DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari, media sosial, video digital, dan berbagai aplikasi. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis menjadikan mereka memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Seorang peserta didik mungkin sangat terampil menggunakan teknologi untuk hiburan dan komunikasi, tetapi belum tentu mampu menilai kredibilitas informasi, mengenali bias algoritma, atau menggunakan kecerdasan artifisial secara etis dalam pembelajaran.
Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menyediakan teknologi kepada generasi digital native. Pendidikan harus membangun kemampuan untuk menggunakan teknologi secara kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dunia pendidikan merupakan salah satu ruang yang mengalami perubahan tersebut secara nyata. AI mulai hadir dalam aktivitas guru, dosen, dan peserta didik, mulai dari membantu mencari informasi, menyusun bahan ajar, membuat media pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap tulisan, menerjemahkan teks, hingga membantu menganalisis data pembelajaran.
Kehadiran AI bahkan telah mengubah cara seseorang memandang proses belajar. Jika dahulu pengetahuan seolah-olah harus dikumpulkan sebanyak mungkin dalam ingatan, kini sebagian informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat melalui teknologi.
Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia belajar ketika sebagian pekerjaan kognitifnya dapat dilakukan oleh mesin? Pertanyaan ini penting karena pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mampu menemukan jawaban. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami persoalan, mempertanyakan sesuatu, mengambil keputusan, membangun karakter, menghargai orang lain, dan menemukan makna dari pengetahuan yang dimilikinya.
Di sinilah persoalan penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi lebih kompleks daripada sekadar persoalan teknologi. Persoalannya bukan hanya apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan bagaimana AI digunakan agar tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran.
Pembelajaran yang baik pada akhirnya bukan pembelajaran yang paling banyak menggunakan teknologi, melainkan pembelajaran yang mampu menggunakan teknologi untuk memperkuat kemanusiaan. Penggunaan AI membutuhkan sentuhan humanis. Guru dan dosen tetap memiliki peran penting sebagai pendamping, pembimbing, pengarah, sekaligus manusia yang menghadirkan empati dalam proses pendidikan. Peserta didik pun harus ditempatkan bukan sebagai pengguna pasif teknologi, melainkan sebagai subjek yang mampu berpikir, menilai, memilih, mengkritisi, dan bertanggung jawab terhadap penggunaan AI.
AI dan Perubahan Wajah Pembelajaran
Kehadiran AI telah mengubah cara peserta didik berinteraksi dengan pengetahuan. Dahulu, ketika seorang siswa menghadapi kesulitan dalam memahami sebuah konsep, Dia mungkin harus membuka buku, mencari referensi di perpustakaan, bertanya kepada guru, atau berdiskusi dengan teman. Proses tersebut membutuhkan waktu. Dalam proses itu pula terjadi pengalaman belajar yang penting: mencari, membaca, membandingkan, bertanya, mengalami kebingungan, mencoba kembali, dan akhirnya memahami.
Kini, dengan AI, proses tersebut dapat berlangsung dalam hitungan detik. Seorang peserta didik dapat memasukkan pertanyaan dan memperoleh penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pemahamannya. Dia dapat meminta contoh, analogi, rangkuman, bahkan latihan soal. Dalam konteks tertentu, kemampuan tersebut tentu sangat membantu.
Pada titik ini, AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal. Seorang peserta didik tidak selalu belajar dengan kecepatan yang sama. Ada yang cepat memahami konsep, tetapi kesulitan menuangkannya dalam tulisan. Ada yang mampu memahami melalui gambar, tetapi kesulitan ketika berhadapan dengan teks panjang. Ada pula peserta didik yang membutuhkan contoh konkret sebelum memahami konsep abstrak. AI dapat membantu menyediakan variasi penjelasan tersebut.
Ketika jawaban selalu tersedia, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami proses pencarian. Ketika tulisan dapat dibuat secara otomatis, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk belajar menyusun gagasan. Ketika soal dapat dijawab dengan cepat, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami kesulitan yang sebenarnya merupakan bagian penting dari pembelajaran.
