-kata individual adalah hal yang paling penting bagi saya di awal proses kreatif, tetapi menjadi sekunder dalam hasil sebuah karya musik. Lukisan yang bagus tidak hanya dibuat dengan warna primer, bukan?

Kehebatannya terletak pada cara sang pelukis memadukan warna, dan bagaimana hasilnya dapat mengungkapkan apa yang ingin ia komunikasikan kepada pengamatnya (dan pendengar, dalam kasus saya dan para komponis lain). Dan Jokpin menyediakan kekuatan itu: dengan fonetik yang unik, ia dapat mengekspresikan suasana dengan sangat mengena. Bingung? Coba deh dengarkan saja Jokpiniana no. 1, kalau dengar musiknya, semua penjelasan ini pasti jadi jelas: https://www.youtube.com/watch?v=vkC4V3fWDWk

Sebetulnya saya juga sangat tertarik dengan bukunya “Perjamuan Khong Guan”, tapi belum sempat membuat apa-apa dari situ. Sejak puisi-puisi awalnya seperti di kumpulan puisi “Celana” sampai tahun-tahun terakhir ini, puisi-puisi Joko Pinurbo selalu tentang memutarbalikkan kehidupan sehari-hari menjadi renungan yang lucu dan menyindir secara linguistik. Tragedi dan komedi menyatu dengan harmonis.

Kini, dengan keseharian kita tidak lepas dari gadget, intisarinya dapat dilihat pada sebagian besar puisinya di Perjamuan Khong Guan: dari bagian pertama hingga terakhir, meratapi kegilaan terhadap smartphone dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan komunikasi kita—dengan orang-orang nyata dalam kehidupan nyata. Sang penyair juga menyentil situasi negara kita yang tidak bisa dikatakan “baik-baik saja”. Dan kebanyakan dalam puisi yang berdurasi yang (sangat) singkat. Seperti usianya, sayangnya, yang meninggalkan kita di usia 61 tahun.

Yang saya menyesal adalah saat saya ke Jogja terakhir kali, bulan Februari lalu. Memang niat saya adalah untuk “nyepi” karena saya harus menulis bagian dari opera baru saya yang cukup kompleks (dan intens sih karena temanya tentang perdagangan manusia).

Dari stasiun kereta saya langsung menuju ke tempat nyepi saya yang ternyata enak banget, di tepi sawah (saya ga kasih tau namanya ya, nanti rame deh semua penulis mau kesana hahaha) dan selama seminggu itu semua janjian bertemu teman dan semua orang akhirnya batal karena fokus saya ke komposisi opera itu.

Saya dengar bahwa Jokpin sakit baru setelah saya balik ke Jakarta, itu pun belum parah. Terakhir saya bertemu dengannya ya sebelum pandemi. Yah, penyesalan selalu datang belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran…

Salam buat para idola saya di surga: Pak Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Emily Dickinson, Federico Garcia Lorca, dll. Ya, Joko Pinurbo. Berbahagialah bersama mereka yang telah membuat dunia ini lebih indah saat meninggalkannya.[T]

————————————

Ananda Sukarlan adalah Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya “terdeteksi” pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai “Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru”.

Ananda dianugerahi penghargaan sipil tertinggi di Italia “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” dari Presiden Sergio Mattarella, dan pada tahun 2022 ditunjuk sebagai pendiri dan direktur artistik G20 Orchestra yang menjadi warisan Indonesia di bidang budaya untuk G20. Selain itu, Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol juga menganugerahkan gelar Orden of Merit Real Oficial Orden de Isabel la Catolica kepada Ananda Sukarlan tahun 2003.

Ia adalah komponis Indonesia yang paling banyak menciptakan genre “Tembang Puitik” baik dari para penyair berbahasa Inggris, Spanyol, dan kini ratusan puisi dari penyair Indonesia: Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo sampai generasi muda seperti Ewith Bahar, Emi Suy, Muhammad Subhan dan puluhan lainnya.

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo
Menemukan Semangat Berkarya Melalui “Srimenanti” Joko Pinurbo
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci
Tags: in memoriamJoko Pinurboobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Next Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan

Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya "terdeteksi" pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai "Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru".

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co