25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
in Esai
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan di sekolah. Hari itu, 6 Januari 2025, merupakan hari pertama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan. Siswa kelas III SDN 1 Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, itu tidak langsung menyentuh nasi, lauk, sayur, dan buah yang diterimanya. Ia hanya meminum susu, sementara makanan di dalam kotak tetap disimpannya. Suleman ingin membawanya pulang untuk ibunya.

Pagi itu, ia berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di rumahnya tidak ada beras. Kini, di hadapannya ada satu kotak makanan yang bisa dibawa pulang. Di antara teman-temannya yang sedang makan, Suleman memilih menyimpan bagiannya. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya tahu kepada siapa makanan itu ingin diberikan.

Bagi Suleman, makanan itu bukan sesuatu yang perlu segera dihabiskan. Ada seseorang di rumah yang ingin ia ingat ketika menerima kotak tersebut. Pagi itu, sebuah kotak makanan ikut menempuh perjalanan dari sekolah menuju rumah—dibawa oleh seorang anak yang ingin berbagi dengan ibunya.

Ketika pulang, sekotak makanan itu benar-benar ia bawa untuk ibunya, Karsum Singgili. Sang ibu menerima makanan yang sengaja dibawakan anaknya dari sekolah. Sebuah tindakan kecil dari seorang anak yang membuat perjalanan satu kotak makanan terasa lebih panjang daripada sekadar dari sekolah ke rumah.

Kotak yang Tiba di Sekolah

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia datang ke sekolah dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang sudah sarapan sebelum berangkat, ada yang sekadar minum susu, dan ada pula yang menahan lapar hingga waktu istirahat. Seragam mereka mungkin sama, buku pelajaran mereka mungkin sama, tetapi kondisi tubuh yang mereka bawa ke dalam kelas tidak selalu sama.

Di antara anak-anak yang membuka kotak makan dan langsung menyantap isinya, Suleman memilih menyimpannya. Bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena ada yang ingin dibawanya pulang. Satu kotak makanan akhirnya menempuh dua perjalanan yang berbeda: bagi sebagian anak, selesai di meja makan sekolah; bagi Suleman, berlanjut sampai ke rumah dan ke tangan ibunya.

Ketika kotak-kotak makanan itu tiba di sekolah, anak-anak menerima lebih dari sekadar nasi dan lauk. Ada makanan yang segera disantap, ada sayur dan buah yang mulai dikenali, dan ada energi yang dibawa mereka ke dalam kelas. Bagi sebagian anak, mungkin sesederhana itu. Namun di balik kebiasaan makan yang perlahan dibangun, ada harapan agar kesempatan belajar tidak terlalu bergantung pada apa yang tersedia di meja makan di rumah. Di ruang sederhana itulah Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) hadir.

Setahun lebih jumlah dapur pelayanan itu berubah drastis. Dari 190 SPPG pada awal pelaksanaan, menjadi lebih dari 19 ribu. Per 3 Maret 2026, BGN mencatat 61.239.037 penerima manfaat.

Angka-angka itu terus bertambah di atas kertas. Di lapangan, ia berubah menjadi kotak-kotak makanan yang berpindah dari dapur ke sekolah, lalu sampai ke tangan anak-anak. Ada orang tua yang menunggu, guru yang mendampingi, petani dan peternak yang memasok bahan pangan, serta banyak tangan lain yang membuat makanan itu tiba tepat waktu. Di antara jutaan penerima manfaat itu, ada Suleman—seorang anak yang pernah memilih membawa kotak makanannya pulang untuk sang ibu.

Sebelum anak membuka buku, ada hal yang lebih mendasar: tubuhnya harus siap untuk belajar. Ketika perut belum terisi, mengikuti pelajaran bukan perkara mudah. Energi anak berkurang, perhatian mudah terpecah, sementara tubuh tetap membutuhkan asupan untuk tumbuh. Karena itu, makanan yang hadir di sekolah bukan sekadar pengisi waktu makan, tetapi bekal agar anak bisa menjalani hari, belajar, dan tumbuh dengan lebih baik.

Makanan dan pendidikan akhirnya bertemu di ruang kelas. Anak datang membawa buku, tetapi juga membawa tubuh yang membutuhkan energi untuk membaca, berpikir, bermain, dan mengikuti pelajaran.

