DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah dan tidak jujur. Tidak ada ekosistem sastra yang sepenuhnya homogen. Menganggapnya homogen justru menciptakan kesalahan yang sama dengan yang sedang dikritik, yaitu menyederhanakan sesuatu yang kompleks agar lebih mudah dicerna.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di dalam ekosistem yang terus mendorong percepatan dan penyederhanaan, masih ada karya-karya yang menolak bergerak mengikuti arusnya. Keberadaan mereka bukan bukti bahwa tekanan itu tidak nyata. Justru sebaliknya. Seperti tanaman yang tumbuh melalui retakan aspal, keberadaan mereka adalah bukti betapa kerasnya permukaan yang harus mereka tembus. Tekanan itu nyata. Karena itu, ketahanan mereka layak diperhatikan.
Laut Bercerita karya Leila S. Chudori terbit pada 2017 dan pada Juli 2025 mencapai cetakan ke-100 dengan lebih dari 500.000 eksemplar terjual. Angka itu mengejutkan bukan karena besarnya, melainkan karena cara novel itu menemukan pembacanya. Leila sendiri mengakui bahwa ia tidak menyangka novelnya akan dibaca generasi yang lebih muda. Ia memperkirakan pembacanya adalah mereka yang memiliki ingatan langsung terhadap peristiwa 1998.
Kenyataannya, popularitas novel itu di kalangan generasi Z tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh logika algoritma. Novel tentang penghilangan paksa aktivis mahasiswa tidak memenuhi formula yang biasanya menghasilkan engagement massal: ia tidak memberi resolusi emosional yang bersih, tidak menawarkan karakter yang mudah dicintai, dan tidak bisa dipreteli menjadi kutipan yang hidup terpisah dari keseluruhannya tanpa kehilangan sesuatu yang esensial.
Bahwa ia justru menembus ekosistem digital dengan cara yang tidak dirancang oleh logika platform mana pun adalah bukti bahwa ada kelaparan terhadap sesuatu yang lebih dari sekadar kenyamanan emosional. Kelaparan yang tidak bisa sepenuhnya dipadamkan oleh ekosistem Sastra Perhatian.
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan bekerja dengan cara yang serupa tapi berbeda. Novel itu tidak meminta pembaca untuk menyukai tokoh-tokohnya. Kekerasan di dalamnya tidak berfungsi sebagai dramaturgi yang membangkitkan simpati. Ia hadir sebagai fakta kehidupan yang absurd dan tidak minta dimengerti. Dalam ekosistem yang terus meminta karakter yang “relatable” dan konflik yang mudah diposisikan, Seperti Dendam memilih untuk tidak menurut. Bahwa ia tetap dibaca dan diperbincangkan adalah tanda bahwa sebagian pembaca memang sedang mencari sesuatu yang tidak mau menyederhanakan dirinya.
Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah kasus yang paling instruktif dari semua yang ada di sini. Novel yang pertama terbit 1982 itu kembali dicetak ulang dalam edisi hardcover pada 2025, lebih dari empat dekade setelah pertama kali terbit. Kebangkitan itu tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh logika algoritma.
Ronggeng Dukuh Paruk tidak memiliki elemen yang biasanya memicu rekomendasi massal. Bukan genre yang mudah dikategorikan, bukan narasi yang memberi resolusi emosional yang bersih, bukan karya yang bisa dipreteli menjadi kutipan viral tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Ada sesuatu dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang bekerja di luar jangkauan metrik keterlibatan mana pun.
Dukuh Paruk dengan Srintil dan Rasus di dalamnya terus memanggil pembaca baru karena ia berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh satu bacaan saja. Bagaimana cara kekuasaan menghancurkan yang paling tidak berdaya, cara tubuh perempuan menjadi medan pertarungan yang tidak pernah ia minta, cara sejarah mewariskan dirinya kepada orang-orang yang bahkan tidak mengerti bahwa mereka sedang diwariskan sesuatu.
Dari ranah puisi, Joko Pinurbo adalah kasus yang paling paradoksal. Puisi-puisinya menggunakan objek sehari-hari. Celana, sarung, telepon genggam, dan kaleng Khong Guan sebagai pintu masuk menuju tema-tema yang jauh lebih besar: kesepian, kematian, ironi kehidupan modern, hubungan manusia dengan yang transenden.
Kesederhanaan bahasanya tidak pernah berarti kedangkalan gagasannya. Ia membuktikan bahwa keterbacaan dan kedalaman tidak harus bertentangan. Puisi-puisi Jokpin bisa dibaca oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah membaca puisi, tanpa harus menyederhanakan dirinya menjadi kutipan motivasional. Okky Madasari menulis bahwa Jokpin adalah “penyair yang berhasil menangkap kegelisahan zaman, termasuk generasi Z”, dan kegemaran generasi Z terhadap puisi yang tidak mau menyederhanakan dirinya adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Kemudian ada Madilog yang perlu disebut bukan sebagai karya sastra melainkan sebagai gejala. Teks filsafat yang ditulis Tan Malaka dalam penjara pada 1943 itu kini dibaca kembali oleh generasi muda Indonesia yang mencari kerangka berpikir yang tidak disederhanakan oleh format media sosial. Ini fakta bahwa sebuah teks yang menuntut pembacaan perlahan, berpikir keras, dan kesediaan untuk tidak setuju dengan diri sendiri masih dicari pembaca muda. Ini merupakan sinyal bahwa apa yang dicari sebagian pembaca muda bukan konfirmasi atas apa yang sudah mereka rasakan, melainkan alat untuk berpikir tentang sesuatu yang belum mereka mengerti.
Karya-karya ini tidak hidup di luar ekosistem Sastra Perhatian. Mereka hidup di dalamnya, menembus tekanannya, dan bertahan karena ada sesuatu dalam diri mereka yang tidak bisa direduksi menjadi formula semata. Keberadaan mereka tidak membatalkan diagnosis tentang Sastra Perhatian. Justru sebaliknya: mereka adalah ukuran seberapa besar tekanan itu sesungguhnya. Karena bertahan di bawah tekanan sebesar itu membutuhkan sesuatu yang luar biasa. Selama karya-karya semacam itu masih lahir dan masih menemukan pembacanya, ekosistem sastra Indonesia belum kehilangan segalanya. [T]
Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-750x375.png)
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-360x180.png)











![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









