12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus# Benar Majapahit Islam?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Google

 

KEMARIN saya berkesempatan membaca-baca koleksi lontar Java Instituut (berdiri 1919), salah satunya Lontar Kutaramanawa, dan menjadi kembali teringat pertanyaan teman-teman saya yang tak sempat saya tanggapi, tentang “Apa benar kerajaan Majapahit adalah kerajaan Islam?” *

Kerajaan Majapahit tahun 1401 masehi rajanya menyembah Buddha, kitab hukumnya atau dasar konstitusinya bernama ‘Kutaramanawa’. Demikian disebutkan dalam salah satu lontar koleksi Java Instituut. **

Lontar sejenis saya juga temui beberapa tersimpan di rumah keturunan para cendikiawan di Bali, juga tersedia di perpustakaan/museum di Lombok, Yogyakarta, Jakarta dan Leiden.

Angka tahun 1401 yang tertulis dalam lontar Kutaramanawa ini, sebagai tahun berlakunya kitab undang-undang Kutaramanawa di Majapahit, sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Piagam Trawulan, berangka tahun 1358 masehi, bahwa konstitusi yang berlaku bernama Kutaramanawa.

‘Kutaramanawa’ adalah kitab undang-undang Hindu-Buddha yang babonnya dari pemikiran India Kuno yang secara umum disebut Manawa Dharma Sastra.

Kutaramanawa dan/atau Manawa Dharma Sastra menjadi acuan sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Di Bali abad 11-12, sebagaimana disebutkan dalam 2 prasasti Bali Kuno, menyebutkan kitab ini sebagai acuannya. Raja-raja Kediri dan Singosari, yang tiada lain didirikan oleh leluhur para brahmana dan bangsawan serta warga negara Majapahit, kitab sastranya menyebutkan Manawa Dharma Sastra sebagai acuan penyelenggaraan negera.

Museum NTB juga memiliki koleksi lontar Kutaramanawa yang tak lain peninggalan Kerajaan Cakranegara-Karangasem, sebuah kerajaan Hindu, yang berkuasa selama 200 tahun di Lombok sebelum kerajaan ini bubar karena pendudukan Belanda.

Dari mana muncul perdebatan baru yang mengatakan Majapahit sebagai kerajaan Islam? Konon satu keping uang emas bertulis Arab yang disimpan di Museum Nasional yang menjadi dasar perdebatan dan pembelaan kalau Majapahit adalah kerajaan Islam. Juga didukung oleh dongeng-dongeng atau kisah-kisah lisan lainnya.

Siapa saja yang ingin mengetahui agama apa yang berkuasa di sebuah kerajaan kuno, jalan terbaiknya adalah dengan membaca atau mencari tahu dasar konstitusinya. Konstitusilah yang menunjukkan secara terang benderang bagaimana dan nilai apa yang menjadi pedoman penyelenggaraan sebuah negara atau kerajaan. Bukan keping mata uangnya, bukan berdasar cerita lisan atau dongeng. Agama resmi kerajaan atau agama penguasa bisa dilihat dari acuan filosofis yang tercermin dalam undang-undang atau pijakan konstitusi yang dipakai.

Lagipula, selain lontar Kutaramanawa, ada ratusan lontar-lontar atau naskah-naskah peninggalan Majapahit yang masih terawat di berbagai museum dan perpustakaan, serta di keluarga-keluarga Bali yang sebagian besar leluhurnya dari Jawa (Kediri, Singosari dan Majapahit) dan naskah-nasakah ini bisa dibaca dengan terang benderang berisi mantra-mantra Śiwa dan Buddha, ajaran-ajaran filsafat-tatwa, etika-susila, upakara-upacara, pengobatan, pedoman bertani, berternak, memasak, perbintangan, dan seterusnya.

Kalau tidak bisa membaca huruf Jawa Kuno, Jawa, Bali, silahkan melihat dan mengamati langsung peninggalan arkeologi, candi dan reliefnya, semuanya bisa bercerita dengan terang benderang ajaran apa yang mendasarinya.

