23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi hasil olahan dari sejumlah sumber di Google

 

MELIHAT beberapa postingan di media sosial menjelang Pilgub Bali 2018, saya temukan banyak logika aneh — jika tak boleh disebut sesat logika. Memang, sebagian postingan, terutama dari tim pendukung salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, adalah sebuah upaya untuk mempengaruhi warga pemilih.

Mempengaruhi sih boleh saja. Kampanye itu juga sah saja bahkan memang diatur dalam undang-undang. Tapi ya cobalah menggunakan logika yang setidaknya bisa diterima akal. Kampanye kan juga bagian dari pendidikan politik.

Jokowi dan Prabowo 

Logika yang aneh adalah menghubungkan Pilpres dengan Pilgub Bali, dan masuknya nama-nama yang punya kans besar menjadi calon presiden 2019, yakni Jokowi dan Prabowo.

Misalnya ada yang mengatakan  “Jika mau Jokowi presiden 2019, maka pilih KBS-ACE” atau “Jika mau Prabowo presiden 2019, maka pilih Mantra-Kerta”.

Berpikir dengan logika semacam itu tentu saja tidak cukup logis. Maka, jangan terkecoh oleh logika macam itu.

Bali punya contoh nyata, tahun 2013, Mangku Pastika-Sudikerta menang Pilgub Bali mengalahkan Puspayoga-Dewa Sukrawan. Dalam hal ini, Mangku Pastika-Sudikerta ketika itu diusung oleh dua partai besar, yaitu Demokrat dan Golkar. Sedangkan Puspayoga-Dewa Sukrawan diusung oleh PDI-P.

Setahun berselang, ketika Pilpres 2014, Jokowi-JK yang diusung PDI-P dan koalisinya menang di Bali mengalahkan Prabowo-Hatta yang saat itu diusung oleh Gerindra, Golkar, dan koalisinya.

Apabila logika di awal kalimat benar, maka harusnya Jokowi-JK kalah di Bali ketika itu, dan Jokowi tidak menjadi presiden. Nyatanya, ketika itu Jokowi menang di Bali dan menjadi presiden. Jadi, untuk konteks Bali, Hubungan Pilpres dan Pilgub yang menggunakan logika macam itu, bukan suatu yang relevan.

Jokowi dan Prabowo, dalam konteks Pilgub Bali saat ini, sengaja digunakan atau ingin dicitrakan sebagai figur kunci oleh para elit partai atau simpatisannya untuk mengeruk suara. Para elit dan simpatisan macam begini bisa dikatakan belum move on. Ingin membawa konteks 2014 ke 2018. Ingin mengarahkan pilihan politik konstituen. Ingin mengarahkan pendukung Jokowi ke KBS-ACE dan pendukung Prabowo ke Mantra-Kerta.

Dan, yang paling bahaya, itu sama dengan ingin membatasi pilihan pemilih. Tujuannya, tentu agar menang. Namun, ini tentu bukan suatu hal yang bisa dikatakan cerdas. Ini mungkin suatu logika yang inguh.

Padahal, ini bukan Pilpres. Konteks Pilpres dan Pilgub tidak bisa dilinierkan begitu saja. Apalagi peta politik saat ini sangat dinamis. Partai koalisi di pusat belum tentu sejalan dengan di daerah. Contoh nyata, Golkar dan Nasdem yang sedari awal mengatakan Jokowi dua periode ternyata mengusung Mantra-Kerta di Pilgub Bali.

Simpulannya, siapapun calon gubernur dan wakil gubernur yang dipilih saat ini, tidak menjadi gambaran bahwa pemenangnya akan membawa Jokowi atau Prabowo menjadi presiden di 2019. Dalam hal ini, gunakan kebebasan memilih, siapapun. Karena konteks Pilkada dan Pilpres adalah pilihan figur. Bukan macam logika silogisme jika p maka q dan jika q maka r, lalu simpulannya jika p maka r. Bukan begitu.

Logika Perut

Selain logika aneh tentang hubungan Pilpres dan Pilgub, ada juga berkembang logika perut, bahwa jika tak memilih calon gubernur tertentu maka kita akan mekenta alias kelaparan.

Jangan tertipu dengan logika semacam itu. Pilgub bukan hanya soal perut. Selama ini, dengan gubernur-gubernur sebelumnya, apakah mayororitas dari kita mekenta? Begini, sebagai orang Bali, apakah kita rela untuk soal makan kita dipengaruhi orang lain? Apakah kita rela hanya untuk makan saja kita mengandalkan gubernur?

Bukannya orang Bali itu mandiri. Contoh nyata, orang tua (kakek dan nenek) di Bali, mayoritas malu meminta uang kepada anak-anak mereka. Mereka lebih memilih tetap bekerja semampu mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka daripada harus meminta ke anak-anak mereka.

Bahkan, ketika diberi uang oleh anaknya pun, ada dari mereka yang menolak. Itu lah mental orang Bali yang harus kita tiru. Saya rasa, orang Bali tidak memiliki mental peminta-minta macam logika pada kalimat pertama di atas.

Logika Kedaerahan

Logika kedaerahan adalah logika paling sering dipakai mempengaruhi warga pemilih dalam Pilkada. Bukan hanya pada Pilgub 2018 ini, pada Pilgub sebelumnya pun logika kedaerahan masih dianggap ampuh untuk menjaring pemilih. Padahal itu bisa dikata itu adalah logika primitif.

Maka, jangan diperalat oleh semangat memilih kedaerahan. Bahwa orang Badung harus memilih KBS-ACE karena Ketua Tim Pemenangan KBS-ACE adalah Bupati Badung. Atau bahwa orang Badung harus memilih Mantra-Kerta karena Sudikerta dari Badung.

Lalu, orang Denpasar harus memilih Mantra-Kerta karena Rai Mantra adalah Walikota Denpasar. Orang Gianyar harus memilih KBS-ACE karena Cok Ace adalah mantan Bupati Gianyar dan tokoh Puri Ubud. Orang Buleleng harus memilih KBS-ACE karena Koster dari Buleleng. No, Pilgub bukan sekat kabupaten. Bukan batas kedaerahan.

Mari beranjak, memilih berdasarkan figur, rekam jejak, program dan inovasi. Orang Buleleng bebas kalau mau memilih Mantra-Kerta, pun orang Denpasar bebas kalau mau memilih KBS-ACE. Toh asas pemilu kita adalah kebebasan memilih. (T)

Tags: JokowiLogikaPilkada BaliPrabowo
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus# Benar Majapahit Islam?

Next Post

Ketika Panggung Bukan Tujuan Pentas, Tapi Tujuan bagi Pertanyaan

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Ketika Panggung Bukan Tujuan Pentas, Tapi Tujuan bagi Pertanyaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co