19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 19, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan, bahwa selama bertahun-tahun, sastra Indonesia terpaksa mengemban beban yang bukan sepenuhnya miliknya.

Judul itu menyimpan pertanyaan yang relevan untuk hari ini: ketika jurnalisme akhirnya bebas berbicara, apa yang terjadi pada sastra? Apakah ia kembali menjadi dirinya sendiri, atau justru masuk ke dalam persoalan baru yang sama sekali berbeda sifatnya? Jawaban atas pertanyaan itu tidak datang sekaligus. Ia tidak datang dalam bentuk ancaman. Ia datang dalam bentuk kebebasan.

Pencabutan regulasi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers pada masa pemerintahan B.J. Habibie membuka pintu yang selama tiga dekade lebih terkunci rapat. Media baru bermunculan. Radio independen mengudara. Ruang komunikasi publik Indonesia, yang selama puluhan tahun dikelola dengan ketat oleh negara, tiba-tiba menjadi arena terbuka tanpa ada yang benar-benar siap mengelolanya.

Bagi dunia sastra, ini terasa seperti napas panjang setelah menyelam terlalu dalam. Pramoedya Ananta Toer adalah simbol paling gamblang dari apa yang selama ini dipendam. Bumi Manusia, yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980 dan sempat dicetak ulang sepuluh kali dalam setahun sebelum akhirnya dilarang beredar oleh Jaksa Agung pada 1981, kini bisa dibaca secara terbuka.

Pada 2005, novel itu diterbitkan kembali oleh Lentera Dipantara. Kehadirannya tidak lagi sebagai karya bawah tanah yang harus disembunyikan, melainkan sebagai perayaan yang resmi dan terbuka atas sesuatu yang dulu dianggap luka. Buku yang selama puluhan tahun hanya berpindah tangan secara diam-diam akhirnya bisa berdiri di rak toko buku tanpa risiko memenjarakan siapa pun yang menyentuhnya.

Kebebasan itu nyata. Dan karena nyata, ia layak dirayakan. Tetapi di balik pintu yang terbuka untuk para penulis, masuk pula sesuatu yang tidak diperhitungkan dalam perjuangan politik 1998: publik yang baru, dengan selera yang belum pernah terbaca sebelumnya, dan ekosistem perhatian yang belum pernah ada dalam skala seperti itu.

Selama Orde Baru, ruang publik Indonesia terkontrol tidak hanya secara politik tetapi juga secara budaya. Akses terhadap media terbatas. Pilihan bacaan terbatas. Dalam keterbatasan itu, sastra memiliki semacam ruang terlindung di balik tekanan rezim. Ruang yang hanya dipahami pembacanya, mereka yang memang mencari kedalaman makna, yang terbiasa duduk bersama teks yang menuntut kesabaran.

 Majalah Horison, yang terbit sejak 1966, menjadi salah satu ruang utama tempat sastra Indonesia bernapas dan berdebat, tempat nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri membentuk percakapan estetik yang berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Di halaman-halaman Horison pula kritik sastra Indonesia memiliki tempat yang tidak ditentukan oleh selera pasar, melainkan oleh pertimbangan estetik yang bisa dipercaya secara intelektual.

Ketika pintu itu terbuka, yang berubah bukan hanya siapa yang boleh berbicara, tapi juga siapa yang mendengarkan, dan bagaimana cara mereka mendengarkan.

Ledakan media pascareformasi membawa serta logika sensasi, logika kecepatan, logika sirkulasi. Media harian membutuhkan berita yang dapat dikonsumsi cepat. Majalah mingguan atau bulanan bersaing memperebutkan pembaca, mereka butuh sampul yang langsung menarik perhatian di kios. Dalam ekosistem semacam itu, karya yang membutuhkan pembaca untuk tinggal lebih lama, berpikir lebih keras, atau kembali membaca ulang, mulai menghadapi tekanan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Sastra masuk ke dalam ekosistem ini tanpa banyak persiapan.

Ironi terbesar dari periode ini mungkin bukan apa yang dilarang, melainkan apa yang terjadi pada institusi-institusi yang sebelumnya menjadi benteng percakapan estetik. Horison berhenti terbit pada 2002, hanya empat tahun setelah Reformasi. Kalam, jurnal kebudayaan yang sempat menjadi tempat esai-esai penting dipertukarkan, juga mengakhiri perjalanannya tidak lama kemudian. Keduanya tidak dibungkam oleh negara. Mereka kalah bersaing dalam ekosistem baru yang tidak dirancang untuk percakapan yang lambat dan mendalam.

