3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
May 8, 2021
in Esai
Bahasa | “Mampukah Bahasa Bali Mewakili Perasaanku dengan Tepat?”

Foto ilustrasi: Model Sintya Kristina Devi | Jayen Photograpy

Persoalan memilih bahasa kadang sesederhana memilih keterwakilan perasaan. Ketika dunia ini dipetakan oleh bahasa, pikiran kita didefinisikan oleh bahasa yang membentuknya, maka memilih bahasa adalah mempercayakan keterwakilan itu dalam representasi kata, kumpulan kata. Sebagai pengguna bahasa, perlakuan kita terhadap bahasa barangkali adalah sebuah analogi memilih media ungkap yang tepat.

Persoalannya, bagaimana Bahasa Bali membuat keterwakilan itu terungkap secara proporsional. Pertama, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bisa bahasa Bali menjadi pilihan di antara bahasa bahasa lain? Mengapa perlu berbahasa Bali? Bagaimana dia bisa mewakili saya dan ide saya dalam mengungkapkan pikiran?

Kedua, siapakah audiens saya ketika saya mengungkapkan makna dalam bahasa Bali?

Ketiga, bagaimanakah efek keberterimaan dari penyampaian makna ini?

Berikutnya apa kontribusinya dalam kerangka bahasa.

Saya mewawancarai setidaknya tiga ahli bahasa Bali dalam menjawab hipotesa ini. Pertama, saya menghubungi Putu Eka Guna Yasa, anak muda yang hebat dalam bahasa Bali, saya bertanya bagaimana membuat Bahasa Bali menjadi sebuah pilihan untuk keterwakilan ide dalam membentuk makna. Guna Yasa tidak serta merta menjawab, tentu saja. Dia menyampaikan beberapa hal yang menyebutkan antara lain bahwa memang tidak semua kata dalam bahasa Bali akan menjadi sebuah representasi yang ‘equal’ terhadap makna. Bagaimana mencapai ‘equal’ dalam berbahasa tentu menjadi topik yang lain lagi untuk dibahas? Namun, mau tidak mau di sanalah persoalan. Ketika kita merasa tidak ‘equal’ bahwa sebuah makna tidak bisa terwakili oleh makna terjemahan secara ‘equal’ maka kita memilih menghindari memakai bahasa itu.

Dalam kasus saya, misalnya, kalau menyapa saya biasa berbahasa Bali, namun ketika sudah masuk ke presentasi ide, mengungkap makna, saya pasti switch ke Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Saya sangat jarang memakai Bahasa Bali, jika tidak diharuskan, atau bahkan jika diharuskan pun saya akan mencampurnya dengan bahasa Indonesia atau Inggris.

Persoalan kedua, adalah menurut Guna Yasa, kurangnya pakar yang mau urun rembug dalam membuat istilah atau padanan kata yang relevan dalam bahasa Bali. Jika misalnya sebuah teori dapat dijabarkan dalam 700 halaman di Bahasa Inggris, maka proses menuju ke Bahasa Bali dipastikan akan melalui penerjemahan panjang, pertama, bagaimana itu akan membentuk sebuah proses penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Indonesia lalu ke Bahasa Bali.

Dan setelah ke Bahasa Bali, pilihan bahasa  apa yang akan digunakan, apakah singgih, kapara, atau sor.

Saya bertanya kepada Guna Yasa, apakah bahasa Bali untuk ‘conceptual framework’? Lalu saya bertanya apakah Bahasa Bali untuk ‘representasi’?

Guna menjawab tidak ada yang presisi  untuk kedua istilah tersebut, walau sempat Guna Yasa menjelaskan jika framework disebut ‘bingkai’ maka barangkali ini bisa disebut sebagai ‘bebantangan’. Barangkali. Karena ‘bantang’ itu isi, lalu ‘bebantangan’ itu ‘bingkai isi’.

Ketika itu dibahas kita menjadi berdiskusi tiada batas. Padahal pekerjaan kita menunggu.

Lalu isu berikutnya adalah penciptaan audiens yang membutuhkan pengetahuan dengan Bahasa Bali. Lalu kebutuhan dipakainya pengetahuan itu. Lalu isu-isu lainnya.

Hemat saya, kebutuhan berbahasa itu kompleks. Kebutuhan itu tidak hanya ditentukan oleh pengguna bahasa tapi urgensi pemakaiannya. Apakah urgensinya, bagaimanakah itu kelak akan berlanjut dan seterusnya.

Penulis perempuan berbahasa Bali, Carma Citrawati, mengakui bahwa persoalan Bahasa Bali memang kompleks. Saya bertanya spesifik soal subjek, atau pengganti subjek. Katakanlah orang kedua tunggal. Dalam Bahasa Indonesia kita menyebut orang kedua tunggal sebagai ‘kamu’, ‘anda’, atau ‘kau’. Ada yang tunggal, majemuk. Kalau majemuk ‘kalian’, atau ‘saudara-saudara’.

Apakah orang kedua tunggal dalam bahasa Bali itu ‘ragane’. Kalau dalam Bahasa Buleleng lebih gampang, bisa pilih ‘cai’, ‘ente’, atau ‘nani’.

Lalu orang pertama tunggal. ‘Saya’, “aku” dalam bahasa Bali itu “titiang”, “yang”, “tiang”, atau apa lagi. Yang kasar mungkin “ake”, “awake”, “icang”, “cang”. Yang di tengah-tengah secara rasa bahasa mungkin “yang”. Apa ada pilihan lain?

Citrawati dalam karya-karyanya cukup berhasil membahasakan cerita dalam Bahasa Bali yang santai meskipun dia juga mengakui untuk beberapa konteks sulit menemukan padanan yang tepat. Seperti pengganti subjek tunggal yang saya paparkan di atas. Masih banyak lagi yang harus ditemukan, diselaraskan dan diketahui oleh pengguna Bahasa Bali. Termasuk soal rasa, konteks, dan sasarannya.

Pendapat Ari Dwijayanthi ketika ditanya keterwakilan bahasa, menjawab begini, bahwa Bahasa Bali tidak perlu menjadi sebuah momok ketika tidak ditemukan padanan yang ‘equal’. Santai saja, toh serapan dalam bahasa Bali sudah banyak ditemukan, mulai dari “lampu”, “sekolah”, “buku”, semua adalah serapan.

Jadi ketika ada yang tidak bisa secara ‘equal’ dibahasakan maka pakai saja kata dari bahasa aslinya lalu penjelasannya bisa sedapat mungkin dialihbahasakan menjadi Bahasa Bali. Kalau misalnya bicara ‘conceptual framework’ ya bisa saja tetap begitu. Pemaparannya kemudian baru bisa dijelaskan. “Nak kene madan ‘conceptual framework’ ento”. Baru dijelaskan sebisanya.[T]

Tags: Ari DwijayanthiBahasaBahasa BalibaliCarma CitrawatiGuna Yasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Next Post

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co