12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
July 18, 2025
in Kritik Sastra
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Foto koleksi Wicaksono Adi

Kawan yang baik,

Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya yang mengandung empati terhadap kaum bumiputra?”

Banyak, kawan. Tapi beberapa saja yang perlu kita ingat. Kita mulai dari karya-karya Willem van Hogendorp dan Dirk van Hogendorp. Selain empati kepada kaum pribumi, karya-karya penulis bapak-anak ini juga berisi kritik terhadap praktik perbudakan yang dilakukan orang-orang Belanda utamanya para fungsionaris VOC.

Willem van Hogendorp, ayah Dirk, adalah putra walikota Rotterdam yang datang ke Batavia pada tahun 1774. Ia sempat diangkat sebagai warga Rembang lalu menjadi administrator di Pulau Onrust hingga wafat tahun 1784 karena kapal yang ditumpanginya tenggelam dalam perjalanan pulang ke negeri Balanda.

Selama di Jawa konon dia suka mengunjungi tempat-tempat yang dia anggap menarik. Dia banyak menyaksikan perlakuan buruk orang Belanda kepada kaum pribumi sehingga terdorong menulis novel yang dia beri judul ”Kraspoekoel”.

Judul itu merupakan julukan untuk tokoh utamanya, yakni seorang nyonya besar Belanda yang suka berbuat kejam kepada pelayannya yang bernama Tjampaka (Cempaka).

Tentu ia menulis novel itu untuk menggugah orang-orang Belanda agar berlaku lebih manusiawi kepada kaum pribumi, karena jika kekejaman itu dilanjutkan maka pada saatnya kelak akan menimbulkan pembalasan yang setimpal.

Dan memang benar, akhirnya nyonya Kraspoekol tewas ditikam oleh lelaki pribumi yang tidak tahan menyaksikan penderitaan Cempaka.

Anak Willem, Dirk van Hoogendorp, kemudian menyadur novel bapaknya menjadi pentas teater yang pernah digelar di Den Haag. Berbeda dengan ayahnya, sang anak jauh lebih keras dalam menentang praktik perbudakan.

Tentu, para pembela VOC yang tinggal di kota itu menentang rencana pementasan teater yang mengangkat sejarah buruk perbudakan di Hindia Belanda. Tapi hal itu justru membuat orang penasaran dan penonton pun berduyun-duyun datang menyaksikan pementasan tersebut.

Dalam buku Rob Nieuwenhuys “Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia” terjemahan Dick Hartono, di halaman 35 terdapat gambaran sebagai berikut:

”Semenjak layar dibuka, para tuan dan orang-orang pembela VOC terus membunyikan sempritan dan terompet sehingga tak satu katapun yang dapat didengar dengan baik. Andaikata tuan-tuan itu diberi kesempatan, mereka pasti akan memadamkan lilin-lilin dalam gedung itu, sekadar untuk menutupi perbuatan mereka sendiri dan para leluhur yang memang tidak pantas dipertunjukkan di muka umum”.

Pementasan itu akhirnya dihentikan. Penentangan tokoh-tokoh pembela VOC itu juga dipicu oleh tulisan Dirk yang dimuat di sebuah media massa mengenai kondisi buruk kaum pribumi di daerah-daerah kekuasan VOC dan berbagai kebobrokan para pejabatnya dengan menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.

Perlu dicatat bahwa Dirk memiliki anak bernama Carel Sirardus Willem van Hogendorp yang lahir di Benggala dan kemudian dibawa ke Batavia dan ketika dewasa sang anak sempat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1840-1841.

Anak Dirk dan cucu Willem ini pernah menulis prosa berjudul ”Soelatrie” dan sebuah buku tebal dalam bahasa Prancis berisi serbarupa alam dan kehidupan Hindia Belanda.

Berbeda dengan karya-karya ayah dan kakeknya, karya-karya Carel Sirardus justru cenderung memandang kaum pribumi melalui tokoh-tokoh tipologis khas orientalisik, misalnya pandangan tentang ulama muslim yang pasti fanatik dan alam pikiran rakyat Hindia Belanda yang dipenuhi tahayul.

Kawan yang baik,

Empati terhadap kaum pribumi ternyata juga muncul pada sebagian elite pemerintah, bahkan di antaranya Baron van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa cukup lama (1816-1826). Ia juga pernah mengemukanan bahwa praktik kolonialisme harus diubah ke arah yang lebih baik dan ”adil”.