Kesulitan dalam belajar tidak selalu merupakan sesuatu yang harus dihilangkan. Dalam batas tertentu, kesulitan justru diperlukan karena melalui kesulitan seseorang belajar bertahan, mencoba strategi baru, mengenali kesalahan, dan menemukan cara berpikir yang lebih baik. Penggunaan AI seharusnya tidak diarahkan untuk membuat pembelajaran selalu mudah. AI justru perlu digunakan untuk membuat proses belajar lebih bermakna.
Teknologi Tidak Boleh Menggantikan Manusia
Dalam pendidikan, manusia bukan sekadar penerima informasi. Manusia memiliki emosi, pengalaman, nilai, harapan, kecemasan, dan latar belakang sosial yang berbeda. Dua peserta didik dapat membaca teks yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda karena pengalaman hidup mereka tidak sama. Di sinilah keterbatasan AI perlu dipahami.
AI dapat mengenali pola bahasa, menghasilkan penjelasan, dan merespons pertanyaan berdasarkan data yang tersedia. Akan tetapi, pendidikan memiliki dimensi relasional yang jauh lebih luas. Seorang guru dapat mengetahui bahwa seorang siswa sedang tidak bersemangat hanya dari perubahan ekspresi wajahnya. Seorang dosen dapat memahami bahwa mahasiswa tidak mengerjakan tugas bukan semata-mata karena malas, tetapi mungkin sedang menghadapi persoalan keluarga, tekanan akademik, atau kehilangan motivasi. Respons terhadap kondisi seperti itu tidak cukup diberikan dalam bentuk informasi.
Ketika AI masuk ke ruang kelas, pertanyaan pertama bukanlah “Apa yang dapat dilakukan AI?”, melainkan “Apa yang tetap harus dilakukan manusia?” Pertanyaan ini penting agar pendidikan tidak terjebak dalam kekaguman terhadap teknologi. Guru tidak boleh berubah menjadi operator AI, dan peserta didik tidak boleh berubah menjadi sekadar pengguna aplikasi.
Teknologi seharusnya berada di belakang proses pendidikan, bukan menjadi pusatnya. Pusat pendidikan tetap manusia.
AI sebagai Mitra Belajar
Salah satu pendekatan yang lebih humanis dalam penggunaan AI dalam pendidikan adalah menempatkannya sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti guru, dosen, maupun proses berpikir peserta didik. Pemahaman ini penting karena kehadiran AI dalam pembelajaran sering kali dipersepsikan secara ekstrem.
Di satu sisi, AI dianggap sebagai ancaman yang dapat membuat peserta didik malas berpikir, bergantung pada teknologi, bahkan kehilangan kemampuan menulis dan memecahkan masalah. Di sisi lain, AI dipandang sebagai solusi hampir untuk segala persoalan pendidikan. Kedua pandangan tersebut sama-sama perlu dikritisi. AI pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Nilai pendidikan yang dihasilkan dari penggunaan AI sangat bergantung pada bagaimana manusia merancang tujuan, mengendalikan proses, menilai informasi, dan merefleksikan hasil penggunaannya.
Menempatkan AI sebagai mitra belajar berarti mengubah cara pandang dari “AI memberikan jawaban” menjadi “AI membantu saya menemukan jawaban”. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi pedagogis yang sangat besar. Dalam pola pertama, peserta didik cenderung menjadi penerima. Ia mengajukan pertanyaan, memperoleh jawaban, kemudian menggunakannya sebagai hasil akhir. Proses berpikir menjadi sangat pendek karena sebagian besar pekerjaan intelektual telah dialihkan kepada mesin.
Sedangkan dalam pola kedua, AI ditempatkan sebagai teman dialog yang membantu peserta didik mengeksplorasi gagasan, menemukan kelemahan argumentasi, memperoleh perspektif alternatif, dan menguji pemahamannya. Peserta didik tetap menjadi aktor utama, sedangkan AI berfungsi sebagai pendukung.
Dalam pembelajaran, posisi ini sangat penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan bertujuan membentuk kemampuan berpikir. Seorang peserta didik yang memperoleh jawaban benar tetapi tidak memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh belum tentu mengalami proses belajar yang sesungguhnya. Sebaliknya, seorang peserta didik yang sempat mengalami kebingungan, mencoba beberapa kemungkinan, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, kemudian memperbaiki pemikirannya justru sedang menjalani proses belajar yang lebih bermakna.
Guru sebagai Kompas dalam Era AI
Ketika informasi semakin mudah diperoleh, peran guru justru menjadi semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi kompas yang membantu peserta didik menentukan arah.
