8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Yogi Dwi Pradana by Yogi Dwi Pradana
May 8, 2021
in Ulasan
Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Ilustrasi cerpen Ayat Kopi di Kompas karya Made Gunawan yang dimuat di Kompas Minggu 9 Desember 2018

Joko Pinurbo lebih dikenal sebagai seorang penyair daripada seorang penulis prosa. Sebagian besar karyanya di bidang sastra lebih dominan menghasilkan karya berupa puisi. Beberapa buku Joko Pinurbo yang sudah terbit, seperti: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), dll. Cerpen “Ayat Kopi” ini saya temukan dalam web lakonhidup.com. Cerpen tersebut dimuat dalam Kompas pada tahun 2018.

Karya-karya Joko Pinurbo lebih sering mengandung unsur komedi. Beliau sendiri memilih genre komedi agar jiwanya sebagai penulis tertolong. Beliau tidak ingin gila karena harus memikirkan ide-ide untuk menulis, maka dalam tulisan beliau ia memilih genre komedi sebagai sarana menghibur dirinya sendiri. Joko Pinurbo ini sudah benar-benar mempertaruhkan hidupnya untuk sastra. Dulu semasa awal ia memulai karier sebagai penulis, beliau pernah membakar karya-karyanya. Hal tersebut yang membuat dirinya kini bisa menemukan genre yang sesuai dengan dirinya dan membawa namanya dikenal masyarakat luas, yaitu genre komedi.

Joko Pinurbo berani keluar dari zona nyaman dengan berani menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Sri Menanti” (2019). Novel tersebut merupakan novel pertama karya Joko Pinurbo. Tapi, jika menulis cerita pendek Joko Pinurbo ini memang sering, terbukti beberapa cerpennya yang dimuat di Kompas pada tahun 2013, 2014, dan 2015. Beberapa prosa karya Joko Pinurbo tak jauh-jauh dari genre komedi, dalam novel dan cerita pendek karangannya lebih sering mengusung genre komedi. Mungkin, Joko Pinurbo memang seorang sastrawan yang terlahir untuk menghibur masyarakat dengan karyanya yang bergenre komedi.

Saya sangat tertarik saat menemukan cerpen “Ayat Kopi”, terhitung sudah kurang lebih 5 kali saya mengulangi membaca cerpen tersebut. Saya ingin mendalami cerpen tersebut hingga mengetahui seluruh isi yang dimaksud oleh Joko Pinurbo. Jiwa saya merasa terhibur ketika membaca cerpen tersebut. Ada beberapa peristiwa yang membuat saya sungguh tercengang ketika membaca cerita tersebut pertama kali, tapi setelah selesai membaca cerita tersebut yang kedua kali hingga sekarang sudah lima kali, saya menemukan banyak hal dalam cerita tersebut.

Kopi sendiri selalu dikaitkan dengan hubungan dengan seorang penulis. Kopi digadang-gadang sebagai sebuah wacana untuk memunculkan ide untuk seorang penulis. Pemilihan judul “Ayat Kopi” ini memang sungguh luar biasa, “Ayat” identik dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sedangkan “Kopi” sebuah minuman yang identik dengan keliaran yang sering membawa seseorang ngelantur jam tidurnya. Cerpen ini diawali dengan premis yang sudah sangat menarik dan membuat pembaca penasaran untuk duduk lebih lama membaca cerpen tersebut.

“Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan keduanya gagal.” – (Paragraf kedua dalam cerpen “Ayat Kopi”)

Di kepala saya yang pertama kali membaca paragraf tersebut adalah, wah, ini mau bicara tentang politik pasti. Tapi, jangan salah sangka, bagi kebanyakan orang politik adalah sebuah tema yang membosankan. Namun, Joko Pinurbo mampu membungkus tema politik di sini dengan gaya andalannya, komedi. Menurut saya, Joko Pinurbo berhasil membawa tema politik di dalam cerpen tersebut.

“Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” kata Marbangun.

Saya sebenarnya dibuat aneh dengan kalimat seorang Marbangun di atas, ‘Kenapa mengingatkan orang lain, tapi tidak bisa mengingatkan diri sendiri?’ sungguh hal yang sangat lazim dilakukan oleh orang-orang hal semacam itu. Orang-orang bisa memberikan nasehat kepada orang lain, tapi tak bisa menasehati dirinya sendiri. Joko Pinurbo mampu memainkan dialog antartokoh yang sangat nyentrik.

