23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puitika Ruang Sitor Situmorang

Isnan Waluyo by Isnan Waluyo
November 9, 2025
in Kritik Sastra
Puitika Ruang Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi pertamanya yang dimuat dalam Majalah Siasat (1947), namun sekaligus menasbihkan Sitor masuk dalam gelanggang sastra Indonesia sebagai penyair. Lalu, “Angin dan Air Danau Toba” (2008)—puisi terakhir Sitor yang diarsipkan dalam buku Sitor Situmorang Kumpulan Sajak 1948-2008—menandai berakhirnya pena kepenyairannya yang berlangsung selama 60 tahun.

Bentang kedua puisi yang berjarak lebih dari setengah abad tersebut seolah mengikat gagasan literer Sitor sebagai subjek soliter yang masuk ke dalam ruang demi ruang. Oleh Afrizal Malna dalam esainya yang berjudul Sitor Situmorang: Ilmu Alam di Bawah Kata (2014), keruangan menjadisemacam titik-tolak garis yang terus terjaga dalam berbagai variannya dalam puisi-puisi Sitor. Artinya, aspek keruangan pada puisi Sitor sangat menubuh: nafas penting dalam setiap apa yang ia tulis.

Saya sengaja menempatkan latar dalam puisi-puisi Sitor tidak berhenti pada definisi tempat (place), tetapi ruang (space). Jika /Pasar Senen/ dan /Danau Toba/ dimaknai sebagai place, maka latar puitik dalam puisi itu bersifat spasial, kaku, tetap, dan rigid. Padahal, baik /Pasar Senen/ maupun /Danau Toba/ menjadi representasi simbolik secara pemaknaan karena keduanya bersifat nonspasial, cair, dan chaotic. Pemaknaan itu hanya bisa dimungkinkan jika latar dalam puisi-puisi Sitor ditempatkan pada definisi ruang, bukan tempat. Bahkan jika ditelisik lebih jauh, ruang-ruang puitika Sitor membentang—meminjam diksi teori ruang pascakolonial Sara Upstone—dari level ruang yang mencangkup nation (bangsa atau negara), journey (perjalanan), city (kota), home (rumah), hingga sampai ke body (tubuh). Sebut saja misalnya beberapa puisi Sitor yang berjudul “Nusantara”, “Ke Yogya”, “Lagu Gadis Itali”, “Kaliurang: Pagi”, “Malam Kebumen”, “Paris”, “Parangtritis”, “Si Anak Hilang”, “kamar”, “kuta”, semuanya berangkat dari latar keruangan.

Konsep ruang yang dibangun oleh Sitor menghindari kemapanan. Ia tidak memiliki batas-batas yang tetap. Oleh karenanya, ruang selalu berkelindan dan galib dengan hal-hal yang paradoksal. Konsep ruang yang dibangun oleh Sitor dalam puisi “Ke Yogya” misalnya, aspek ke ruangan pada /rumah/ yang semula terdefinisi secara rigid (kaku), melompat ke arena yang luas dan cair.

Ke Yogya

Teman, pukul, pukul genderang
Bagi teman yang mati perang
Ini hari mereka hidup kembali
Dan tak ‘kan mati-mati lagi

Teman, pukul, pukul genderang
Bagi kawan yang pulang perang
Dengan mati mereka hidup kembali
Pahlawan tak ‘kan mati-mati lagi

Hentakkan kaki barisan berderap
Juga piatu nanti akan terdekap
Yang hilang rumah akan punya kemerdekaan
Yang hilang semua akan punya kehormatan

Teman, pukul, pukul genderang
Dari Yogya kita datang ke Yogya kita pulang
Dengar, dengarlah tawa udara
Ini hari lupa telah janda

Rasakan, rasakan ini darah deras mengalir
Karena kita akan punya tanah air
Rasakan, rasakan jantung berdegup
Karena kita akan punya hidup

Teman, pukul, pukul genderan
Dari Yogya kita datang
Ke Yogya kita pulang

Periksa bait ketiga ketika Sitor menuliskan /yang hilang rumah akan punya kemerdekaan/ Yang hilang semua akan punya kehormatan/. Rumah yang merepresentasikan kepemilikan privat, melompat ke ruang yang lebih luas sekaligus komunal bernama /tanah air/ (nation). Pada bait selanjutnya, hubungan antara rumah dan tanah air dipertegas sebagai metafora dari identitas kolektif, bukan sebagai kepemilikan yang sebatas pada klaim teritorial: /Rasakan, rasakan ini darah deras mengalir / Karena kita akan punya tanah air/. Pun repetisi /Dari Yogya kita datang /Ke Yogya kita pulang/ menegaskan bahwa Yogya yang dimaksud adalah kota yang menjadi pusat perjuangan tanah air. Pulang ke Yogya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan simbolik menuju ruang yang lebih luas: tanah air yang diperjuangkan. Sitor sengaja membenturkan /rumah/ dengan /tanah air/ untuk menimbulkan chaos. Karena dengan chaos, aspek keruangan pada /rumah/ yang dianggap tetap dan mapan tadi terguncang.

