19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

“Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai.”
— Franky Sahilatua

Ada negeri yang sejak kecil diajarkan kepada anak-anaknya sebagai negeri paling kaya di dunia. Di sekolah dasar, mereka menghafal bahwa tanahnya subur, lautnya luas, hutannya lebat, gunungnya penuh mineral, dan rakyatnya ramah. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup di negeri demikian semestinya sama mudahnya dengan memetik mangga di halaman rumah.

Sayangnya, setelah dewasa, mereka mendapati bahwa yang mudah dipetik justru pajak, utang, dan cicilan. Sedangkan kemakmuran masih menjadi barang antik yang dipajang dalam pidato-pidato.

Indonesia adalah negeri yang sejak dahulu dipuji sebagai gemah ripah loh jinawi. Sebuah ungkapan yang menggambarkan tanah yang makmur, tentram, dan serba berlimpah. Leluhur kita membayangkan masyarakat yang tata tentrem karta raharja. Bung Karno bahkan menjadikan impian itu sebagai semangat pembebasan dari penjajahan. Kemerdekaan, menurutnya, bukan sekadar mengusir bangsa asing, melainkan membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Namun delapan puluh satu tahun setelah merdeka, kita masih seperti tamu di rumah sendiri. Tanah kita luas, tetapi petani semakin sempit lahannya. Laut kita luas, tetapi nelayan justru kesulitan membeli solar. Gunung-gunung kita penuh nikel, emas, batu bara, dan tembaga, tetapi sebagian besar rakyat tetap sibuk menghitung harga cabai dan beras setiap pagi.

Barangkali memang ada yang salah dengan rumus kekayaan negeri ini. Sebab ternyata, kaya sumber daya alam tidak otomatis berarti kaya rakyatnya; yang kaya kadang-kadang justru laporan pertumbuhan ekonomi, sementara isi dompet rakyat tumbuh dengan sangat sopan, sampai-sampai nyaris tak terlihat.

Setiap kali harga pangan naik, penjelasannya hampir selalu sama. Cuaca. El Nino. La Nina. Distribusi. Perubahan iklim. Seolah-olah cabai dan beras memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan atmosfer. Anehnya, mafia pangan jarang disebut sebagai cuaca buruk. Padahal pengaruhnya terhadap harga kadang lebih dahsyat daripada kemarau panjang.

Negeri ini mempunyai sawah, petani, sungai, dan hujan. Tetapi beras masih harus datang dari kapal-kapal impor. Kita mempunyai ribuan kilometer garis pantai, tetapi garam masih didatangkan dari luar negeri. Kita memiliki jutaan hektare perkebunan, tetapi gula juga kerap diimpor. Kadang-kadang rakyat bertanya dengan polos: sebenarnya yang kurang itu tanahnya atau keberpihakannya?

Lucunya, bangsa ini tidak pernah kekurangan seminar tentang ketahanan pangan. Hotel-hotel berbintang penuh dengan diskusi mengenai swasembada. Makanan prasmanan berjejer rapi, sementara petani yang menjadi objek pembahasan mungkin sedang menghitung harga pupuk yang semakin tidak bersahabat.

Barangkali ketahanan pangan memang lebih mudah dibicarakan daripada diwujudkan.

                                                               ***

Sementara itu, desa-desa berubah wajah. Sawah perlahan menjadi perumahan, vila, gudang, atau kawasan industri. Anak-anak muda pergi ke kota membawa ijazah dan harapan. Mereka meninggalkan cangkul demi seragam kantor. Sebagian berhasil, sebagian menjadi pengemudi ojek daring, sebagian lagi bekerja dari pagi hingga malam untuk membayar kamar kontrakan yang luasnya tidak lebih besar dari kandang kambing milik kakeknya di kampung.

Ironisnya, orang kota justru berbondong-bondong mencari ketenangan ke desa. Mereka membangun vila, membeli tanah, lalu mengunggah foto matahari terbit dengan tagar healing. Desa menjadi tempat rekreasi bagi mereka yang lelah dengan kota, sementara penduduk asli desa pergi ke kota karena lelah menjadi miskin.

Desa dimiliki orang kota, kota dipenuhi orang desa. Seperti syair Franky Sahilatua, semua tumbuh dan gelisah.

Di era media sosial, kegelisahan itu memperoleh panggung baru. Rakyat yang kesulitan membeli kebutuhan pokok masih sempat menyaksikan para pejabat berdebat di layar gawai. Mereka bertengkar mengenai angka, statistik, dan klaim keberhasilan, sementara ibu-ibu di pasar memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana untuk menilai keadaan negara: harga minyak goreng dan beras.

Di republik ini, kadang-kadang pencitraan bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Video pendek tentang keberhasilan lebih mudah diproduksi dibanding memperbaiki irigasi. Slogan lebih murah daripada pupuk. Tagar lebih cepat viral dibanding pembangunan lumbung pangan.

Mungkin itulah sebabnya bangsa ini sangat kaya akan optimisme, tetapi sering kekurangan kepastian. Kita memiliki proyek-proyek raksasa yang menjulang tinggi, tetapi masih ada anak-anak yang sarapannya teh manis. Kita bangga pada hilirisasi dan digitalisasi, tetapi petani masih bergantung pada tengkulak. Kita berbicara mengenai kecerdasan buatan, sementara sebagian rakyat masih harus cerdas mengatur utang di warung.

Semua tampak bergerak maju, tetapi tidak semua ikut berjalan bersama. Padahal tujuan sebuah negara sesungguhnya sederhana. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan rakyatnya tidak lapar, tidak menganggur, dan tidak kehilangan martabat. Sebab kemajuan bukanlah tentang seberapa tinggi gedung dibangun, melainkan seberapa sedikit orang yang tidur dengan perut kosong.

Barangkali kita memang bukan negeri miskin. Kita hanya terlalu sering salah mengartikan kekayaan. Kita mengira kekayaan berada di perut bumi, padahal kekayaan sejati berada pada kemampuan menghadirkan keadilan bagi manusia yang hidup di atasnya.

Mungkin itulah mengapa lagu Franky Sahilatua tidak pernah benar-benar tua. Sebab hingga hari ini, kita masih melihat mata air yang jernih, tetapi sungainya menghilang di tengah perjalanan.

Airnya tetap mengalir. Tanahnya tetap subur. Lautnya tetap luas. Hanya saja, entah mengapa, kemakmuran selalu seperti tamu yang tersesat alamat.

Dan rakyat, seperti biasa, tetap diminta bersabar. Padahal mereka sudah bersabar sejak Indonesia masih hitam putih. Mungkin suatu hari, mata air itu akan menemukan sungainya kembali. Atau jangan-jangan, sungainya memang sudah lama dijual, disewakan, atau diprivatisasi, sementara kita masih sibuk menyanyikan lagu tentang negeri yang katanya tongkat dan batu jadi tanaman.

Sebab di negeri yang sangat kaya ini, yang paling langka ternyata bukan emas, bukan minyak, bukan nikel. Melainkan keadilan.

Dan tanpa keadilan, gemah ripah loh jinawi hanyalah puisi yang indah untuk dibacakan pada upacara, tetapi terlalu jauh untuk dirasakan oleh rakyatnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026
Merawat Warisan Budaya Kolonial…
Esai

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

by Pande Susan
August 19, 2026
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co