6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 9, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 9 Mei 2024

Besakih tidak pernah tertulis dalam prasasti-prasasti Bali kuno dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuno.

Besakih baru muncul dalam lontar-lontar peninggalan era kerajaan Gelgel, salah satu yang utama untuk menjadi pedoman memahami sejarah Besakih adalah lontar RAJA PURANA BESAKIH yang dibuat periode Gelgel.

“Saya merasa aneh bahwa tempat suci kuno seperti tempat suci utama [sekelas Besakih] tidak disebutkan dalam prasaasti, mungkinkah dengan nama yang berbeda?” tanya Dr. R. GORIS yang seumur hidupnya didedikasikan untuk membaca semua prasasti raja-raja Bali kuno yang ditemukan di Bali.

Kumpulan terjemahan dan analisa berbagai prasasti Bali kuno yang dikerjakan Goris, yang termuat dalam buku PRASASTI BALI I&II (1954), tidak satupun menyebut nama Besakih. Prasasti-prasasti dari Śri Kesari Warmadewa (ca. 913-914 M), Śri Ugrasena (ca. 915-942 M), Sri Haji Tabanendra Warmadewa (ca. 955-967 M), Indrajayasingha Warmadewa atau Candrabhaya Singha Warmadewa (ca. 956-974 M), Janasadhu Warmadewa (ca. 975 M), Śri Wijaya Mahadewi (ratu, ca. 983 M), Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni (ratu, ca 989-1007 M) dan Dharma Udayana Warmadewa (ca. 989-1011 M), Śri Ajñadewi (ratu, ca. 1011-1016 M), Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa (ca. 1016-1025 M), Anak Wungsu (ca. 1025-1077 M), Śri Maharaja Walaprabhu (1079–1088 M), Śri Maharaja Sakalendukirana Laksmidhara Wijayottunggadewi (ratu, ca. 1088-1101 M), Sri Suradhipa (ca. 1115-1119), Śri Jayaśakti  (ca. 1133-1150 M), Sri Ragajaya (ca. 1155 M), Śri Maharaja Jayapangus (ca. 1178-1181 M), Śri Maharaja Ekajayalancana (ca. 1200 M), sampai Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa (ca. 1324-1325), tidak satupun menyebut kata ‘Besakih’.

Ambisi Goris untuk mencari nama lain Besakih dalam prasasti akhirnya berujung sebuah “kekeliruan”. Pendapatnya tersebut terlampir dalam ‘Naschrift’ di belakang artikel panjangnya yang berjudul: DE POERA BESAKIH — BALI’S RIJKSTEMPEL (Goris 1937:78).

Dalam ‘Naschrift’ tersebut ia menyimpulkan bahwa nama kuno dari Besakih adalah Çri-mukha, Çri-muka dan Buka-çri (Bukaçri). Menariknya dalam artikel setelahnya (Goris 1969b:97), ia mengakui bahwa kesimpulannya itu keliru.

Berikut kutipan ‘Naschrift’ (asalinya berbahasa Belanda) dari tulisan Goris:

—————————

Dokumen mengenai desa Bahungtringan yang telah disebutkan dan disimpan di pura desa Babandem membawa saya pada suatu kecurigaan, yang ingin saya ungkapkan di sini sebagai kesimpulan pembahasan tentang Bésakih.

Saya merasa aneh bahwa tempat suci kuno seperti kuil kami disebutkan dalam piagam, mungkin dengan nama yang berbeda.

Nah dalam dokumen Babandem (di Karang Asem) tersebut disebutkan gunung (Bukit) Tulangkir, yang di dalamnya kita sudah mengenal nama lama Goenoeng Agoeng. Sekarang dalam bagian yang sama suruhan bhatara Buka-çri dibicarakan dua kali; dari sini sudah dapat diduga bahwa Buka-çri ini adalah tempat suci terbesar di Besakih yang berdekatan.

Namun masih ada lagi: Dalam sebuah dokumen yang disimpan di Péngotan (1296 M), salah satu batas wilayah Basangara yang dirawat disebutkan sebagai: Buka-çri. Sekarang kita mengetahui dari perbatasan lain dan dari daerah lain bahwa Basangara pasti terletak di kawasan pegunungan di selatan Danau Batur, sehingga dalam hal ini Buka-çri pun bisa jadi adalah Besakih.