Redefinisi rumah sebagai kampung halaman juga muncul dalam puisi “Si Anak Hilang” (1955). Sitor menghadirkan kampung halaman tidak lagi menjadi tempat kepulangan, tetapi justru medan keterasingan. Rumah—yang seharusnya menjadi ruang paling akrab—berubah menjadi tempat yang asing bagi si anak.  Rumah justru menjadi tempat yang tidak bisa lagi ia pahami. Kepulangannya bukan perayaan, melainkan perjumpaan dengan sesuatu yang telah berubah, bahkan mungkin lenyap. Kita simak:

Si Anak Hilang

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
–laki-laki layak menahan hati–

Anak disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya
Selesai makan ketika senja

Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Pengalaman si anak lagi-lagi mencerminkan hal yang chaotic, bahwa ruang yang dulu dikenali kini mengalami pergeseran makna. Si anak kembali, tetapi ia lebih banyak bertanya daripada menjawab. Ia tidak lagi menjadi subjek dalam narasi rumah atau kampung halaman; justru ia menjadi objek dari pertanyaan-pertanyaan kolektif: /Sudah beristri sudah beranak?/ dan /Berapa kali panen sudah?/. Pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa realitas kampung halaman sebagai rumah telah bergerak tanpa dirinya. Sementara itu, si anak sendiri masih terperangkap dalam ketegangan pengalaman antara kampung halaman sebagai ruang lama atau ruang baru.

Puncak dari keterasingan ini terjadi ketika ibu—yang menjadi simbol kasih sayang dan rumah—menghampiri si anak yang berharap disapa, tetapi justru disambut dengan pertanyaan: /Ingin tahu dingin Eropa/. Di sini, si anak bukan lagi milik kampung halamannya, melainkan bagian dari ruang lain yang tidak bisa dipahami oleh ibu. Rumah yang seharusnya memberikan kepastian justru berubah menjadi tempat yang ambigu, yang tidak lagi bisa menjadi home dalam arti emosional.

Di bagian akhir puisi, /Di pantai pasir berdesir gelombang/ Tahu si anak tiada pulang/, Sitor menutup dengan gambaran tentang laut, ruang yang menghubungkan dan sekaligus memisahkan. Laut menjadi simbol dari ketidakmungkinan kembali. Si anak telah pulang, tetapi sebenarnya ia tidak pernah benar-benar kembali. Ia tidak hanya meninggalkan kampung halamannya secara fisik, tetapi juga secara identitas.

“Si Anak Hilang” memperlihatkan bagaimana ruang tidak lagi bersifat tetap. Kampung halaman yang dulu karib kini menjadi ruang yang penuh keterasingan, sementara pengalaman di ruang lain tidak cukup untuk menggantikan identitas lama. Inilah “ruang ketiga” (third space), di mana si anak bukan sepenuhnya milik tanah kelahirannya, tetapi juga bukan sepenuhnya milik ruang baru yang ia tempati.

Ragam jukstaposisi yang digunakan Sitor memang berupaya untuk membebaskan makna yang memberhala. Seolah ingin mengajari kita bahwa jangan sekali-kali mencari realitas pada sebuah kata. Kata memang selalu berupaya untuk membahasakan realitas, namun hal ini semacam menjadi sesuatu yang muskil mengingat bahasa itu terbatas dalam mengungkap kompleksitas realitas itu sendiri. Oleh sebab itu, muara dari keruangan Sitor selalu berujung pada ruang yang dekonstruktif. Puisi, bagi Sitor, adalah arena tempat bahasa diuji dan didorong melampaui batas-batas konvensionalnya. Lihat bagaimana pengertian nation pada puisi berjudul “Nusantara”.

Nusantara

Rindu tanpa batas
pada isi terpendam
angin lintas
bisik bibir kelu
gunung api terbalut awan.

Kesuburan lengang

pagi penjadian bumi dan
sepinya danau di atas dan danau
di bawah sana – ketika kau lahir
serta alam melepas syair
tanpa kata
di payudara Eva
Di sini
Di sebelah timur Firdaus.

Ruang yang disebut nusantara ini ditampilkan sebagai sesuatu yang imajiner. Kerinduan yang /tanpa batas/ mencerminkan keterputusan atau jarak antara subjek dengan nusantara sebagai tanah air. Nusantara menjadi ruang yang ambigu: ia adalah tempat yang diinginkan tetapi juga sulit untuk didefinisikan. /Angin yang melintas/ menunjukkan bahwa ruang ini bukan sesuatu yang statis, melainkan selalu dalam keadaan bergerak dan berubah. Ditambah /bisik bibir kelu/ tak mampu berbicara dengan lantang dan utuh tentang apa itu nusantara. Nation tidak dimaknai Sitor baginya sesuatu fixed karena secara realitas “nusantara” yang terbayang adalah realitas yang abstrak: bukan fisik. Nusantara tidak hanya geografis, tapi historis, kultural, dan imajiner. Nusantara adalah ruang yang tertunda, dan tidak akan pernah selesai proses pemaknaannya.

