17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 9, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 9 Mei 2024

Besakih tidak pernah tertulis dalam prasasti-prasasti Bali kuno dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuno.

Besakih baru muncul dalam lontar-lontar peninggalan era kerajaan Gelgel, salah satu yang utama untuk menjadi pedoman memahami sejarah Besakih adalah lontar RAJA PURANA BESAKIH yang dibuat periode Gelgel.

“Saya merasa aneh bahwa tempat suci kuno seperti tempat suci utama [sekelas Besakih] tidak disebutkan dalam prasaasti, mungkinkah dengan nama yang berbeda?” tanya Dr. R. GORIS yang seumur hidupnya didedikasikan untuk membaca semua prasasti raja-raja Bali kuno yang ditemukan di Bali.

Kumpulan terjemahan dan analisa berbagai prasasti Bali kuno yang dikerjakan Goris, yang termuat dalam buku PRASASTI BALI I&II (1954), tidak satupun menyebut nama Besakih. Prasasti-prasasti dari Śri Kesari Warmadewa (ca. 913-914 M), Śri Ugrasena (ca. 915-942 M), Sri Haji Tabanendra Warmadewa (ca. 955-967 M), Indrajayasingha Warmadewa atau Candrabhaya Singha Warmadewa (ca. 956-974 M), Janasadhu Warmadewa (ca. 975 M), Śri Wijaya Mahadewi (ratu, ca. 983 M), Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni (ratu, ca 989-1007 M) dan Dharma Udayana Warmadewa (ca. 989-1011 M), Śri Ajñadewi (ratu, ca. 1011-1016 M), Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa (ca. 1016-1025 M), Anak Wungsu (ca. 1025-1077 M), Śri Maharaja Walaprabhu (1079–1088 M), Śri Maharaja Sakalendukirana Laksmidhara Wijayottunggadewi (ratu, ca. 1088-1101 M), Sri Suradhipa (ca. 1115-1119), Śri Jayaśakti  (ca. 1133-1150 M), Sri Ragajaya (ca. 1155 M), Śri Maharaja Jayapangus (ca. 1178-1181 M), Śri Maharaja Ekajayalancana (ca. 1200 M), sampai Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa (ca. 1324-1325), tidak satupun menyebut kata ‘Besakih’.

Ambisi Goris untuk mencari nama lain Besakih dalam prasasti akhirnya berujung sebuah “kekeliruan”. Pendapatnya tersebut terlampir dalam ‘Naschrift’ di belakang artikel panjangnya yang berjudul: DE POERA BESAKIH — BALI’S RIJKSTEMPEL (Goris 1937:78).

Dalam ‘Naschrift’ tersebut ia menyimpulkan bahwa nama kuno dari Besakih adalah Çri-mukha, Çri-muka dan Buka-çri (Bukaçri). Menariknya dalam artikel setelahnya (Goris 1969b:97), ia mengakui bahwa kesimpulannya itu keliru.

Berikut kutipan ‘Naschrift’ (asalinya berbahasa Belanda) dari tulisan Goris:

—————————

Dokumen mengenai desa Bahungtringan yang telah disebutkan dan disimpan di pura desa Babandem membawa saya pada suatu kecurigaan, yang ingin saya ungkapkan di sini sebagai kesimpulan pembahasan tentang Bésakih.

Saya merasa aneh bahwa tempat suci kuno seperti kuil kami disebutkan dalam piagam, mungkin dengan nama yang berbeda.

Nah dalam dokumen Babandem (di Karang Asem) tersebut disebutkan gunung (Bukit) Tulangkir, yang di dalamnya kita sudah mengenal nama lama Goenoeng Agoeng. Sekarang dalam bagian yang sama suruhan bhatara Buka-çri dibicarakan dua kali; dari sini sudah dapat diduga bahwa Buka-çri ini adalah tempat suci terbesar di Besakih yang berdekatan.

Namun masih ada lagi: Dalam sebuah dokumen yang disimpan di Péngotan (1296 M), salah satu batas wilayah Basangara yang dirawat disebutkan sebagai: Buka-çri. Sekarang kita mengetahui dari perbatasan lain dan dari daerah lain bahwa Basangara pasti terletak di kawasan pegunungan di selatan Danau Batur, sehingga dalam hal ini Buka-çri pun bisa jadi adalah Besakih.