Dahulu guru mungkin menghabiskan banyak waktu menjelaskan informasi dasar. Kini sebagian informasi tersebut dapat diperoleh peserta didik melalui berbagai sumber digital. Situasi ini seharusnya tidak membuat guru kehilangan peran. Sebaliknya, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan fungsi yang lebih mendalam: membimbing peserta didik memahami informasi, menilai kredibilitas sumber, membangun argumentasi, bekerja sama, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Guru juga perlu menjadi teladan dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab. Jika guru meminta peserta didik untuk jujur dalam menggunakan AI, guru sendiri harus menunjukkan bagaimana AI digunakan secara transparan. Jika guru meminta peserta didik mencantumkan sumber, guru harus memberikan contoh tentang pentingnya verifikasi sumber. Jika guru melarang peserta didik menyerahkan hasil AI sebagai karya pribadi, guru harus menjelaskan alasan akademik dan moral di balik aturan tersebut.
Dengan demikian, pendidikan tentang AI tidak cukup dilakukan melalui aturan “boleh” dan “tidak boleh”. Peserta didik perlu diajak memahami mengapa penggunaan tertentu dianggap bertanggung jawab dan mengapa penggunaan lainnya dapat merusak proses belajar.
Guru dapat mengatakan kepada peserta didik: “Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir.” Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi prinsip dasar pembelajaran di era kecerdasan artifisial.
Bahaya Ketergantungan pada AI
Di balik berbagai manfaatnya, AI juga menyimpan risiko ketergantungan. Ketika peserta didik terbiasa mendapatkan jawaban secara instan, kemampuan untuk menunggu, membaca panjang, mencoba, dan mengalami kegagalan dapat berkurang.
Ada kecenderungan bahwa sebagian peserta didik menggunakan AI bukan untuk belajar, melainkan untuk menghindari belajar. Tugas yang seharusnya menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir berubah menjadi sekadar perintah kepada mesin: “Buatkan tugas saya.”Pada kondisi seperti ini, masalah sebenarnya bukan AI. Masalahnya adalah hilangnya makna tugas.
Jika sebuah tugas dapat diselesaikan sepenuhnya oleh AI tanpa melibatkan pemikiran peserta didik, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku peserta didik, tetapi juga desain pembelajarannya. Guru perlu merancang tugas yang menuntut pengalaman, argumentasi, observasi, refleksi, dan pengambilan keputusan. Misalnya, daripada meminta mahasiswa menulis esai umum tentang lingkungan, dosen dapat meminta mereka mengamati persoalan sampah di lingkungan sekitar, melakukan wawancara, mencatat pengalaman, menganalisis data, kemudian menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan argumentasi.
Dengan demikian, AI tidak dapat menggantikan pengalaman lapangan mahasiswa karena pengalaman tersebut merupakan bagian dari data personal yang harus mereka bangun sendiri.
Kejujuran Akademik di Tengah Kemudahan Teknologi
Penggunaan AI juga membawa persoalan serius berkaitan dengan integritas akademik. Ketika sebuah tulisan dapat dihasilkan dalam waktu singkat, batas antara “dibantu AI” dan “dikerjakan AI” menjadi semakin penting.
Pendidikan tidak seharusnya hanya menilai produk akhir. Pendidikan juga harus menghargai proses. Misalnya, tulisan seorang mahasiswa yang masih memiliki kekurangan tetapi lahir dari proses berpikirnya sendiri memiliki nilai pendidikan yang berbeda dari tulisan yang sangat sempurna tetapi sepenuhnya dihasilkan mesin.
Institusi pendidikan perlu mengembangkan budaya akademik yang tidak hanya berbicara tentang larangan. Mahasiswa perlu diajarkan cara menggunakan AI secara etis: kapan AI boleh digunakan, bagaimana menggunakannya, bagaimana memverifikasi informasi, bagaimana mengakui bantuan AI, dan bagian mana yang harus tetap menjadi hasil pemikiran pribadi.Di sinilah kejujuran akademik perlu dipahami bukan sebagai ketakutan terhadap hukuman, tetapi sebagai penghargaan terhadap proses intelektual.[T]
Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole
























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