Sebagai gantinya, bukan satu institusi baru yang lebih kuat, tapi rubrik sastra di koran-koran, biasanya terbit akhir pekan. Rubrik-rubrik sastra ini harus bersaing halaman dengan berita politik dan ekonomi. Lalu datang blog sastra di awal 2000-an semacam  Multiply, Blogspot, dan kemudian WordPress menjadi tempat puisi dan cerpen diunggah tanpa penyunting, tanpa proses seleksi, dan tanpa percakapan kritis yang terstruktur. Energinya segar, tapi kurasinya kering.

Maka, kebebasan yang datang sejak Reformasi itu sesungguhnya untuk siapa? Dan dengan harga apa? Bagi penulis yang selama ini dibekap sensor, jawabannya tampak jelas: kebebasan untuk semua, tanpa harga. Tapi kebebasan di dalam pasar tidak pernah benar-benar tanpa harga. Ia selalu datang bersama tekanan yang menggantikan tekanan lama: bukan lagi negara yang melarang, melainkan pasar yang memilih. Bukan lagi sensor yang membredel, melainkan selera yang mengabaikan.

Dalam banyak hal, pengabaian jauh lebih efektif dari pembredelan. Pembredelan menciptakan martir. Ia memberi penulis musuh yang dapat dilawan secara terbuka, posisi moral yang jelas, dan dalam beberapa kasus, nama besar yang tidak akan pernah diperoleh jika karya itu dibiarkan beredar dan dilupakan begitu saja.

Ketika Jaksa Agung di era Orde Baru menerbitkan surat keputusan yang melarang Bumi Manusia, ia tanpa sadar menjamin bahwa novel itu akan terus dicari, disembunyikan, dan dibaca dengan cara yang justru mengangkat nilainya, melampaui batas yang bisa dijangkau distribusi biasa. Sensor, paradoksnya, sering kali adalah mesin kanonisasi yang paling efisien.

Pengabaian tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak meninggalkan bekas yang bisa ditunjuk. Ia hanya membiarkan karya yang tidak kompatibel dengan selera pasar perlahan tenggelam dalam kebisingan yang terus bertambah volumenya. Tidak ada yang bisa digugat. Tidak ada yang bisa dijadikan simbol perlawanan.

Sastra Indonesia mendapatkan lebih banyak ruang, lebih banyak pembaca, lebih banyak penulis, lebih banyak judul yang terbit. Semua angka bergerak ke atas. Tetapi di dalam keramaian yang tumbuh itu, diam-diam mulai terbentuk hierarki baru yang tidak ditentukan oleh negara, melainkan oleh pasar: karya mana yang layak beredar, suara mana yang layak didengar, tema mana yang layak dibicarakan.

Hierarki itu tidak ditulis di mana-mana. Tidak ada surat keputusan yang menandatanganinya. Ia terbentuk dari akumulasi keputusan kecil yang semuanya tampak masuk akal: penerbit yang memilih naskah yang lebih mudah dijual, redaktur yang memendekkan esai agar muat di halaman yang tersedia, pembaca yang memilih bacaan yang lebih ringan karena pilihan yang tersedia tiba-tiba sangat banyak.

Sensor Orde Baru bekerja secara vertikal: negara di atas, sastra di bawah, dengan garis kekuasaan yang jelas dan dapat dilawan. Sementara mekanisme baru yang terbentuk setelah 1998 bekerja secara horizontal dan tersebar. Tidak ada satu titik kekuasaan yang dapat ditunjuk, tidak ada satu keputusan yang dapat digugat, tidak ada satu wajah yang dapat dihujat.

Pagar lama memang sudah runtuh. Di atas reruntuhan itu, segera berdiri ekosistem baru yang jauh lebih ramai, jauh lebih bebas, dan jauh lebih sulit dibaca arah kekuasaannya. Inilah ekosistem yang tidak lama kemudian akan melahirkan gelombang pertama yang menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana pasar perhatian mulai mendidik selera sastra Indonesia.[T] [Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Next Post

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 19, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026
Merawat Warisan Budaya Kolonial…
Esai

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

by Pande Susan
August 19, 2026
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co