Di Jawa ada ribuan, mungkin ratusan ribu kepingan bukti-bukti arkeologis peninggalan Majapahit yang merupakan sambungan Singosari, Kediri, dan mitosnya kelanjutan dari Medang-Mataram Kuna, yang tak lain kerajaan dan masyarakat yang membangun candi-candi Buddha dan Śiwa, seperti Candi Śiwagraha (Prambanan) dan Borobudur, serta gugusan atau galaksi percandian di Jawa Tengah yang jumlahnya mencapai ratusan titik percandian besar yang sebagiannya belum direstorasi.

Kalau ada berpikul-pikul uang kepeng kuno China di Bali, dan dipakai sampai kini sebagai perlengkapan ritual, tidak berarti bahwa Bali adalah Kerajaan China. Demikian juga karena telah ditemukan berpikul-pikul koin bolong China dipakai di era Majapahit tidak menunjukkan bahwa Majapahit sebuah kerajaan beragama Konghucu atau beragama Tao.

Berlakunya uang berbagai bangsa di Majapahit menunjukkan kemajuan perdagangan antar bangsa telah terjadi ketika itu. Penduduk atau pedagang dari berbagai latar belakang bangsa dan agama juga telah menjadi bagian kehidupan sosio-kultural. Pedagang berlatar Arab, India, Tiongkok, Mongolia, dan penjelajah Eropa sudah mulai berinteraksi di beberapa kepulauan Nusantara dan Melaka ketika itu.

Majapahit telah masuk menjadi bagian penting dari pergaulan antar bangsa yang disegani di Asia Tenggara ketika itu. Para tokoh suci dari India tercatat diundang ke Majapahit, demikian juga para saudagar besar Gujarat, Arab dan Cina. Berlakunya berbagai mata uang di sebuah negeri menandakan keterbukaan berpikir dan kemampuan berinteraksi melampaui batas antar bangsa dari pemerintah dan warganya.

Keluarga saya sampai hari ini, kebetulan orang tua kami pemangku (pemimpin upakara Hindu Bali di pura/kuil), memakai ikatan/jalinan ratusan uang kepeng bolong berasal dari Tiongkok sebagai bagian dari ritual. Ini juga tidak menunjukkan bahwa kami penganut Konghucu atau Falun Gong atau Falun Dafa.

Kami bahkan tidak bisa baca tulisan kanji pada uang kepeng China tersebut. Nilai estetika, berbagai campuran unsur logam atau nilainya, atau kandungan unsur-unsur yang secara simbolis mewakili unsur bumi dan alam semesta lainnya yang kami butuhkan dalam ritual kami.

Silakan membuka-buka atau baca atau analisa konstitusi Majapahit jika ngebet ingin tahu tata pemerintahan dan gambaran kehidupan sosiologis di kerajaan Majapahit. Mohamad Yamin, berdasar buku-buku dan jurnal terbitan pakar-pakar efigrafi dan filologi Belanda telah meneliti konstitusi Majapahit dan menyebutkan kitab undang-undang Kutaramanawa yang berlaku sebagai dasar berkonstitusi di Majapahit terdiri dari 275 pasal, terbagi dalam 19 bab, pembagiannya sebagai berikut :

Bab – I : Ketentuan umum mengenai denda.
Bab – II : Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta.
Bab – III : Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula.
Bab – IV : Delapan macam pencurian, disebut astacorah.
Bab – V : Paksaan atau sahasa.
Bab – VI : Jual-beli atau adol-atuku.
Bab – VII : Gadai atau sanda.
Bab – VIII : Hutang-piutang atau ahutang-apihutang.
Bab – IX : Titipan.
Bab – X : Mahar atau tukon.
Bab – XI : Perkawinan atau kawarangan.
Bab – XII : Mesum atau paradara.
Bab – XIII : Warisan atau drewe kaliliran.
Bab – XIV : Caci-maki atau wakparusya.
Bab – XV : Menyakiti atau dandaparusya.
Bab – XVI : Kelalaian atau kagelehan.
Bab – XVII : Perkelahaian atau atukaran.
Bab – XVIII : Tanah atau bhumi.
Bab – XIX : Fitnah atau duwilatek.

Demikian detail dan jelasnya pedoman konstitusi Majapahit.