Kita kutip kembali buku Nieuwenhuys, halaman 55, yang berisi pandangan sang Gubernur Jenderal: ”Saat ini sasarannya bukan mendapatkan bahan-bahan dengan harga semurah mungkin, tapi bagaimana memberi kemakmuran kepada rakyat dan mengangkatnya dari taraf yang hina dan terbelakang. Bahwa yang dinamakan dengan istilah liberalisme, ternyata hal itu semata-mata melindungi dan meng-anak-emaskan tuan-tuan tanah keturunan Eropa dengan merugikan penduduk pribumi. Ini liberalisme yang dalam pelaksanaannya sangat tidak liberal” .

Pandangan sang Gubernur Jenderal dapat dikatakan keluar jalur karena secara politik ia termasuk golongan konservatif dan tidak benar-benar liberal. Ketika datang ke Hindia Belanda, perekonomian negeri Belanda sendiri sedang merosot dan selama sepuluh tahun lebih menjadi Gubernur Jenderal ia tak dapat memberi kontribusi signifikan kepada negaranya. Akibatnya ia dikecam banyak pihak, terutama para pejabat pemerintah Belanda.

Dan setelah van der Capellen pergi, di Hindia Belanda justru diberlakukan program tanam paksa oleh Gubernur Jenderal van den Bosch, sementara apa yang ia sebut sebagai skema perekonomian liberal baru diterapkan sekitar 45 tahun kemudian.

Selain itu ada penulis J.F.G. Brumund, seorang pendeta yang memiliki empati mendalam kepada kaum pribumi. Di antara karyanya adalah prosa berjudul ”Garsia, Si Ronggeng” yang menggambarkan perjalanan hidup seorang penari Jawa. Juga beberapa tulisan mengenai Pangeran Diponegoro yang ia gambarkan sebagai pahlawan pribumi yang seharusnya dapat hidup nyaman di lingkungan keraton tapi justru memilih memperjuangkan kepentingan bangsanya.

Pendeta lain yang menuliskan empati serupa adalah van Hoevell yang menjalankan tugas rohaniahnya di beberapa tempat di Jawa. Karena tulisan-tulisannya ia dipersona-non-grata oleh pemerintah kolonial. Lalu penulis Herman Neubronner van der Tuuk yang lahir di Malaka dari ayah Belanda dan ibu peranakan Tionghoa, lalu belajar di Universitas Groningan dan kemudian di Universitas Leiden.

Pada zamannya ia adalah salah satu ahli terbesar bahasa-bahasa Nusantara. Ia datang ke Hindia Belanda untuk meneliti bahasa dan adat istiadat serta seluk-beluk kehidupan masyarakat Batak. Ia kemudian menulis tentang bahasa Jawa kuno dan bahasa Bali.

van der Tuuk getol mendorong pejabat pemerintah kolonial agar menggunakan bahasa asli pribumi dan menerbitkan kamus-kamus dan tata bahasa-bahasa daerah Nusantara agar dapat “menyapa hati” kaum pribumi. Setekah meninggal, Tuan van der Tuuk ini dimakamkan di Surabaya, kawan.

Setelah itu muncul karya-karya yang ditulis dari sudut pandang orang pribumi, di antaranya karya-karya M.C. van Zeggelen, perempuan penulis yang pernah tinggal di daerah terpencil di Sulawesi dan banyak menulis cerita anak-anak, salah satunya novel ”Keris Emas” dengan tokoh anak-anak Bugis di mana orang-orang Belanda ditampilkan sebagai kaum raksasa jahat musuh mereka.

Dan ketika tinggal di Aceh ia menulis novel ”Kemuliaan Masa Silam” yang berlatar sejarah Aceh pada saat kedatangan bangsa Portugis, Inggris dan Belanda. Pada masa akhir hidupnya ia menulis novel tentang R.A. Kartini. Ada juga perempuan penulis Madelon Hermina Lulofs, anak seorang pegawai pemerintah kolonial (Binnenlandsch Bestuur) yang bertugas di Sumatra.

Ia menikah dua kali dengan orang perkebunan. Suaminya yang kedua adalah orang Hungaria, L. Szekely. Ia terkenal dengan novel-novelnya yang mengangkat kisah kehidupan orang-orang perkebunan, terutama para kuli. Dalam novel ”Rubber” misalnya, dengan bahasa yang polos ia membuat gambaran rinci tentang kehidupan orang-orang Eropa dan kaum kuli perkebunan di Deli.

