23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renungan Meja Makan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 22, 2026
in Esai
Renungan Meja Makan

Ilustrasi Canva

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan. Memang terlihat seperti budaya Barat, tapi rasanya hal itu warisan yang “baik” dari kolonialisme, budaya yang dianggap datang dari kaum penjajah.

Sekarang, kita tahu, banyak yang berubah setelah kolonialisme berakhir di Indonesia. Penjajah pergi, Indonesia menjadi negara dan bangsa merdeka dan berdaulat. Sisa-sisa budaya kolonial masih bertahan hingga beberapa dekade. Dan kini, tahun 2026, agaknya tidak banyak keluarga Indonesia mempunyai ruang makan.

Di perkotaan, warga banyak hidup di kos-kosan, terutama perantau. Bagi yang mempunyai uang lebih, memilih mengontrak rumah, apalagi yang telah berkeluarga dan mempunyai anak. Hanya orang kaya yang bisa membeli rumah, harganya ratusan juta rupiah bahkan miliaran jika di kota besar seperti Denpasar, Bali.

Ruang makan sebagai tempat bertukar pikiran dan perasaan antaranggota keluarga makin jarang kita lihat. Bukan hanya soal punya atau tidak punya uang untuk membeli rumah. Lebih dari itu, budaya makan di meja makan kini sepertinya sudah mulai ditinggalkan.

Bagi golongan menengah atau menengah ke atas, pilihan untuk makan di luar rumah seperti kafe atau restoran lebih banyak dilakukan. Apalagi, selain untuk menampilkan diri di media sosial. Foto keren, tempat makan mahal, menu makanan lezat adalah beberapa hal yang biasanya ditampilkan. Makan di luar rumah menjadi semacam prestise, yang sering menjadi “candu” dan juga ajang flexing.

Tidak ada atau jarang sekali orang Indonesia yang menampilkan kebersamaan ketika makan di meja makan rumah sendiri. Seakan-akan, hidup sederhana dan apa adanya adalah sesuatu yang tidak boleh ditampilkan di layar.

Padahal, dengan makan bersama di meja makan, selain lebih hemat secara ekonomi karena makanan dimasak sendiri, komunikasi keluarga bisa terus terjaga. Itu pun jika tidak “dirampas” oleh gawai. Makin jamak terlihat, bahkan saat makan bersama, orang-orang sibuk melihat telepon genggamnya masing-masing. Menggulir layar atau scrolling yang kadang tidak jelas juntrungannya.

Sehingga kebersamaan yang natural seperti masa ketika belum ada gawai, kini makin sulit kita temukan. Komunikasi verbal sebagai manusia semakin hilang. Anggota keluarga sibuk dengan telepon di genggaman hingga lupa di sebelahnya ada ibu, ayah, nenek, anak, keponakan, istri atau suami yang merindukan komunikasi verbal tanpa terganggu oleh notifikasi, chat, atau tontonan dari telepon genggam.

Mungkin persoalannya bukan sekadar meja makan. Meja makan hanyalah sebuah benda. Kayu, kaca, marmer, atau bahan lainnya. Ia tidak memiliki makna apa-apa jika hanya dilihat sebagai benda. Tetapi manusia memberikan makna kepada benda. Sebuah meja dapat menjadi tempat meletakkan makanan, tempat bekerja, tempat menaruh laptop, atau bahkan tempat menumpuk barang-barang yang tidak sempat dibereskan. Namun, ketika beberapa orang duduk mengelilinginya dan makan bersama, meja itu berubah menjadi ruang sosial.

Di sinilah antropologi menjadi menarik. Antropologi tidak hanya bertanya apa yang dilakukan manusia, tetapi juga mengapa sebuah tindakan yang tampaknya sederhana memiliki makna tertentu dalam kehidupan manusia. Makan, misalnya, bukan hanya memasukkan makanan ke dalam tubuh. Makan adalah tindakan budaya.

