ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah sebuah sistem yang tidak pernah didesain lewat bahasa mesin untuk memahami sastra.
Sistem ini tidak tahu apa itu ritme kalimat. Ia tidak bisa membedakan antara metafora yang banal dan metafora yang membuka cara baru untuk melihat dunia. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kedalaman karakter, ketegangan naratif yang dibangun dengan sabar, atau momen ketika sebuah novel tiba-tiba membuat pembacanya melihat hidupnya sendiri secara berbeda.
Ia hanya memahami pola. Dari pola, ia bekerja membuat prediksi.
Sistem rekomendasi yang bekerja di balik platform-platform digital, dari toko buku online seperti Gramedia Digital hingga platform novel seperti Wattpad dan KBM, bekerja melalui dua mekanisme utama yang saling melengkapi.
Pertama adalah collaborative filtering: jika pengguna A dan pengguna B sama-sama menyukai buku X dan Y, maka sistem akan merekomendasikan buku Z yang disukai pengguna B kepada pengguna A. Yang kedua adalah content-based filtering: sistem menganalisis atribut karya (genre, kata kunci, penulis) dan mencocokkannya dengan preferensi historis pengguna. Keduanya bekerja dari data yang sama: apa yang sudah dibaca, sudah diberi rating, sudah diselesaikan, dan sudah dibagikan.
Sistem merekomendasikan apa yang sudah terbukti disukai kepada orang yang sudah terbukti menyukainya. Lingkaran itu terdengar logis, tapi ia mengandung asumsi yang sangat besar dan sangat jarang dipersoalkan, bahwa apa yang sudah disukai seseorang adalah panduan terbaik untuk apa yang perlu mereka baca selanjutnya.
Sastra yang serius hampir tidak pernah bekerja dengan asumsi itu.
Karya yang benar-benar mengubah cara seseorang memandang dunia hampir selalu datang dari arah yang tidak diprediksi oleh preferensi historisnya. Seseorang yang selama ini hanya membaca novel romansa ringan tidak akan mendapat rekomendasi Cala Ibi karya Nukila Amal dari algoritma, karena tidak ada cukup kesamaan pola antara keduanya untuk memicu rekomendasi.
Novel Cala Ibi bekerja menggunakan prosa puitis yang menuntut pembaca memperbarui cara bacanya sebelum teks itu mau membuka diri. Tidak ada genre yang bisa menangkapnya dengan tepat, tidak ada kata kunci yang cukup untuk mewakilinya, dan tidak ada riwayat pembaca novel romansa yang akan memicu sistem untuk memberi rekomendasi ke Cala Ibi.
Algoritma bekerja dengan sangat baik dalam membawa seseorang lebih jauh ke rumpun selera yang sudah ada. Tapi ia sangat buruk dalam membawa seseorang keluar dari selera itu menuju sesuatu yang belum pernah mereka bayangkan. Padahal justru itulah yang selalu dilakukan oleh kurasi yang baik.
Dulu, peran itu dimainkan oleh beberapa institusi sekaligus: editor yang memilih naskah dengan penilaian intelektual, kritikus yang membicarakan karya dalam konteks yang lebih luas dari sekadar selera pribadi, pustakawan yang merekomendasikan buku kepada pembaca berdasarkan percakapan, toko buku yang memajang karya tertentu di etalase berdasarkan keyakinan bahwa karya itu perlu dibaca.
Semua kurasi itu tidak sempurna. Ia membawa bias, eksklusivitas, dan jaringan yang tidak selalu adil. Tapi ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki algoritma: ia bisa membuat penilaian tentang apa yang penting, bukan hanya tentang apa yang disukai.
Perbedaan antara penting dan disukai adalah perbedaan yang paling mendasar dalam sejarah sastra. Banyak karya yang kita akui sebagai penting hari ini tidak langsung menemukan pembacanya melalui pasar. Seperti Cantik Itu Luka yang memerlukan sekitar satu dekade untuk bisa diakui. Perjalanan itu hanya mungkin karena ada kurasi manusia yang aktif. Ada penerjemah, editor asing, dan kritikus internasional yang memperkenalkan karya itu kepada pembaca yang belum tahu bahwa mereka membutuhkannya.
