5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Yogi Dwi Pradana by Yogi Dwi Pradana
May 8, 2021
in Ulasan
Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Ilustrasi cerpen Ayat Kopi di Kompas karya Made Gunawan yang dimuat di Kompas Minggu 9 Desember 2018

Joko Pinurbo lebih dikenal sebagai seorang penyair daripada seorang penulis prosa. Sebagian besar karyanya di bidang sastra lebih dominan menghasilkan karya berupa puisi. Beberapa buku Joko Pinurbo yang sudah terbit, seperti: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), dll. Cerpen “Ayat Kopi” ini saya temukan dalam web lakonhidup.com. Cerpen tersebut dimuat dalam Kompas pada tahun 2018.

Karya-karya Joko Pinurbo lebih sering mengandung unsur komedi. Beliau sendiri memilih genre komedi agar jiwanya sebagai penulis tertolong. Beliau tidak ingin gila karena harus memikirkan ide-ide untuk menulis, maka dalam tulisan beliau ia memilih genre komedi sebagai sarana menghibur dirinya sendiri. Joko Pinurbo ini sudah benar-benar mempertaruhkan hidupnya untuk sastra. Dulu semasa awal ia memulai karier sebagai penulis, beliau pernah membakar karya-karyanya. Hal tersebut yang membuat dirinya kini bisa menemukan genre yang sesuai dengan dirinya dan membawa namanya dikenal masyarakat luas, yaitu genre komedi.

Joko Pinurbo berani keluar dari zona nyaman dengan berani menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Sri Menanti” (2019). Novel tersebut merupakan novel pertama karya Joko Pinurbo. Tapi, jika menulis cerita pendek Joko Pinurbo ini memang sering, terbukti beberapa cerpennya yang dimuat di Kompas pada tahun 2013, 2014, dan 2015. Beberapa prosa karya Joko Pinurbo tak jauh-jauh dari genre komedi, dalam novel dan cerita pendek karangannya lebih sering mengusung genre komedi. Mungkin, Joko Pinurbo memang seorang sastrawan yang terlahir untuk menghibur masyarakat dengan karyanya yang bergenre komedi.

Saya sangat tertarik saat menemukan cerpen “Ayat Kopi”, terhitung sudah kurang lebih 5 kali saya mengulangi membaca cerpen tersebut. Saya ingin mendalami cerpen tersebut hingga mengetahui seluruh isi yang dimaksud oleh Joko Pinurbo. Jiwa saya merasa terhibur ketika membaca cerpen tersebut. Ada beberapa peristiwa yang membuat saya sungguh tercengang ketika membaca cerita tersebut pertama kali, tapi setelah selesai membaca cerita tersebut yang kedua kali hingga sekarang sudah lima kali, saya menemukan banyak hal dalam cerita tersebut.

Kopi sendiri selalu dikaitkan dengan hubungan dengan seorang penulis. Kopi digadang-gadang sebagai sebuah wacana untuk memunculkan ide untuk seorang penulis. Pemilihan judul “Ayat Kopi” ini memang sungguh luar biasa, “Ayat” identik dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sedangkan “Kopi” sebuah minuman yang identik dengan keliaran yang sering membawa seseorang ngelantur jam tidurnya. Cerpen ini diawali dengan premis yang sudah sangat menarik dan membuat pembaca penasaran untuk duduk lebih lama membaca cerpen tersebut.

“Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan keduanya gagal.” – (Paragraf kedua dalam cerpen “Ayat Kopi”)

Di kepala saya yang pertama kali membaca paragraf tersebut adalah, wah, ini mau bicara tentang politik pasti. Tapi, jangan salah sangka, bagi kebanyakan orang politik adalah sebuah tema yang membosankan. Namun, Joko Pinurbo mampu membungkus tema politik di sini dengan gaya andalannya, komedi. Menurut saya, Joko Pinurbo berhasil membawa tema politik di dalam cerpen tersebut.

“Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” kata Marbangun.

Saya sebenarnya dibuat aneh dengan kalimat seorang Marbangun di atas, ‘Kenapa mengingatkan orang lain, tapi tidak bisa mengingatkan diri sendiri?’ sungguh hal yang sangat lazim dilakukan oleh orang-orang hal semacam itu. Orang-orang bisa memberikan nasehat kepada orang lain, tapi tak bisa menasehati dirinya sendiri. Joko Pinurbo mampu memainkan dialog antartokoh yang sangat nyentrik.

