Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa menerbitkan buku, tanpa seleksi, tanpa penolakan, tanpa harus meyakinkan editor bahwa naskahnya layak. Penulis cukup mengunggah naskah, menentukan harga, dan buku itu tersedia untuk dipesan. Cetakan baru dibuat hanya ketika ada pesanan, satu eksemplar pun … Continue reading Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca