26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Qois Mustaghfiri Asyrofi by Qois Mustaghfiri Asyrofi
November 3, 2023
in Kritik Sastra
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Sampul buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi terbitan Gramedia Pustaka Utama

PUISI-PUISI yang diciptakan oleh seorang Joko Pinurbo adalah puisi yang sederhana, tidak menggunakan kata-kata tinggi, tapi tetap istimewa. Kesan saya saat membaca puisi-puisi di dalam antologi ini adalah “Ternyata ada puisi yang seperti ini?” karena ini adalah kali pertama saya menemukan puisi dengan gaya seperti ini. Puisi singkat seperti “Kepada Puisi” dan “Bangkai Banjir” cukup membuat saya terkesan saat membacanya. Dua puisi itu hanya berisi satu baris saja dan itulah yang membuat saya terkesan. Hanya dengan satu baris, puisi-puisi ini mampu menghadirkan makna yang mendalam.

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku air matamu.
(2003)

Bisa dilihat dari puisi berjudul “Kepada Puisi” di atas bahwa walaupun singkat, puisi itu mengandung makna yang mendalam. Saya mengartikan bahwa puisi tersebut adalah penggambaran tentang bagaimana seorang penyair begitu mencintai puisi. Terdapat sebuah pengandaian bahwa jika puisi adalah sebuah mata, maka si penyair adalah air mata yang selalu terikat pada mata.

Bangkai Banjir

Rumahku keranda terindah untuknya.
(2007)

Sama halnya dengan “Kepada Puisi”, puisi “Bangkai Banjir” yang hanya terdiri dari satu kalimat dan bahkan satu baris memiliki arti yang dalam. Hal pertama yang terbayang di pikiran saya saat membaca puisi ini adalah kondisi suatu daerah setelah diterjang banjir besar. Dalam pikiran saya, tergambar sebuah rumah yang sudah tergenang banjir dan hanya tersisa bagian atap yang di atap tersebut terdapat mayat yang terdampar. Puisi singkat itu menunjukkan bahwa puisi yang tidak panjang bisa mendapatkan arti dan kesan yang dalam bagi para pembacanya.

Puisi singkat lainnya yang berjudul “Magrib” dan “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” juga membuat saya kagum saat membacanya. Puisi “Magrib” yang hanya berisi dua baris mampu membuat saya sebagai pembaca memutar otak untuk mencari makna dari puisi tersebut. Kemudian, puisi “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” yang juga hanya berisi dua baris adalah puisi pertama yang saya temukan menggunakan kalimat tanya pada judulnya dan ternyata isinya merupakan jawaban dari judul tersebut.

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkeraman luka.
(2005)

Tidak hanya puisi yang singkat, tapi puisi lainnya dalam antologi ini juga menarik meski baru dilihat dari judulnya. Katakanlah puisi berjudul “Asu” dan “Mengenang Asu” yang menggunakan kata ‘asu’ di dalamnya. Kata sederhana itu cukup untuk membuat beberapa orang termasuk saya untuk membacanya. Ada juga puisi “Celana” dari yang pertama hingga ketiga dan juga puisi “Tahanan Ranjang” yang berhasil membuat saya penasaran tentang isinya. Ketertarikan saya saat baru membaca judul suatu puisi membuat saya percaya bahwa kemenarikan sebuah judul akan sangat berpengaruh pada terbacanya sebuah puisi. Sederhana saja, orang akan antusias mencari tahu tentang suatu hal ketika hal itu ‘terlihat menarik’ dan itu juga terjadi pada sebuah puisi yang akan membuat penasaran jika pembaca sudah membaca judul yang menarik. Ketika ada judul puisi yang dirasa menarik, pembaca akan penasaran dan cenderung akan langsung membaca puisi tersebut.

Jujur saja, saya membaca puisi “Mengenang Asu” dan juga “Asu” awalnya hanya karena tertarik dengan kata ‘asu’ yang ada pada judulnya. Menurut saya, penggunaan kata tersebut pada sebuah puisi adalah hal yang menarik. Kedua puisi tersebut memang tidak sesingkat “Kepada Puisi” atau “Bangkai Banjir”, tapi judulnya menarik seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Selain itu, kedua puisi ini adalah puisi yang berbentuk narasi yang membuat saya makin tertarik karena sebelumnya belum pernah menemukan puisi berbentuk narasi, bahkan terdapat dialog di dalamnya.

Mengenang Asu

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)

Puisi lain yang juga berbentuk narasi adalah “Liburan Sekolah” yang isinya bercerita tentang masa-masa liburan sekolah sesuai dengan judulnya. Hal yang membuat saya heran adalah panjang puisi itu yang mencapai enam halaman penuh, sangat berbeda dengan puisi-puisi lain yang dibahas sebelumnya. Otak saya langsung berpikir “Ini cerpen?” saat mengetahui puisi yang sangat panjang itu. Puisi yang selama ini saya kira tidak akan sepanjang itu ternyata salah. Pikiran saya kembali terbuka bahwa ternyata puisi bukan hanya seperti yang saya pikirkan selama ini, tapi lebih dari itu.

Banyak puisi dalam antologi ini yang menimbulkan pertanyaan di kepala saya saat membacanya judulnya. Terdapat tiga puisi “Celana” pada antologi ini yang memunculkan pertanyaan “Kenapa ada tiga? Kenapa tiga puisi ini judulnya sama?” karena memang judul ketiga puisi tersebut sama dan hanya dibedakan dengan angka di belakang judulnya. Bahkan urutan puisi “Celana” dari yang pertama hingga yang ketiga benar-benar berurutan pada daftar isi. Beberapa puisi lain juga menggunakan kata ‘celana’ pada judulnya, seperti “Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu”, “Laki-laki Tanpa Celana”, dan “Celana Ibu” yang membuat saya penasaran tentang hubungan antara Jokpin dengan celana. Puisi-puisi seperti “Bayi di Dalam Kulkas”, “Tubuh Pinjaman”, “Tahanan Ranjang”, “Di Bawah Kibaran Sarung”, “Antar Aku ke Kamar Mandi” dan lain sebagainya juga memunculkan pertanyaan di pikiran saya, “Kenapa ada bayi di dalam kulkas? Kenapa harus meminjam sebuah tubuh? Apa maksudnya tahanan ranjang? Apa yang ada di bawah kibaran sarung selain burung? Kenapa harus diantar ke kamar mandi?” yang tentunya beragam pertanyaan itu menarik saya untuk membaca puisi-puisi tersebut.

Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam

Sepi meletus. Suaranya yang lucu
mengagetkan tato macan
yang sedang mengaum di tubuhmu.
(2005)

Begitu pentingnya peran judul yang merupakan garda terdepan dari sebuah puisi. Judul aneh seperti “Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam” juga menarik karena menunjukkan betapa kreatifnya seorang Jokpin sehingga bisa membuat sebuah puisi dari sebuah kentut. Banyak juga judul-judul lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya untuk menjadi sebuah puisi seperti “Keranda”, “Toilet”, “Batuk”, “Tahilalat”, bahkan ada juga puisi “Atau” yang judulnya merupakan sebuah partikel. Alasan yang membuat saya tertarik membaca antologi puisi ini secara keseluruhan tidak lepas dari ketertarikan saya pada judul antologi puisi ini, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang waktu itu saya temukan bukunya di toko buku saat sedang menjalankan ibadah puasa. [T]

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Tags: Joko PinurboPuisisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dengan Bersepeda, Hidup Saya Berjalan Lambat

Next Post

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co