23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
in Esai
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

Ilustrasi Canva

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari, media sosial, video digital, dan berbagai aplikasi. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis menjadikan mereka memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Seorang peserta didik mungkin sangat terampil menggunakan teknologi untuk hiburan dan komunikasi, tetapi belum tentu mampu menilai kredibilitas informasi, mengenali bias algoritma, atau menggunakan kecerdasan artifisial secara etis dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menyediakan teknologi kepada generasi digital native. Pendidikan harus membangun kemampuan untuk menggunakan teknologi secara kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dunia pendidikan merupakan salah satu ruang yang mengalami perubahan tersebut secara nyata. AI mulai hadir dalam aktivitas guru, dosen, dan peserta didik, mulai dari membantu mencari informasi, menyusun bahan ajar, membuat media pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap tulisan, menerjemahkan teks, hingga membantu menganalisis data pembelajaran.

Kehadiran AI bahkan telah mengubah cara seseorang memandang proses belajar. Jika dahulu pengetahuan seolah-olah harus dikumpulkan sebanyak mungkin dalam ingatan, kini sebagian informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat melalui teknologi.

Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia belajar ketika sebagian pekerjaan kognitifnya dapat dilakukan oleh mesin? Pertanyaan ini penting karena pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mampu menemukan jawaban. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami persoalan, mempertanyakan sesuatu, mengambil keputusan, membangun karakter, menghargai orang lain, dan menemukan makna dari pengetahuan yang dimilikinya.

Di sinilah persoalan penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi lebih kompleks daripada sekadar persoalan teknologi. Persoalannya bukan hanya apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan bagaimana AI digunakan agar tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran.

Pembelajaran yang baik pada akhirnya bukan pembelajaran yang paling banyak menggunakan teknologi, melainkan pembelajaran yang mampu menggunakan teknologi untuk memperkuat kemanusiaan. Penggunaan AI membutuhkan sentuhan humanis. Guru dan dosen tetap memiliki peran penting sebagai pendamping, pembimbing, pengarah, sekaligus manusia yang menghadirkan empati dalam proses pendidikan. Peserta didik pun harus ditempatkan bukan sebagai pengguna pasif teknologi, melainkan sebagai subjek yang mampu berpikir, menilai, memilih, mengkritisi, dan bertanggung jawab terhadap penggunaan AI.

AI dan Perubahan Wajah Pembelajaran

Kehadiran AI telah mengubah cara peserta didik berinteraksi dengan pengetahuan. Dahulu, ketika seorang siswa menghadapi kesulitan dalam memahami sebuah konsep, Dia mungkin harus membuka buku, mencari referensi di perpustakaan, bertanya kepada guru, atau berdiskusi dengan teman. Proses tersebut membutuhkan waktu. Dalam proses itu pula terjadi pengalaman belajar yang penting: mencari, membaca, membandingkan, bertanya, mengalami kebingungan, mencoba kembali, dan akhirnya memahami.

Kini, dengan AI, proses tersebut dapat berlangsung dalam hitungan detik. Seorang peserta didik dapat memasukkan pertanyaan dan memperoleh penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pemahamannya. Dia dapat meminta contoh, analogi, rangkuman, bahkan latihan soal. Dalam konteks tertentu, kemampuan tersebut tentu sangat membantu.

Pada titik ini, AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal. Seorang peserta didik tidak selalu belajar dengan kecepatan yang sama. Ada yang cepat memahami konsep, tetapi kesulitan menuangkannya dalam tulisan. Ada yang mampu memahami melalui gambar, tetapi kesulitan ketika berhadapan dengan teks panjang. Ada pula peserta didik yang membutuhkan contoh konkret sebelum memahami konsep abstrak. AI dapat membantu menyediakan variasi penjelasan tersebut.

Ketika jawaban selalu tersedia, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami proses pencarian. Ketika tulisan dapat dibuat secara otomatis, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk belajar menyusun gagasan. Ketika soal dapat dijawab dengan cepat, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami kesulitan yang sebenarnya merupakan bagian penting dari pembelajaran.

