15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
in Esai
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan di sekolah. Hari itu, 6 Januari 2025, merupakan hari pertama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan. Siswa kelas III SDN 1 Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, itu tidak langsung menyentuh nasi, lauk, sayur, dan buah yang diterimanya. Ia hanya meminum susu, sementara makanan di dalam kotak tetap disimpannya. Suleman ingin membawanya pulang untuk ibunya.

Pagi itu, ia berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di rumahnya tidak ada beras. Kini, di hadapannya ada satu kotak makanan yang bisa dibawa pulang. Di antara teman-temannya yang sedang makan, Suleman memilih menyimpan bagiannya. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya tahu kepada siapa makanan itu ingin diberikan.

Bagi Suleman, makanan itu bukan sesuatu yang perlu segera dihabiskan. Ada seseorang di rumah yang ingin ia ingat ketika menerima kotak tersebut. Pagi itu, sebuah kotak makanan ikut menempuh perjalanan dari sekolah menuju rumah—dibawa oleh seorang anak yang ingin berbagi dengan ibunya.

Ketika pulang, sekotak makanan itu benar-benar ia bawa untuk ibunya, Karsum Singgili. Sang ibu menerima makanan yang sengaja dibawakan anaknya dari sekolah. Sebuah tindakan kecil dari seorang anak yang membuat perjalanan satu kotak makanan terasa lebih panjang daripada sekadar dari sekolah ke rumah.

Kotak yang Tiba di Sekolah

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia datang ke sekolah dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang sudah sarapan sebelum berangkat, ada yang sekadar minum susu, dan ada pula yang menahan lapar hingga waktu istirahat. Seragam mereka mungkin sama, buku pelajaran mereka mungkin sama, tetapi kondisi tubuh yang mereka bawa ke dalam kelas tidak selalu sama.

Di antara anak-anak yang membuka kotak makan dan langsung menyantap isinya, Suleman memilih menyimpannya. Bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena ada yang ingin dibawanya pulang. Satu kotak makanan akhirnya menempuh dua perjalanan yang berbeda: bagi sebagian anak, selesai di meja makan sekolah; bagi Suleman, berlanjut sampai ke rumah dan ke tangan ibunya.

Ketika kotak-kotak makanan itu tiba di sekolah, anak-anak menerima lebih dari sekadar nasi dan lauk. Ada makanan yang segera disantap, ada sayur dan buah yang mulai dikenali, dan ada energi yang dibawa mereka ke dalam kelas. Bagi sebagian anak, mungkin sesederhana itu. Namun di balik kebiasaan makan yang perlahan dibangun, ada harapan agar kesempatan belajar tidak terlalu bergantung pada apa yang tersedia di meja makan di rumah. Di ruang sederhana itulah Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) hadir.

Setahun lebih jumlah dapur pelayanan itu berubah drastis. Dari 190 SPPG pada awal pelaksanaan, menjadi lebih dari 19 ribu. Per 3 Maret 2026, BGN mencatat 61.239.037 penerima manfaat.

Angka-angka itu terus bertambah di atas kertas. Di lapangan, ia berubah menjadi kotak-kotak makanan yang berpindah dari dapur ke sekolah, lalu sampai ke tangan anak-anak. Ada orang tua yang menunggu, guru yang mendampingi, petani dan peternak yang memasok bahan pangan, serta banyak tangan lain yang membuat makanan itu tiba tepat waktu. Di antara jutaan penerima manfaat itu, ada Suleman—seorang anak yang pernah memilih membawa kotak makanannya pulang untuk sang ibu.

Sebelum anak membuka buku, ada hal yang lebih mendasar: tubuhnya harus siap untuk belajar. Ketika perut belum terisi, mengikuti pelajaran bukan perkara mudah. Energi anak berkurang, perhatian mudah terpecah, sementara tubuh tetap membutuhkan asupan untuk tumbuh. Karena itu, makanan yang hadir di sekolah bukan sekadar pengisi waktu makan, tetapi bekal agar anak bisa menjalani hari, belajar, dan tumbuh dengan lebih baik.

Makanan dan pendidikan akhirnya bertemu di ruang kelas. Anak datang membawa buku, tetapi juga membawa tubuh yang membutuhkan energi untuk membaca, berpikir, bermain, dan mengikuti pelajaran.

