23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
May 8, 2021
in Esai
Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Foto ilustrasi: Model Sintya Kristina Devi | Jayen Photograpy

Persoalan memilih bahasa kadang sesederhana memilih keterwakilan perasaan. Ketika dunia ini dipetakan oleh bahasa, pikiran kita didefinisikan oleh bahasa yang membentuknya, maka memilih bahasa adalah mempercayakan keterwakilan itu dalam representasi kata, kumpulan kata. Sebagai pengguna bahasa, perlakuan kita terhadap bahasa barangkali adalah sebuah analogi memilih media ungkap yang tepat.

Persoalannya, bagaimana Bahasa Bali membuat keterwakilan itu terungkap secara proporsional. Pertama, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bisa bahasa Bali menjadi pilihan di antara bahasa bahasa lain? Mengapa perlu berbahasa Bali? Bagaimana dia bisa mewakili saya dan ide saya dalam mengungkapkan pikiran?

Kedua, siapakah audiens saya ketika saya mengungkapkan makna dalam bahasa Bali?

Ketiga, bagaimanakah efek keberterimaan dari penyampaian makna ini?

Berikutnya apa kontribusinya dalam kerangka bahasa.

Saya mewawancarai setidaknya tiga ahli bahasa Bali dalam menjawab hipotesa ini. Pertama, saya menghubungi Putu Eka Guna Yasa, anak muda yang hebat dalam bahasa Bali, saya bertanya bagaimana membuat Bahasa Bali menjadi sebuah pilihan untuk keterwakilan ide dalam membentuk makna. Guna Yasa tidak serta merta menjawab, tentu saja. Dia menyampaikan beberapa hal yang menyebutkan antara lain bahwa memang tidak semua kata dalam bahasa Bali akan menjadi sebuah representasi yang ‘equal’ terhadap makna. Bagaimana mencapai ‘equal’ dalam berbahasa tentu menjadi topik yang lain lagi untuk dibahas? Namun, mau tidak mau di sanalah persoalan. Ketika kita merasa tidak ‘equal’ bahwa sebuah makna tidak bisa terwakili oleh makna terjemahan secara ‘equal’ maka kita memilih menghindari memakai bahasa itu.

Dalam kasus saya, misalnya, kalau menyapa saya biasa berbahasa Bali, namun ketika sudah masuk ke presentasi ide, mengungkap makna, saya pasti switch ke Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Saya sangat jarang memakai Bahasa Bali, jika tidak diharuskan, atau bahkan jika diharuskan pun saya akan mencampurnya dengan bahasa Indonesia atau Inggris.

Persoalan kedua, adalah menurut Guna Yasa, kurangnya pakar yang mau urun rembug dalam membuat istilah atau padanan kata yang relevan dalam bahasa Bali. Jika misalnya sebuah teori dapat dijabarkan dalam 700 halaman di Bahasa Inggris, maka proses menuju ke Bahasa Bali dipastikan akan melalui penerjemahan panjang, pertama, bagaimana itu akan membentuk sebuah proses penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Indonesia lalu ke Bahasa Bali.

Dan setelah ke Bahasa Bali, pilihan bahasa  apa yang akan digunakan, apakah singgih, kapara, atau sor.

Saya bertanya kepada Guna Yasa, apakah bahasa Bali untuk ‘conceptual framework’? Lalu saya bertanya apakah Bahasa Bali untuk ‘representasi’?

Guna menjawab tidak ada yang presisi  untuk kedua istilah tersebut, walau sempat Guna Yasa menjelaskan jika framework disebut ‘bingkai’ maka barangkali ini bisa disebut sebagai ‘bebantangan’. Barangkali. Karena ‘bantang’ itu isi, lalu ‘bebantangan’ itu ‘bingkai isi’.

Ketika itu dibahas kita menjadi berdiskusi tiada batas. Padahal pekerjaan kita menunggu.

Lalu isu berikutnya adalah penciptaan audiens yang membutuhkan pengetahuan dengan Bahasa Bali. Lalu kebutuhan dipakainya pengetahuan itu. Lalu isu-isu lainnya.

Hemat saya, kebutuhan berbahasa itu kompleks. Kebutuhan itu tidak hanya ditentukan oleh pengguna bahasa tapi urgensi pemakaiannya. Apakah urgensinya, bagaimanakah itu kelak akan berlanjut dan seterusnya.

Penulis perempuan berbahasa Bali, Carma Citrawati, mengakui bahwa persoalan Bahasa Bali memang kompleks. Saya bertanya spesifik soal subjek, atau pengganti subjek. Katakanlah orang kedua tunggal. Dalam Bahasa Indonesia kita menyebut orang kedua tunggal sebagai ‘kamu’, ‘anda’, atau ‘kau’. Ada yang tunggal, majemuk. Kalau majemuk ‘kalian’, atau ‘saudara-saudara’.

Apakah orang kedua tunggal dalam bahasa Bali itu ‘ragane’. Kalau dalam Bahasa Buleleng lebih gampang, bisa pilih ‘cai’, ‘ente’, atau ‘nani’.

Lalu orang pertama tunggal. ‘Saya’, “aku” dalam bahasa Bali itu “titiang”, “yang”, “tiang”, atau apa lagi. Yang kasar mungkin “ake”, “awake”, “icang”, “cang”. Yang di tengah-tengah secara rasa bahasa mungkin “yang”. Apa ada pilihan lain?

Citrawati dalam karya-karyanya cukup berhasil membahasakan cerita dalam Bahasa Bali yang santai meskipun dia juga mengakui untuk beberapa konteks sulit menemukan padanan yang tepat. Seperti pengganti subjek tunggal yang saya paparkan di atas. Masih banyak lagi yang harus ditemukan, diselaraskan dan diketahui oleh pengguna Bahasa Bali. Termasuk soal rasa, konteks, dan sasarannya.

Pendapat Ari Dwijayanthi ketika ditanya keterwakilan bahasa, menjawab begini, bahwa Bahasa Bali tidak perlu menjadi sebuah momok ketika tidak ditemukan padanan yang ‘equal’. Santai saja, toh serapan dalam bahasa Bali sudah banyak ditemukan, mulai dari “lampu”, “sekolah”, “buku”, semua adalah serapan.

Jadi ketika ada yang tidak bisa secara ‘equal’ dibahasakan maka pakai saja kata dari bahasa aslinya lalu penjelasannya bisa sedapat mungkin dialihbahasakan menjadi Bahasa Bali. Kalau misalnya bicara ‘conceptual framework’ ya bisa saja tetap begitu. Pemaparannya kemudian baru bisa dijelaskan. “Nak kene madan ‘conceptual framework’ ento”. Baru dijelaskan sebisanya.[T]

Tags: Ari DwijayanthiBahasaBahasa BalibaliCarma CitrawatiGuna Yasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Next Post

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co