3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Panggung Bukan Tujuan Pentas, Tapi Tujuan bagi Pertanyaan

Gede Gita Wiastra by Gede Gita Wiastra
February 2, 2018
in Esai

 

BERTEATER, bila dimaknai seputar belajar akting (aktor), penyutradaraan, dan perangkat produksi lainnya, posisi saya di Teater Kalangan, sungguh berada dalam kejelasan yang tak jelas. Soal menjadi sutradara? Ya, kalau mau bikin pentas yang amburadul, saya jagonya! Apalagi menjadi aktor!

Membuat pertunjukan yang begitu dramatis terasa konyol, saya cukup berpotensi! Tapi, tampaknya Teater Kalangan belum membutuhkan hal itu. Makanya, saya belum pernah turun tangan! Selama ini, saya biasanya bertugas di area tata-menata. Bagai kutu loncat, saya bisa menjadi penata ini dalam satu pertunjukan; menjadi penata itu dalam pertunjukan lainya.

Kadang, ahli loncat-meloncat itulah yang kerap buat saya galau. Saat ditanya perihal tugas saya di Teater Kalangan, apa coba jawaban yang saya berikan? “Saya bisa jadi apa saja!”? Nanti dipikirnya saya sombong! Yang jelas, saya salah satu warga Teater Kalangan. Yang tak jelas, soal tugas saya! Mungkin bisa dikatakan di Teater Kalangan saya tak punya tugas tetap, tapi tetap bertugas! Karena itulah, pada catatan ini, saya memutuskan tak bercerita soal itu. Selesai dong catatannya!

Toh, yang lebih penting, bagi saya sementara ini, bukan soal “jadi apa”, melainkan “untuk apa?”. Pertanyaan itu, tentu tak diiringi nada sentimen yang melahirkan alasan pembenaran. Alasan yang justru membuat diri diam, tak berbuat apa-apa! Ya, kan? Suatu kali, alasan memang dibutuhkan sebagai dasar laku. Kali lain, bisa pula justru alasan yang membuat diri tak me-laku.

Pertanyaan itu, lebih diarahkan pada persoalan untuk apa, misalnya saya, nimbrung dalam sebuah kelompok yang bernama Teater Kalangan dalam ketidakjelasan. Lebih tepatnya, soal pandangan saya, tentu juga kawan-kawan lainnya, atas aktivitas teater (berteater) di Teater Kalangan.

Berteater sebagai Upaya

Berteater bersama Teater Kalangan, kami pandang sebagai suatu upaya. Upayayang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan diri sebagai individu. Setidaknya, kebutuhan untuk mengisi diri dan menjaga diri. Maka itu,pada ranah personal, pertunjukan (teater) bukanlah tujuan. Berteater bukan cuma soal menjadi aktor, sutradara, atau yang lainnya.

Berteater bukan hanya soal pentas. Pentas dan pertunjukan, bisa dikatakan, semacam artefak atas gelisah/laku yang jenuh. Yang keluar-dikeluarkan. Dihadirkan untuk diberi jarak dengan diri. Dan pada suatu hari nanti, dibaca ulang sebagai bahan refleksi: sebagai ihwal yang membangun pandangan dunia tiap individu di Teater Kalangan.

Teater, sebagai seni kolektif, bagi saya, begitu dinamis: bisa dimasuki apa saja dan siapa saja. Dengan ruang lingkup yang begitu luas, aktivitas teater memungkinkan bahkan menuntut diri belajar berbagai hal. Dalam konteks inilah, berteater, saya pandang sebagai usaha untuk mengisi diri. Mengisi diri dengan hal-hal yang beragam.

Terlebih, hidup dalam dunia yang serba disekat, kadang membuat diri lupa melihat wajah realitas yang liyan. Aktivitas kolektif (melibatkan banyak hal) sangat dibutuhkan kehadirannya, untuk memperkaya dan memperluas pandangan. Dengan berteater, saya, tentu bersama kawan-kawan lainnya, tak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga memproduksi pengetahuan secara terus menerus, setidaknya untuk diri sendiri.

Tak hanya mengisi diri, berteater juga kami pandang sebagai upaya menjaga diri untuk tetap terjaga. Saya misalnya, sebagai seorang yang masih imut-imut (sebenarnya labil dan lugu), tiba-tiba dilempar dalam dunia serba cepat dan sarat kepentingan ini. Apa jadinya, jika tak selalu terjaga? Terjaga untuk tetap melakukan pembacaan atas realitas yang sedang dialami.

Oleh karena itu, teater bukan hanya media untuk menumpahkan kegelisahan. Ia sekaligus membuat diri tetap gelisah. Dengan kata lain, tak hanya medium berekspresi, ia sekaligus roda penggerak untuk tetap produktif. Bersama, saling mengingatkan untuk tetap selalu membaca: apakah hari ini diri baik-baik saja?

Dalam lingkup yang personal, pada akhirnya berteater denganTeater Kalangan adalah upaya membuat diri tetap sadar. Kedasaran-kesadaran itulah yang dibangun selama ini. Tiap anggota boleh jadi apa saja dan siapa saja. Jika memilih tak jadi apa pun dan siapa pun tak ada yang melarang. Itu urusan individu masing-masing. Yang terpenting, tiap individu di dalamnya merdeka, atau setidaknya sadar menuju merdeka. Bukan hanya merdeka dalam berteater, melainkan dalam kehidupan yang lebih luas.