Menu MBG tidak dirancang hanya untuk membuat perut kenyang. BGN menjelaskan bahwa menu disusun dengan mengacu pada Angka Kecukupan Gizi dan diarahkan untuk memperkuat edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Di sekolah, anak pun berhadapan dengan pelajaran yang tidak selalu tertulis di papan tulis. Ia belajar mengenal makanan yang ada di piringnya: protein, sayur, buah, dan sumber energi. Kotak makanan yang selesai disantap mungkin meninggalkan satu pengetahuan kecil yang dibawa pulang.

Banyak Tangan di Balik Satu Kotak

Sebuah kotak makanan mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk disantap. Sebelum sampai ke tangan seorang anak, makanan di dalamnya telah melewati perjalanan yang lebih panjang.

Beras berasal dari sawah. Telur datang dari peternak. Ikan ditangkap nelayan. Sayuran ditanam dan dipanen. Setelah itu masih ada pedagang, pekerja dapur, pengemudi, dan guru yang memastikan makanan sampai ke sekolah. Seporsi makanan adalah pertemuan banyak tangan.

Ketika bahan pangan MBG melibatkan potensi lokal, perputaran manfaatnya dapat bergerak lebih jauh. Belanja pangan berpotensi menghidupkan produk daerah, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Dari sawah, bahan pangan bergerak ke dapur. Dari dapur, makanan menuju sekolah. Setelah itu, ia sampai ke meja seorang anak. Perjalanannya tampak sederhana. Tetapi di sepanjang jalan itu ada banyak orang yang ikut bekerja.

BGN terus melakukan validasi dan integrasi data penerima manfaat serta memperkuat tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran, dan efektivitas program. Distribusi harus merata. Data harus akurat. Pengelolaan harus transparan. Sisa makanan dan sampah juga perlu diperhatikan. Program yang menjangkau jutaan anak akhirnya bukan hanya soal seberapa besar skalanya, tetapi juga seberapa tepat manfaatnya sampai kepada mereka.

Sebuah kotak makanan tidak berhenti pada saat tutupnya dibuka. Di tangan seorang anak, isinya menjadi tenaga untuk belajar, menjadi pengalaman mengenal makanan yang lebih beragam, dan kadang menjadi sesuatu yang dibawa pulang. Di belakangnya ada meja makan keluarga, ada petani yang menanam, peternak yang memelihara, nelayan yang melaut, dan orang-orang yang memastikan bahan pangan itu sampai ke sekolah.

Dampaknya pun tidak selalu tampak hari itu juga. Anak yang hari ini makan dengan baik belum tentu besok menjadi juara kelas. Anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup belum tentu kelak menjadi ilmuwan. Namun, makanan yang cukup memberi tubuh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menjalani hari dengan lebih baik.

Kotak Kecil, Masa Depan Besar

Gizi yang baik memberi anak kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang. Kelak, kesempatan itu menjadi bagian dari modal manusia yang menggerakkan masyarakat.

Tentu, makanan saja tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan, lingkungan yang sehat, perlindungan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Semua itu pada akhirnya bertemu pada anak-anak yang sedang tumbuh hari ini—di ruang kelas, di meja makan, dan di rumah.

Sebuah kotak makanan pun membawa lebih dari apa yang tersaji di dalamnya. Ada beras dari sawah, telur dari peternak, sayuran dari kebun, hasil laut, serta kerja orang-orang yang mungkin tidak pernah dikenal oleh anak yang menyantapnya. Ada pula perhatian orang tua yang menunggu anak pulang.

Suleman pernah memegang sebuah kotak makanan dan memilih membawanya pulang untuk sang ibu. Kisah itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dilupakan.

Dari sekolah, kotak itu pulang bersama Suleman. Dari meja makan, perjalanan yang lebih panjang baru dimulai: tumbuh, belajar, dan kelak mengambil bagian dalam kehidupan bangsanya. Hari ini, kita mengisi kotak makan. Besok, anak-anak itulah yang akan mengisi masa depan Indonesia. [T]

Tags: Makan Bergizi Gratissekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

Next Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co