4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
in Esai
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan di sekolah. Hari itu, 6 Januari 2025, merupakan hari pertama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan. Siswa kelas III SDN 1 Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, itu tidak langsung menyentuh nasi, lauk, sayur, dan buah yang diterimanya. Ia hanya meminum susu, sementara makanan di dalam kotak tetap disimpannya. Suleman ingin membawanya pulang untuk ibunya.

Pagi itu, ia berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di rumahnya tidak ada beras. Kini, di hadapannya ada satu kotak makanan yang bisa dibawa pulang. Di antara teman-temannya yang sedang makan, Suleman memilih menyimpan bagiannya. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya tahu kepada siapa makanan itu ingin diberikan.

Bagi Suleman, makanan itu bukan sesuatu yang perlu segera dihabiskan. Ada seseorang di rumah yang ingin ia ingat ketika menerima kotak tersebut. Pagi itu, sebuah kotak makanan ikut menempuh perjalanan dari sekolah menuju rumah—dibawa oleh seorang anak yang ingin berbagi dengan ibunya.

Ketika pulang, sekotak makanan itu benar-benar ia bawa untuk ibunya, Karsum Singgili. Sang ibu menerima makanan yang sengaja dibawakan anaknya dari sekolah. Sebuah tindakan kecil dari seorang anak yang membuat perjalanan satu kotak makanan terasa lebih panjang daripada sekadar dari sekolah ke rumah.

Kotak yang Tiba di Sekolah

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia datang ke sekolah dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang sudah sarapan sebelum berangkat, ada yang sekadar minum susu, dan ada pula yang menahan lapar hingga waktu istirahat. Seragam mereka mungkin sama, buku pelajaran mereka mungkin sama, tetapi kondisi tubuh yang mereka bawa ke dalam kelas tidak selalu sama.

Di antara anak-anak yang membuka kotak makan dan langsung menyantap isinya, Suleman memilih menyimpannya. Bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena ada yang ingin dibawanya pulang. Satu kotak makanan akhirnya menempuh dua perjalanan yang berbeda: bagi sebagian anak, selesai di meja makan sekolah; bagi Suleman, berlanjut sampai ke rumah dan ke tangan ibunya.

Ketika kotak-kotak makanan itu tiba di sekolah, anak-anak menerima lebih dari sekadar nasi dan lauk. Ada makanan yang segera disantap, ada sayur dan buah yang mulai dikenali, dan ada energi yang dibawa mereka ke dalam kelas. Bagi sebagian anak, mungkin sesederhana itu. Namun di balik kebiasaan makan yang perlahan dibangun, ada harapan agar kesempatan belajar tidak terlalu bergantung pada apa yang tersedia di meja makan di rumah. Di ruang sederhana itulah Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) hadir.

Setahun lebih jumlah dapur pelayanan itu berubah drastis. Dari 190 SPPG pada awal pelaksanaan, menjadi lebih dari 19 ribu. Per 3 Maret 2026, BGN mencatat 61.239.037 penerima manfaat.

Angka-angka itu terus bertambah di atas kertas. Di lapangan, ia berubah menjadi kotak-kotak makanan yang berpindah dari dapur ke sekolah, lalu sampai ke tangan anak-anak. Ada orang tua yang menunggu, guru yang mendampingi, petani dan peternak yang memasok bahan pangan, serta banyak tangan lain yang membuat makanan itu tiba tepat waktu. Di antara jutaan penerima manfaat itu, ada Suleman—seorang anak yang pernah memilih membawa kotak makanannya pulang untuk sang ibu.

Sebelum anak membuka buku, ada hal yang lebih mendasar: tubuhnya harus siap untuk belajar. Ketika perut belum terisi, mengikuti pelajaran bukan perkara mudah. Energi anak berkurang, perhatian mudah terpecah, sementara tubuh tetap membutuhkan asupan untuk tumbuh. Karena itu, makanan yang hadir di sekolah bukan sekadar pengisi waktu makan, tetapi bekal agar anak bisa menjalani hari, belajar, dan tumbuh dengan lebih baik.

Makanan dan pendidikan akhirnya bertemu di ruang kelas. Anak datang membawa buku, tetapi juga membawa tubuh yang membutuhkan energi untuk membaca, berpikir, bermain, dan mengikuti pelajaran.

