2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Tidak Sepenuhnya Bisa Memilih dan Rasional — Tentang Luka, Gen, dan Kesadaran untuk Menjadi Manusia Utuh

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
July 18, 2025
in Esai
Manusia Tidak Sepenuhnya Bisa Memilih dan Rasional — Tentang Luka, Gen, dan Kesadaran untuk Menjadi Manusia Utuh

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva


WAKTU kecil, aku pernah bertanya, “Kenapa Ibu gampang marah, sementara Ayah lebih sabar?”

Tak ada yang membantu aku menjawab waktu itu. Tapi bertahun-tahun kemudian, perlahan aku mulai sadar, bahwa
Manusia tidak lahir sebagai kertas kosong. Kita datang ke dunia membawa banyak hal, yakni sifat bawaan, jejak jiwa, dan warisan nasib yang tak pernah kita minta.

Salah satu temanku dikenal sangat tenang. Bahkan ketika diselingkuhi pasangannya, ia tidak meledak. Ia menarik napas, berbicara pelan, dan memilih pergi dengan kepala tegak.

Sementara aku—kadang hanya karena teman datang terlambat 30 menit—bisa kesal seharian, seolah dunia sedang bersekongkol melawanku.

Dulu kupikir itu cuma soal “watak.” Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Otak kita bekerja di balik layar. Sebagian besar keputusan—termasuk reaksi emosional dan cara kita mencintai atau marah—dibentuk oleh proses bawah sadar. Riset menunjukkan bahwa lebih dari 80% dari apa yang kita pikir “pilihan sadar,” sebenarnya adalah pola otomatis yang tertanam sejak lama. Kita mencintai, marah, atau bahkan boros, bukan karena kita ingin seperti itu.

Kita mencintai seperti kita belajar mencintai—dari ibu yang dingin, atau dari film dan novel yang kita baca saat remaja. Kita marah seperti ayah kita dulu marah: cepat, meldak, dan kaku. Kita boros, mungkin karena di masa kecil, belanja adalah satu-satunya cara merasa senang dan bebas. Semua itu membentuk proyeksi kita bersikap hari ini.

Genetika Juga Bicara


Ilmu modern mengungkap bahwa kita mewarisi banyak hal lewat gen, seperti kecenderungan cemas, impulsif, penyayang, atau bahkan sulit percaya sama orang lain. Misalnya, gen dopamin tertentu membuat kita lebih impulsif, suka risiko, dan cepat bosan. Ini bisa menjelaskan kenapa seseorang berani mengambil keputusan berani—dalam cinta, pekerjaan, atau uang. Gen oksitosin memengaruhi seberapa dalam diri kita sehingga merasa terhubung dan bisa mempercayai orang lain.

Bahkan cara kita memandang uang—hemat, boros, takut kehilangan—bisa dipengaruhi oleh kerja hormon yang diatur oleh sistem genetik.

Maka wajar kalau kamu pernah bertanya: “Kenapa aku begini?” Jawabannya, bisa jadi karena kamu tidak sepenuhnya ingin seperti itu. Itu adalah kombinasi dari warisan DNA dalam tubuh, pola pikir keluarga, dan lingkungan hidupmu.

Apakah Kita Tidak Bisa Berubah?


Pertanyaan yang sangat penting kemudian adalah, apakah hidup hanya tentang menjalani naskah lama dari trauma dan gen? Ternyata, tidak, karena meskipun kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan, pengalaman apa yang kita terima, atau gen mana yang kita warisi, kita bisa memilih untuk menyadarinya.

Dan kesadaran—itulah awal dari kebebasan.

Dulu, saat aku belajar duduk diam dan menyadari pikiranku sendiri, aku mulai paham bahwa pkiran datang dan pergi. Emosi muncul tanpa permisi. Tapi aku tidak harus ikut terbawa.

Kemarahanku bukan aku.
Kecemasanku bukan aku.
Rasa takutku, ternyata hanyalah gema dari masa lalu—bukan masa kini.

Hari ini, aku masih pemarah. Tapi aku belajar bertanya dulu, “Apakah ini benar tentang orang itu? Atau ini luka dan trauma lama yang sedang bicara?”

Saat keinginan belanja muncul, aku tak buru-buru patuh. Aku belajar mengenali suara dalam kepala yang berkata,
“Beli ini, nanti kamu bahagia.” Dan aku bisa menjawab dengan senyum, “Terima kasih, aku masih baik-baik saja tanpa barang itu.”

Kita tidak sepenuhnya bebas. Tapi kita juga tidak sepenuhnya terikat. Kita bukan sekadar robot dari gen dan trauma, tapi juga bukan dewa yang bisa mengendalikan segalanya dengan sempurna. Kita manusia. Dan manusia punya satu anugerah yang sangat indah, yaitu kemampuan untuk sadar. Dan dari kesadaran itu, kita bisa mulai memilih ulang. Jadi jika suatu hari kamu merasa gagal, terlalu emosional, atau tidak tahu kenapa kamu begini— jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.

Mungkin kamu sedang menjalani pola lama yang tertanam sejak kecil. Tapi pola bisa dilihat. Dan yang bisa dilihat, bisa dipahami. Dan yang bisa dipahami, bisa diubah—perlahan, sadar, dan penuh kasih.

Karena pada akhirnya, hidup ini seperti perangkat lunak.
Kita bisa hapus program lama, dan kita bisa install yang baru;  membuat kita menjadi lebih utuh, lebih damai, lebih mencerminkan diri kita yang sebenarnya. [T]

Penulis: I Made Indah Gunawan Saputra
Editor: Adnyana Ole

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…
Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya
Karang Boma; Penghancur Segala Mara Bahaya – Catatan Berwisata Bersama Anak

Tags: genmanusiarenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Next Post

Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 2]

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata -- [Bagian 2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co