Hal serupa juga muncul dalam novel ”Koeli”. Novelnya yang lain adalah ”Kelana Kelaparan” yang berisi kisah perlawanan orang-orang Aceh terhadap Belanda. Hal itu ia lanjutkan dengan novel ”Cut Nyak Dien”.

PASURUAN DAN LABUWANGI

Kawan yang baik,

Beberapa kali aku lewat Pasuruan, Jawa Timur. Tentu saat itu aku teringat novel “Hidden Force” atawa “Alam Gaib” karya Louis Couperus (1863-1923) yang menggambarkan kompleksitas kehidupan orang Belanda dan Eropa di Hindia Belanda serta hubungan ”intim” mereka dengan kaum pribumi.

Sebelum datang ke Batavia Meneer Couperus ini sudah punya nama besar di negerinya dengan buku-buku berlatar sejarah epik zaman klasik Eropa di mana kebudayaan masa silam ditampilkan dalam suasana yang mengarah pada ikatan pelik dan nyaris tak terjelaskan antara kemegahan dan kejahatan, kebajikan dan kegilaan nyang diramu dalam gaya personal terhadap ekspresi manusia-manusia agung tapi sekaligus rapuh berikut dramatisasi sejarah dan segala bentuk aristokrasi dan dogma-dogma penyangganya.

Penulis ini suka menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mengejar keabadian bukan untuk mendapatkan “firdaus” melainkan karena didorong oleh egosentrisme dan ketamakan nafsu serta impuls-impuls negatif yang nyaris tak terkendali. Ia sering menyambangi kerabatnya yang menetap di Pasuruan, Jawa Timur.

Novel “Hidden Force” atawa “Alam Gaib” itu pun ia tulis di Pasuruan. Dalam novel tersebut tergambar jalinan kultural dan sosial yang rumit antara sesama orang Belanda maupun hubungan mereka dengan kaum pribumi yang terkadang tampak mengambang tapi di baliknya tersimpan hasrat untuk mengurai ikatan samar-samar dari dua ras yang saling membenci tapi sekaligus mencintai.

Hubungan yang pelik itu kemudian menimbulkan dampak psikologis yang sangat dalam, terutama pada individu-individu yang mengalami perubahan mental ketika menghadapi situasi-situasi buruk dan krusial di Hindia Belanda. Di dalamnya juga terdapat adegan-adegan melodramatis dalam balutan kultur feodal.

Kerumitan hubungan tokoh-tokoh ceritanya dalam ikatan problematik orang Belanda dengan adat Jawa itu diramu dengan peristiwa-peristiwa gaib dalam suasana mistik di sana-sini.

Dalam novel tersebut, nama kota Pasuruan ia ganti dengan Labuwangi. Tokoh-tokoh ceritanya pun terinspirasi orang-orang dekat si penulis: Nyonya Eldersma yang bergiat di bidang seni-budaya ternyata adalah adik Couperus sendiri, keluarga De Luce sebenarnya adalah keluarga Desentjé, seorang perwira Prancis yang menikahi putri kraton Surakarta.

Oleh raja Surakarta Tuan Desentjé ini “dihadiahi” tanah luas di daerah Boyolali dan menjadi kaya raya karena memiliki pabrik gula di Jawa Tengah. Salah satu keturunannya, Ernest Desentjé, kelak menjadi pelukis terkenal yang hidup hingga masa Presiden Sukarno.

Selain Mener Couperus, ada Thérèsa Hoven. Boleh jadi dia ini adalah perempuan penulis paling sukses pada akhir abad XIX. Ia menulis dengan nama samaran “Adinda”. Karya-karyanya banyak mengangkat kisah kaum perempuan dan golongan Indo-Belanda di negeri jajahan, di antaranya novel “Kesengsaraan Perempuan di Negeri Tropis” dan “Pekerja yang Mulia”.

Di situ ia menggambarkan kehidupan kaum perempuan Belanda dan Indo-Belanda yang terjebak dalam situasi buruk dan harus menjalani kehidupan yang lebih berat ketimbang di negeri Belanda. Sedangkan kaum perempuan pribumi cenderung ia gambarkan sebagai makhluk yang sangat kuat meski rata-rata menikah di usia muda.

Selain itu juga ada karya-karya Bas Veth, seorang penulis yang piawai melukis dan pernah menjadi wartawan, di antaranya selama 12 tahun di Surabaya dan beberapa tahun di Padang serta Makassar. Karya-karyanya mengandung kritik pedas terhadap kehidupan sosial orang Eropa di Hindia Belanda.