Menu MBG tidak dirancang hanya untuk membuat perut kenyang. BGN menjelaskan bahwa menu disusun dengan mengacu pada Angka Kecukupan Gizi dan diarahkan untuk memperkuat edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Di sekolah, anak pun berhadapan dengan pelajaran yang tidak selalu tertulis di papan tulis. Ia belajar mengenal makanan yang ada di piringnya: protein, sayur, buah, dan sumber energi. Kotak makanan yang selesai disantap mungkin meninggalkan satu pengetahuan kecil yang dibawa pulang.

Banyak Tangan di Balik Satu Kotak

Sebuah kotak makanan mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk disantap. Sebelum sampai ke tangan seorang anak, makanan di dalamnya telah melewati perjalanan yang lebih panjang.

Beras berasal dari sawah. Telur datang dari peternak. Ikan ditangkap nelayan. Sayuran ditanam dan dipanen. Setelah itu masih ada pedagang, pekerja dapur, pengemudi, dan guru yang memastikan makanan sampai ke sekolah. Seporsi makanan adalah pertemuan banyak tangan.

Ketika bahan pangan MBG melibatkan potensi lokal, perputaran manfaatnya dapat bergerak lebih jauh. Belanja pangan berpotensi menghidupkan produk daerah, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Dari sawah, bahan pangan bergerak ke dapur. Dari dapur, makanan menuju sekolah. Setelah itu, ia sampai ke meja seorang anak. Perjalanannya tampak sederhana. Tetapi di sepanjang jalan itu ada banyak orang yang ikut bekerja.

BGN terus melakukan validasi dan integrasi data penerima manfaat serta memperkuat tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran, dan efektivitas program. Distribusi harus merata. Data harus akurat. Pengelolaan harus transparan. Sisa makanan dan sampah juga perlu diperhatikan. Program yang menjangkau jutaan anak akhirnya bukan hanya soal seberapa besar skalanya, tetapi juga seberapa tepat manfaatnya sampai kepada mereka.

Sebuah kotak makanan tidak berhenti pada saat tutupnya dibuka. Di tangan seorang anak, isinya menjadi tenaga untuk belajar, menjadi pengalaman mengenal makanan yang lebih beragam, dan kadang menjadi sesuatu yang dibawa pulang. Di belakangnya ada meja makan keluarga, ada petani yang menanam, peternak yang memelihara, nelayan yang melaut, dan orang-orang yang memastikan bahan pangan itu sampai ke sekolah.

Dampaknya pun tidak selalu tampak hari itu juga. Anak yang hari ini makan dengan baik belum tentu besok menjadi juara kelas. Anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup belum tentu kelak menjadi ilmuwan. Namun, makanan yang cukup memberi tubuh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menjalani hari dengan lebih baik.

Kotak Kecil, Masa Depan Besar

Gizi yang baik memberi anak kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang. Kelak, kesempatan itu menjadi bagian dari modal manusia yang menggerakkan masyarakat.

Tentu, makanan saja tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan, lingkungan yang sehat, perlindungan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Semua itu pada akhirnya bertemu pada anak-anak yang sedang tumbuh hari ini—di ruang kelas, di meja makan, dan di rumah.

Sebuah kotak makanan pun membawa lebih dari apa yang tersaji di dalamnya. Ada beras dari sawah, telur dari peternak, sayuran dari kebun, hasil laut, serta kerja orang-orang yang mungkin tidak pernah dikenal oleh anak yang menyantapnya. Ada pula perhatian orang tua yang menunggu anak pulang.

Suleman pernah memegang sebuah kotak makanan dan memilih membawanya pulang untuk sang ibu. Kisah itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dilupakan.

Dari sekolah, kotak itu pulang bersama Suleman. Dari meja makan, perjalanan yang lebih panjang baru dimulai: tumbuh, belajar, dan kelak mengambil bagian dalam kehidupan bangsanya. Hari ini, kita mengisi kotak makan. Besok, anak-anak itulah yang akan mengisi masa depan Indonesia. [T]

Tags: Makan Bergizi Gratissekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

Next Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails
Next Post
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co