26 January 2021
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
tatkala.co
tatkala.co
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result
Home Ulasan
Peluncuran buku puisi Catatan Pulang karya Angga Wijaya (baju hitam kiri)

Peluncuran buku puisi Catatan Pulang karya Angga Wijaya (baju hitam kiri)

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Made Gunawan by Made Gunawan
February 2, 2018
in Ulasan
56
SHARES

 

PENYAIR Angga Wijaya meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Catatan Pulang di Rumah Berdaya, Denpasar, Sabtu, 19 Januari 2017. Yang menarik, peluncuran buku itu di-launching bersamaan dengan diadakannya pameran karya-karya seni rupa dari seniman penderita skizofrenia.

Angga Wijaya sendiri adalah seorang ODS (orang dengan schizophrenia). Ia didiagnosa menderita skizofrenia saat masih kuliah di Jurusan Antropologi Universitas Udayana. Ia meninggalkan studi dan pulang kampong ke Jembrana.

Namun ia tidak putus asa. Ia terus berjuang sekaligus berdamai dengan masa lalu. Hingga ia kemudian menemukan tempat menumpahkan ekspresinya, yakni dalam media puisi. Puisi-puisi itu kemudian dikumpulkan dengan judul Catatan Pulang.

Kenapa diluncurkan di Rumah Berdaya dan bersamaan dengan pameran karya-karya ODS yang lain?

Menjadi istimewa, karena Rumah Berdaya memakai pendekatan seni sebagai terapi dan penyembuhan. Seperti kita ketahui, pada umumnya  seorang dianggap mengidap kelaianan jiwa karena ada kekacauan dalam cara berpikirnya, sehingga pola pikirnya menjadi tidak runut dan tidak beraturan. Cenderung mendahulukan emosi dibandingkan logika.

Pola pikir yang kacau melahirkan tindakan yang kacau, meledak-ledak dan kehilangan kontrol. Darisinilah kemudian muncul benturan dengan masyarakat “normal“ yang tak paham dan menganggapnya tak waras atau berbeda.

Seni, khusunya sastra dan seni lukis, dapat menjadi medium untuk penyembuhan karena sifatnya yang ekspresif, bebas dan cendrung liar. Imajinasi-imajinasi yang sulit diungkapkan dalam bentuk perbuatan dapat dituangkan dalam sebuah tulisan atau gambar, tanpa ada resiko membahayakan orang lain.

Karya-karya seni rupa ODS di Rumah Berdaya

Mengamati karya-karya warga ODS di Rumah Berdaya itu saya seakan diajak berpetualang dalam nilai-nilai tanda dan simbol. Guratan-guratan yang penuh ekspresi dan emosi seakan mewakili gejolak hati dan pikiran penulisnya. Sebagai orang awan terhadap seni, sepintas karya-karya mereka tampak mirip dengan karya-karya maestro yang dipanjang digaleri atau museum. Ada perasaan heran sekaligus geli melihatnya.

Namun setelah saya renungkan ternyata ada perbedaan yang mencolok diantara mereka. Dalam karya–karya warga ODS, ada sebuah link yang terputus. Benar karya mereka penuh lompatan, namun disana seringkali tanpa didasari logika dan epistemologi berpikir. Seni tanpa logika adalah ngawur, walau ada seni tinggi yang melampaui logika atau beyond logic, tapi untuk mencapainya diperlukan pemahaman logika yang matang, bukan tanpa logika.

Sebenarnya tugas orang yang “waras”-lah membantu mereka menyambungkan link yang terputus itu, dengan begitu karya mereka menjadi bernilai, dan proses penyembuhan mereka juga dapat semakin mudah.

Apalagi di zaman teknologi informasi yang serba cepat dan serentak seperti saat ini, resiko disorientasi mental dan pikiran semakin besar. Orang kini sulit membedakan antara realitas dan fantasi, antara hoax dan kejadian nyata,  akibatnya banyak orang terjebak dalam hiperreality yang semu, yang menurut Jean Baudrillard, seorang filsuf sekaligus sosiolog post-modernisme,  hiperreality atau kenyataan yang semu itu, disebarkan melalui agen-agen simulakra dan simulasi, yang dengan gampang membawa seseorang menjadi bukan dirinya.

Semua realiatas dan makna telah tergantikan dengan simbol dan tanda. Dan bahwa pengalaman manusia hanyalah simulasi atau tiruan dari realitas. Kumpulan dari tiruan_tiruan itu membentuk simulacra atau gugusan/peta.

Karya-karya para ODS dapat kita maknai sebagai sebuah peta hati dan pikiran si penulis. Menyusun mozaik-mozaik realitas mereka dapat memberikan gambarn tentang apa yang dirasakan , dipikirkan, bahkan lebih jauh merangkai masa lalunya. Dari sinilah penanganan dan perlakuan yang tepat dapat diambil terhadap mereka, sekaligus mengembalikan sisi kemanusian atau dehumanisasi dan denaturalisasi atau mengembalikan sifat alaminya.

