14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan by Ananda Sukarlan
April 27, 2024
in Esai
JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Joko Pinurbo | Majalah Tempo

SEBAGAI komponis yang “kebiasaan” mengobrak-abrik puisi orang untuk menjadikannya musik, sebetulnya saya belum merasa puas mengutak-utik puisi Joko Pinurbo. Well, banyak sih puisinya yang saya jadikan musik, hanya saja beberapa puisi itu menjadi satu karya utuh, dan bukan “tembang puitik” seperti yang biasa saya bikin, tapi karya untuk paduan suara.

Saya ingat, tahun 2009 paduan suara Institut Teknologi Bandung meminta saya untuk membuat suatu karya yang “beda” (yahhh, apa sih yang diharapkan dari saya, kecuali memang musik saya cukup “beda” hahaha) untuk mereka nyanyikan di kompetisi di dalam dan luar negeri.

Nah, karena saya pikir saya harus lebih beda lagi daripada musik-musik beda saya yang lain, saya mencari puisi yang beda. Jatuhlah pilihan saya ke puisi-puisi Joko “Jokpin” Pinurbo. Dan bukan satu puisi, tapi banyak puisi yang semua sangat-sangat pendek. Salah satunya hanya satu baris: “Ayo buku, baca mataku!” Dan judul karya saya, karena terdiri dari banyak puisi Jokpin, tentu tidak bisa mengambil judul salah satu saja dari puisinya. Jadilah “Jokpiniana no. 1”.

Jokpiniana no. 1 ini adalah eksperimen saya yang cukup memuaskan secara artistik, karena saya “belajar sesuatu yang baru” yang tidak bisa dipelajari sebelumnya, hanya bisa “learning by doing”. Ibaratnya saya pergi ke hutan yang asing tanpa bekal, tanpa peta (karena memang hutan itu belum dipetakan), dan belajar survival dengan mempelajari situasi hutan itu.

Saya bilang eksperimen karena saya mencoba menggabungkan beberapa puisi yang saling tidak berhubungan, dan itu tidak mudah, dan berpotensi …. well, tambal sulam. Saya rasa belum pernah ada karya musik klasik seperti ini, dan hanya Joko Pinurbo yang bisa menyediakan material untuk hal ini. Sama sekali tidak ada model untuk saya pelajari sebelumnya. Sekarang, banyak penyair yang sudah meniru Jokpin, walaupun tentu dengan karakter artistik yang tidak sekuat Jokpin. Maunya beda, tapi jadi semuanya sama.

Bisnis urusan beda-beda dengan puisi Jokpin yang bisa dibilang sukses ini membuat beberapa paduan suara lain meminta saya untuk membikin karya serupa, sehingga jadilah Jokpiniana no. 2 dan 3. Itu sebabnya saya jarang sekali memainkan puisi Jokpin di berbagai konser piano saya, karena memang saya tidak pernah menggubah puisinya menjadi Tembang Puitik, yang artinya untuk satu solo vokal diiringi instrumen (biasanya piano).

Saya selalu buat untuk paduan suara, karena puisinya menyediakan ruang untuk bermain dengan efek antifonal paduan suara tersebut. Ehhh, pernah kok saya bikin tembang puitik! Dua puisi pendeknya yang nyeleneh, “Naik Bus di Jakarta” dan “Kekasihku” (yang mulai dengan “pacar kecil duduk manis di jendela”), bisa dicari saja dengan kata kunci itu di YouTube.

Dalam karya-karya paduan suara serial “Jokpiniana”, cara saya menggunakan motif adalah dengan bereksperimen dengan distorsi, seperti yang dilakukan Pablo Picasso misalnya di lukisan “Les Demoiselles d’Avignon”, yang merepresentasikan objek yang terfragmentasi secara radikal. Pendekatan inovatif ini memecah komponen-komponen unsur musik (yang berasal dari unsur puisi Joko Pinurbo) menjadi beberapa segi tersendiri, menghadirkan beberapa aspek berbeda pada satu objek (bisa berupa melodi, atau progresi harmoni, atau pola ritme) dari berbagai sudut secara bersamaan.

Saya juga menyandingkan atmosfir yang berbeda, seringkali kontras, (sekali lagi, berasal dari beberapa puisi dengan “mood” yang kontras) sambung-menyambung. Yang ingin saya tekankan berulang kali, terutama kepada para penulis dan kritikus yang selalu salah memahami cara berpikir kreatif saya, adalah bahwa saya tidak sekadar membaca puisi kata demi kata dan menjadikannya melodi.

Proses saya beda sekali dengan “musikalisasi puisi” yang cukup populer di Indonesia. Saya berkonsentrasi pada warna dan suasana puisi secara keseluruhan. Begitu saya mendapatkan musiknya, kata-kata (atau frasa) menjadi (agak) kurang penting.