Kita memilih makanan tertentu, menghindari makanan tertentu, makan dengan orang tertentu, menggunakan alat makan tertentu, menentukan siapa yang makan lebih dahulu, dan kapan seseorang dianggap sopan atau tidak sopan ketika makan. Semua itu memiliki aturan, meskipun sebagian besar tidak pernah ditulis.

Meja makan karena itu dapat dipandang sebagai ruang komunikasi. Dalam antropologi komunikasi, komunikasi tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan mengirim pesan dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi berlangsung melalui bahasa, gestur, ekspresi wajah, posisi tubuh, jarak, benda, kebiasaan, bahkan melalui diam. Manusia berkomunikasi dengan seluruh kebudayaannya.

Di meja makan, seorang anak yang diam bisa saja sedang berkomunikasi. Seorang ibu yang bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” sedang membuka pintu percakapan. Seorang ayah yang hanya mendengarkan pun sebenarnya sedang berkomunikasi. Bahkan seseorang yang mengambilkan lauk untuk anggota keluarga lainnya sedang menyampaikan sesuatu, yakni, perhatian.

Hal-hal kecil semacam itu sering tidak kita sadari. Barangkali justru karena tidak disadari, ia menjadi penting. Kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui pidato atau buku. Banyak nilai diwariskan melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.

Anak belajar cara berbicara kepada orang tua dari percakapan sehari-hari. Belajar mendengarkan dari bagaimana orang tuanya mendengarkan. Anak belajar berbagi ketika melihat lauk di tengah meja tidak hanya menjadi milik satu orang.

Dengan demikian, meja makan dapat menjadi semacam sekolah kebudayaan yang tidak memiliki papan tulis. Di sana anak belajar menunggu, berbagi, mengucapkan terima kasih, menerima perbedaan selera. Dan, belajar bahwa orang lain mempunyai cerita. Belajar bahwa rumah bukan hanya tempat tidur, tetapi tempat manusia saling mengetahui kehidupan satu sama lain.

Dan mungkin yang paling penting, adalah, belajar bahwa kehadiran seseorang mempunyai arti. Persoalannya, sekolah kecil semacam itu kini menghadapi lawan yang sangat kuat; telepon genggam.

Telepon genggam tidak hanya masuk ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam percakapan, ke dalam kamar tidur, ke dalam perjalanan, ke dalam ruang tunggu, bahkan ke meja makan.

Ia selalu membawa dunia lain ke hadapan kita. Ketika seorang ibu sedang bercerita kepada anaknya, sebuah notifikasi muncul. Ketika seorang anak hendak menceritakan sesuatu kepada ayahnya, sebuah pesan masuk. Ketika suami dan istri sedang makan bersama, masing-masing sibuk dengan layar. Tubuh mereka berada di tempat yang sama, tetapi perhatian mereka berada di tempat yang berbeda.

Inilah salah satu paradoks kehidupan digital. Kita semakin mudah terhubung dengan orang yang jauh, tetapi semakin mudah pula terputus dari orang yang dekat. Penelitian mengenai penggunaan media saat makan keluarga memang tidak serta-merta membuktikan bahwa telepon genggam menyebabkan rusaknya hubungan keluarga.

Namun sejumlah penelitian menemukan hubungan antara penggunaan media ketika makan dan komunikasi keluarga yang lebih rendah. Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan perangkat oleh orang tua dapat berkaitan dengan perubahan dalam interaksi verbal orang tua-anak.

Artinya, persoalannya bukan pada benda bernama telepon genggam itu sendiri. Telepon hanyalah teknologi. Persoalannya adalah perhatian manusia. Kita hidup pada zaman ketika perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan. Media sosial, aplikasi pesan, video pendek, berita, iklan, dan berbagai platform digital berlomba mendapatkan beberapa detik perhatian kita. Layar tidak pernah benar-benar berkata, “Sudahlah, simpan saya.”

Sebaliknya, ia selalu memanggil. Lihat ini, baca itu, balas pesan ini, tonton video berikutnya. Dan kita menurut. Mungkin karena itu makan bersama hari ini menjadi berbeda dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Dahulu, gangguan mungkin berupa televisi. Sekarang gangguan datang dari benda yang berada tepat di telapak tangan.

