16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Yogi Dwi Pradana by Yogi Dwi Pradana
May 8, 2021
in Ulasan
Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Ilustrasi cerpen Ayat Kopi di Kompas karya Made Gunawan yang dimuat di Kompas Minggu 9 Desember 2018

Joko Pinurbo lebih dikenal sebagai seorang penyair daripada seorang penulis prosa. Sebagian besar karyanya di bidang sastra lebih dominan menghasilkan karya berupa puisi. Beberapa buku Joko Pinurbo yang sudah terbit, seperti: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), dll. Cerpen “Ayat Kopi” ini saya temukan dalam web lakonhidup.com. Cerpen tersebut dimuat dalam Kompas pada tahun 2018.

Karya-karya Joko Pinurbo lebih sering mengandung unsur komedi. Beliau sendiri memilih genre komedi agar jiwanya sebagai penulis tertolong. Beliau tidak ingin gila karena harus memikirkan ide-ide untuk menulis, maka dalam tulisan beliau ia memilih genre komedi sebagai sarana menghibur dirinya sendiri. Joko Pinurbo ini sudah benar-benar mempertaruhkan hidupnya untuk sastra. Dulu semasa awal ia memulai karier sebagai penulis, beliau pernah membakar karya-karyanya. Hal tersebut yang membuat dirinya kini bisa menemukan genre yang sesuai dengan dirinya dan membawa namanya dikenal masyarakat luas, yaitu genre komedi.

Joko Pinurbo berani keluar dari zona nyaman dengan berani menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Sri Menanti” (2019). Novel tersebut merupakan novel pertama karya Joko Pinurbo. Tapi, jika menulis cerita pendek Joko Pinurbo ini memang sering, terbukti beberapa cerpennya yang dimuat di Kompas pada tahun 2013, 2014, dan 2015. Beberapa prosa karya Joko Pinurbo tak jauh-jauh dari genre komedi, dalam novel dan cerita pendek karangannya lebih sering mengusung genre komedi. Mungkin, Joko Pinurbo memang seorang sastrawan yang terlahir untuk menghibur masyarakat dengan karyanya yang bergenre komedi.

Saya sangat tertarik saat menemukan cerpen “Ayat Kopi”, terhitung sudah kurang lebih 5 kali saya mengulangi membaca cerpen tersebut. Saya ingin mendalami cerpen tersebut hingga mengetahui seluruh isi yang dimaksud oleh Joko Pinurbo. Jiwa saya merasa terhibur ketika membaca cerpen tersebut. Ada beberapa peristiwa yang membuat saya sungguh tercengang ketika membaca cerita tersebut pertama kali, tapi setelah selesai membaca cerita tersebut yang kedua kali hingga sekarang sudah lima kali, saya menemukan banyak hal dalam cerita tersebut.

Kopi sendiri selalu dikaitkan dengan hubungan dengan seorang penulis. Kopi digadang-gadang sebagai sebuah wacana untuk memunculkan ide untuk seorang penulis. Pemilihan judul “Ayat Kopi” ini memang sungguh luar biasa, “Ayat” identik dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sedangkan “Kopi” sebuah minuman yang identik dengan keliaran yang sering membawa seseorang ngelantur jam tidurnya. Cerpen ini diawali dengan premis yang sudah sangat menarik dan membuat pembaca penasaran untuk duduk lebih lama membaca cerpen tersebut.

“Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan keduanya gagal.” – (Paragraf kedua dalam cerpen “Ayat Kopi”)

Di kepala saya yang pertama kali membaca paragraf tersebut adalah, wah, ini mau bicara tentang politik pasti. Tapi, jangan salah sangka, bagi kebanyakan orang politik adalah sebuah tema yang membosankan. Namun, Joko Pinurbo mampu membungkus tema politik di sini dengan gaya andalannya, komedi. Menurut saya, Joko Pinurbo berhasil membawa tema politik di dalam cerpen tersebut.

“Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” kata Marbangun.

Saya sebenarnya dibuat aneh dengan kalimat seorang Marbangun di atas, ‘Kenapa mengingatkan orang lain, tapi tidak bisa mengingatkan diri sendiri?’ sungguh hal yang sangat lazim dilakukan oleh orang-orang hal semacam itu. Orang-orang bisa memberikan nasehat kepada orang lain, tapi tak bisa menasehati dirinya sendiri. Joko Pinurbo mampu memainkan dialog antartokoh yang sangat nyentrik.

