3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Yoga Permana by Yoga Permana
February 2, 2018
in Kuliner

 

BULAN Januari sampai awal Februari ini adalah bulan yang paling gawat bagi para mahasiswa. Tentu karena bulan-bulan itu biasanya tenggat mahasiswa bayar SPP.

Bagi mahasiswa semester awal, SPP bukan masalah gawat. Biasanya mereka akan sangat mudah minta uang SPP pada orang tua (ortu), karena ortu juga sedang semangat-semangatnya men-suport untuk bisa sukses dalam kuliah.

Tapi bagaimana dengan para “mahasisa”.  “Mahasisa” adalah istilah bagi mahasiswa yang telat tamat. Harusnya minimal semester 8 sudah angkat kaki dari kampus sembari memegang ijazah dan mengantongi gelar di belakang nama. Tapi, mahasisa, adalah mahasiswa yang masih wara-wiri di kampus (lebih sering sebenarnya di nongkrong kantin), padahal teman seangkatan sudah angkat koper.

Nah, para mahasisa yang masuk pada level semester 9, atau 10, apalagi sampai semester 14, tentu akan uring-uringan di bulan Januari dan Februari ini. Mahasisa pastilah sangat galau melihat pemberitahuan tentang tagihan pembarayan uang kuliah atau lebih dikenal dengan SPP/UKT/BKT dan lain sebagainya.

Istilah-istilah ini tentu tidak asing buat mereka. Seperti hantu, tiba-tiba datang meneror membuat jantung dan kantong seperti di-dor.

Tetapi istilah-istilah tersebut tidaklah lebih meyeramkan daripada ketegangan saat menagih uang kepada orang tua. Apalagi setelah bayar kost atau keperluan kemasiswaan lainnya.

Tapi tenang, inilah tips bagai mahasisa bagaimana menagih uang kepada orang tua agar semuanya berjalan lancar, aman, damai dan mahasisa bisa melanjutkan nongkrong di kantin, eh salah, maksudnya melanjutkan perkuliahan sebagaimana mestinya.

Tips pertama tentu siapkan mentalmu. Tapi ingat, mental harus lebih tebal dari pada wajah, mental yang jauh lebih tebal dari mental saat bertemu dosen pembimbing.

Tips kedua: gunakan komunikasi tulis melalui SMS/WA, karena jika tips ini gagal, dan terpaksa harus menelepon bersiaplah ke dokter THT. Siapa tahu Anda akan mengalami tuna rungu akut.

Tips ketiga: mulailah percakapan WA dangan bertanya keadaan orang tua! Contohnya: “Pak/Buk, seger?”, “Pak/Buk, sehat?”, Pak/Buk, saya sayang Bapak/Ibu”, dan sejenisnya.

Tips ini sangatlah penting. Tujuannya tentu untuk membuat hati orang tua senang. Atau bisa ditambah basa-basi sedikit dengan mengucap salam Om swastyastu/Assalamualaikum misalnya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, mungkin orang tua bertanya-tanya kenapa anaknya tumben bertanya dengan penuh perhatian. Padahal sebelumnya jangankan bertanya kabar, jawab SMS pun males-malesan. Maka itu siapkan sedikit retorika, naikkan ego orang tua.

Bilang ke orang tua bahwa bagaimana pun orang tua punya peran penting bagi kesuksesan anaknya. Bilang juga terima kasih karena jika tak ada orang tua, kau tak akan bisa jadi apa-apa. Setelah kondisi agak normal, dan detak jantungmu sudah teratur, maka mulailah menyampaikan apa yang diinginkan. Jangan lupa minta maaf karena sudah membuat orang tua susah-payah mengurus biaya pendidikanmu.

Jika orang tua memiliki penyakit jantung atau penyakit akut lainnya, ada baiknya bertanya dulu apakah minggu ini sudah kontrol ke dokter atau belum. Jika jawabannya belum, tolong segera batalkan niat secepatnya untuk melakukan tagihan!

