4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
in Esai
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan di sekolah. Hari itu, 6 Januari 2025, merupakan hari pertama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan. Siswa kelas III SDN 1 Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, itu tidak langsung menyentuh nasi, lauk, sayur, dan buah yang diterimanya. Ia hanya meminum susu, sementara makanan di dalam kotak tetap disimpannya. Suleman ingin membawanya pulang untuk ibunya.

Pagi itu, ia berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di rumahnya tidak ada beras. Kini, di hadapannya ada satu kotak makanan yang bisa dibawa pulang. Di antara teman-temannya yang sedang makan, Suleman memilih menyimpan bagiannya. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya tahu kepada siapa makanan itu ingin diberikan.

Bagi Suleman, makanan itu bukan sesuatu yang perlu segera dihabiskan. Ada seseorang di rumah yang ingin ia ingat ketika menerima kotak tersebut. Pagi itu, sebuah kotak makanan ikut menempuh perjalanan dari sekolah menuju rumah—dibawa oleh seorang anak yang ingin berbagi dengan ibunya.

Ketika pulang, sekotak makanan itu benar-benar ia bawa untuk ibunya, Karsum Singgili. Sang ibu menerima makanan yang sengaja dibawakan anaknya dari sekolah. Sebuah tindakan kecil dari seorang anak yang membuat perjalanan satu kotak makanan terasa lebih panjang daripada sekadar dari sekolah ke rumah.

Kotak yang Tiba di Sekolah

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia datang ke sekolah dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang sudah sarapan sebelum berangkat, ada yang sekadar minum susu, dan ada pula yang menahan lapar hingga waktu istirahat. Seragam mereka mungkin sama, buku pelajaran mereka mungkin sama, tetapi kondisi tubuh yang mereka bawa ke dalam kelas tidak selalu sama.

Di antara anak-anak yang membuka kotak makan dan langsung menyantap isinya, Suleman memilih menyimpannya. Bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena ada yang ingin dibawanya pulang. Satu kotak makanan akhirnya menempuh dua perjalanan yang berbeda: bagi sebagian anak, selesai di meja makan sekolah; bagi Suleman, berlanjut sampai ke rumah dan ke tangan ibunya.

Ketika kotak-kotak makanan itu tiba di sekolah, anak-anak menerima lebih dari sekadar nasi dan lauk. Ada makanan yang segera disantap, ada sayur dan buah yang mulai dikenali, dan ada energi yang dibawa mereka ke dalam kelas. Bagi sebagian anak, mungkin sesederhana itu. Namun di balik kebiasaan makan yang perlahan dibangun, ada harapan agar kesempatan belajar tidak terlalu bergantung pada apa yang tersedia di meja makan di rumah. Di ruang sederhana itulah Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) hadir.

Setahun lebih jumlah dapur pelayanan itu berubah drastis. Dari 190 SPPG pada awal pelaksanaan, menjadi lebih dari 19 ribu. Per 3 Maret 2026, BGN mencatat 61.239.037 penerima manfaat.

Angka-angka itu terus bertambah di atas kertas. Di lapangan, ia berubah menjadi kotak-kotak makanan yang berpindah dari dapur ke sekolah, lalu sampai ke tangan anak-anak. Ada orang tua yang menunggu, guru yang mendampingi, petani dan peternak yang memasok bahan pangan, serta banyak tangan lain yang membuat makanan itu tiba tepat waktu. Di antara jutaan penerima manfaat itu, ada Suleman—seorang anak yang pernah memilih membawa kotak makanannya pulang untuk sang ibu.

Sebelum anak membuka buku, ada hal yang lebih mendasar: tubuhnya harus siap untuk belajar. Ketika perut belum terisi, mengikuti pelajaran bukan perkara mudah. Energi anak berkurang, perhatian mudah terpecah, sementara tubuh tetap membutuhkan asupan untuk tumbuh. Karena itu, makanan yang hadir di sekolah bukan sekadar pengisi waktu makan, tetapi bekal agar anak bisa menjalani hari, belajar, dan tumbuh dengan lebih baik.

Makanan dan pendidikan akhirnya bertemu di ruang kelas. Anak datang membawa buku, tetapi juga membawa tubuh yang membutuhkan energi untuk membaca, berpikir, bermain, dan mengikuti pelajaran.