Narasi yang disampaikan oleh Joko Pinurbo juga sangat istimewa jika menurut saya, mudah dipahami, menarik, beda dari yang lain. Dalam cerpen tersebut, Joko Pinurbo juga menampilkan puisinya dalam narasi. “Mereka jadi hafal baris puisi saya: Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Menurut saya, puisi Joko Pinurbo tersebutlah yang dianggap sebagai “Ayat Kopi”.

Pada narasi saat beberapa pemuda mendatangi perayaan rezeki yang diadakan Paman Yusi juga sungguh luar biasa. Tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut dianggap sebagai seorang yang mengajarkan sesat. Karena “Ayat Kopi” yang ia buat, kini beberapa kehidupan orang-orang menjadi terpengaruh oleh kopi. “Pokoknya, gara-gara ayat yang Anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya,” ucap pemimpin rombongan pemuda yang mendatangi perayaan Paman Yusi. Dengan tenang, tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut menjawab, “Puisi itu menghaluskan jiwa, Kak, bukan merusak.” Menurut saya, tokoh “Aku” dalam cerpen Joko Pinurbo ini adalah dirinya sendiri. Terlihat dari tutur kata, psikologi, dan cara menyampaikan maksud.

Bagian ini yang membuat saya sangat suka mengulangi membaca cerpen “Ayat Kopi”, bagian saat munculnya Eltece. Eltece adalah seorang hantu laki-laki yang tidak memakai celana, kelaminnya berdarah, dan selalu merintih “Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”. Dibuka dengan obrolan tokoh “Aku” dengan seorang pemilik warung bernama Bu Trinil yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu Eltece muncul di gardu ronda.

Joko Pinurbo juga menggunakan sebuah surealis dalam cerpen ini, terlihat dalam, “Saat mau ditangkap, hantu itu lari ke gang, dikejar, dikepung, tapi lolos.” Hantu kok lari? Hantu kok dikejar? Tidak habis pikir memang. Joko Pinurbo mampu membuat sebuah alur komedi dengan permainan tokoh-tokohnya dalam cerita ini.

Eltece ini menjadi sosok tokoh yang sangat meresahkan bagi tokoh-tokoh yang ada di dalam cerpen “Ayat Kopi”, tapi tidak meresahkan bagi tokoh “Aku”. Ada sebuah dialog yang membawa saya teringat peristiwa mencekam pada masa Orde Baru, ini, “Piye kabare? Ngeri zamanku to? Eltece kemudian mencubit-cubit pipinya sambil berseru beri aku kopi! Beri aku kopi!” Saya tercengang, ketika sudah ada “Ngeri zaman to?” karena kalimat tanya tersebut sangat identik dengan Pak Harto. Kalimat tersebut seringkali ditemukan di badan-badan truk.

Pada sebuah narasi Joko Pinurbo juga menceritakan bahwa ayah tokoh “Aku” juga menjadi korban kekejaman Orde Baru. Ayah tokoh “Aku” ditangkap oleh beberapa orang tak dikenal dan dibawa ke suatu tempat. Hal ini hampir sama dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, beberapa orang yang tidak tahu apa-apa mendadak dijemput paksa oleh orang-orang tak dikenal tersebut. Yang dimaksud orang-orang tak dikenal tersebut adalah tentara.

Marbangun sangat ketakutan sekali karena selalu dikejar-kejar oleh Eltece. Padahal, Eltece hanya ingin mengembalikan dompet Marbangun yang jatuh. Wah, saya sungguh tak menyangka plot twist yang dibuat Joko Pinurbo dalam cerpen ini sungguh luar biasa. ‘Eltece, kamu mau kejar koruptor di Indonesia ngga?’ [T]

Yogyakarta, 7 Mei 2021.

Tags: CerpenJoko Pinurboresensisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Next Post

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Yogi Dwi Pradana

Yogi Dwi Pradana

Seorang editor di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak dan online. Bisa disapa melalui IG: @yogidwipradana.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co