Tips keempat: jika sudah tahu bahwa orang tua tidak dalam kondisi ekonomi yang baik. Bertanyalah di mana tempat pinjam uang dengan bunga yang rendah. Atau bertanyalah apakah masih ada barang atau warisan yang bisa digadaikan. Dengan begini kejelasan apakah SPP akan terbayarkan akan lebih akurat.

Atau jika orang tua sudah tak sanggup, bahkan untuk meminjam uang alias ngutang sekali pun di tentangga, atau di LPD desa adat, maka berjanjilah kau sendiri yang akan membayarnya nanti. Jangan lupa isi embel-embel: utang dibayar saat sudah mendapat pekerjaan. Nah, soal kapan kau akan bekerja, itu urusan nanti.

Jika tidak ada balasan atau respon, berusahalah untuk sabar dan coba lagi. Atau coba lebih serius dengan menjelaskan dengan agak hati-hati kenapa kau masih tetap bayar SPP padahal kuliah sudah seharusnya selesai. Cobalah member alasan dengan kata-kata menyentuh, bahwa ada “sesuatu yang sulit dijelaskan” kenapa kau telat tamat dan harus bayar lagi SPP.

Katakan juga bahwa bukan hanya kau sendirian yang belum tamat, masih banyak teman-temanmu yang juga harus bayar SPP lagi akibat skripsi tak kelar-kelar. Meski misalnya sudah 99 persen teman seangkatanmu telah lebih dulu meninggalkanmu kesepian di kampus. .

Tips kelima: jika semua upaya melalui SMS atau WA gagal, maka pulanglah. Di rumah kau pasang wajah sedih seakan-akan ditinggalkan pacar. Duduk terus di teras sambil bengong dan pasang tatapan mata kosong. Bila perlu tak makan-makan untuk menunjukkan bahwa kau tak enak makan akibat ada masalah besar.

Jika ditanyai orang tua, berupayalah membuat matamu berkaca-kaca. Lalu minta maaf pada orang tua. Minta maaf saja dulu, bila perlu berkali-kali minta maaf, tanpa menyampaikan apa masalahmu. Dan katakan pada orang tua bahwa dirinya benar-benar tak berguna dan hanya menyusahkan orang tua.

Lalu, pada saat orang tuamu mendesak, maka sampaikan pelan-pelan bahwa kau masih perlu membayar uang SPP agar kuliahmu tak putus. Nah, orang tua mana yang tega melihat anaknya sesdih itu, seputus-asa itu, sefrustrasi itu.

Begitulah tips bagi mahasisa alias mahasiswa yang telat tamat. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, berdoalah terus. Bila perlu puasa tujuh hari tujuh malam, terutama jika bekal memang benar-benar habis.

Jika semua itu gagal, segeralah kemasi barang-barangmu. Jangan lupa pamitan kepada teman-teman, kepada pacar (jika punya) dan kepada pemilik kost utamanya, bilang saja semua sudah berakhir. Dan katakan bahwa kau pulang kampung untuk membangun desa.

Catatan Penting: Tips ini memang ngawur. Tapi penting untuk diikuti jika kau ingin tetap wisuda. Boleh saja tips ini diabaikan, syaratnya: segeralah wisuda. Wisuda adalah satu-satunya alasan untuk tidak lagi mengikuti tips ngawur semacam ini! (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikan
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Panggung Bukan Tujuan Pentas, Tapi Tujuan bagi Pertanyaan

Next Post

Nyoman Wirata# Puisi: Aku Memungut Bendera dan Air Mata Seekor Elang

Yoga Permana

Yoga Permana

Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja. Suka menonton bola, suka musik, teater dan sastra. Bergabung dengan Komunitas Mahima dengan konsentrasi musikalisasi puisi dan teater. Kini mulai belajar menulis.

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post

Nyoman Wirata# Puisi: Aku Memungut Bendera dan Air Mata Seekor Elang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co