Kesulitan dalam belajar tidak selalu merupakan sesuatu yang harus dihilangkan. Dalam batas tertentu, kesulitan justru diperlukan karena melalui kesulitan seseorang belajar bertahan, mencoba strategi baru, mengenali kesalahan, dan menemukan cara berpikir yang lebih baik. Penggunaan AI seharusnya tidak diarahkan untuk membuat pembelajaran selalu mudah. AI justru perlu digunakan untuk membuat proses belajar lebih bermakna.

Teknologi Tidak Boleh Menggantikan Manusia

Dalam pendidikan, manusia bukan sekadar penerima informasi. Manusia memiliki emosi, pengalaman, nilai, harapan, kecemasan, dan latar belakang sosial yang berbeda. Dua peserta didik dapat membaca teks yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda karena pengalaman hidup mereka tidak sama. Di sinilah keterbatasan AI perlu dipahami.

AI dapat mengenali pola bahasa, menghasilkan penjelasan, dan merespons pertanyaan berdasarkan data yang tersedia. Akan tetapi, pendidikan memiliki dimensi relasional yang jauh lebih luas. Seorang guru dapat mengetahui bahwa seorang siswa sedang tidak bersemangat hanya dari perubahan ekspresi wajahnya. Seorang dosen dapat memahami bahwa mahasiswa tidak mengerjakan tugas bukan semata-mata karena malas, tetapi mungkin sedang menghadapi persoalan keluarga, tekanan akademik, atau kehilangan motivasi. Respons terhadap kondisi seperti itu tidak cukup diberikan dalam bentuk informasi.

Ketika AI masuk ke ruang kelas, pertanyaan pertama bukanlah “Apa yang dapat dilakukan AI?”, melainkan “Apa yang tetap harus dilakukan manusia?” Pertanyaan ini penting agar pendidikan tidak terjebak dalam kekaguman terhadap teknologi. Guru tidak boleh berubah menjadi operator AI, dan peserta didik tidak boleh berubah menjadi sekadar pengguna aplikasi.

Teknologi seharusnya berada di belakang proses pendidikan, bukan menjadi pusatnya. Pusat pendidikan tetap manusia.

AI sebagai Mitra Belajar

Salah satu pendekatan yang lebih humanis dalam penggunaan AI dalam pendidikan adalah menempatkannya sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti guru, dosen, maupun proses berpikir peserta didik. Pemahaman ini penting karena kehadiran AI dalam pembelajaran sering kali dipersepsikan secara ekstrem.

Di satu sisi, AI dianggap sebagai ancaman yang dapat membuat peserta didik malas berpikir, bergantung pada teknologi, bahkan kehilangan kemampuan menulis dan memecahkan masalah. Di sisi lain, AI dipandang sebagai solusi hampir untuk segala persoalan pendidikan. Kedua pandangan tersebut sama-sama perlu dikritisi. AI pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Nilai pendidikan yang dihasilkan dari penggunaan AI sangat bergantung pada bagaimana manusia merancang tujuan, mengendalikan proses, menilai informasi, dan merefleksikan hasil penggunaannya.

Menempatkan AI sebagai mitra belajar berarti mengubah cara pandang dari “AI memberikan jawaban” menjadi “AI membantu saya menemukan jawaban”. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi pedagogis yang sangat besar. Dalam pola pertama, peserta didik cenderung menjadi penerima. Ia mengajukan pertanyaan, memperoleh jawaban, kemudian menggunakannya sebagai hasil akhir. Proses berpikir menjadi sangat pendek karena sebagian besar pekerjaan intelektual telah dialihkan kepada mesin.

Sedangkan dalam pola kedua, AI ditempatkan sebagai teman dialog yang membantu peserta didik mengeksplorasi gagasan, menemukan kelemahan argumentasi, memperoleh perspektif alternatif, dan menguji pemahamannya. Peserta didik tetap menjadi aktor utama, sedangkan AI berfungsi sebagai pendukung.

Dalam pembelajaran, posisi ini sangat penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan bertujuan membentuk kemampuan berpikir. Seorang peserta didik yang memperoleh jawaban benar tetapi tidak memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh belum tentu mengalami proses belajar yang sesungguhnya. Sebaliknya, seorang peserta didik yang sempat mengalami kebingungan, mencoba beberapa kemungkinan, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, kemudian memperbaiki pemikirannya justru sedang menjalani proses belajar yang lebih bermakna.

Guru sebagai Kompas dalam Era AI

Ketika informasi semakin mudah diperoleh, peran guru justru menjadi semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi kompas yang membantu peserta didik menentukan arah.

