2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puitika Ruang Sitor Situmorang

Isnan Waluyo by Isnan Waluyo
November 9, 2025
in Kritik Sastra
Puitika Ruang Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi pertamanya yang dimuat dalam Majalah Siasat (1947), namun sekaligus menasbihkan Sitor masuk dalam gelanggang sastra Indonesia sebagai penyair. Lalu, “Angin dan Air Danau Toba” (2008)—puisi terakhir Sitor yang diarsipkan dalam buku Sitor Situmorang Kumpulan Sajak 1948-2008—menandai berakhirnya pena kepenyairannya yang berlangsung selama 60 tahun.

Bentang kedua puisi yang berjarak lebih dari setengah abad tersebut seolah mengikat gagasan literer Sitor sebagai subjek soliter yang masuk ke dalam ruang demi ruang. Oleh Afrizal Malna dalam esainya yang berjudul Sitor Situmorang: Ilmu Alam di Bawah Kata (2014), keruangan menjadisemacam titik-tolak garis yang terus terjaga dalam berbagai variannya dalam puisi-puisi Sitor. Artinya, aspek keruangan pada puisi Sitor sangat menubuh: nafas penting dalam setiap apa yang ia tulis.

Saya sengaja menempatkan latar dalam puisi-puisi Sitor tidak berhenti pada definisi tempat (place), tetapi ruang (space). Jika /Pasar Senen/ dan /Danau Toba/ dimaknai sebagai place, maka latar puitik dalam puisi itu bersifat spasial, kaku, tetap, dan rigid. Padahal, baik /Pasar Senen/ maupun /Danau Toba/ menjadi representasi simbolik secara pemaknaan karena keduanya bersifat nonspasial, cair, dan chaotic. Pemaknaan itu hanya bisa dimungkinkan jika latar dalam puisi-puisi Sitor ditempatkan pada definisi ruang, bukan tempat. Bahkan jika ditelisik lebih jauh, ruang-ruang puitika Sitor membentang—meminjam diksi teori ruang pascakolonial Sara Upstone—dari level ruang yang mencangkup nation (bangsa atau negara), journey (perjalanan), city (kota), home (rumah), hingga sampai ke body (tubuh). Sebut saja misalnya beberapa puisi Sitor yang berjudul “Nusantara”, “Ke Yogya”, “Lagu Gadis Itali”, “Kaliurang: Pagi”, “Malam Kebumen”, “Paris”, “Parangtritis”, “Si Anak Hilang”, “kamar”, “kuta”, semuanya berangkat dari latar keruangan.

Konsep ruang yang dibangun oleh Sitor menghindari kemapanan. Ia tidak memiliki batas-batas yang tetap. Oleh karenanya, ruang selalu berkelindan dan galib dengan hal-hal yang paradoksal. Konsep ruang yang dibangun oleh Sitor dalam puisi “Ke Yogya” misalnya, aspek ke ruangan pada /rumah/ yang semula terdefinisi secara rigid (kaku), melompat ke arena yang luas dan cair.

Ke Yogya

Teman, pukul, pukul genderang
Bagi teman yang mati perang
Ini hari mereka hidup kembali
Dan tak ‘kan mati-mati lagi

Teman, pukul, pukul genderang
Bagi kawan yang pulang perang
Dengan mati mereka hidup kembali
Pahlawan tak ‘kan mati-mati lagi

Hentakkan kaki barisan berderap
Juga piatu nanti akan terdekap
Yang hilang rumah akan punya kemerdekaan
Yang hilang semua akan punya kehormatan

Teman, pukul, pukul genderang
Dari Yogya kita datang ke Yogya kita pulang
Dengar, dengarlah tawa udara
Ini hari lupa telah janda

Rasakan, rasakan ini darah deras mengalir
Karena kita akan punya tanah air
Rasakan, rasakan jantung berdegup
Karena kita akan punya hidup

Teman, pukul, pukul genderan
Dari Yogya kita datang
Ke Yogya kita pulang

Periksa bait ketiga ketika Sitor menuliskan /yang hilang rumah akan punya kemerdekaan/ Yang hilang semua akan punya kehormatan/. Rumah yang merepresentasikan kepemilikan privat, melompat ke ruang yang lebih luas sekaligus komunal bernama /tanah air/ (nation). Pada bait selanjutnya, hubungan antara rumah dan tanah air dipertegas sebagai metafora dari identitas kolektif, bukan sebagai kepemilikan yang sebatas pada klaim teritorial: /Rasakan, rasakan ini darah deras mengalir / Karena kita akan punya tanah air/. Pun repetisi /Dari Yogya kita datang /Ke Yogya kita pulang/ menegaskan bahwa Yogya yang dimaksud adalah kota yang menjadi pusat perjuangan tanah air. Pulang ke Yogya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan simbolik menuju ruang yang lebih luas: tanah air yang diperjuangkan. Sitor sengaja membenturkan /rumah/ dengan /tanah air/ untuk menimbulkan chaos. Karena dengan chaos, aspek keruangan pada /rumah/ yang dianggap tetap dan mapan tadi terguncang.