Menu MBG tidak dirancang hanya untuk membuat perut kenyang. BGN menjelaskan bahwa menu disusun dengan mengacu pada Angka Kecukupan Gizi dan diarahkan untuk memperkuat edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Di sekolah, anak pun berhadapan dengan pelajaran yang tidak selalu tertulis di papan tulis. Ia belajar mengenal makanan yang ada di piringnya: protein, sayur, buah, dan sumber energi. Kotak makanan yang selesai disantap mungkin meninggalkan satu pengetahuan kecil yang dibawa pulang.

Banyak Tangan di Balik Satu Kotak

Sebuah kotak makanan mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk disantap. Sebelum sampai ke tangan seorang anak, makanan di dalamnya telah melewati perjalanan yang lebih panjang.

Beras berasal dari sawah. Telur datang dari peternak. Ikan ditangkap nelayan. Sayuran ditanam dan dipanen. Setelah itu masih ada pedagang, pekerja dapur, pengemudi, dan guru yang memastikan makanan sampai ke sekolah. Seporsi makanan adalah pertemuan banyak tangan.

Ketika bahan pangan MBG melibatkan potensi lokal, perputaran manfaatnya dapat bergerak lebih jauh. Belanja pangan berpotensi menghidupkan produk daerah, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Dari sawah, bahan pangan bergerak ke dapur. Dari dapur, makanan menuju sekolah. Setelah itu, ia sampai ke meja seorang anak. Perjalanannya tampak sederhana. Tetapi di sepanjang jalan itu ada banyak orang yang ikut bekerja.

BGN terus melakukan validasi dan integrasi data penerima manfaat serta memperkuat tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran, dan efektivitas program. Distribusi harus merata. Data harus akurat. Pengelolaan harus transparan. Sisa makanan dan sampah juga perlu diperhatikan. Program yang menjangkau jutaan anak akhirnya bukan hanya soal seberapa besar skalanya, tetapi juga seberapa tepat manfaatnya sampai kepada mereka.

Sebuah kotak makanan tidak berhenti pada saat tutupnya dibuka. Di tangan seorang anak, isinya menjadi tenaga untuk belajar, menjadi pengalaman mengenal makanan yang lebih beragam, dan kadang menjadi sesuatu yang dibawa pulang. Di belakangnya ada meja makan keluarga, ada petani yang menanam, peternak yang memelihara, nelayan yang melaut, dan orang-orang yang memastikan bahan pangan itu sampai ke sekolah.

Dampaknya pun tidak selalu tampak hari itu juga. Anak yang hari ini makan dengan baik belum tentu besok menjadi juara kelas. Anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup belum tentu kelak menjadi ilmuwan. Namun, makanan yang cukup memberi tubuh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menjalani hari dengan lebih baik.

Kotak Kecil, Masa Depan Besar

Gizi yang baik memberi anak kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang. Kelak, kesempatan itu menjadi bagian dari modal manusia yang menggerakkan masyarakat.

Tentu, makanan saja tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan, lingkungan yang sehat, perlindungan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Semua itu pada akhirnya bertemu pada anak-anak yang sedang tumbuh hari ini—di ruang kelas, di meja makan, dan di rumah.

Sebuah kotak makanan pun membawa lebih dari apa yang tersaji di dalamnya. Ada beras dari sawah, telur dari peternak, sayuran dari kebun, hasil laut, serta kerja orang-orang yang mungkin tidak pernah dikenal oleh anak yang menyantapnya. Ada pula perhatian orang tua yang menunggu anak pulang.

Suleman pernah memegang sebuah kotak makanan dan memilih membawanya pulang untuk sang ibu. Kisah itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dilupakan.

Dari sekolah, kotak itu pulang bersama Suleman. Dari meja makan, perjalanan yang lebih panjang baru dimulai: tumbuh, belajar, dan kelak mengambil bagian dalam kehidupan bangsanya. Hari ini, kita mengisi kotak makan. Besok, anak-anak itulah yang akan mengisi masa depan Indonesia. [T]

Tags: Makan Bergizi Gratissekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

Next Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co