Dalam dokumen C dari poera bale agoeng Soekawana (1300 M), setelah dilakukan pencacahan batas wilayah desa Soekawana (dieja Sikawana pada bagian ini), disebutkan bahwa Lampérah (desa atau desa yang diketahui dari dokumen lain dan sering terletak di sebelah timur Danau Batur, sebelah barat laut Besakih) setiap tahun harus membawa oleh-oleh tertentu kepada Sukawana, begitu juga dengan Çrimuka. Jadi di sini persamaan Çri muka dengan Besakih bukannya tidak berdasar.

Jika kita mundur lebih jauh ke masa lalu, kita menemukan bahwa sebuah piagam dari tahun 1182 membahas kelompok pemburu, atau lebih baik lagi tentang penghuni tempat perburuan kerajaan; ini tinggal di Bayung, Bunar dan Çri mukha. Bayung adalah Bajoeng gede saat ini di arah barat daya. dari Danau Batoer.

Kita mengetahui dari dokumen lain bahwa Bunar (juga, dalam dokumen lain: Bunah) terletak di sebelah selatan Boewahan dan sebelah timur Bajoeng (géde). Oleh karena itu, wilayah ketiga lebih jauh ke timur dan kemudian kita kembali ke wilayah Besakih.

Tulisan yang lebih tua lagi, yakni heredik kedua Sérai pada tahun 1067, juga menyebutkan tiga kelompok pemburu kerajaan atau pelayan kerajaan (marbwat-thaji) di tempat berburu (di buru) di Bayung, Bunar, dan Çri mukha.

Jadi jika kita mulai dari potongan tertua, maka Bésakih saat ini, yang disebutkan sebagai tempat berburu dan tempat perlindungan (Bhatära Buka-çri), masih disebut Çri-mukha pada tahun 1067 dan 1181. Pada tahun 1296 Buka çri, pada tahun 1300 lagi Çri-mukha dan dalam dokumen tak bertanggal (dokumen Babandém) Buka-çri.

Tidak diragukan lagi bahwa nama Çri-mukha, Çri-muka dan Buka cri (Buka cri) ini sama-sama identik. Apalagi wujud yang lebih muda sepertinya adalah Buka çri. Dari Buka çri, dan terutama karena namanya tidak lagi dipahami, Bésakih akan muncul, dimana seperti dalam banyak kasus lainnya, ada hubungan dengan naga yang terkenal ini: Bäsuki, yang bentuknya telah disebutkan dalam catatan dari tahun 1444 dan 1456 muncul.

Di sini dikatakan: desa Hulun Dang ring (resp. hung) Basuki (dua kali dalam kedua piagam). Perlu juga disebutkan bahwa desa Hulun Dang disebut juga Hila hila. Sehingga kedua kata tersebut mungkin bukan nama diri, melainkan nama generik: Hila-hila artinya “suci, terlarang”, dsb., sedangkan Hulun-dang bisa berarti “hamba atau abdi Dang”, yang kemudian Dang berarti Tuhan, seperti pada dang-hyang (lih. juga bhatära Dato-nta Bali Kuno, yaitu = O. J. bhatära Punta-hyang dan di bagian lain dewa-dasa; sedangkan juga bentuk padahyangan terjadi, termasuk di Soekawana B dari tahun 1181).

Masalah lain yang ingin saya singgung adalah sebagai berikut: Dalam sebuah artikel di Bhäwanägara dalam terbitan sekitar bulan Mei 1931, yang berjudul “Poera Bésakih dengan tueroetannja” (hlm. 205 m2), Ida Poetoe Maron menceritakan sebuah legenda lain tentang asal usul candi daripada yang kami reproduksi di catatan 7. Ada satu hal yang penting, yaitu nama pendirinya adalah: Séri Wira Dalém Kesari. Karena pangeran dari pilar prasasti Sanoer tahun 839 (817 M) disebutkan dua kali Cri Kecari (-warma…). Jadi dalam legenda Bésakih yang baru saja disebutkan nama Sri (Wira Dalém) Kesari akan menjadi pengingat akan nama tersebut nama pangeran dari tahun 817 M?

—————

Semua pendapatnya di atas dianulir sendiri alias ditarik kembali oleh Goris. Ia mengatakan kesimpulan dalam artikel tersebut keliru dan menempatkan letak Bukaśri (dalam ejaan lama ditulis ‘Bukaçri’) letaknya di dekat Landih, dengan asumsi bahwa Basanghara berada di dekat Pengotan dan bukan Pemuteran (Goris 1969b:97).