Narasi yang disampaikan oleh Joko Pinurbo juga sangat istimewa jika menurut saya, mudah dipahami, menarik, beda dari yang lain. Dalam cerpen tersebut, Joko Pinurbo juga menampilkan puisinya dalam narasi. “Mereka jadi hafal baris puisi saya: Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Menurut saya, puisi Joko Pinurbo tersebutlah yang dianggap sebagai “Ayat Kopi”.

Pada narasi saat beberapa pemuda mendatangi perayaan rezeki yang diadakan Paman Yusi juga sungguh luar biasa. Tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut dianggap sebagai seorang yang mengajarkan sesat. Karena “Ayat Kopi” yang ia buat, kini beberapa kehidupan orang-orang menjadi terpengaruh oleh kopi. “Pokoknya, gara-gara ayat yang Anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya,” ucap pemimpin rombongan pemuda yang mendatangi perayaan Paman Yusi. Dengan tenang, tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut menjawab, “Puisi itu menghaluskan jiwa, Kak, bukan merusak.” Menurut saya, tokoh “Aku” dalam cerpen Joko Pinurbo ini adalah dirinya sendiri. Terlihat dari tutur kata, psikologi, dan cara menyampaikan maksud.

Bagian ini yang membuat saya sangat suka mengulangi membaca cerpen “Ayat Kopi”, bagian saat munculnya Eltece. Eltece adalah seorang hantu laki-laki yang tidak memakai celana, kelaminnya berdarah, dan selalu merintih “Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”. Dibuka dengan obrolan tokoh “Aku” dengan seorang pemilik warung bernama Bu Trinil yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu Eltece muncul di gardu ronda.

Joko Pinurbo juga menggunakan sebuah surealis dalam cerpen ini, terlihat dalam, “Saat mau ditangkap, hantu itu lari ke gang, dikejar, dikepung, tapi lolos.” Hantu kok lari? Hantu kok dikejar? Tidak habis pikir memang. Joko Pinurbo mampu membuat sebuah alur komedi dengan permainan tokoh-tokohnya dalam cerita ini.

Eltece ini menjadi sosok tokoh yang sangat meresahkan bagi tokoh-tokoh yang ada di dalam cerpen “Ayat Kopi”, tapi tidak meresahkan bagi tokoh “Aku”. Ada sebuah dialog yang membawa saya teringat peristiwa mencekam pada masa Orde Baru, ini, “Piye kabare? Ngeri zamanku to? Eltece kemudian mencubit-cubit pipinya sambil berseru beri aku kopi! Beri aku kopi!” Saya tercengang, ketika sudah ada “Ngeri zaman to?” karena kalimat tanya tersebut sangat identik dengan Pak Harto. Kalimat tersebut seringkali ditemukan di badan-badan truk.

Pada sebuah narasi Joko Pinurbo juga menceritakan bahwa ayah tokoh “Aku” juga menjadi korban kekejaman Orde Baru. Ayah tokoh “Aku” ditangkap oleh beberapa orang tak dikenal dan dibawa ke suatu tempat. Hal ini hampir sama dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, beberapa orang yang tidak tahu apa-apa mendadak dijemput paksa oleh orang-orang tak dikenal tersebut. Yang dimaksud orang-orang tak dikenal tersebut adalah tentara.

Marbangun sangat ketakutan sekali karena selalu dikejar-kejar oleh Eltece. Padahal, Eltece hanya ingin mengembalikan dompet Marbangun yang jatuh. Wah, saya sungguh tak menyangka plot twist yang dibuat Joko Pinurbo dalam cerpen ini sungguh luar biasa. ‘Eltece, kamu mau kejar koruptor di Indonesia ngga?’ [T]

Yogyakarta, 7 Mei 2021.

Tags: CerpenJoko Pinurboresensisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Next Post

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Yogi Dwi Pradana

Yogi Dwi Pradana

Seorang editor di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak dan online. Bisa disapa melalui IG: @yogidwipradana.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co