Menu MBG tidak dirancang hanya untuk membuat perut kenyang. BGN menjelaskan bahwa menu disusun dengan mengacu pada Angka Kecukupan Gizi dan diarahkan untuk memperkuat edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Di sekolah, anak pun berhadapan dengan pelajaran yang tidak selalu tertulis di papan tulis. Ia belajar mengenal makanan yang ada di piringnya: protein, sayur, buah, dan sumber energi. Kotak makanan yang selesai disantap mungkin meninggalkan satu pengetahuan kecil yang dibawa pulang.

Banyak Tangan di Balik Satu Kotak

Sebuah kotak makanan mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk disantap. Sebelum sampai ke tangan seorang anak, makanan di dalamnya telah melewati perjalanan yang lebih panjang.

Beras berasal dari sawah. Telur datang dari peternak. Ikan ditangkap nelayan. Sayuran ditanam dan dipanen. Setelah itu masih ada pedagang, pekerja dapur, pengemudi, dan guru yang memastikan makanan sampai ke sekolah. Seporsi makanan adalah pertemuan banyak tangan.

Ketika bahan pangan MBG melibatkan potensi lokal, perputaran manfaatnya dapat bergerak lebih jauh. Belanja pangan berpotensi menghidupkan produk daerah, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Dari sawah, bahan pangan bergerak ke dapur. Dari dapur, makanan menuju sekolah. Setelah itu, ia sampai ke meja seorang anak. Perjalanannya tampak sederhana. Tetapi di sepanjang jalan itu ada banyak orang yang ikut bekerja.

BGN terus melakukan validasi dan integrasi data penerima manfaat serta memperkuat tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran, dan efektivitas program. Distribusi harus merata. Data harus akurat. Pengelolaan harus transparan. Sisa makanan dan sampah juga perlu diperhatikan. Program yang menjangkau jutaan anak akhirnya bukan hanya soal seberapa besar skalanya, tetapi juga seberapa tepat manfaatnya sampai kepada mereka.

Sebuah kotak makanan tidak berhenti pada saat tutupnya dibuka. Di tangan seorang anak, isinya menjadi tenaga untuk belajar, menjadi pengalaman mengenal makanan yang lebih beragam, dan kadang menjadi sesuatu yang dibawa pulang. Di belakangnya ada meja makan keluarga, ada petani yang menanam, peternak yang memelihara, nelayan yang melaut, dan orang-orang yang memastikan bahan pangan itu sampai ke sekolah.

Dampaknya pun tidak selalu tampak hari itu juga. Anak yang hari ini makan dengan baik belum tentu besok menjadi juara kelas. Anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup belum tentu kelak menjadi ilmuwan. Namun, makanan yang cukup memberi tubuh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menjalani hari dengan lebih baik.

Kotak Kecil, Masa Depan Besar

Gizi yang baik memberi anak kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang. Kelak, kesempatan itu menjadi bagian dari modal manusia yang menggerakkan masyarakat.

Tentu, makanan saja tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan, lingkungan yang sehat, perlindungan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Semua itu pada akhirnya bertemu pada anak-anak yang sedang tumbuh hari ini—di ruang kelas, di meja makan, dan di rumah.

Sebuah kotak makanan pun membawa lebih dari apa yang tersaji di dalamnya. Ada beras dari sawah, telur dari peternak, sayuran dari kebun, hasil laut, serta kerja orang-orang yang mungkin tidak pernah dikenal oleh anak yang menyantapnya. Ada pula perhatian orang tua yang menunggu anak pulang.

Suleman pernah memegang sebuah kotak makanan dan memilih membawanya pulang untuk sang ibu. Kisah itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dilupakan.

Dari sekolah, kotak itu pulang bersama Suleman. Dari meja makan, perjalanan yang lebih panjang baru dimulai: tumbuh, belajar, dan kelak mengambil bagian dalam kehidupan bangsanya. Hari ini, kita mengisi kotak makan. Besok, anak-anak itulah yang akan mengisi masa depan Indonesia. [T]

Tags: Makan Bergizi Gratissekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

Next Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails
Next Post
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co