Meski demikian, saya tidak pernah menggunakan unsur fonetik di luar puisi: misalnya, kata “dang” dan “dut” di Jokpiniana no. 1 itu memang ada dalam puisi “Dangdut” itu sendiri. Saya hanya menggunakannya sebagai elemen independen, memperlakukannya murni sebagai bunyi dan bukan sebagai kata yang mempunyai makna. Saya selalu menganggap penyair hebat sebagai pelukis hebat: mereka tahu bagaimana memilih kata yang tepat untuk “cat” sebagai bahan untuk membuat gambarnya.

Jadi, jangan salah paham: kata-kata individual adalah hal yang paling penting bagi saya di awal proses kreatif, tetapi menjadi sekunder dalam hasil sebuah karya musik. Lukisan yang bagus tidak hanya dibuat dengan warna primer, bukan?

Kehebatannya terletak pada cara sang pelukis memadukan warna, dan bagaimana hasilnya dapat mengungkapkan apa yang ingin ia komunikasikan kepada pengamatnya (dan pendengar, dalam kasus saya dan para komponis lain). Dan Jokpin menyediakan kekuatan itu: dengan fonetik yang unik, ia dapat mengekspresikan suasana dengan sangat mengena. Bingung? Coba deh dengarkan saja Jokpiniana no. 1, kalau dengar musiknya, semua penjelasan ini pasti jadi jelas: https://www.youtube.com/watch?v=vkC4V3fWDWk

Sebetulnya saya juga sangat tertarik dengan bukunya “Perjamuan Khong Guan”, tapi belum sempat membuat apa-apa dari situ. Sejak puisi-puisi awalnya seperti di kumpulan puisi “Celana” sampai tahun-tahun terakhir ini, puisi-puisi Joko Pinurbo selalu tentang memutarbalikkan kehidupan sehari-hari menjadi renungan yang lucu dan menyindir secara linguistik. Tragedi dan komedi menyatu dengan harmonis.

Kini, dengan keseharian kita tidak lepas dari gadget, intisarinya dapat dilihat pada sebagian besar puisinya di Perjamuan Khong Guan: dari bagian pertama hingga terakhir, meratapi kegilaan terhadap smartphone dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan komunikasi kita—dengan orang-orang nyata dalam kehidupan nyata. Sang penyair juga menyentil situasi negara kita yang tidak bisa dikatakan “baik-baik saja”. Dan kebanyakan dalam puisi yang berdurasi yang (sangat) singkat. Seperti usianya, sayangnya, yang meninggalkan kita di usia 61 tahun.

Yang saya menyesal adalah saat saya ke Jogja terakhir kali, bulan Februari lalu. Memang niat saya adalah untuk “nyepi” karena saya harus menulis bagian dari opera baru saya yang cukup kompleks (dan intens sih karena temanya tentang perdagangan manusia).

Dari stasiun kereta saya langsung menuju ke tempat nyepi saya yang ternyata enak banget, di tepi sawah (saya ga kasih tau namanya ya, nanti rame deh semua penulis mau kesana hahaha) dan selama seminggu itu semua janjian bertemu teman dan semua orang akhirnya batal karena fokus saya ke komposisi opera itu.

Saya dengar bahwa Jokpin sakit baru setelah saya balik ke Jakarta, itu pun belum parah. Terakhir saya bertemu dengannya ya sebelum pandemi. Yah, penyesalan selalu datang belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran…

Salam buat para idola saya di surga: Pak Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Emily Dickinson, Federico Garcia Lorca, dll. Ya, Joko Pinurbo. Berbahagialah bersama mereka yang telah membuat dunia ini lebih indah saat meninggalkannya.[T]

————————————

Ananda Sukarlan adalah Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya “terdeteksi” pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai “Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru”.

Ananda dianugerahi penghargaan sipil tertinggi di Italia “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” dari Presiden Sergio Mattarella, dan pada tahun 2022 ditunjuk sebagai pendiri dan direktur artistik G20 Orchestra yang menjadi warisan Indonesia di bidang budaya untuk G20. Selain itu, Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol juga menganugerahkan gelar Orden of Merit Real Oficial Orden de Isabel la Catolica kepada Ananda Sukarlan tahun 2003.

Ia adalah komponis Indonesia yang paling banyak menciptakan genre “Tembang Puitik” baik dari para penyair berbahasa Inggris, Spanyol, dan kini ratusan puisi dari penyair Indonesia: Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo sampai generasi muda seperti Ewith Bahar, Emi Suy, Muhammad Subhan dan puluhan lainnya.

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo
Menemukan Semangat Berkarya Melalui “Srimenanti” Joko Pinurbo
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci
Tags: in memoriamJoko Pinurboobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Next Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan

Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya "terdeteksi" pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai "Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru".

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co