24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan by Ananda Sukarlan
April 27, 2024
in Esai
JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Joko Pinurbo | Majalah Tempo

SEBAGAI komponis yang “kebiasaan” mengobrak-abrik puisi orang untuk menjadikannya musik, sebetulnya saya belum merasa puas mengutak-utik puisi Joko Pinurbo. Well, banyak sih puisinya yang saya jadikan musik, hanya saja beberapa puisi itu menjadi satu karya utuh, dan bukan “tembang puitik” seperti yang biasa saya bikin, tapi karya untuk paduan suara.

Saya ingat, tahun 2009 paduan suara Institut Teknologi Bandung meminta saya untuk membuat suatu karya yang “beda” (yahhh, apa sih yang diharapkan dari saya, kecuali memang musik saya cukup “beda” hahaha) untuk mereka nyanyikan di kompetisi di dalam dan luar negeri.

Nah, karena saya pikir saya harus lebih beda lagi daripada musik-musik beda saya yang lain, saya mencari puisi yang beda. Jatuhlah pilihan saya ke puisi-puisi Joko “Jokpin” Pinurbo. Dan bukan satu puisi, tapi banyak puisi yang semua sangat-sangat pendek. Salah satunya hanya satu baris: “Ayo buku, baca mataku!” Dan judul karya saya, karena terdiri dari banyak puisi Jokpin, tentu tidak bisa mengambil judul salah satu saja dari puisinya. Jadilah “Jokpiniana no. 1”.

Jokpiniana no. 1 ini adalah eksperimen saya yang cukup memuaskan secara artistik, karena saya “belajar sesuatu yang baru” yang tidak bisa dipelajari sebelumnya, hanya bisa “learning by doing”. Ibaratnya saya pergi ke hutan yang asing tanpa bekal, tanpa peta (karena memang hutan itu belum dipetakan), dan belajar survival dengan mempelajari situasi hutan itu.

Saya bilang eksperimen karena saya mencoba menggabungkan beberapa puisi yang saling tidak berhubungan, dan itu tidak mudah, dan berpotensi …. well, tambal sulam. Saya rasa belum pernah ada karya musik klasik seperti ini, dan hanya Joko Pinurbo yang bisa menyediakan material untuk hal ini. Sama sekali tidak ada model untuk saya pelajari sebelumnya. Sekarang, banyak penyair yang sudah meniru Jokpin, walaupun tentu dengan karakter artistik yang tidak sekuat Jokpin. Maunya beda, tapi jadi semuanya sama.

Bisnis urusan beda-beda dengan puisi Jokpin yang bisa dibilang sukses ini membuat beberapa paduan suara lain meminta saya untuk membikin karya serupa, sehingga jadilah Jokpiniana no. 2 dan 3. Itu sebabnya saya jarang sekali memainkan puisi Jokpin di berbagai konser piano saya, karena memang saya tidak pernah menggubah puisinya menjadi Tembang Puitik, yang artinya untuk satu solo vokal diiringi instrumen (biasanya piano).

Saya selalu buat untuk paduan suara, karena puisinya menyediakan ruang untuk bermain dengan efek antifonal paduan suara tersebut. Ehhh, pernah kok saya bikin tembang puitik! Dua puisi pendeknya yang nyeleneh, “Naik Bus di Jakarta” dan “Kekasihku” (yang mulai dengan “pacar kecil duduk manis di jendela”), bisa dicari saja dengan kata kunci itu di YouTube.

Dalam karya-karya paduan suara serial “Jokpiniana”, cara saya menggunakan motif adalah dengan bereksperimen dengan distorsi, seperti yang dilakukan Pablo Picasso misalnya di lukisan “Les Demoiselles d’Avignon”, yang merepresentasikan objek yang terfragmentasi secara radikal. Pendekatan inovatif ini memecah komponen-komponen unsur musik (yang berasal dari unsur puisi Joko Pinurbo) menjadi beberapa segi tersendiri, menghadirkan beberapa aspek berbeda pada satu objek (bisa berupa melodi, atau progresi harmoni, atau pola ritme) dari berbagai sudut secara bersamaan.

Saya juga menyandingkan atmosfir yang berbeda, seringkali kontras, (sekali lagi, berasal dari beberapa puisi dengan “mood” yang kontras) sambung-menyambung. Yang ingin saya tekankan berulang kali, terutama kepada para penulis dan kritikus yang selalu salah memahami cara berpikir kreatif saya, adalah bahwa saya tidak sekadar membaca puisi kata demi kata dan menjadikannya melodi.

Proses saya beda sekali dengan “musikalisasi puisi” yang cukup populer di Indonesia. Saya berkonsentrasi pada warna dan suasana puisi secara keseluruhan. Begitu saya mendapatkan musiknya, kata-kata (atau frasa) menjadi (agak) kurang penting.

