12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 24, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa menerbitkan buku, tanpa seleksi, tanpa penolakan, tanpa harus meyakinkan editor bahwa naskahnya layak. Penulis cukup mengunggah naskah, menentukan harga, dan buku itu tersedia untuk dipesan. Cetakan baru dibuat hanya ketika ada pesanan, satu eksemplar pun diterima.

Empat tahun kemudian, Nulisbuku memiliki sekitar 100.000 anggota, koleksi 10.000 judul, dengan tambahan 100 hingga 150 judul baru setiap bulan. Enam puluh persen di antaranya berupa fiksi.

Angka itu terdengar seperti pencapaian. Dalam satu pengertian ia memang pencapaian, bahwa hasrat menulis yang selama ini terhalang oleh tembok seleksi penerbit kini menemukan jalan keluarnya. Bahwa seseorang yang ditolak lebih dari sepuluh penerbit bisa tetap menerbitkan karyanya dan menemukan pembacanya.

Tetapi angka itu juga mengundang pertanyaan yang tidak nyaman: dari 10.000 judul itu, berapa yang pernah dibaca oleh seseorang yang tidak mengenal penulisnya?

Pertanyaan itu menyentuh fungsi kurasi dalam ekosistem sastra. Sistem penerbitan konvensional yang lama memang penuh masalah. Editor bisa salah. Penerbit bisa bias. Karya-karya penting ditolak bukan karena lemah, melainkan karena tidak cocok dengan selera pasar tertentu, atau karena penulisnya tidak memiliki jaringan yang tepat.

Tetapi sistem yang tidak sepenuhnya adil itu setidaknya masih membuat sebuah naskah melewati pembacaan manusia. Seorang editor bisa saja keliru menolak karya yang baik, tetapi ia juga menjadi batas terakhir bagi naskah yang belum matang. Karya yang mengandalkan luapan emosi tanpa ketelitian bahasa, atau mengira pengalaman pribadi saja sudah cukup untuk menjadi sastra, belum tentu lolos di mata editor.           

Print on demand menghapus penyaring itu. Sepenuhnya dan tanpa diskriminasi.

Sebagai gantinya, pasar. Sebuah penerbit mandiri tidak akan menolak naskah, tapi juga tidak akan mencoba menemukannya. Siklus yang dulu penulis-penerbit-pembeli kini menjadi penulis-pembeli, tanpa perantara yang bertanggung jawab atas kualitas. Dalam ekosistem itu, yang menentukan apakah sebuah karya ditemukan bukan lagi kekuatan estetiknya, melainkan kemampuan penulisnya memasarkan diri.

Kemampuan memasarkan diri tidak berkorelasi dengan kemampuan menulis.

Platform penerbitan mandiri tidak hanya membuka pintu bagi penulis berbakat yang sebelumnya ditolak penerbit mapan. Ia juga membuka pintu bagi mereka yang belum pernah membaca cukup banyak untuk mengetahui bahwa menulis adalah keahlian yang perlu dipelajari, bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat yang mengalir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Tidak sembarang orang layak menulis. Mungkin terkesan elitis, tapi ini adalah pengamatan tentang apa yang terjadi ketika sebuah keahlian kehilangan mekanisme pembentuknya. Seorang dokter tidak menjadi dokter hanya karena ia peduli pada kesehatan orang lain dan pernah sakit parah. Seorang arsitek tidak menjadi arsitek hanya karena ia memiliki imajinasi spasial yang kuat dan ingin membangun rumah. Keduanya perlu melalui proses panjang yang memaksa mereka belajar dari yang lebih tahu, dan membangun kemampuan secara bertahap di bawah bimbingan.

 Sastra tidak berbeda. Menulis secara profesional membutuhkan pembacaan yang luas. Karena dari sanalah penulis belajar apa yang membuat sebuah kalimat hidup, sebuah cerita berdiri tegak, dan emosi terasa sungguh-sungguh alih-alih murahan.

Ketika 150 judul baru terbit setiap bulan dari satu platform saja, dan ketika tidak ada satu pun mekanisme yang membantu pembaca membedakan mana yang layak dicari, yang terjadi bukan demokratisasi sastra, melainkan dilusi percakapan. Kerumunan yang semakin besar, suara yang semakin ramai, tetapi semakin sedikit cara untuk menemukan mana yang penting di dalamnya.

Enam puluh persen dari 10.000 judul di Nulisbuku berupa fiksi. Sebagian besar dari fiksi itu bergerak dalam tema yang sangat sempit: percintaan remaja, romansa kampus, drama keluarga, kisah cinta islami. Itu terjadi karena tema itulah yang paling mudah ditulis tanpa bekal pembacaan yang luas, dan paling mudah menemukan pembacanya tanpa dukungan kurasi.

Sebuah novel tentang gadis pendiam yang jatuh cinta pada senior yang dingin tidak membutuhkan riset, tidak membutuhkan pengetahuan tentang sejarah atau struktur sosial, tidak membutuhkan kemampuan membangun dunia yang kompleks. Ia hanya membutuhkan empati emosional yang cukup dan kemampuan menyusun dialog yang mengalir. Tapi itu tidak cukup untuk menghasilkan sastra yang membuka sesuatu yang baru dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.

Pada titik inilah dua krisis dalam esai ini bertemu secara eksplisit.

Krisis pertama adalah krisis produksi. Terlalu banyak yang ditulis dari dorongan yang terlalu dangkal, diterbitkan melalui infrastruktur yang tidak menuntut apa-apa kecuali naskah yang selesai.

Krisis kedua adalah krisis kurasi. Tidak ada lagi mekanisme yang cukup dipercaya untuk membantu pembaca menavigasi kerumunan itu. Kritik sastra melemah, sebagian karena ekosistem digital membuat kritik jujur terasa seperti komen haters, sebagian karena tidak ada lagi institusi yang kuat untuk memberi kritik itu otoritas.

 Tetapi menyadari krisis kurasi tidak berarti merindukan kurasi lama. Kurasi lama, seperti yang sudah ditunjukkan oleh pengalaman Cantik Itu Luka, tidak selalu benar. Ia bisa menolak karya penting karena alasan yang salah, dan meloloskan karya mediokre karena alasan yang juga salah. Sastra Indonesia tidak membutuhkan gatekeeper yang sama dengan kekuasaan yang sama, melainkan bentuk kurasi yang berbeda. Kurasi yang lebih terbuka dalam hal siapa yang boleh masuk, tetapi tetap berani dalam hal menilai apakah yang masuk itu sungguh-sungguh layak diperhatikan.

Kritik sastra yang jujur, komunitas pembaca yang tidak hanya saling mengafirmasi, dan institusi kebudayaan yang berani memaparkan perbedaan kualitas secara terbuka. Semua itu adalah bentuk-bentuk kurasi yang tidak bergantung pada monopoli penerbit besar, tapi juga tidak menyerah pada logika pasar bebas yang menganggap semua suara setara hanya karena semua suara ada.[T]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renungan Meja Makan

Next Post

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails
Next Post
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co