9 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

“Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai.”
— Franky Sahilatua

Ada negeri yang sejak kecil diajarkan kepada anak-anaknya sebagai negeri paling kaya di dunia. Di sekolah dasar, mereka menghafal bahwa tanahnya subur, lautnya luas, hutannya lebat, gunungnya penuh mineral, dan rakyatnya ramah. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup di negeri demikian semestinya sama mudahnya dengan memetik mangga di halaman rumah.

Sayangnya, setelah dewasa, mereka mendapati bahwa yang mudah dipetik justru pajak, utang, dan cicilan. Sedangkan kemakmuran masih menjadi barang antik yang dipajang dalam pidato-pidato.

Indonesia adalah negeri yang sejak dahulu dipuji sebagai gemah ripah loh jinawi. Sebuah ungkapan yang menggambarkan tanah yang makmur, tentram, dan serba berlimpah. Leluhur kita membayangkan masyarakat yang tata tentrem karta raharja. Bung Karno bahkan menjadikan impian itu sebagai semangat pembebasan dari penjajahan. Kemerdekaan, menurutnya, bukan sekadar mengusir bangsa asing, melainkan membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Namun delapan puluh satu tahun setelah merdeka, kita masih seperti tamu di rumah sendiri. Tanah kita luas, tetapi petani semakin sempit lahannya. Laut kita luas, tetapi nelayan justru kesulitan membeli solar. Gunung-gunung kita penuh nikel, emas, batu bara, dan tembaga, tetapi sebagian besar rakyat tetap sibuk menghitung harga cabai dan beras setiap pagi.

Barangkali memang ada yang salah dengan rumus kekayaan negeri ini. Sebab ternyata, kaya sumber daya alam tidak otomatis berarti kaya rakyatnya; yang kaya kadang-kadang justru laporan pertumbuhan ekonomi, sementara isi dompet rakyat tumbuh dengan sangat sopan, sampai-sampai nyaris tak terlihat.

Setiap kali harga pangan naik, penjelasannya hampir selalu sama. Cuaca. El Nino. La Nina. Distribusi. Perubahan iklim. Seolah-olah cabai dan beras memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan atmosfer. Anehnya, mafia pangan jarang disebut sebagai cuaca buruk. Padahal pengaruhnya terhadap harga kadang lebih dahsyat daripada kemarau panjang.

Negeri ini mempunyai sawah, petani, sungai, dan hujan. Tetapi beras masih harus datang dari kapal-kapal impor. Kita mempunyai ribuan kilometer garis pantai, tetapi garam masih didatangkan dari luar negeri. Kita memiliki jutaan hektare perkebunan, tetapi gula juga kerap diimpor. Kadang-kadang rakyat bertanya dengan polos: sebenarnya yang kurang itu tanahnya atau keberpihakannya?

Lucunya, bangsa ini tidak pernah kekurangan seminar tentang ketahanan pangan. Hotel-hotel berbintang penuh dengan diskusi mengenai swasembada. Makanan prasmanan berjejer rapi, sementara petani yang menjadi objek pembahasan mungkin sedang menghitung harga pupuk yang semakin tidak bersahabat.

Barangkali ketahanan pangan memang lebih mudah dibicarakan daripada diwujudkan.

                                                               ***

Sementara itu, desa-desa berubah wajah. Sawah perlahan menjadi perumahan, vila, gudang, atau kawasan industri. Anak-anak muda pergi ke kota membawa ijazah dan harapan. Mereka meninggalkan cangkul demi seragam kantor. Sebagian berhasil, sebagian menjadi pengemudi ojek daring, sebagian lagi bekerja dari pagi hingga malam untuk membayar kamar kontrakan yang luasnya tidak lebih besar dari kandang kambing milik kakeknya di kampung.

Ironisnya, orang kota justru berbondong-bondong mencari ketenangan ke desa. Mereka membangun vila, membeli tanah, lalu mengunggah foto matahari terbit dengan tagar healing. Desa menjadi tempat rekreasi bagi mereka yang lelah dengan kota, sementara penduduk asli desa pergi ke kota karena lelah menjadi miskin.

Desa dimiliki orang kota, kota dipenuhi orang desa. Seperti syair Franky Sahilatua, semua tumbuh dan gelisah.

Di era media sosial, kegelisahan itu memperoleh panggung baru. Rakyat yang kesulitan membeli kebutuhan pokok masih sempat menyaksikan para pejabat berdebat di layar gawai. Mereka bertengkar mengenai angka, statistik, dan klaim keberhasilan, sementara ibu-ibu di pasar memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana untuk menilai keadaan negara: harga minyak goreng dan beras.

Di republik ini, kadang-kadang pencitraan bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Video pendek tentang keberhasilan lebih mudah diproduksi dibanding memperbaiki irigasi. Slogan lebih murah daripada pupuk. Tagar lebih cepat viral dibanding pembangunan lumbung pangan.

Mungkin itulah sebabnya bangsa ini sangat kaya akan optimisme, tetapi sering kekurangan kepastian. Kita memiliki proyek-proyek raksasa yang menjulang tinggi, tetapi masih ada anak-anak yang sarapannya teh manis. Kita bangga pada hilirisasi dan digitalisasi, tetapi petani masih bergantung pada tengkulak. Kita berbicara mengenai kecerdasan buatan, sementara sebagian rakyat masih harus cerdas mengatur utang di warung.

Semua tampak bergerak maju, tetapi tidak semua ikut berjalan bersama. Padahal tujuan sebuah negara sesungguhnya sederhana. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan rakyatnya tidak lapar, tidak menganggur, dan tidak kehilangan martabat. Sebab kemajuan bukanlah tentang seberapa tinggi gedung dibangun, melainkan seberapa sedikit orang yang tidur dengan perut kosong.

Barangkali kita memang bukan negeri miskin. Kita hanya terlalu sering salah mengartikan kekayaan. Kita mengira kekayaan berada di perut bumi, padahal kekayaan sejati berada pada kemampuan menghadirkan keadilan bagi manusia yang hidup di atasnya.

Mungkin itulah mengapa lagu Franky Sahilatua tidak pernah benar-benar tua. Sebab hingga hari ini, kita masih melihat mata air yang jernih, tetapi sungainya menghilang di tengah perjalanan.

Airnya tetap mengalir. Tanahnya tetap subur. Lautnya tetap luas. Hanya saja, entah mengapa, kemakmuran selalu seperti tamu yang tersesat alamat.

Dan rakyat, seperti biasa, tetap diminta bersabar. Padahal mereka sudah bersabar sejak Indonesia masih hitam putih. Mungkin suatu hari, mata air itu akan menemukan sungainya kembali. Atau jangan-jangan, sungainya memang sudah lama dijual, disewakan, atau diprivatisasi, sementara kita masih sibuk menyanyikan lagu tentang negeri yang katanya tongkat dan batu jadi tanaman.

Sebab di negeri yang sangat kaya ini, yang paling langka ternyata bukan emas, bukan minyak, bukan nikel. Melainkan keadilan.

Dan tanpa keadilan, gemah ripah loh jinawi hanyalah puisi yang indah untuk dibacakan pada upacara, tetapi terlalu jauh untuk dirasakan oleh rakyatnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

Next Post

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails
Next Post
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co