Televisi setidaknya ditonton bersama. Telepon genggam membuat setiap orang memiliki dunianya sendiri. Satu meja bisa berisi lima orang dan lima dunia. Yang satu sedang membuka Instagram, yang lain menonton TikTok. Yang lain membaca berita. Yang lain membalas percakapan WhatsApp. Sementara seorang anak mungkin sedang bermain gim. Mereka makan bersama, tetapi tidak benar-benar bersama.

Di sinilah saya kira kita perlu berhenti sejenak. Apa sebenarnya arti “bersama”? Apakah berada dalam ruangan yang sama sudah cukup untuk disebut bersama? Antropologi mungkin akan menjawab bahwa kebersamaan adalah praktik sosial. Ia harus dilakukan. Ia dibangun melalui interaksi yang berulang. Kebersamaan bukan sekadar kedekatan fisik, tetapi juga keterlibatan sosial dan emosional.

Duduk berdampingan tidak otomatis berarti dekat. Sebaliknya, percakapan sederhana selama makan dapat menciptakan kedekatan yang tidak selalu terlihat. Mungkin itulah mengapa meja makan penting. Ia memberikan kesempatan kepada manusia untuk saling hadir. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dengan perhatian.

Saya teringat suasana makan di rumah-rumah keluarga pada masa lalu. Tidak selalu ada percakapan serius. Bahkan sering kali percakapannya remeh. Tentang harga cabai, tetangga, sekolah, pekerjaan. Tentang seseorang yang baru menikah, motor yang rusak, atau tentang hujan yang belum turun.

Tidak penting apa yang dibicarakan. Yang penting adalah percakapan itu terjadi. Dari percakapan-percakapan kecil semacam itu, seseorang mengetahui kehidupan orang lain.

Seorang anak tahu ayahnya sedang lelah. Seorang ayah tahu anaknya sedang mengalami masalah di sekolah. Seorang ibu tahu anaknya sedang menyukai seseorang. Dan, seorang nenek tahu cucunya sedang memiliki kegelisahan.

Pengetahuan semacam itu tidak selalu muncul dalam percakapan formal. Ia tumbuh dari percakapan yang tampaknya tidak penting. keluarga sebenarnya membutuhkan percakapan-percakapan kecil itu. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Manusia juga membutuhkan pengakuan bahwa dirinya dilihat, didengar, dan dianggap penting.

Di sinilah meja makan memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar tempat makan. Ia adalah ruang untuk memelihara hubungan. Namun saya juga tidak ingin mengidealkan masa lalu. Tidak semua keluarga dahulu makan bersama dengan bahagia. Ada keluarga yang meja makannya justru menjadi tempat pertengkaran. Ayah yang terlalu dominan, ibu yang tidak diberi kesempatan berbicara, anak yang takut menyampaikan pendapat. Ada pula keluarga yang bahkan tidak memiliki meja makan.

Karena itu, romantisme terhadap meja makan masa lalu juga harus dihindari. Yang perlu kita pertahankan bukan bentuk lamanya, melainkan fungsi sosialnya. Kita tidak harus memiliki ruang makan yang luas, atau rumah besar dengan meja makan mahal. Sebuah meja kecil di sudut rumah pun cukup. Bahkan, dalam kondisi tertentu, makan bersama di lantai pun dapat menjalankan fungsi yang sama.

Yang penting adalah manusia bersedia menyediakan waktu untuk hadir. Ini menjadi semakin penting di tengah kehidupan urban. Kota membuat manusia bergerak cepat. Waktu menjadi mahal. Orang berangkat pagi dan pulang malam. Kemacetan menghabiskan sebagian hidup. Pekerjaan dibawa pulang. Anak mempunyai jadwal sendiri. Orang tua memiliki urusan sendiri.

Rumah akhirnya hanya menjadi tempat singgah. Makan pun dilakukan sesuai jadwal masing-masing. Ayah sudah makan, ibu nanti. Anak makan di kamar. Yang satu membeli makanan melalui aplikasi, yang lain makan di kantor.

