30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 24, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan, bahwa selama bertahun-tahun, sastra Indonesia terpaksa mengemban beban yang bukan sepenuhnya miliknya.

Judul itu menyimpan pertanyaan yang relevan untuk hari ini: ketika jurnalisme akhirnya bebas berbicara, apa yang terjadi pada sastra? Apakah ia kembali menjadi dirinya sendiri, atau justru masuk ke dalam persoalan baru yang sama sekali berbeda sifatnya? Jawaban atas pertanyaan itu tidak datang sekaligus. Ia tidak datang dalam bentuk ancaman. Ia datang dalam bentuk kebebasan.

Pencabutan regulasi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers pada masa pemerintahan B.J. Habibie membuka pintu yang selama tiga dekade lebih terkunci rapat. Media baru bermunculan. Radio independen mengudara. Ruang komunikasi publik Indonesia, yang selama puluhan tahun dikelola dengan ketat oleh negara, tiba-tiba menjadi arena terbuka tanpa ada yang benar-benar siap mengelolanya.

Bagi dunia sastra, ini terasa seperti napas panjang setelah menyelam terlalu dalam. Pramoedya Ananta Toer adalah simbol paling gamblang dari apa yang selama ini dipendam. Bumi Manusia, yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980 dan sempat dicetak ulang sepuluh kali dalam setahun sebelum akhirnya dilarang beredar oleh Jaksa Agung pada 1981, kini bisa dibaca secara terbuka.

Pada 2005, novel itu diterbitkan kembali oleh Lentera Dipantara. Kehadirannya tidak lagi sebagai karya bawah tanah yang harus disembunyikan, melainkan sebagai perayaan yang resmi dan terbuka atas sesuatu yang dulu dianggap luka. Buku yang selama puluhan tahun hanya berpindah tangan secara diam-diam akhirnya bisa berdiri di rak toko buku tanpa risiko memenjarakan siapa pun yang menyentuhnya.

Kebebasan itu nyata. Dan karena nyata, ia layak dirayakan. Tetapi di balik pintu yang terbuka untuk para penulis, masuk pula sesuatu yang tidak diperhitungkan dalam perjuangan politik 1998: publik yang baru, dengan selera yang belum pernah terbaca sebelumnya, dan ekosistem perhatian yang belum pernah ada dalam skala seperti itu.

Selama Orde Baru, ruang publik Indonesia terkontrol tidak hanya secara politik tetapi juga secara budaya. Akses terhadap media terbatas. Pilihan bacaan terbatas. Dalam keterbatasan itu, sastra memiliki semacam ruang terlindung di balik tekanan rezim. Ruang yang hanya dipahami pembacanya, mereka yang memang mencari kedalaman makna, yang terbiasa duduk bersama teks yang menuntut kesabaran.

 Majalah Horison, yang terbit sejak 1966, menjadi salah satu ruang utama tempat sastra Indonesia bernapas dan berdebat, tempat nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri membentuk percakapan estetik yang berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Di halaman-halaman Horison pula kritik sastra Indonesia memiliki tempat yang tidak ditentukan oleh selera pasar, melainkan oleh pertimbangan estetik yang bisa dipercaya secara intelektual.

Ketika pintu itu terbuka, yang berubah bukan hanya siapa yang boleh berbicara, tapi juga siapa yang mendengarkan, dan bagaimana cara mereka mendengarkan.

Ledakan media pascareformasi membawa serta logika sensasi, logika kecepatan, logika sirkulasi. Media harian membutuhkan berita yang dapat dikonsumsi cepat. Majalah mingguan atau bulanan bersaing memperebutkan pembaca, mereka butuh sampul yang langsung menarik perhatian di kios. Dalam ekosistem semacam itu, karya yang membutuhkan pembaca untuk tinggal lebih lama, berpikir lebih keras, atau kembali membaca ulang, mulai menghadapi tekanan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Sastra masuk ke dalam ekosistem ini tanpa banyak persiapan.

Ironi terbesar dari periode ini mungkin bukan apa yang dilarang, melainkan apa yang terjadi pada institusi-institusi yang sebelumnya menjadi benteng percakapan estetik. Horison berhenti terbit pada 2002, hanya empat tahun setelah Reformasi. Kalam, jurnal kebudayaan yang sempat menjadi tempat esai-esai penting dipertukarkan, juga mengakhiri perjalanannya tidak lama kemudian. Keduanya tidak dibungkam oleh negara. Mereka kalah bersaing dalam ekosistem baru yang tidak dirancang untuk percakapan yang lambat dan mendalam.