Melaui senil seseorang dapat kembali pulang kedalam dirinya, mengenali hati, perasaan, dan pikirannya. Menyusuri kembali lorong-lorong hidupnya.

Seperti yang kita jumpai dalam puisi-puisi Catatan Pulang  karya Angga Wijaya. “Bahwa puisi adalah tempatnya pulang ke rumah hakiki, rumah sang jiwa”.

Melalui proses berpuisi Angga telah mampu menemukan dan merajut realitas alam dan realitas dirinya, juga merajut logikanya yang terputus. Melaui esplorasi rasa dan pencapaian ekspresi puitik yang diraihnya, dimengerti bahwa ia telah mulai mendapatkan pemahaman atas hidup dan kehidupannya.

Selamat buat Rumah Berdaya, selamat buat Angga Wijaya. (T)

Tags: BukuPuisiSchizophreniaSeni Rupa
Made Gunawan

Made Gunawan

Orang Negaroa, Jembrana Bali, aktivis jurnalisme warga yang menulis di berbagai media. Bisa ditemui di akun facebook bernama Gunawan Golokadas

MEDIA SOSIAL

  • 3.4k Fans
  • 41 Followers
  • 1.5k Followers

ADVERTISEMENT

ENGLISH COLUMN

  • All
  • Essay
  • Features
  • Fiction
  • Poetry
Essay

Towards Success: Re-evaluating the Ecological Development in Indonesia in the Era of Anthropocene

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil...

by Etheldreda E.L.T Wongkar
January 18, 2021

FIKSI

  • All
  • Fiksi
  • Cerpen
  • Puisi
  • Dongeng
Sketsa Nyoman Wirata
Puisi

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

by Alit S Rini
January 23, 2021
Foto-foto: koleksi penulis
Khas

Mau Konsultasi Lontar? Masuklah ke Stand Penyuluh Bahasa Bali di Pameran HUT Gianyar

SEJUMLAH remaja tampak heran dan sempat mengernyitkan dahi ketika masuk ke sebuah stand di areal pameran HUT ke-246 Kota Gianyar ...

February 2, 2018
Agus Wiratama (penulis) membaca puisi dalam acara Unspoken POetry Slam di Rumah Belajar  Komunitas Mahima Singaraja
Khas

“Bali Poetry Slam” di Singaraja: Mengucapkan yang Ragu-ragu Diucapkan di Panggung

POETRY slam kali ini diadakan di rumah Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 29 September 2018. Saya tak sengaja ikut dalam kegiatan ...

September 30, 2018
ILustari tatkala.co | Nana Partha
Esai

Tubuh Tanpa Makan

Bukan tanpa alasan jika Bhagawan Wararuci menyebut ucapan Bhagawan Byasa ada pada setiap ajaran. Baginya, ajaran Bhagawan Byasa seperti cahaya ...

May 26, 2020
Sumahardika, Mas Ruscitadewi dan Nala Antara dalam workshop Deklamasi Puisi di PKB 2019
Kilas

Kata Sumahardika: “Deklamasi Puisi itu Menubuhkan Puisi!”

 “Banyak diantara teman-teman bilang, ayo olah tubuh dan hanya sebatas bergerak sambil menghitung satu dua satu dua!” Itu dikatakan Wayan ...

June 27, 2019
Topeng Rahwana
Esai

Menafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan

RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung ...

February 2, 2018

PERISTIWA

  • All
  • Peristiwa
  • Kilas
  • Khas
  • Perjalanan
  • Persona
  • Acara
Wayan Eka Artana Putra, pengelola kedai kopi mini di Pecatu, Badung
Khas

Pandemi, Bule jadi “Tamu Lokal”, Ngebon pun Biasa | Cerita dari Sebuah Kedai Kopi

by Nyoman Nadiana
January 26, 2021

ESAI

  • All
  • Esai
  • Opini
  • Kiat
  • Ulasan
Made Adnyana Ole [Ilustrasi Nana Partha]
Esai

Filosofi Luluh Sate

by Made Adnyana Ole
January 26, 2021

POPULER

Foto: koleksi penulis

Kisah “Semaya Pati” dari Payangan Gianyar: Cinta Setia hingga Maut Menjemput

February 2, 2018
Istimewa

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

March 26, 2020

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

KATEGORI

Acara (66) Cerpen (150) Dongeng (10) Esai (1362) Essay (7) Features (5) Fiction (3) Fiksi (2) Hard News (4) Khas (311) Kiat (19) Kilas (192) Opini (471) Peristiwa (83) Perjalanan (53) Persona (6) Poetry (5) Puisi (97) Ulasan (329)

MEDIA SOSIAL

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018,BalikuCreative - Premium WordPress.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
  • Login
  • Sign Up

Copyright © 2018,BalikuCreative - Premium WordPress.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In