20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

“Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai.”
— Franky Sahilatua

Ada negeri yang sejak kecil diajarkan kepada anak-anaknya sebagai negeri paling kaya di dunia. Di sekolah dasar, mereka menghafal bahwa tanahnya subur, lautnya luas, hutannya lebat, gunungnya penuh mineral, dan rakyatnya ramah. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup di negeri demikian semestinya sama mudahnya dengan memetik mangga di halaman rumah.

Sayangnya, setelah dewasa, mereka mendapati bahwa yang mudah dipetik justru pajak, utang, dan cicilan. Sedangkan kemakmuran masih menjadi barang antik yang dipajang dalam pidato-pidato.

Indonesia adalah negeri yang sejak dahulu dipuji sebagai gemah ripah loh jinawi. Sebuah ungkapan yang menggambarkan tanah yang makmur, tentram, dan serba berlimpah. Leluhur kita membayangkan masyarakat yang tata tentrem karta raharja. Bung Karno bahkan menjadikan impian itu sebagai semangat pembebasan dari penjajahan. Kemerdekaan, menurutnya, bukan sekadar mengusir bangsa asing, melainkan membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Namun delapan puluh satu tahun setelah merdeka, kita masih seperti tamu di rumah sendiri. Tanah kita luas, tetapi petani semakin sempit lahannya. Laut kita luas, tetapi nelayan justru kesulitan membeli solar. Gunung-gunung kita penuh nikel, emas, batu bara, dan tembaga, tetapi sebagian besar rakyat tetap sibuk menghitung harga cabai dan beras setiap pagi.

Barangkali memang ada yang salah dengan rumus kekayaan negeri ini. Sebab ternyata, kaya sumber daya alam tidak otomatis berarti kaya rakyatnya; yang kaya kadang-kadang justru laporan pertumbuhan ekonomi, sementara isi dompet rakyat tumbuh dengan sangat sopan, sampai-sampai nyaris tak terlihat.

Setiap kali harga pangan naik, penjelasannya hampir selalu sama. Cuaca. El Nino. La Nina. Distribusi. Perubahan iklim. Seolah-olah cabai dan beras memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan atmosfer. Anehnya, mafia pangan jarang disebut sebagai cuaca buruk. Padahal pengaruhnya terhadap harga kadang lebih dahsyat daripada kemarau panjang.

Negeri ini mempunyai sawah, petani, sungai, dan hujan. Tetapi beras masih harus datang dari kapal-kapal impor. Kita mempunyai ribuan kilometer garis pantai, tetapi garam masih didatangkan dari luar negeri. Kita memiliki jutaan hektare perkebunan, tetapi gula juga kerap diimpor. Kadang-kadang rakyat bertanya dengan polos: sebenarnya yang kurang itu tanahnya atau keberpihakannya?

Lucunya, bangsa ini tidak pernah kekurangan seminar tentang ketahanan pangan. Hotel-hotel berbintang penuh dengan diskusi mengenai swasembada. Makanan prasmanan berjejer rapi, sementara petani yang menjadi objek pembahasan mungkin sedang menghitung harga pupuk yang semakin tidak bersahabat.

Barangkali ketahanan pangan memang lebih mudah dibicarakan daripada diwujudkan.

                                                               ***

Sementara itu, desa-desa berubah wajah. Sawah perlahan menjadi perumahan, vila, gudang, atau kawasan industri. Anak-anak muda pergi ke kota membawa ijazah dan harapan. Mereka meninggalkan cangkul demi seragam kantor. Sebagian berhasil, sebagian menjadi pengemudi ojek daring, sebagian lagi bekerja dari pagi hingga malam untuk membayar kamar kontrakan yang luasnya tidak lebih besar dari kandang kambing milik kakeknya di kampung.

Ironisnya, orang kota justru berbondong-bondong mencari ketenangan ke desa. Mereka membangun vila, membeli tanah, lalu mengunggah foto matahari terbit dengan tagar healing. Desa menjadi tempat rekreasi bagi mereka yang lelah dengan kota, sementara penduduk asli desa pergi ke kota karena lelah menjadi miskin.

Desa dimiliki orang kota, kota dipenuhi orang desa. Seperti syair Franky Sahilatua, semua tumbuh dan gelisah.

Di era media sosial, kegelisahan itu memperoleh panggung baru. Rakyat yang kesulitan membeli kebutuhan pokok masih sempat menyaksikan para pejabat berdebat di layar gawai. Mereka bertengkar mengenai angka, statistik, dan klaim keberhasilan, sementara ibu-ibu di pasar memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana untuk menilai keadaan negara: harga minyak goreng dan beras.

Di republik ini, kadang-kadang pencitraan bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Video pendek tentang keberhasilan lebih mudah diproduksi dibanding memperbaiki irigasi. Slogan lebih murah daripada pupuk. Tagar lebih cepat viral dibanding pembangunan lumbung pangan.

Mungkin itulah sebabnya bangsa ini sangat kaya akan optimisme, tetapi sering kekurangan kepastian. Kita memiliki proyek-proyek raksasa yang menjulang tinggi, tetapi masih ada anak-anak yang sarapannya teh manis. Kita bangga pada hilirisasi dan digitalisasi, tetapi petani masih bergantung pada tengkulak. Kita berbicara mengenai kecerdasan buatan, sementara sebagian rakyat masih harus cerdas mengatur utang di warung.

Semua tampak bergerak maju, tetapi tidak semua ikut berjalan bersama. Padahal tujuan sebuah negara sesungguhnya sederhana. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan rakyatnya tidak lapar, tidak menganggur, dan tidak kehilangan martabat. Sebab kemajuan bukanlah tentang seberapa tinggi gedung dibangun, melainkan seberapa sedikit orang yang tidur dengan perut kosong.

Barangkali kita memang bukan negeri miskin. Kita hanya terlalu sering salah mengartikan kekayaan. Kita mengira kekayaan berada di perut bumi, padahal kekayaan sejati berada pada kemampuan menghadirkan keadilan bagi manusia yang hidup di atasnya.

Mungkin itulah mengapa lagu Franky Sahilatua tidak pernah benar-benar tua. Sebab hingga hari ini, kita masih melihat mata air yang jernih, tetapi sungainya menghilang di tengah perjalanan.

Airnya tetap mengalir. Tanahnya tetap subur. Lautnya tetap luas. Hanya saja, entah mengapa, kemakmuran selalu seperti tamu yang tersesat alamat.

Dan rakyat, seperti biasa, tetap diminta bersabar. Padahal mereka sudah bersabar sejak Indonesia masih hitam putih. Mungkin suatu hari, mata air itu akan menemukan sungainya kembali. Atau jangan-jangan, sungainya memang sudah lama dijual, disewakan, atau diprivatisasi, sementara kita masih sibuk menyanyikan lagu tentang negeri yang katanya tongkat dan batu jadi tanaman.

Sebab di negeri yang sangat kaya ini, yang paling langka ternyata bukan emas, bukan minyak, bukan nikel. Melainkan keadilan.

Dan tanpa keadilan, gemah ripah loh jinawi hanyalah puisi yang indah untuk dibacakan pada upacara, tetapi terlalu jauh untuk dirasakan oleh rakyatnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Next Post

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co