 Lihat juga bagaimana puisi Pasar Senen (1948) menjadi medan ruang yang tidak stabil, penuh kehilangan, dan dipenuhi dengan kehampaan. Ia kembali menegaskan bahwa ruang adalah sesuatu yang berubah, rapuh, dan tidak lagi memiliki makna yang sama. Pasar Senen, yang dahulu adalah tempat pertemuan, senda gurau, dan kehidupan yang dinamis, kini kehilangan suara dan ritmenya: /Suaranya lain sekarang /Atau pendengaranku/Berobah dari dulu?/. Pertanyaan ini menandakan perubahan yang tidak hanya terjadi pada ruang itu sendiri, tetapi juga pada cara subjek mengalami ruang. Apakah Pasar Senen yang berubah? Ataukah cara subjek memahami Pasar Senen yang tidak lagi sama?

Dalam konteks Pasar Senen, ruang yang dulu memiliki keteraturan dan makna kini menjadi kacau, kosong, dan kehilangan identitasnya. Tidak ada lagi Aminah, gadis tukang kopi atau singkong goreng yang menjadi bagian dari keseharian. Tidak ada lagi supir, tukang delman yang dulu berbagi ruang dan tawa. Ruang yang sebelumnya dipenuhi interaksi manusia kini menjadi tempat yang hampa, tidak lagi menawarkan keterhubungan atau keakraban.

Pasar Senen

Suaranya lain sekarang
Atau pendengaranku
Berobah dari dulu?
Tiada lagi gerak gerentang
Aminah, gadis tukang kopi
Singkong goreng tiada kami

Ke mana kawan semua
Supir, tukang delman
Teman berdampingan
Kita semua bersenda
Menampung senyuman
Si Kebaya Merah
Dari kepulan asap merekah
Hai, tukang baca
Bilang padaku
Dewiku
Ke mana kau bawa

Ruang dalam “Pasar Senen” juga menunjukkan bagaimana tubuh mengalami keterasingan. Pengalaman tubuh tidak lagi menemukan keseimbangan dalam ruang yang kini berubah. Ketiadaan Si Kebaya Merah sebagai figur yang dulu menjadi bagian dari kehidupan Pasar Senen semakin menguatkan kesan bahwa ruang ini telah kehilangan daya hidupnya. Yang tersisa hanyalah kepulan asap, sebuah metafora bagi sesuatu yang dulu ada tetapi kini hanya menyisakan jejak yang tak dapat digenggam. Pasar Senen bukan hanya sekadar pasar yang berubah, melainkan sebuah metafora dari ketidakstabilan ruang itu sendiri.

Eksperimentasi keruangan yang dilakukan oleh Sitor dalam puisi-puisinya mengilhamkan pandangan alternatif yang dapat digunakan untuk menimbang kembali perburuan akan makna ruang, baik secara literel maupun imajiner. Sitor menunjukan bahwa bahasa, lebih-lebih kata, tidak penuh dalam memaknai realitas. Di dalam kelonggaran berbahasa itulah, Sitor menantang penyeragaman makna terhadap konsep tanah air, rumah, kampung halaman, laut, pasar, kota, sebagai realitas yang saat ini dimaknai secara total. Caranya, membangun ulang makna keruangan melalui bahasa puitik. Metode ini menguji bagaimana bahasa dituntut melampaui makna konvensionalnya, bergerak dari pemaknaan fixed menuju yang chaotic, bukan sebaliknya.

Barangkali inilah yang menjadikan puisi-puisi Sitor menarik secara bentuk. Melalui kemungkinan-kemungkinan eksistensial subjek pada puisinya, ia berhasil membawa gagasan keruangan sebagai sebuah tema yang tak berhenti pada place, tetapi space. [T]

Penulis: Isnan Waluyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritik sastraPuisisastraSitor Situmorang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Next Post

Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  —-Renungan Hari Pahlawan

Isnan Waluyo

Isnan Waluyo

Staf pengajar di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Udayana. Beberapa esainya terkumpul dalam buku antologi Puisi Indonesia dan Kajian Akademik Mutakhir (UGM Press, 2020), Interseksi Gender: Perspektif Multidimesional Terhadap Diri, Tubuh, dan Seksualitas dalam Kajian Sastra (UGM Press, 2019), dan Aku & Buku: Para Penyair Pun Memilih Buku (Radio Buku: 2018).

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails
Next Post
Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  —-Renungan Hari Pahlawan

Inner Peace sebagai Titik Awal Revolusi Kesadaran  ----Renungan Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co