Sebagai gantinya, bukan satu institusi baru yang lebih kuat, tapi rubrik sastra di koran-koran, biasanya terbit akhir pekan. Rubrik-rubrik sastra ini harus bersaing halaman dengan berita politik dan ekonomi. Lalu datang blog sastra di awal 2000-an semacam  Multiply, Blogspot, dan kemudian WordPress menjadi tempat puisi dan cerpen diunggah tanpa penyunting, tanpa proses seleksi, dan tanpa percakapan kritis yang terstruktur. Energinya segar, tapi kurasinya kering.

Maka, kebebasan yang datang sejak Reformasi itu sesungguhnya untuk siapa? Dan dengan harga apa? Bagi penulis yang selama ini dibekap sensor, jawabannya tampak jelas: kebebasan untuk semua, tanpa harga. Tapi kebebasan di dalam pasar tidak pernah benar-benar tanpa harga. Ia selalu datang bersama tekanan yang menggantikan tekanan lama: bukan lagi negara yang melarang, melainkan pasar yang memilih. Bukan lagi sensor yang membredel, melainkan selera yang mengabaikan.

Dalam banyak hal, pengabaian jauh lebih efektif dari pembredelan. Pembredelan menciptakan martir. Ia memberi penulis musuh yang dapat dilawan secara terbuka, posisi moral yang jelas, dan dalam beberapa kasus, nama besar yang tidak akan pernah diperoleh jika karya itu dibiarkan beredar dan dilupakan begitu saja.

Ketika Jaksa Agung di era Orde Baru menerbitkan surat keputusan yang melarang Bumi Manusia, ia tanpa sadar menjamin bahwa novel itu akan terus dicari, disembunyikan, dan dibaca dengan cara yang justru mengangkat nilainya, melampaui batas yang bisa dijangkau distribusi biasa. Sensor, paradoksnya, sering kali adalah mesin kanonisasi yang paling efisien.

Pengabaian tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak meninggalkan bekas yang bisa ditunjuk. Ia hanya membiarkan karya yang tidak kompatibel dengan selera pasar perlahan tenggelam dalam kebisingan yang terus bertambah volumenya. Tidak ada yang bisa digugat. Tidak ada yang bisa dijadikan simbol perlawanan.

Sastra Indonesia mendapatkan lebih banyak ruang, lebih banyak pembaca, lebih banyak penulis, lebih banyak judul yang terbit. Semua angka bergerak ke atas. Tetapi di dalam keramaian yang tumbuh itu, diam-diam mulai terbentuk hierarki baru yang tidak ditentukan oleh negara, melainkan oleh pasar: karya mana yang layak beredar, suara mana yang layak didengar, tema mana yang layak dibicarakan.

Hierarki itu tidak ditulis di mana-mana. Tidak ada surat keputusan yang menandatanganinya. Ia terbentuk dari akumulasi keputusan kecil yang semuanya tampak masuk akal: penerbit yang memilih naskah yang lebih mudah dijual, redaktur yang memendekkan esai agar muat di halaman yang tersedia, pembaca yang memilih bacaan yang lebih ringan karena pilihan yang tersedia tiba-tiba sangat banyak.

Sensor Orde Baru bekerja secara vertikal: negara di atas, sastra di bawah, dengan garis kekuasaan yang jelas dan dapat dilawan. Sementara mekanisme baru yang terbentuk setelah 1998 bekerja secara horizontal dan tersebar. Tidak ada satu titik kekuasaan yang dapat ditunjuk, tidak ada satu keputusan yang dapat digugat, tidak ada satu wajah yang dapat dihujat.

Pagar lama memang sudah runtuh. Di atas reruntuhan itu, segera berdiri ekosistem baru yang jauh lebih ramai, jauh lebih bebas, dan jauh lebih sulit dibaca arah kekuasaannya. Inilah ekosistem yang tidak lama kemudian akan melahirkan gelombang pertama yang menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana pasar perhatian mulai mendidik selera sastra Indonesia.[T] [Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Next Post

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co