Dalam dokumen C dari poera bale agoeng Soekawana (1300 M), setelah dilakukan pencacahan batas wilayah desa Soekawana (dieja Sikawana pada bagian ini), disebutkan bahwa Lampérah (desa atau desa yang diketahui dari dokumen lain dan sering terletak di sebelah timur Danau Batur, sebelah barat laut Besakih) setiap tahun harus membawa oleh-oleh tertentu kepada Sukawana, begitu juga dengan Çrimuka. Jadi di sini persamaan Çri muka dengan Besakih bukannya tidak berdasar.

Jika kita mundur lebih jauh ke masa lalu, kita menemukan bahwa sebuah piagam dari tahun 1182 membahas kelompok pemburu, atau lebih baik lagi tentang penghuni tempat perburuan kerajaan; ini tinggal di Bayung, Bunar dan Çri mukha. Bayung adalah Bajoeng gede saat ini di arah barat daya. dari Danau Batoer.

Kita mengetahui dari dokumen lain bahwa Bunar (juga, dalam dokumen lain: Bunah) terletak di sebelah selatan Boewahan dan sebelah timur Bajoeng (géde). Oleh karena itu, wilayah ketiga lebih jauh ke timur dan kemudian kita kembali ke wilayah Besakih.

Tulisan yang lebih tua lagi, yakni heredik kedua Sérai pada tahun 1067, juga menyebutkan tiga kelompok pemburu kerajaan atau pelayan kerajaan (marbwat-thaji) di tempat berburu (di buru) di Bayung, Bunar, dan Çri mukha.

Jadi jika kita mulai dari potongan tertua, maka Bésakih saat ini, yang disebutkan sebagai tempat berburu dan tempat perlindungan (Bhatära Buka-çri), masih disebut Çri-mukha pada tahun 1067 dan 1181. Pada tahun 1296 Buka çri, pada tahun 1300 lagi Çri-mukha dan dalam dokumen tak bertanggal (dokumen Babandém) Buka-çri.

Tidak diragukan lagi bahwa nama Çri-mukha, Çri-muka dan Buka cri (Buka cri) ini sama-sama identik. Apalagi wujud yang lebih muda sepertinya adalah Buka çri. Dari Buka çri, dan terutama karena namanya tidak lagi dipahami, Bésakih akan muncul, dimana seperti dalam banyak kasus lainnya, ada hubungan dengan naga yang terkenal ini: Bäsuki, yang bentuknya telah disebutkan dalam catatan dari tahun 1444 dan 1456 muncul.

Di sini dikatakan: desa Hulun Dang ring (resp. hung) Basuki (dua kali dalam kedua piagam). Perlu juga disebutkan bahwa desa Hulun Dang disebut juga Hila hila. Sehingga kedua kata tersebut mungkin bukan nama diri, melainkan nama generik: Hila-hila artinya “suci, terlarang”, dsb., sedangkan Hulun-dang bisa berarti “hamba atau abdi Dang”, yang kemudian Dang berarti Tuhan, seperti pada dang-hyang (lih. juga bhatära Dato-nta Bali Kuno, yaitu = O. J. bhatära Punta-hyang dan di bagian lain dewa-dasa; sedangkan juga bentuk padahyangan terjadi, termasuk di Soekawana B dari tahun 1181).

Masalah lain yang ingin saya singgung adalah sebagai berikut: Dalam sebuah artikel di Bhäwanägara dalam terbitan sekitar bulan Mei 1931, yang berjudul “Poera Bésakih dengan tueroetannja” (hlm. 205 m2), Ida Poetoe Maron menceritakan sebuah legenda lain tentang asal usul candi daripada yang kami reproduksi di catatan 7. Ada satu hal yang penting, yaitu nama pendirinya adalah: Séri Wira Dalém Kesari. Karena pangeran dari pilar prasasti Sanoer tahun 839 (817 M) disebutkan dua kali Cri Kecari (-warma…). Jadi dalam legenda Bésakih yang baru saja disebutkan nama Sri (Wira Dalém) Kesari akan menjadi pengingat akan nama tersebut nama pangeran dari tahun 817 M?

—————

Semua pendapatnya di atas dianulir sendiri alias ditarik kembali oleh Goris. Ia mengatakan kesimpulan dalam artikel tersebut keliru dan menempatkan letak Bukaśri (dalam ejaan lama ditulis ‘Bukaçri’) letaknya di dekat Landih, dengan asumsi bahwa Basanghara berada di dekat Pengotan dan bukan Pemuteran (Goris 1969b:97).

