PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa menerbitkan buku, tanpa seleksi, tanpa penolakan, tanpa harus meyakinkan editor bahwa naskahnya layak. Penulis cukup mengunggah naskah, menentukan harga, dan buku itu tersedia untuk dipesan. Cetakan baru dibuat hanya ketika ada pesanan, satu eksemplar pun diterima.
Empat tahun kemudian, Nulisbuku memiliki sekitar 100.000 anggota, koleksi 10.000 judul, dengan tambahan 100 hingga 150 judul baru setiap bulan. Enam puluh persen di antaranya berupa fiksi.
Angka itu terdengar seperti pencapaian. Dalam satu pengertian ia memang pencapaian, bahwa hasrat menulis yang selama ini terhalang oleh tembok seleksi penerbit kini menemukan jalan keluarnya. Bahwa seseorang yang ditolak lebih dari sepuluh penerbit bisa tetap menerbitkan karyanya dan menemukan pembacanya.
Tetapi angka itu juga mengundang pertanyaan yang tidak nyaman: dari 10.000 judul itu, berapa yang pernah dibaca oleh seseorang yang tidak mengenal penulisnya?
Pertanyaan itu menyentuh fungsi kurasi dalam ekosistem sastra. Sistem penerbitan konvensional yang lama memang penuh masalah. Editor bisa salah. Penerbit bisa bias. Karya-karya penting ditolak bukan karena lemah, melainkan karena tidak cocok dengan selera pasar tertentu, atau karena penulisnya tidak memiliki jaringan yang tepat.
Tetapi sistem yang tidak sepenuhnya adil itu setidaknya masih membuat sebuah naskah melewati pembacaan manusia. Seorang editor bisa saja keliru menolak karya yang baik, tetapi ia juga menjadi batas terakhir bagi naskah yang belum matang. Karya yang mengandalkan luapan emosi tanpa ketelitian bahasa, atau mengira pengalaman pribadi saja sudah cukup untuk menjadi sastra, belum tentu lolos di mata editor.
Print on demand menghapus penyaring itu. Sepenuhnya dan tanpa diskriminasi.
Sebagai gantinya, pasar. Sebuah penerbit mandiri tidak akan menolak naskah, tapi juga tidak akan mencoba menemukannya. Siklus yang dulu penulis-penerbit-pembeli kini menjadi penulis-pembeli, tanpa perantara yang bertanggung jawab atas kualitas. Dalam ekosistem itu, yang menentukan apakah sebuah karya ditemukan bukan lagi kekuatan estetiknya, melainkan kemampuan penulisnya memasarkan diri.
Kemampuan memasarkan diri tidak berkorelasi dengan kemampuan menulis.
Platform penerbitan mandiri tidak hanya membuka pintu bagi penulis berbakat yang sebelumnya ditolak penerbit mapan. Ia juga membuka pintu bagi mereka yang belum pernah membaca cukup banyak untuk mengetahui bahwa menulis adalah keahlian yang perlu dipelajari, bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat yang mengalir dari pengalaman pribadi yang kuat.
Tidak sembarang orang layak menulis. Mungkin terkesan elitis, tapi ini adalah pengamatan tentang apa yang terjadi ketika sebuah keahlian kehilangan mekanisme pembentuknya. Seorang dokter tidak menjadi dokter hanya karena ia peduli pada kesehatan orang lain dan pernah sakit parah. Seorang arsitek tidak menjadi arsitek hanya karena ia memiliki imajinasi spasial yang kuat dan ingin membangun rumah. Keduanya perlu melalui proses panjang yang memaksa mereka belajar dari yang lebih tahu, dan membangun kemampuan secara bertahap di bawah bimbingan.
Sastra tidak berbeda. Menulis secara profesional membutuhkan pembacaan yang luas. Karena dari sanalah penulis belajar apa yang membuat sebuah kalimat hidup, sebuah cerita berdiri tegak, dan emosi terasa sungguh-sungguh alih-alih murahan.
Ketika 150 judul baru terbit setiap bulan dari satu platform saja, dan ketika tidak ada satu pun mekanisme yang membantu pembaca membedakan mana yang layak dicari, yang terjadi bukan demokratisasi sastra, melainkan dilusi percakapan. Kerumunan yang semakin besar, suara yang semakin ramai, tetapi semakin sedikit cara untuk menemukan mana yang penting di dalamnya.
Enam puluh persen dari 10.000 judul di Nulisbuku berupa fiksi. Sebagian besar dari fiksi itu bergerak dalam tema yang sangat sempit: percintaan remaja, romansa kampus, drama keluarga, kisah cinta islami. Itu terjadi karena tema itulah yang paling mudah ditulis tanpa bekal pembacaan yang luas, dan paling mudah menemukan pembacanya tanpa dukungan kurasi.
Sebuah novel tentang gadis pendiam yang jatuh cinta pada senior yang dingin tidak membutuhkan riset, tidak membutuhkan pengetahuan tentang sejarah atau struktur sosial, tidak membutuhkan kemampuan membangun dunia yang kompleks. Ia hanya membutuhkan empati emosional yang cukup dan kemampuan menyusun dialog yang mengalir. Tapi itu tidak cukup untuk menghasilkan sastra yang membuka sesuatu yang baru dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.
Pada titik inilah dua krisis dalam esai ini bertemu secara eksplisit.
Krisis pertama adalah krisis produksi. Terlalu banyak yang ditulis dari dorongan yang terlalu dangkal, diterbitkan melalui infrastruktur yang tidak menuntut apa-apa kecuali naskah yang selesai.
Krisis kedua adalah krisis kurasi. Tidak ada lagi mekanisme yang cukup dipercaya untuk membantu pembaca menavigasi kerumunan itu. Kritik sastra melemah, sebagian karena ekosistem digital membuat kritik jujur terasa seperti komen haters, sebagian karena tidak ada lagi institusi yang kuat untuk memberi kritik itu otoritas.
Tetapi menyadari krisis kurasi tidak berarti merindukan kurasi lama. Kurasi lama, seperti yang sudah ditunjukkan oleh pengalaman Cantik Itu Luka, tidak selalu benar. Ia bisa menolak karya penting karena alasan yang salah, dan meloloskan karya mediokre karena alasan yang juga salah. Sastra Indonesia tidak membutuhkan gatekeeper yang sama dengan kekuasaan yang sama, melainkan bentuk kurasi yang berbeda. Kurasi yang lebih terbuka dalam hal siapa yang boleh masuk, tetapi tetap berani dalam hal menilai apakah yang masuk itu sungguh-sungguh layak diperhatikan.
Kritik sastra yang jujur, komunitas pembaca yang tidak hanya saling mengafirmasi, dan institusi kebudayaan yang berani memaparkan perbedaan kualitas secara terbuka. Semua itu adalah bentuk-bentuk kurasi yang tidak bergantung pada monopoli penerbit besar, tapi juga tidak menyerah pada logika pasar bebas yang menganggap semua suara setara hanya karena semua suara ada.[T]
Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-750x375.png)
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-360x180.png)














![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)