Redefinisi rumah sebagai kampung halaman juga muncul dalam puisi “Si Anak Hilang” (1955). Sitor menghadirkan kampung halaman tidak lagi menjadi tempat kepulangan, tetapi justru medan keterasingan. Rumah—yang seharusnya menjadi ruang paling akrab—berubah menjadi tempat yang asing bagi si anak.  Rumah justru menjadi tempat yang tidak bisa lagi ia pahami. Kepulangannya bukan perayaan, melainkan perjumpaan dengan sesuatu yang telah berubah, bahkan mungkin lenyap. Kita simak:

Si Anak Hilang

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
–laki-laki layak menahan hati–

Anak disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya
Selesai makan ketika senja

Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Pengalaman si anak lagi-lagi mencerminkan hal yang chaotic, bahwa ruang yang dulu dikenali kini mengalami pergeseran makna. Si anak kembali, tetapi ia lebih banyak bertanya daripada menjawab. Ia tidak lagi menjadi subjek dalam narasi rumah atau kampung halaman; justru ia menjadi objek dari pertanyaan-pertanyaan kolektif: /Sudah beristri sudah beranak?/ dan /Berapa kali panen sudah?/. Pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa realitas kampung halaman sebagai rumah telah bergerak tanpa dirinya. Sementara itu, si anak sendiri masih terperangkap dalam ketegangan pengalaman antara kampung halaman sebagai ruang lama atau ruang baru.

Puncak dari keterasingan ini terjadi ketika ibu—yang menjadi simbol kasih sayang dan rumah—menghampiri si anak yang berharap disapa, tetapi justru disambut dengan pertanyaan: /Ingin tahu dingin Eropa/. Di sini, si anak bukan lagi milik kampung halamannya, melainkan bagian dari ruang lain yang tidak bisa dipahami oleh ibu. Rumah yang seharusnya memberikan kepastian justru berubah menjadi tempat yang ambigu, yang tidak lagi bisa menjadi home dalam arti emosional.

Di bagian akhir puisi, /Di pantai pasir berdesir gelombang/ Tahu si anak tiada pulang/, Sitor menutup dengan gambaran tentang laut, ruang yang menghubungkan dan sekaligus memisahkan. Laut menjadi simbol dari ketidakmungkinan kembali. Si anak telah pulang, tetapi sebenarnya ia tidak pernah benar-benar kembali. Ia tidak hanya meninggalkan kampung halamannya secara fisik, tetapi juga secara identitas.

“Si Anak Hilang” memperlihatkan bagaimana ruang tidak lagi bersifat tetap. Kampung halaman yang dulu karib kini menjadi ruang yang penuh keterasingan, sementara pengalaman di ruang lain tidak cukup untuk menggantikan identitas lama. Inilah “ruang ketiga” (third space), di mana si anak bukan sepenuhnya milik tanah kelahirannya, tetapi juga bukan sepenuhnya milik ruang baru yang ia tempati.

Ragam jukstaposisi yang digunakan Sitor memang berupaya untuk membebaskan makna yang memberhala. Seolah ingin mengajari kita bahwa jangan sekali-kali mencari realitas pada sebuah kata. Kata memang selalu berupaya untuk membahasakan realitas, namun hal ini semacam menjadi sesuatu yang muskil mengingat bahasa itu terbatas dalam mengungkap kompleksitas realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, muara dari keruangan Sitor selalu berujung pada ruang yang dekonstruktif. Puisi, bagi Sitor, adalah arena tempat bahasa diuji dan didorong melampaui batas-batas konvensionalnya. Lihat bagaimana pengertian nation pada puisi berjudul “Nusantara”.

Nusantara

Rindu tanpa batas
pada isi terpendam
angin lintas
bisik bibir kelu
gunung api terbalut awan.

Kesuburan lengang

pagi penjadian bumi dan
sepinya danau di atas dan danau
di bawah sana – ketika kau lahir
serta alam melepas syair
tanpa kata
di payudara Eva
Di sini
Di sebelah timur Firdaus.

Ruang yang disebut nusantara ini ditampilkan sebagai sesuatu yang imajiner. Kerinduan yang /tanpa batas/ mencerminkan keterputusan atau jarak antara subjek dengan nusantara sebagai tanah air. Nusantara menjadi ruang yang ambigu: ia adalah tempat yang diinginkan tetapi juga sulit untuk didefinisikan. /Angin yang melintas/ menunjukkan bahwa ruang ini bukan sesuatu yang statis, melainkan selalu dalam keadaan bergerak dan berubah. Ditambah /bisik bibir kelu/ tak mampu berbicara dengan lantang dan utuh tentang apa itu nusantara. Nation tidak dimaknai Sitor baginya sesuatu fixed karena secara realitas “nusantara” yang terbayang adalah realitas yang abstrak: bukan fisik. Nusantara tidak hanya geografis, tapi historis, kultural, dan imajiner. Nusantara adalah ruang yang tertunda, dan tidak akan pernah selesai proses pemaknaannya.

 Lihat juga bagaimana puisi Pasar Senen (1948) menjadi medan ruang yang tidak stabil, penuh kehilangan, dan dipenuhi dengan kehampaan. Ia kembali menegaskan bahwa ruang adalah sesuatu yang berubah, rapuh, dan tidak lagi memiliki makna yang sama. Pasar Senen, yang dahulu adalah tempat pertemuan, senda gurau, dan kehidupan yang dinamis, kini kehilangan suara dan ritmenya: /Suaranya lain sekarang /Atau pendengaranku/Berobah dari dulu?/. Pertanyaan ini menandakan perubahan yang tidak hanya terjadi pada ruang itu sendiri, tetapi juga pada cara subjek mengalami ruang. Apakah Pasar Senen yang berubah? Ataukah cara subjek memahami Pasar Senen yang tidak lagi sama?

Dalam konteks Pasar Senen, ruang yang dulu memiliki keteraturan dan makna kini menjadi kacau, kosong, dan kehilangan identitasnya. Tidak ada lagi Aminah, gadis tukang kopi atau singkong goreng yang menjadi bagian dari keseharian. Tidak ada lagi supir, tukang delman yang dulu berbagi ruang dan tawa. Ruang yang sebelumnya dipenuhi interaksi manusia kini menjadi tempat yang hampa, tidak lagi menawarkan keterhubungan atau keakraban.

Pasar Senen

Suaranya lain sekarang
Atau pendengaranku
Berobah dari dulu?
Tiada lagi gerak gerentang
Aminah, gadis tukang kopi
Singkong goreng tiada kami

Ke mana kawan semua
Supir, tukang delman
Teman berdampingan
Kita semua bersenda
Menampung senyuman
Si Kebaya Merah
Dari kepulan asap merekah
Hai, tukang baca
Bilang padaku
Dewiku
Ke mana kau bawa

Ruang dalam “Pasar Senen” juga menunjukkan bagaimana tubuh mengalami keterasingan. Pengalaman tubuh tidak lagi menemukan keseimbangan dalam ruang yang kini berubah. Ketiadaan Si Kebaya Merah sebagai figur yang dulu menjadi bagian dari kehidupan Pasar Senen semakin menguatkan kesan bahwa ruang ini telah kehilangan daya hidupnya. Yang tersisa hanyalah kepulan asap, sebuah metafora bagi sesuatu yang dulu ada tetapi kini hanya menyisakan jejak yang tak dapat digenggam. Pasar Senen bukan hanya sekadar pasar yang berubah, melainkan sebuah metafora dari ketidakstabilan ruang itu sendiri.

Eksperimentasi keruangan yang dilakukan oleh Sitor dalam puisi-puisinya mengilhamkan pandangan alternatif yang dapat digunakan untuk menimbang kembali perburuan akan makna ruang, baik secara literel maupun imajiner. Sitor menunjukan bahwa bahasa, lebih-lebih kata, tidak penuh dalam memaknai realitas. Di dalam kelonggaran berbahasa itulah, Sitor menantang penyeragaman makna terhadap konsep tanah air, rumah, kampung halaman, laut, pasar, kota, sebagai realitas yang saat ini dimaknai secara total. Caranya, membangun ulang makna keruangan melalui bahasa puitik. Metode ini menguji bagaimana bahasa dituntut melampaui makna konvensionalnya, bergerak dari pemaknaan fixed menuju yang chaotic, bukan sebaliknya.

Barangkali inilah yang menjadikan puisi-puisi Sitor menarik secara bentuk. Melalui kemungkinan-kemungkinan eksistensial subjek pada puisinya, ia berhasil membawa gagasan keruangan sebagai sebuah tema yang tak berhenti pada place, tetapi space. [T]

Penulis: Isnan Waluyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritik sastraPuisisastraSitor Situmorang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Next Post

Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  —-Renungan Hari Pahlawan

Isnan Waluyo

Isnan Waluyo

Staf pengajar di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Udayana. Beberapa esainya terkumpul dalam buku antologi Puisi Indonesia dan Kajian Akademik Mutakhir (UGM Press, 2020), Interseksi Gender: Perspektif Multidimesional Terhadap Diri, Tubuh, dan Seksualitas dalam Kajian Sastra (UGM Press, 2019), dan Aku & Buku: Para Penyair Pun Memilih Buku (Radio Buku: 2018).

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  —-Renungan Hari Pahlawan

Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  ----Renungan Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co