Narasi yang disampaikan oleh Joko Pinurbo juga sangat istimewa jika menurut saya, mudah dipahami, menarik, beda dari yang lain. Dalam cerpen tersebut, Joko Pinurbo juga menampilkan puisinya dalam narasi. “Mereka jadi hafal baris puisi saya: Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Menurut saya, puisi Joko Pinurbo tersebutlah yang dianggap sebagai “Ayat Kopi”.

Pada narasi saat beberapa pemuda mendatangi perayaan rezeki yang diadakan Paman Yusi juga sungguh luar biasa. Tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut dianggap sebagai seorang yang mengajarkan sesat. Karena “Ayat Kopi” yang ia buat, kini beberapa kehidupan orang-orang menjadi terpengaruh oleh kopi. “Pokoknya, gara-gara ayat yang Anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya,” ucap pemimpin rombongan pemuda yang mendatangi perayaan Paman Yusi. Dengan tenang, tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut menjawab, “Puisi itu menghaluskan jiwa, Kak, bukan merusak.” Menurut saya, tokoh “Aku” dalam cerpen Joko Pinurbo ini adalah dirinya sendiri. Terlihat dari tutur kata, psikologi, dan cara menyampaikan maksud.

Bagian ini yang membuat saya sangat suka mengulangi membaca cerpen “Ayat Kopi”, bagian saat munculnya Eltece. Eltece adalah seorang hantu laki-laki yang tidak memakai celana, kelaminnya berdarah, dan selalu merintih “Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”. Dibuka dengan obrolan tokoh “Aku” dengan seorang pemilik warung bernama Bu Trinil yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu Eltece muncul di gardu ronda.

Joko Pinurbo juga menggunakan sebuah surealis dalam cerpen ini, terlihat dalam, “Saat mau ditangkap, hantu itu lari ke gang, dikejar, dikepung, tapi lolos.” Hantu kok lari? Hantu kok dikejar? Tidak habis pikir memang. Joko Pinurbo mampu membuat sebuah alur komedi dengan permainan tokoh-tokohnya dalam cerita ini.

Eltece ini menjadi sosok tokoh yang sangat meresahkan bagi tokoh-tokoh yang ada di dalam cerpen “Ayat Kopi”, tapi tidak meresahkan bagi tokoh “Aku”. Ada sebuah dialog yang membawa saya teringat peristiwa mencekam pada masa Orde Baru, ini, “Piye kabare? Ngeri zamanku to? Eltece kemudian mencubit-cubit pipinya sambil berseru beri aku kopi! Beri aku kopi!” Saya tercengang, ketika sudah ada “Ngeri zaman to?” karena kalimat tanya tersebut sangat identik dengan Pak Harto. Kalimat tersebut seringkali ditemukan di badan-badan truk.

Pada sebuah narasi Joko Pinurbo juga menceritakan bahwa ayah tokoh “Aku” juga menjadi korban kekejaman Orde Baru. Ayah tokoh “Aku” ditangkap oleh beberapa orang tak dikenal dan dibawa ke suatu tempat. Hal ini hampir sama dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, beberapa orang yang tidak tahu apa-apa mendadak dijemput paksa oleh orang-orang tak dikenal tersebut. Yang dimaksud orang-orang tak dikenal tersebut adalah tentara.

Marbangun sangat ketakutan sekali karena selalu dikejar-kejar oleh Eltece. Padahal, Eltece hanya ingin mengembalikan dompet Marbangun yang jatuh. Wah, saya sungguh tak menyangka plot twist yang dibuat Joko Pinurbo dalam cerpen ini sungguh luar biasa. ‘Eltece, kamu mau kejar koruptor di Indonesia ngga?’ [T]

Yogyakarta, 7 Mei 2021.

Tags: CerpenJoko Pinurboresensisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Next Post

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Yogi Dwi Pradana

Yogi Dwi Pradana

Seorang editor di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak dan online. Bisa disapa melalui IG: @yogidwipradana.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co