Salah satu novelnya yang terkenal adalah “Kehidupan di Netherland Indiё”, sebuah prosa semi reportase tentang kehidupan orang-orang Belanda di negeri jajahan yang ia anggap telah mengalami degradasi atau pembusukan moral dan karakter. Baginya, masyarakat kolonial adalah semacam neraka moral.

Tentu, selain itu terdapat karya-karya yang berkisah tentang hubungan ”intim” di ranah yang sangat personal dan biasanya memang bertolak dari pengalaman hidup sang penulis sendiri. Sebagian di antaranya berisi gambaran liar hasrat libidinal yang ”melabrak” dan bahkan bertentangan dengan moralitas umum.

Kawan yang baik,

Dalam hal hubungan ”intim” lelaki Belanda dengan kaum perempuan pribumi, sebagian kritikus membandingkannya dengan hubungan antara perempuan Afro-Amerika dengan lelaki kulit putih yang membawa pengaruh mendalam pada pihak kulit putih. Mula-mula, hubungan itu terepresentasikan pada sosok “nyai” sebagai tema yang banyak muncul dalam karya sastra kolonial abad XIX. Kemudian sosok “babu”, yakni perempuan pembantu yang mengasuh anak-anak Belanda, terutama anak-anak Indo. Seringkali sang anak lebih intim dengan sang “babu” ketimbang dengan ibunya sendiri.

Mereka bahkan menganggap pengasuhnya itu sebagai ibu kedua. Para “babu” biasa menggendong anak-anak majikannya sembari meninabobokan dengan menceritakan dongeng-dongeng tradisional, termasuk kisah-kisah tentang makhluk halus dan dunia gaib.

Kehadiran sang “babu” dan dongeng-dongeng tersebut merasuk dalam memori hingga anak-anak itu menjadi dewasa. Penyair dan sejarawan Gertrudes Johannes Resink (GJ Resink) misalnya, pernah menulis puisi tentang pengasuhnya yang ia gambarkan sebagai cinta pertamanya

E. Breton De Nijs – nama samaran Rob Nieuwenhuys, penulis esai sekaligus pengggubah novel “Bayangan Memudar” yang lahir di Semarang dari ayah Belanda totok dan ibu Jawa – seumur hidupnya tak dapat melupakan harum daun sirih, gambir dan pinang, pun aroma tubuh dan pakaian perempuan pribumi pengasuhnya. Memori itu menjadi bagian penting pada fase pertumbuhan pra-erotik di masa kanak-kanak mereka.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tema “nyai” dan “babu” itu muncul bersamaan dengan tema kawin campur atau tema hubungan cinta antara lelaki Belanda (yang totok maupun Indo) dengan perempuan pribumi, atau hubungan antara perempuan Indo-Belanda dengan lelaki pribumi.

Salah satu prosa yang sangat terkenal tentang tema ini adalah novel “Busa Emas” karya J. Treffers yang berkisah tentang hubungan seksual seorang perempuan Indo bernama Ria van Henegouwen dengan lelaki pribumi tukang kebunnya yang bertubuh liat kehitaman.

Novel ini memicu kontroversi karena terdapat penggambaran adegan seks yang sangat rinci dan blak-blakan, liar dan bahkan “vulgar”. Pemerintah kolonial akhirnya melarang novel tersebut sementara sang penulis dipecat dari pekerjaannya sebagai guru lalu dijebloskan ke penjara.

Begitulah sekilas cerita tentang prosa zaman dulu, kawan. Lain kali kita perlu tengok lagi jejak-jejak mereka untuk mengingat kisah-kisah yang cukup menarik di masa silam itu.

Salam dari Surabaya. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: BelandakolonialMax HavelaarMultatulisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

2.148 Seniman dan 27 Sajian Acara dalam Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Manusia Tidak Sepenuhnya Bisa Memilih dan Rasional — Tentang Luka, Gen, dan Kesadaran untuk Menjadi Manusia Utuh

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Tidak Sepenuhnya Bisa Memilih dan Rasional — Tentang Luka, Gen, dan Kesadaran untuk Menjadi Manusia Utuh

Manusia Tidak Sepenuhnya Bisa Memilih dan Rasional — Tentang Luka, Gen, dan Kesadaran untuk Menjadi Manusia Utuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co