30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

“Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai.”
— Franky Sahilatua

Ada negeri yang sejak kecil diajarkan kepada anak-anaknya sebagai negeri paling kaya di dunia. Di sekolah dasar, mereka menghafal bahwa tanahnya subur, lautnya luas, hutannya lebat, gunungnya penuh mineral, dan rakyatnya ramah. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup di negeri demikian semestinya sama mudahnya dengan memetik mangga di halaman rumah.

Sayangnya, setelah dewasa, mereka mendapati bahwa yang mudah dipetik justru pajak, utang, dan cicilan. Sedangkan kemakmuran masih menjadi barang antik yang dipajang dalam pidato-pidato.

Indonesia adalah negeri yang sejak dahulu dipuji sebagai gemah ripah loh jinawi. Sebuah ungkapan yang menggambarkan tanah yang makmur, tentram, dan serba berlimpah. Leluhur kita membayangkan masyarakat yang tata tentrem karta raharja. Bung Karno bahkan menjadikan impian itu sebagai semangat pembebasan dari penjajahan. Kemerdekaan, menurutnya, bukan sekadar mengusir bangsa asing, melainkan membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Namun delapan puluh satu tahun setelah merdeka, kita masih seperti tamu di rumah sendiri. Tanah kita luas, tetapi petani semakin sempit lahannya. Laut kita luas, tetapi nelayan justru kesulitan membeli solar. Gunung-gunung kita penuh nikel, emas, batu bara, dan tembaga, tetapi sebagian besar rakyat tetap sibuk menghitung harga cabai dan beras setiap pagi.

Barangkali memang ada yang salah dengan rumus kekayaan negeri ini. Sebab ternyata, kaya sumber daya alam tidak otomatis berarti kaya rakyatnya; yang kaya kadang-kadang justru laporan pertumbuhan ekonomi, sementara isi dompet rakyat tumbuh dengan sangat sopan, sampai-sampai nyaris tak terlihat.

Setiap kali harga pangan naik, penjelasannya hampir selalu sama. Cuaca. El Nino. La Nina. Distribusi. Perubahan iklim. Seolah-olah cabai dan beras memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan atmosfer. Anehnya, mafia pangan jarang disebut sebagai cuaca buruk. Padahal pengaruhnya terhadap harga kadang lebih dahsyat daripada kemarau panjang.

Negeri ini mempunyai sawah, petani, sungai, dan hujan. Tetapi beras masih harus datang dari kapal-kapal impor. Kita mempunyai ribuan kilometer garis pantai, tetapi garam masih didatangkan dari luar negeri. Kita memiliki jutaan hektare perkebunan, tetapi gula juga kerap diimpor. Kadang-kadang rakyat bertanya dengan polos: sebenarnya yang kurang itu tanahnya atau keberpihakannya?

Lucunya, bangsa ini tidak pernah kekurangan seminar tentang ketahanan pangan. Hotel-hotel berbintang penuh dengan diskusi mengenai swasembada. Makanan prasmanan berjejer rapi, sementara petani yang menjadi objek pembahasan mungkin sedang menghitung harga pupuk yang semakin tidak bersahabat.

Barangkali ketahanan pangan memang lebih mudah dibicarakan daripada diwujudkan.

                                                               ***

Sementara itu, desa-desa berubah wajah. Sawah perlahan menjadi perumahan, vila, gudang, atau kawasan industri. Anak-anak muda pergi ke kota membawa ijazah dan harapan. Mereka meninggalkan cangkul demi seragam kantor. Sebagian berhasil, sebagian menjadi pengemudi ojek daring, sebagian lagi bekerja dari pagi hingga malam untuk membayar kamar kontrakan yang luasnya tidak lebih besar dari kandang kambing milik kakeknya di kampung.

Ironisnya, orang kota justru berbondong-bondong mencari ketenangan ke desa. Mereka membangun vila, membeli tanah, lalu mengunggah foto matahari terbit dengan tagar healing. Desa menjadi tempat rekreasi bagi mereka yang lelah dengan kota, sementara penduduk asli desa pergi ke kota karena lelah menjadi miskin.

Desa dimiliki orang kota, kota dipenuhi orang desa. Seperti syair Franky Sahilatua, semua tumbuh dan gelisah.

Di era media sosial, kegelisahan itu memperoleh panggung baru. Rakyat yang kesulitan membeli kebutuhan pokok masih sempat menyaksikan para pejabat berdebat di layar gawai. Mereka bertengkar mengenai angka, statistik, dan klaim keberhasilan, sementara ibu-ibu di pasar memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana untuk menilai keadaan negara: harga minyak goreng dan beras.

Di republik ini, kadang-kadang pencitraan bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Video pendek tentang keberhasilan lebih mudah diproduksi dibanding memperbaiki irigasi. Slogan lebih murah daripada pupuk. Tagar lebih cepat viral dibanding pembangunan lumbung pangan.

Mungkin itulah sebabnya bangsa ini sangat kaya akan optimisme, tetapi sering kekurangan kepastian. Kita memiliki proyek-proyek raksasa yang menjulang tinggi, tetapi masih ada anak-anak yang sarapannya teh manis. Kita bangga pada hilirisasi dan digitalisasi, tetapi petani masih bergantung pada tengkulak. Kita berbicara mengenai kecerdasan buatan, sementara sebagian rakyat masih harus cerdas mengatur utang di warung.

Semua tampak bergerak maju, tetapi tidak semua ikut berjalan bersama. Padahal tujuan sebuah negara sesungguhnya sederhana. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan rakyatnya tidak lapar, tidak menganggur, dan tidak kehilangan martabat. Sebab kemajuan bukanlah tentang seberapa tinggi gedung dibangun, melainkan seberapa sedikit orang yang tidur dengan perut kosong.

Barangkali kita memang bukan negeri miskin. Kita hanya terlalu sering salah mengartikan kekayaan. Kita mengira kekayaan berada di perut bumi, padahal kekayaan sejati berada pada kemampuan menghadirkan keadilan bagi manusia yang hidup di atasnya.

Mungkin itulah mengapa lagu Franky Sahilatua tidak pernah benar-benar tua. Sebab hingga hari ini, kita masih melihat mata air yang jernih, tetapi sungainya menghilang di tengah perjalanan.

Airnya tetap mengalir. Tanahnya tetap subur. Lautnya tetap luas. Hanya saja, entah mengapa, kemakmuran selalu seperti tamu yang tersesat alamat.

Dan rakyat, seperti biasa, tetap diminta bersabar. Padahal mereka sudah bersabar sejak Indonesia masih hitam putih. Mungkin suatu hari, mata air itu akan menemukan sungainya kembali. Atau jangan-jangan, sungainya memang sudah lama dijual, disewakan, atau diprivatisasi, sementara kita masih sibuk menyanyikan lagu tentang negeri yang katanya tongkat dan batu jadi tanaman.

Sebab di negeri yang sangat kaya ini, yang paling langka ternyata bukan emas, bukan minyak, bukan nikel. Melainkan keadilan.

Dan tanpa keadilan, gemah ripah loh jinawi hanyalah puisi yang indah untuk dibacakan pada upacara, tetapi terlalu jauh untuk dirasakan oleh rakyatnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Next Post

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co