Dalam buku: “Pura Besakih: Temple, Religion and Society in Bali” D.J. Stuart-Fox menjelaskan bahwa belum tentu pendapat Goris tersebut sepenuhnya keliru, dan berpendapat seperti ingin membuka kembali pertanyaan jangan-jangan nama kuno Besakih adalah seperti dugaan Goris yang tariknya sendiri:

“… apalagi jika kita menganggap Buka Sri dan Sri Muka sebagai tempat yang berbeda. Buka Sri muncul dalam dua prasasti. Istilah suruhan (petugas pajak tanah?) dari Bhatari Buka Śri, seorang dewi, muncul dua kali dalam titah Bahungtringan (PB 552:IVa3, IVb4), yang tidak banyak memberi tahu kita, namun dalam titah Basangara (daerah Pemuteran) Buka Sri terletak di sebelah timur Basangara (PB 80l:Ib3 dalam Budiastra 1978:26, 57). Secara geografis, lokasi ini sangat dekat dengan Besakih, namun masih terdapat masalah linguistik dalam diturunkannya Basuki dari Bukasri. Huruf ‘r’ biasanya menghilang dalam bahasa Bali, meninggalkan kemiripan vokal dan konsonan yang menarik antara Bukas(r)i dan Basuki.”

“Sekte-Sekte di Bali” karangan Goris terlalu menyederhanakan


Kasus “Goris menganulir Goris” ini menarik direnungi. Secemerlang apapun seorang peneliti menulis risetnya, bisa saja pernah keliru. Terlepas dari jasa besar Goris dalam meneliti Bali, ia pernah keliru dan menganulir sendiri pendapatnya.

Adakah karya tulis Goris yang keliru? Atau mengandung “persoalan”?

Prof Haryati Soebadio secara tegas mengkritik tulisan Goris: “Secten op Bali” (terbit dalam Mededelingen Kirtya van der Tuuk no. 3, hlm. 37-54 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Sekte-Sekte di Bali”, 1974) dinilai terlalu menyederhanakan.

Prof Haryati Soebadio dalam sambutannya berpendapat terlalu menyederhanakan masalah:

“Karangan Goris ini akan terutama penting dalam penelitian naskah keagamaan. Tidak ada karangan lain yang dengan demikian jelas memperlihatkan struktur aliran-aliran yang akhirnya menjadikan Hinduisme berbentuk sebagai sekarang. Tentu gambaran Goris dapat disebut terlalu simplistis juga. Namun, guna pengertian yang mendalam, gambaran pertama yang dapat menyederhanakan masalah merupakan bantuan yang sangat berguna.”

Buku kecil “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali) telah banyak menimbulkan kekeliruan pembacanya yang beranggapan bahwa telah ada pertentangan sekte-sekte terjadi di masa lal  Bali. Padahal, kalau dibaca dengan seksama maka Goris tidak mengatakan ada pertentangan sekte-sekte tetapi terdapat jejak berbagai ajaran atau ‘paksa’ dan di Bali bisa dijejaki ‘paksha’ yang menyusun Hinduisme yang berkembang di Bali. Agama yang dipeluk di Bali sendiri adalah sudah sinkretik sedari dulunya.

Tidak pernah Goris menulis ada pertentangan atau perpecahan sekte di Bali sebagaimana banyak dibicarakan para penulis belakangan yang keliru mengutip Goris. Terlebih, jika membaca disertasi Goris, terdapat “pertentangan” antara isi disertasinya dengan beberapa uraian yang disampaikan dalam “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali).

Siapapun membaca Goris sebaiknya berhatihati dan kritis, terutama buku kecil “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali). Banyak jebakan di dalamnya karena terlalu simplistis, terlalu besar ruang interpretasi yang ditinggalkan, sehingga pembaca yang tidak runut membacanya akan bisa terjebak membuat kesimpulan seolah-olah di era Bali kuno terdapat pertentangan atau peperangan antar sekte. Padahal tidak ada bukti yang bisa membenarkan asumsi liar tersebut. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963


Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi
Tags: baliPura BesakihRudolf Goris
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Next Post

Komunikasi Lingkungan: Ikhtiar Merawat Semesta

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Lingkungan: Ikhtiar Merawat Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co