Upaya Berteater

Bila “berteater sebagai suatu upaya” berbicara soal laku personal masing-masing individu di Teater Kalangan, “upaya berteater” lebih dipusatkan pada laku sekumpulan individu di Teater Kalangan. Laku bersama anggota Teater Kalangan. Sejak awal, Teater Kalangan berupaya membangun kelompok kolektif. Karya, pertunjukan (teater) misalnya, sebagai produk kelompok, bukan otoritas satu orang. Sutradara, aktor, dan perangkat pertunjukan lainnya hanya pembagian tugas, bukanlah keorganisasian yang hierarkis. Semata-mata untuk memudahkan pengerjaan. Yang satu mungkin hanya bersifat menginisiasi, sedang penggarapannya dilakukan bersama.

Untuk membangun kerja kolektif, laku individu yang merdeka tentu sangat dibutuhkan sehingga upaya membangun kesadaran individu, yang saya katakan di atas, berorientasi pada cara kerja ini. Atau justru sebaliknya, cara kerja kolektif adalah upaya membangun individu yang merdeka?Jadi, tak hanya kesadaran individu yang dibangun selama kurang lebih satu setengah tahun ini, aktivitas di Teater Kalangan, juga berupaya menumbuhkan kesadaran kolektif.

Walau, kini, kami belum menjadi kelompok kolektif yang benar-benar matang. Apa yang dilakukan selama ini cukup menggembirakan. Kesadaran menjadi kolektif telah mulai tumbuh dalam diri tiap individu di Teater Kalangan. Apakah Teater Kalangan benar-benar menjadi kelompok kelektif, sebagaimana yang diharapkan? Kami hanya mampu berserah pada waktu dan diri kami masing-masing. Sebab, selama ini, kami belum pernah berada pada situasi yang, mungkin saja, membenturkan atau meruntuhkan hal-hal yang kami harapkan.

Sebagai kelompok teater profesional, belakangan ini, Teater Kalangan juga berupaya bekerja secara profesional. Profesional dalamarti lengkap: baik pertunjukan dan manajemen produksi. Saya katakan berupaya, sebab kami mengakui yang selama ini memang belum menunjukan keprofesionalan itu sendiri. Tentu, diperlukan upaya-upaya agar yang dicita-citakan tak sekadar menjadi cita-cita.

Adapun yang dilakukan selama ini, misalnya, memanajemen pertunjukan sedemikian rupa: membuat catatan pengantar pertunjukan, mempublikasikan garapan, usaha membina penonton, adalah upaya menuju manajemen produksi yang profesional. Atau dalam ranah pertunjukan, misalnya, itikad untuk diskusi soal teater, latihan rutin, melakukan riset, dan bersentuhan dengan instansi atau kelompok lain, baik langsung maupun tak langsung, adalah upaya yang kami tempuh menuju pertunjukan yang profesional.

Kami sadar betul, tentu butuh kerja yang sungguh keras untuk menuju profesional yang sesungguhnya. Dan barangkali perlu waktu yang relatif panjang pula. Terlebih, Teater Kalangan bukan dibangun oleh orang-orang matang dalam dunia teater, apalagi mapan dalam memanajemen suatu pertunjukan. Justru, di Kalangan-lah kami berupaya menuju kematangan. Matang secara personal dan matang secara kelompok.

Lebih jauh lagi, kami juga berharap Teater Kalangan dapat memberi warna pada dunia kesenian, bahkan kebudayaan itu sendiri. Begitulah, kami selalu ingat kata para tetua, bahwa kami harus selalu menggantungkan cita-cita setinggi langit. Usaha mencoba merumuskan ulang atau mempertanyaan kembali konsep-konsep dalam teater adalah upaya yang kami tempuh untuk menuju hal itu.

Misalnya, dalam beberapa pentas monolog, sementara ini, kami mempertanyakan kembali soal monolog yang dipahami sebagai bentuk pentas satu orang. Atau untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan lain, misalnya, mencoba merancang pertunjukan dengan beragam pendekatan. Pendekatan yang lahir atas hasil refleksi terhadap ruang, suasana, wilayah sosio-kultural yang membangun diri kami, kiranya berpotensi disajikan dalam bentuk pentas teater.

Pada lingkup yang lebih luas, kami juga sempat mempertanyakan aktivitas yang kelak kami lakoni di Teater Kalangan. Pada dasarnya, kami tak mau Teater Kalangan menjadi mesin pencetak pertunjukan semata. Sebab, panggung bukanlah satu-satunya tujuan berteater. Kami berharap, aktivitas kolektif tak berhenti usai pentas, tetapi berlangsung di kehidupan. Layaknya sebuah banjar—cermin kolektivitas masyarakat Bali. Bukan banjar dalam suatu wilayah toritorial tertentu. Banjar yang tak terlihat. Kami menyebutnya banjar-imajinatif. Maka, ketika panggung bukanlah tujuan, teater adalah gerakan bersama membangun banjar-imajinatif.

Demikianlah catatan ini saya buat. Mohon maaf bila sampai catatan ini selesai, pembaca tak jua mendapatkan kejelasan soal Teater Kalangan, dari apa yang saya tulis. Tapi sungguh, sementara ini, itulah kejalasannya. Kejelasan yang belum jelas, sebagaimana posisi saya di kelompok ini.

Teater Kalangan barulah berumur satu setengah tahun. Bagai membuat sebuah bangunan, kami baru berada pada tahap memilah-milih bahan.Yang saya catat ini ialah soal bahan, atau mungkin sampai rupa rancang bangunannya.Rupa yang masih dalam bayang-bayang. Masih banyak yang mesti disiapkan, biar yang dibangun benar-benar kokoh. (T)

Tags: PendidikanTeaterTeater Kalangan
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Next Post

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Gede Gita Wiastra

Gede Gita Wiastra

Suka bercerita, suka melucu, suka tertawa. Pernah menulis puisi, tapi lebih jago memusikkan atau melagukan puisi. Status menikah dengan (baru) satu anak

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co