Meski demikian, saya tidak pernah menggunakan unsur fonetik di luar puisi: misalnya, kata “dang” dan “dut” di Jokpiniana no. 1 itu memang ada dalam puisi “Dangdut” itu sendiri. Saya hanya menggunakannya sebagai elemen independen, memperlakukannya murni sebagai bunyi dan bukan sebagai kata yang mempunyai makna. Saya selalu menganggap penyair hebat sebagai pelukis hebat: mereka tahu bagaimana memilih kata yang tepat untuk “cat” sebagai bahan untuk membuat gambarnya.

Jadi, jangan salah paham: kata-kata individual adalah hal yang paling penting bagi saya di awal proses kreatif, tetapi menjadi sekunder dalam hasil sebuah karya musik. Lukisan yang bagus tidak hanya dibuat dengan warna primer, bukan?

Kehebatannya terletak pada cara sang pelukis memadukan warna, dan bagaimana hasilnya dapat mengungkapkan apa yang ingin ia komunikasikan kepada pengamatnya (dan pendengar, dalam kasus saya dan para komponis lain). Dan Jokpin menyediakan kekuatan itu: dengan fonetik yang unik, ia dapat mengekspresikan suasana dengan sangat mengena. Bingung? Coba deh dengarkan saja Jokpiniana no. 1, kalau dengar musiknya, semua penjelasan ini pasti jadi jelas: https://www.youtube.com/watch?v=vkC4V3fWDWk

Sebetulnya saya juga sangat tertarik dengan bukunya “Perjamuan Khong Guan”, tapi belum sempat membuat apa-apa dari situ. Sejak puisi-puisi awalnya seperti di kumpulan puisi “Celana” sampai tahun-tahun terakhir ini, puisi-puisi Joko Pinurbo selalu tentang memutarbalikkan kehidupan sehari-hari menjadi renungan yang lucu dan menyindir secara linguistik. Tragedi dan komedi menyatu dengan harmonis.

Kini, dengan keseharian kita tidak lepas dari gadget, intisarinya dapat dilihat pada sebagian besar puisinya di Perjamuan Khong Guan: dari bagian pertama hingga terakhir, meratapi kegilaan terhadap smartphone dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan komunikasi kita—dengan orang-orang nyata dalam kehidupan nyata. Sang penyair juga menyentil situasi negara kita yang tidak bisa dikatakan “baik-baik saja”. Dan kebanyakan dalam puisi yang berdurasi yang (sangat) singkat. Seperti usianya, sayangnya, yang meninggalkan kita di usia 61 tahun.

Yang saya menyesal adalah saat saya ke Jogja terakhir kali, bulan Februari lalu. Memang niat saya adalah untuk “nyepi” karena saya harus menulis bagian dari opera baru saya yang cukup kompleks (dan intens sih karena temanya tentang perdagangan manusia).

Dari stasiun kereta saya langsung menuju ke tempat nyepi saya yang ternyata enak banget, di tepi sawah (saya ga kasih tau namanya ya, nanti rame deh semua penulis mau kesana hahaha) dan selama seminggu itu semua janjian bertemu teman dan semua orang akhirnya batal karena fokus saya ke komposisi opera itu.

Saya dengar bahwa Jokpin sakit baru setelah saya balik ke Jakarta, itu pun belum parah. Terakhir saya bertemu dengannya ya sebelum pandemi. Yah, penyesalan selalu datang belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran…

Salam buat para idola saya di surga: Pak Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Emily Dickinson, Federico Garcia Lorca, dll. Ya, Joko Pinurbo. Berbahagialah bersama mereka yang telah membuat dunia ini lebih indah saat meninggalkannya.[T]

————————————

Ananda Sukarlan adalah Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya “terdeteksi” pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai “Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru”.

Ananda dianugerahi penghargaan sipil tertinggi di Italia “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” dari Presiden Sergio Mattarella, dan pada tahun 2022 ditunjuk sebagai pendiri dan direktur artistik G20 Orchestra yang menjadi warisan Indonesia di bidang budaya untuk G20. Selain itu, Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol juga menganugerahkan gelar Orden of Merit Real Oficial Orden de Isabel la Catolica kepada Ananda Sukarlan tahun 2003.

Ia adalah komponis Indonesia yang paling banyak menciptakan genre “Tembang Puitik” baik dari para penyair berbahasa Inggris, Spanyol, dan kini ratusan puisi dari penyair Indonesia: Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo sampai generasi muda seperti Ewith Bahar, Emi Suy, Muhammad Subhan dan puluhan lainnya.

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo
Menemukan Semangat Berkarya Melalui “Srimenanti” Joko Pinurbo
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci
Tags: in memoriamJoko Pinurboobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Next Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan

Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya "terdeteksi" pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai "Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru".

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co