Dalam ekosistem yang sepenuhnya bergantung pada algoritma, perjalanan semacam itu tidak akan pernah terjadi. Karya yang tidak menghasilkan engagement dalam bulan-bulan pertama akan tenggelam sebelum sempat ditemukan oleh siapa pun.
Algoritma tidak bisa melakukan pekerjaan itu. Ia hanya bisa memperkuat apa yang sudah ada. Ketika yang sudah ada itu didominasi genre tertentu seperti romance, thriller ringan, atau fiksi islami populer, maka algoritma akan memastikan bahwa dominasi itu semakin kuat. Ia tidak memiliki mekanisme koreksi dari dalam.
Dampak algoritma tidak berhenti pada distribusi. Ia juga masuk ke dalam produksi. Di sinilah pengaruhnya paling dalam dan paling sulit dilawan. Penulis yang hidup cukup lama dalam ekosistem digital belajar membaca sinyal: karya seperti apa yang mendapat banyak komentar, jenis pembukaan apa yang membuat pembaca tidak berhenti di bab pertama, emosi apa yang paling konsisten memancing respons.
Lama-lama, penulis mulai menginternalisasi logika itu ke dalam proses kreatifnya sendiri, jauh sebelum kata pertama ditulis. Inilah perbedaan yang paling mendasar antara editor dan algoritma sebagai kurator. Editor menolak naskah setelah selesai, tanpa mempengaruhi proses penulisannya. Algoritma mengirim sinyal sebelum proses menulis berlangsung, membentuk imajinasi naratif penulis dari dalam, sampai logika engagement terasa seperti intuisi estetik yang alami.
Karya-karya yang tidak masuk ke dalam lingkaran itu, misalkan karya yang terlalu lambat untuk segera menghasilkan engagement tinggi, yang terlalu asing untuk langsung dikenali oleh sistem collaborative filtering, dan yang membutuhkan konteks yang tidak bisa ditangkap oleh pencocokan kata kunci, tidak akan direkomendasikan. Karena karya-karya semacam itu tidak terlihat oleh sistem. Dalam ekosistem digital, tidak terlihat adalah bentuk ketiadaan yang paling sempurna.
Ini adalah pergeseran yang lebih fundamental dari yang biasanya disadari. Ketika kritik sastra masih berfungsi, ketika ada institusi, jurnal, dan individu yang dipercaya untuk mengatakan “karya ini penting dan mengapa”, ada mekanisme yang memungkinkan karya yang sulit untuk menemukan pembacanya melalui jalur yang berbeda dari jalur pasar. Karya bisa gagal secara komersial tapi tetap masuk ke dalam percakapan intelektual yang membuatnya hidup. Ia bisa menunggu, bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade, untuk ditemukan kembali oleh generasi pembaca yang berbeda.
Algoritma tidak memberi ruang untuk menunggu. Karya yang tidak menghasilkan engagement dalam waktu singkat akan tenggelam di bawah volume konten baru yang terus mengalir. Tidak ada arsip digital yang berfungsi seperti rak perpustakaan, tempat seseorang bisa tersesat secara kebetulan dan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia cari. Hanya tersedia feed yang terus diperbarui, rekomendasi yang muncul melalui notifikasi, dan perhatian yang terus diarahkan kepada apa yang sudah terbukti bekerja kemarin.
Dalam ekosistem seperti itu, sastra yang membutuhkan waktu untuk dipahami bukan hanya tidak populer. Ia secara struktural tidak mungkin ditemukan. Ketika sesuatu secara struktural tidak mungkin ditemukan, pada akhirnya ia berhenti ditulis. [T][Bersambung]
Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-750x375.png)
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-360x180.png)












![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)