Pertanyaannya sekarang sekiranya bukan apa agama Majapahit. Konstitusinya demikian jelas, detail dan serius. Juga penegakannya sangat serius. Sebagai contoh: Karya sastra Kidung Sorandaka yang ditulis ketika itu menguraikan bahwa Lembu Sora dituntut hukum mati berdasarkan undang-undang yang berlaku, tak lain Kutaramanawa. Sekarang? Ada baiknya kita belajar dan bercermin dari leluhur demikian seriusnya para leluhur dalam bernegara dan berkonstitusi untuk menata kehidupan.

Dibandingkan mempertanyakan agama kerajaan masa silam, sekiranya ada baiknya mempertanyakan seberapa serius kita bernegara dan berkonstitusi hari ini? Apa kontribusi kita pada masyarakat dan negara hari ini?

Apa yang bisa dipelajari secara paratexts dari Lontar Kutaramanawa?

Piagam-prasasti-kakawin menyebutkan Kerajaan Majapahit menjadi besar dan kuat salah satunya karena konstitusinya sangat kuat mengayomi secara sangat detail dan tegas. Mereka berhasil berkonstitusi secara serius. Banyak sumber menyebutkan Majapahit pudar meredup karena persoalan dilema “beragama”.

Demikian juga sejarah dunia mengajarkan bahwa keseriusan berkonstitusi yang membuat sebuah negara sejahtera atau berjaya. Ketika sebuah negara besar ricuh dalam urusan “beragama” dan melupakan atau abai berkonstitusi secara serius dan tegas, negara-negara itu runtuh. Baik di Eropa, Timur Tengah, dan India, mengalami masa kegelapan dan peperangan karena ricuh dan gelap dalam “beragama” dan pada saat yang sama abai atau malah meninggalkan kehidupan “berkonstitusi”. (T)

Catatan Harian,  23 Januari 2018

Keterangan:

* Bung Yamin, Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan para pendiri bangsa  mengetahui dan mengakui bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha. Bung Karno  dan Bung Yamin adalah dua sosok penting yang mempopulerkan kejayaan Majapahit, dalam berbagai kesempatan (dalam buku, artikel dan pidato) mereka mendorong untuk menjadikan wilayah dan kejayaan Majapahit sebagai semacam “acuan penentuan wilayah” NKRI. Bung Yamin menulis buku ‘Gajah Mada’, dan beberapa jilid pembahasan pedoman konstitusi Kerajaan Majapahit.

** Karena lontar koleksi Java Instituut yang kini disimpan di Yogyakarta ada batasan menayangkan foto koleksinya saya salin cepat orat-oret halaman depan lontar Kutaramanawa. Java Instituut adalah Yayasan Kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok, dikenal sebagai Java Instituut. Memiliki koleksi patung kuno dan naskah-naskah kuno yang kini disimpan oleh Museum Negeri Senobudoyo, Yogyakarta. Java Instituut ini berdiri pada 4 Agustus 1919 di Surakarta. Pendirinya antara lain P.A.A.P. Prangwadono (Mangkunegoro VII), R. Dr. Hoesein Djajadiningrat, R. Sastrowijono, dan Dr. E.D.K. Bosch, sedangkan pengurus yayasan pertama kali diketuai oleh Dr. Hoesein Djajadjningrat, sedangkan Dr. F.D.K. Bosch bertindak sebagai sekretaris. Dalam perkembangan selanjutnya pengurus ini dilengkapi dengan pembantu ahli dalam berbagai bidang. Tokoh-tokoh seperti Ir. Th. Karsten, Dr. W.F. Stutterheim, S. Koperberg, P. Sisten, tercantum dalam personalia kepengurusan ini. Tujuan utama perkumpulan ini ialah mendorong perkembangan budaya Jawa, Madura, Sunda, dan Bali dalam arti yang seluas-luasnya. Java Instituut melakukan kajian Bali, Lombok, Jawa dan Madura, secara intensif. Kongres Java Instituut pernah berkongres di Bali dan melakukan safari keliling bersama rombongan peserta dan pengurus. Lembaga ini berjaringan dengan ahli-ahli budaya Bali di masanya, termasuk para pentolan lembaga ini bergesekan dan rekat berjaringan, diskusi dan kerjasama riset ilmiah para pentolan perintis perpustakaan lontar Gedong Kirtya dan Museum Bali.

Tags: agamahukumkonstitusiMajapahit
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Next Post

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co