Dahulu guru mungkin menghabiskan banyak waktu menjelaskan informasi dasar. Kini sebagian informasi tersebut dapat diperoleh peserta didik melalui berbagai sumber digital. Situasi ini seharusnya tidak membuat guru kehilangan peran. Sebaliknya, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan fungsi yang lebih mendalam: membimbing peserta didik memahami informasi, menilai kredibilitas sumber, membangun argumentasi, bekerja sama, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Guru juga perlu menjadi teladan dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab. Jika guru meminta peserta didik untuk jujur dalam menggunakan AI, guru sendiri harus menunjukkan bagaimana AI digunakan secara transparan. Jika guru meminta peserta didik mencantumkan sumber, guru harus memberikan contoh tentang pentingnya verifikasi sumber. Jika guru melarang peserta didik menyerahkan hasil AI sebagai karya pribadi, guru harus menjelaskan alasan akademik dan moral di balik aturan tersebut.

Dengan demikian, pendidikan tentang AI tidak cukup dilakukan melalui aturan “boleh” dan “tidak boleh”. Peserta didik perlu diajak memahami mengapa penggunaan tertentu dianggap bertanggung jawab dan mengapa penggunaan lainnya dapat merusak proses belajar.

Guru dapat mengatakan kepada peserta didik: “Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir.” Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi prinsip dasar pembelajaran di era kecerdasan artifisial.

Bahaya Ketergantungan pada AI

Di balik berbagai manfaatnya, AI juga menyimpan risiko ketergantungan. Ketika peserta didik terbiasa mendapatkan jawaban secara instan, kemampuan untuk menunggu, membaca panjang, mencoba, dan mengalami kegagalan dapat berkurang.

Ada kecenderungan bahwa sebagian peserta didik menggunakan AI bukan untuk belajar, melainkan untuk menghindari belajar. Tugas yang seharusnya menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir berubah menjadi sekadar perintah kepada mesin: “Buatkan tugas saya.”Pada kondisi seperti ini, masalah sebenarnya bukan AI. Masalahnya adalah hilangnya makna tugas.

Jika sebuah tugas dapat diselesaikan sepenuhnya oleh AI tanpa melibatkan pemikiran peserta didik, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku peserta didik, tetapi juga desain pembelajarannya. Guru perlu merancang tugas yang menuntut pengalaman, argumentasi, observasi, refleksi, dan pengambilan keputusan. Misalnya, daripada meminta mahasiswa menulis esai umum tentang lingkungan, dosen dapat meminta mereka mengamati persoalan sampah di lingkungan sekitar, melakukan wawancara, mencatat pengalaman, menganalisis data, kemudian menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan argumentasi.

Dengan demikian, AI tidak dapat menggantikan pengalaman lapangan mahasiswa karena pengalaman tersebut merupakan bagian dari data personal yang harus mereka bangun sendiri.

Kejujuran Akademik di Tengah Kemudahan Teknologi

Penggunaan AI juga membawa persoalan serius berkaitan dengan integritas akademik. Ketika sebuah tulisan dapat dihasilkan dalam waktu singkat, batas antara “dibantu AI” dan “dikerjakan AI” menjadi semakin penting.

Pendidikan tidak seharusnya hanya menilai produk akhir. Pendidikan juga harus menghargai proses. Misalnya, tulisan seorang mahasiswa yang masih memiliki kekurangan tetapi lahir dari proses berpikirnya sendiri memiliki nilai pendidikan yang berbeda dari tulisan yang sangat sempurna tetapi sepenuhnya dihasilkan mesin.

Institusi pendidikan perlu mengembangkan budaya akademik yang tidak hanya berbicara tentang larangan. Mahasiswa perlu diajarkan cara menggunakan AI secara etis: kapan AI boleh digunakan, bagaimana menggunakannya, bagaimana memverifikasi informasi, bagaimana mengakui bantuan AI, dan bagian mana yang harus tetap menjadi hasil pemikiran pribadi.Di sinilah kejujuran akademik perlu dipahami bukan sebagai ketakutan terhadap hukuman, tetapi sebagai penghargaan terhadap proses intelektual.[T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIArtificial IntelligenceDigital Native
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Next Post

Renungan Meja Makan

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Renungan Meja Makan

Renungan Meja Makan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co