5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Qois Mustaghfiri Asyrofi by Qois Mustaghfiri Asyrofi
November 3, 2023
in Kritik Sastra
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Sampul buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi terbitan Gramedia Pustaka Utama

PUISI-PUISI yang diciptakan oleh seorang Joko Pinurbo adalah puisi yang sederhana, tidak menggunakan kata-kata tinggi, tapi tetap istimewa. Kesan saya saat membaca puisi-puisi di dalam antologi ini adalah “Ternyata ada puisi yang seperti ini?” karena ini adalah kali pertama saya menemukan puisi dengan gaya seperti ini. Puisi singkat seperti “Kepada Puisi” dan “Bangkai Banjir” cukup membuat saya terkesan saat membacanya. Dua puisi itu hanya berisi satu baris saja dan itulah yang membuat saya terkesan. Hanya dengan satu baris, puisi-puisi ini mampu menghadirkan makna yang mendalam.

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku air matamu.
(2003)

Bisa dilihat dari puisi berjudul “Kepada Puisi” di atas bahwa walaupun singkat, puisi itu mengandung makna yang mendalam. Saya mengartikan bahwa puisi tersebut adalah penggambaran tentang bagaimana seorang penyair begitu mencintai puisi. Terdapat sebuah pengandaian bahwa jika puisi adalah sebuah mata, maka si penyair adalah air mata yang selalu terikat pada mata.

Bangkai Banjir

Rumahku keranda terindah untuknya.
(2007)

Sama halnya dengan “Kepada Puisi”, puisi “Bangkai Banjir” yang hanya terdiri dari satu kalimat dan bahkan satu baris memiliki arti yang dalam. Hal pertama yang terbayang di pikiran saya saat membaca puisi ini adalah kondisi suatu daerah setelah diterjang banjir besar. Dalam pikiran saya, tergambar sebuah rumah yang sudah tergenang banjir dan hanya tersisa bagian atap yang di atap tersebut terdapat mayat yang terdampar. Puisi singkat itu menunjukkan bahwa puisi yang tidak panjang bisa mendapatkan arti dan kesan yang dalam bagi para pembacanya.

Puisi singkat lainnya yang berjudul “Magrib” dan “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” juga membuat saya kagum saat membacanya. Puisi “Magrib” yang hanya berisi dua baris mampu membuat saya sebagai pembaca memutar otak untuk mencari makna dari puisi tersebut. Kemudian, puisi “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” yang juga hanya berisi dua baris adalah puisi pertama yang saya temukan menggunakan kalimat tanya pada judulnya dan ternyata isinya merupakan jawaban dari judul tersebut.

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkeraman luka.
(2005)

Tidak hanya puisi yang singkat, tapi puisi lainnya dalam antologi ini juga menarik meski baru dilihat dari judulnya. Katakanlah puisi berjudul “Asu” dan “Mengenang Asu” yang menggunakan kata ‘asu’ di dalamnya. Kata sederhana itu cukup untuk membuat beberapa orang termasuk saya untuk membacanya. Ada juga puisi “Celana” dari yang pertama hingga ketiga dan juga puisi “Tahanan Ranjang” yang berhasil membuat saya penasaran tentang isinya. Ketertarikan saya saat baru membaca judul suatu puisi membuat saya percaya bahwa kemenarikan sebuah judul akan sangat berpengaruh pada terbacanya sebuah puisi. Sederhana saja, orang akan antusias mencari tahu tentang suatu hal ketika hal itu ‘terlihat menarik’ dan itu juga terjadi pada sebuah puisi yang akan membuat penasaran jika pembaca sudah membaca judul yang menarik. Ketika ada judul puisi yang dirasa menarik, pembaca akan penasaran dan cenderung akan langsung membaca puisi tersebut.

Jujur saja, saya membaca puisi “Mengenang Asu” dan juga “Asu” awalnya hanya karena tertarik dengan kata ‘asu’ yang ada pada judulnya. Menurut saya, penggunaan kata tersebut pada sebuah puisi adalah hal yang menarik. Kedua puisi tersebut memang tidak sesingkat “Kepada Puisi” atau “Bangkai Banjir”, tapi judulnya menarik seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Selain itu, kedua puisi ini adalah puisi yang berbentuk narasi yang membuat saya makin tertarik karena sebelumnya belum pernah menemukan puisi berbentuk narasi, bahkan terdapat dialog di dalamnya.

Mengenang Asu

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)

Puisi lain yang juga berbentuk narasi adalah “Liburan Sekolah” yang isinya bercerita tentang masa-masa liburan sekolah sesuai dengan judulnya. Hal yang membuat saya heran adalah panjang puisi itu yang mencapai enam halaman penuh, sangat berbeda dengan puisi-puisi lain yang dibahas sebelumnya. Otak saya langsung berpikir “Ini cerpen?” saat mengetahui puisi yang sangat panjang itu. Puisi yang selama ini saya kira tidak akan sepanjang itu ternyata salah. Pikiran saya kembali terbuka bahwa ternyata puisi bukan hanya seperti yang saya pikirkan selama ini, tapi lebih dari itu.

Banyak puisi dalam antologi ini yang menimbulkan pertanyaan di kepala saya saat membacanya judulnya. Terdapat tiga puisi “Celana” pada antologi ini yang memunculkan pertanyaan “Kenapa ada tiga? Kenapa tiga puisi ini judulnya sama?” karena memang judul ketiga puisi tersebut sama dan hanya dibedakan dengan angka di belakang judulnya. Bahkan urutan puisi “Celana” dari yang pertama hingga yang ketiga benar-benar berurutan pada daftar isi. Beberapa puisi lain juga menggunakan kata ‘celana’ pada judulnya, seperti “Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu”, “Laki-laki Tanpa Celana”, dan “Celana Ibu” yang membuat saya penasaran tentang hubungan antara Jokpin dengan celana. Puisi-puisi seperti “Bayi di Dalam Kulkas”, “Tubuh Pinjaman”, “Tahanan Ranjang”, “Di Bawah Kibaran Sarung”, “Antar Aku ke Kamar Mandi” dan lain sebagainya juga memunculkan pertanyaan di pikiran saya, “Kenapa ada bayi di dalam kulkas? Kenapa harus meminjam sebuah tubuh? Apa maksudnya tahanan ranjang? Apa yang ada di bawah kibaran sarung selain burung? Kenapa harus diantar ke kamar mandi?” yang tentunya beragam pertanyaan itu menarik saya untuk membaca puisi-puisi tersebut.

Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam

Sepi meletus. Suaranya yang lucu
mengagetkan tato macan
yang sedang mengaum di tubuhmu.
(2005)

Begitu pentingnya peran judul yang merupakan garda terdepan dari sebuah puisi. Judul aneh seperti “Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam” juga menarik karena menunjukkan betapa kreatifnya seorang Jokpin sehingga bisa membuat sebuah puisi dari sebuah kentut. Banyak juga judul-judul lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya untuk menjadi sebuah puisi seperti “Keranda”, “Toilet”, “Batuk”, “Tahilalat”, bahkan ada juga puisi “Atau” yang judulnya merupakan sebuah partikel. Alasan yang membuat saya tertarik membaca antologi puisi ini secara keseluruhan tidak lepas dari ketertarikan saya pada judul antologi puisi ini, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang waktu itu saya temukan bukunya di toko buku saat sedang menjalankan ibadah puasa. [T]

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Tags: Joko PinurboPuisisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dengan Bersepeda, Hidup Saya Berjalan Lambat

Next Post

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co