Keluarga tetap tinggal dalam satu rumah, tetapi ritme hidup mereka tidak lagi bertemu. Barangkali inilah salah satu perubahan besar keluarga urban yang jarang kita bicarakan. Bukan hanya rumah yang semakin kecil, tetapi waktu bersama juga semakin sempit.

Dan ketika waktu bersama semakin sempit, meja makan seharusnya justru menjadi penting. Ia dapat menjadi semacam ritual kecil. Tidak perlu setiap hari, mungkin beberapa kali dalam seminggu. Satu jam tanpa telepon, televisi, pekerjaan, dan notifikasi. Hanya manusia dan makanan.

Mungkin awalnya terasa canggung. Sebab kita sudah terlalu terbiasa dengan layar. Akan tetapi, percakapan selalu bisa dimulai dari hal sederhana. “Bagaimana harimu?” “Ada apa di sekolah?” “Kerjaanmu bagaimana?” Besok mau ke mana?” Atau bahkan pertanyaan yang sangat sederhana, seperti “Enak, ya, sambalnya?” Dari sana percakapan bisa berjalan ke mana saja.

Kebersamaan tidak selalu membutuhkan kegiatan besar. Ia sering kali justru tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dalam masyarakat yang semakin digital, mungkin kita perlu menciptakan kembali ruang-ruang kecil semacam itu.

Bukan untuk melawan teknologi. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita dan tidak mungkin dibuang begitu saja. Yang perlu dilakukan adalah menentukan kapan teknologi harus diberi tempat dan kapan manusia harus mendapatkan kembali tempatnya.

Telepon genggam seharusnya menjadi alat, bukan anggota keluarga yang selalu duduk bersama kita di meja makan. Saya membayangkan sebuah meja makan sederhana. Tidak ada meja mahal atau dekorasi istimewa. Mungkin hanya nasi, sayur, telur, sambal, dan segelas air putih.

Empat orang duduk mengelilinginya Mereka berbicara, tertawa. Sesekali mereka diam. Tetapi tidak ada yang merasa harus membuka telepon. Di luar rumah, dunia tetap berjalan. Pesan tetap masuk, media sosial tetap memperbarui dirinya, berita tetap berganti. Tetapi untuk satu jam, manusia memilih berhenti.

Mungkin itu bukan kemunduran. Justru mungkin sebuah bentuk kemajuan. Sebab di tengah dunia yang terus meminta kita bergerak, kemampuan untuk berhenti dan mendengarkan orang lain adalah sesuatu yang semakin mahal.

Saya akhirnya berpikir bahwa meja makan bukan benda yang sedang hilang. Yang mungkin sedang hilang adalah kesediaan kita untuk duduk bersama. Meja itu bisa ada di rumah besar ataupun rumah kecil. Bisa berbentuk meja kayu sederhana atau meja plastik yang murah. Bahkan bisa saja tidak ada meja sama sekali.

Yang penting adalah manusia berkumpul, makan, berbicara, dan saling mendengarkan. Sebab suatu hari nanti, ketika anak-anak kita tumbuh dewasa, mungkin mereka tidak akan mengingat semua makanan yang pernah kita sajikan.

Mereka mungkin juga tidak mengingat bentuk meja makan di rumah. Tetapi mereka mungkin mengingat percakapan. Mengingat suara ayah mengingat cerita ibu, mengingat tawa saudara, mengingat bagaimana suatu sore atau malam mereka duduk bersama orang-orang yang mereka cintai, makan makanan sederhana, dan merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga. Barangkali, pada akhirnya, meja makan bukan tempat kita menghabiskan makanan. Ia adalah tempat kita mempertahankan hubungan. Dan ketika dunia semakin ramai oleh suara-suara dari layar, mungkin kita justru perlu kembali mendengar suara manusia yang duduk di sebelah kita.[T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudayaBudaya Balibudaya nusantarakolonialisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

Next Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co