Dalam buku: “Pura Besakih: Temple, Religion and Society in Bali” D.J. Stuart-Fox menjelaskan bahwa belum tentu pendapat Goris tersebut sepenuhnya keliru, dan berpendapat seperti ingin membuka kembali pertanyaan jangan-jangan nama kuno Besakih adalah seperti dugaan Goris yang tariknya sendiri:

“… apalagi jika kita menganggap Buka Sri dan Sri Muka sebagai tempat yang berbeda. Buka Sri muncul dalam dua prasasti. Istilah suruhan (petugas pajak tanah?) dari Bhatari Buka Śri, seorang dewi, muncul dua kali dalam titah Bahungtringan (PB 552:IVa3, IVb4), yang tidak banyak memberi tahu kita, namun dalam titah Basangara (daerah Pemuteran) Buka Sri terletak di sebelah timur Basangara (PB 80l:Ib3 dalam Budiastra 1978:26, 57). Secara geografis, lokasi ini sangat dekat dengan Besakih, namun masih terdapat masalah linguistik dalam diturunkannya Basuki dari Bukasri. Huruf ‘r’ biasanya menghilang dalam bahasa Bali, meninggalkan kemiripan vokal dan konsonan yang menarik antara Bukas(r)i dan Basuki.”

“Sekte-Sekte di Bali” karangan Goris terlalu menyederhanakan


Kasus “Goris menganulir Goris” ini menarik direnungi. Secemerlang apapun seorang peneliti menulis risetnya, bisa saja pernah keliru. Terlepas dari jasa besar Goris dalam meneliti Bali, ia pernah keliru dan menganulir sendiri pendapatnya.

Adakah karya tulis Goris yang keliru? Atau mengandung “persoalan”?

Prof Haryati Soebadio secara tegas mengkritik tulisan Goris: “Secten op Bali” (terbit dalam Mededelingen Kirtya van der Tuuk no. 3, hlm. 37-54 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Sekte-Sekte di Bali”, 1974) dinilai terlalu menyederhanakan.

Prof Haryati Soebadio dalam sambutannya berpendapat terlalu menyederhanakan masalah:

“Karangan Goris ini akan terutama penting dalam penelitian naskah keagamaan. Tidak ada karangan lain yang dengan demikian jelas memperlihatkan struktur aliran-aliran yang akhirnya menjadikan Hinduisme berbentuk sebagai sekarang. Tentu gambaran Goris dapat disebut terlalu simplistis juga. Namun, guna pengertian yang mendalam, gambaran pertama yang dapat menyederhanakan masalah merupakan bantuan yang sangat berguna.”

Buku kecil “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali) telah banyak menimbulkan kekeliruan pembacanya yang beranggapan bahwa telah ada pertentangan sekte-sekte terjadi di masa lal  Bali. Padahal, kalau dibaca dengan seksama maka Goris tidak mengatakan ada pertentangan sekte-sekte tetapi terdapat jejak berbagai ajaran atau ‘paksa’ dan di Bali bisa dijejaki ‘paksha’ yang menyusun Hinduisme yang berkembang di Bali. Agama yang dipeluk di Bali sendiri adalah sudah sinkretik sedari dulunya.

Tidak pernah Goris menulis ada pertentangan atau perpecahan sekte di Bali sebagaimana banyak dibicarakan para penulis belakangan yang keliru mengutip Goris. Terlebih, jika membaca disertasi Goris, terdapat “pertentangan” antara isi disertasinya dengan beberapa uraian yang disampaikan dalam “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali).

Siapapun membaca Goris sebaiknya berhatihati dan kritis, terutama buku kecil “Secten op Bali” (Sekte-Sekte di Bali). Banyak jebakan di dalamnya karena terlalu simplistis, terlalu besar ruang interpretasi yang ditinggalkan, sehingga pembaca yang tidak runut membacanya akan bisa terjebak membuat kesimpulan seolah-olah di era Bali kuno terdapat pertentangan atau peperangan antar sekte. Padahal tidak ada bukti yang bisa membenarkan asumsi liar tersebut. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963


Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi
Tags: baliPura BesakihRudolf Goris
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Next Post

Komunikasi Lingkungan: Ikhtiar Merawat Semesta

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Lingkungan: Ikhtiar Merawat Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co