22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 22, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa menerbitkan buku, tanpa seleksi, tanpa penolakan, tanpa harus meyakinkan editor bahwa naskahnya layak. Penulis cukup mengunggah naskah, menentukan harga, dan buku itu tersedia untuk dipesan. Cetakan baru dibuat hanya ketika ada pesanan, satu eksemplar pun diterima.

Empat tahun kemudian, Nulisbuku memiliki sekitar 100.000 anggota, koleksi 10.000 judul, dengan tambahan 100 hingga 150 judul baru setiap bulan. Enam puluh persen di antaranya berupa fiksi.

Angka itu terdengar seperti pencapaian. Dalam satu pengertian ia memang pencapaian, bahwa hasrat menulis yang selama ini terhalang oleh tembok seleksi penerbit kini menemukan jalan keluarnya. Bahwa seseorang yang ditolak lebih dari sepuluh penerbit bisa tetap menerbitkan karyanya dan menemukan pembacanya.

Tetapi angka itu juga mengundang pertanyaan yang tidak nyaman: dari 10.000 judul itu, berapa yang pernah dibaca oleh seseorang yang tidak mengenal penulisnya?

Pertanyaan itu menyentuh fungsi kurasi dalam ekosistem sastra. Sistem penerbitan konvensional yang lama memang penuh masalah. Editor bisa salah. Penerbit bisa bias. Karya-karya penting ditolak bukan karena lemah, melainkan karena tidak cocok dengan selera pasar tertentu, atau karena penulisnya tidak memiliki jaringan yang tepat.

Tetapi sistem yang tidak sepenuhnya adil itu setidaknya masih membuat sebuah naskah melewati pembacaan manusia. Seorang editor bisa saja keliru menolak karya yang baik, tetapi ia juga menjadi batas terakhir bagi naskah yang belum matang. Karya yang mengandalkan luapan emosi tanpa ketelitian bahasa, atau mengira pengalaman pribadi saja sudah cukup untuk menjadi sastra, belum tentu lolos di mata editor.           

Print on demand menghapus penyaring itu. Sepenuhnya dan tanpa diskriminasi.

Sebagai gantinya, pasar. Sebuah penerbit mandiri tidak akan menolak naskah, tapi juga tidak akan mencoba menemukannya. Siklus yang dulu penulis-penerbit-pembeli kini menjadi penulis-pembeli, tanpa perantara yang bertanggung jawab atas kualitas. Dalam ekosistem itu, yang menentukan apakah sebuah karya ditemukan bukan lagi kekuatan estetiknya, melainkan kemampuan penulisnya memasarkan diri.

Kemampuan memasarkan diri tidak berkorelasi dengan kemampuan menulis.

Platform penerbitan mandiri tidak hanya membuka pintu bagi penulis berbakat yang sebelumnya ditolak penerbit mapan. Ia juga membuka pintu bagi mereka yang belum pernah membaca cukup banyak untuk mengetahui bahwa menulis adalah keahlian yang perlu dipelajari, bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat yang mengalir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Tidak sembarang orang layak menulis. Mungkin terkesan elitis, tapi ini adalah pengamatan tentang apa yang terjadi ketika sebuah keahlian kehilangan mekanisme pembentuknya. Seorang dokter tidak menjadi dokter hanya karena ia peduli pada kesehatan orang lain dan pernah sakit parah. Seorang arsitek tidak menjadi arsitek hanya karena ia memiliki imajinasi spasial yang kuat dan ingin membangun rumah. Keduanya perlu melalui proses panjang yang memaksa mereka belajar dari yang lebih tahu, dan membangun kemampuan secara bertahap di bawah bimbingan.

 Sastra tidak berbeda. Menulis secara profesional membutuhkan pembacaan yang luas. Karena dari sanalah penulis belajar apa yang membuat sebuah kalimat hidup, sebuah cerita berdiri tegak, dan emosi terasa sungguh-sungguh alih-alih murahan.

Ketika 150 judul baru terbit setiap bulan dari satu platform saja, dan ketika tidak ada satu pun mekanisme yang membantu pembaca membedakan mana yang layak dicari, yang terjadi bukan demokratisasi sastra, melainkan dilusi percakapan. Kerumunan yang semakin besar, suara yang semakin ramai, tetapi semakin sedikit cara untuk menemukan mana yang penting di dalamnya.

Enam puluh persen dari 10.000 judul di Nulisbuku berupa fiksi. Sebagian besar dari fiksi itu bergerak dalam tema yang sangat sempit: percintaan remaja, romansa kampus, drama keluarga, kisah cinta islami. Itu terjadi karena tema itulah yang paling mudah ditulis tanpa bekal pembacaan yang luas, dan paling mudah menemukan pembacanya tanpa dukungan kurasi.

Sebuah novel tentang gadis pendiam yang jatuh cinta pada senior yang dingin tidak membutuhkan riset, tidak membutuhkan pengetahuan tentang sejarah atau struktur sosial, tidak membutuhkan kemampuan membangun dunia yang kompleks. Ia hanya membutuhkan empati emosional yang cukup dan kemampuan menyusun dialog yang mengalir. Tapi itu tidak cukup untuk menghasilkan sastra yang membuka sesuatu yang baru dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.

Pada titik inilah dua krisis dalam esai ini bertemu secara eksplisit.

Krisis pertama adalah krisis produksi. Terlalu banyak yang ditulis dari dorongan yang terlalu dangkal, diterbitkan melalui infrastruktur yang tidak menuntut apa-apa kecuali naskah yang selesai.

Krisis kedua adalah krisis kurasi. Tidak ada lagi mekanisme yang cukup dipercaya untuk membantu pembaca menavigasi kerumunan itu. Kritik sastra melemah, sebagian karena ekosistem digital membuat kritik jujur terasa seperti komen haters, sebagian karena tidak ada lagi institusi yang kuat untuk memberi kritik itu otoritas.

 Tetapi menyadari krisis kurasi tidak berarti merindukan kurasi lama. Kurasi lama, seperti yang sudah ditunjukkan oleh pengalaman Cantik Itu Luka, tidak selalu benar. Ia bisa menolak karya penting karena alasan yang salah, dan meloloskan karya mediokre karena alasan yang juga salah. Sastra Indonesia tidak membutuhkan gatekeeper yang sama dengan kekuasaan yang sama, melainkan bentuk kurasi yang berbeda. Kurasi yang lebih terbuka dalam hal siapa yang boleh masuk, tetapi tetap berani dalam hal menilai apakah yang masuk itu sungguh-sungguh layak diperhatikan.

Kritik sastra yang jujur, komunitas pembaca yang tidak hanya saling mengafirmasi, dan institusi kebudayaan yang berani memaparkan perbedaan kualitas secara terbuka. Semua itu adalah bentuk-bentuk kurasi yang tidak bergantung pada monopoli penerbit besar, tapi juga tidak menyerah pada logika pasar bebas yang menganggap semua suara setara hanya karena semua suara ada.[T]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renungan Meja Makan

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co