4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto: bbc.com/Terence Spencer/The LIFE Images Collection/Getty Images. //Gelombang di sungai-sungai di Bali, penuh dengan lumpur dan abu dan puing setelah letusan Gunung Agung 1963.

 

Kesaksian Prof. Anwari Dilmy

Prof. Anwari Dilmy adalah ahli botani ternama, lulusan Sekolah Pertanian Buitenzorg (sekarang Bogor), sebulan setelah letusan Gunung Agung terjadi tahun 1963 datang ke Besakih meneliti tumbuh-tumbuhan dan keadaan Besakih dan Gunung Agung.
Prof. Anwari Dilmy menulis makalah berjudul: ‘Pioneer Plants Found One Year After the 1963 Eruption of Agung in Bali’, ditulis berdasarkan kesaksiannya berkunjung/survey 3 kali ke Besakih dan naik Gunung Agung.

Di bawah ini adalah terjemahkan cepat, disederhanakan dan versi pendek makalah yang ditulis Prof. Anwari Dilmy tersebut:

TANDA-TANDA SEBELUM LETUSAN

GEMPA TREMOR
16-17 Februari 1963
Indikasi pertama dari gunung berapi yang aktif pada tahun 1963 adalah gempa dan guncangan gempa yang sering terjadi dan berulang yang dirasakan oleh beberapa orang yang tinggal di Jehkuri, sebuah desa di lereng selatan gunung berapi sekitar 6 kilometer dari puncak.

Tidak tercatat jam berapa tepat gempa dan guncangan gempa terjadi, namun dirasakan pada sore hari tanggal 16 Februari. Keesokan harinya gempa bumi yang lemah kembali terasa, kali ini di Kubu, sebuah desa pantai di kaki utara gunung berapi. Kejadian ini menyebabkan ayunan lampu gantung berayun-ayun lambat.

GEMURUH
18 Februari 1963
Keesokan harinya, 18 Februari, pukul 11 malam, gemuruh yang lemah tapi berbeda terdengar untuk pertama kalinya.

AWAN TIPIS & API
19 Februari 1963
Pada jam 3 pagi hari pada tanggal 19 beberapa orang yang khawatir dan tetap terjaga sepanjang malam melihat pendakian pertama dari sebuah kolom asap tipis yang naik secara vertikal. Dari saat itu, aktivitas terus berlanjut sebentar-sebentar, dengan periode aktivitas yang berlangsung sekitar 1 jam diikuti dengan periode istirahat 1 jam. Pada malam hari ke-19 sinar terlihat di bibir kawah utara.

LAHAR MENGALIR
20 Februari 1963
Aktivitas vulkanik periodik berlanjut dengan intensitas yang meningkat sampai 20 Februari, pada hari dimana lahar mulai mengalir di sepanjang lereng utara dan ‘nuees ardentes’ turun ke arah yang sama, menyebabkan kematian korban pertama di Siligading.

LAHAR SEBULAN
Pertengahan Maret 1963
Pencurahan lahar berlanjut sampai pertengahan Maret.
Panjang sungai mencapai sampai 7 km dan lidahnya berhenti pada ketinggian sekitar 500 m.

Hari demi hari-hari aktivitas gunung berapi meningkat dalam intensitas.

GEMPA KERAS
15 Maret 1963
Terjadi gempa bumi yang keras.

MELETUS
17 Maret 1963
Letusan paroxysmal pertama dimulai pada 17 Maret saat matahari terbit dan berlangsung sekitar 7 jam. Hal itu didahului pagi hari dua hari sebelumnya oleh gempa bumi yang kuat.
Sebagai rangkaian ledakan baru muncul di lereng selatan dan utara, dengan kekuatan destruktif yang dihasilkan mencapai jarak maksimal 14 km.

Ledakan dari rongga kawah pada 17 Maret membawa keluarnya arus keluar lahar.
Ereksi karat pada lava andesito-basalt, fakta bahwa ia mulai mencurahkan nyawa pada fase awal letusan, dan fakta bahwa pencobaannya berhenti sesaat sebelum ledakan paroksismal pada 17 Maret, mendukung teori bahwa lahar ini adalah sisa dari letusan sebelumnya 1843 macet di gunung berapi dan dipanaskan dan dicairkan dalam letusan saat ini.

JUMLAH KEMATIAN
Jumlah kematian yang disebabkan pada siklus pertama letusan 1963 sekitar 1.100, dan sekitar 150 pada ledakan kedua.

TOTAL VOLUME LETUSAN
Kusumadinata (1964) dari Survei Geologi Indonesia memperkirakan total volume material yang dikeluarkan sekitar 280 X 106 meter kubik. Dari perkiraan volume material dikeluarkan energi termal dan kinetik yang dilepaskan dihitung. Dengan demikian total energi kinetik dan termal, seperti yang diperkirakan, berjumlah 8,2 X 1024 ergs.
Lava, aliran lumpur, awan menyala, nuees ardentes, lapilli, pasir dan abu membunuh tidak hanya manusia dan hewan tapi juga tanaman.

KEADAAN BESAKIH SETELAH LETUSAN

SURVEY PERTAMA
Mei 1963
Pada bulan Mei 1963, kami melakukan perjalanan ke kuil Besakih di dekat resthouse Dinas Kehutanan, di lereng utara Agung, lebih dari 900 m dpl. Di sini kita tidak melihat apa-apa selain tanaman mati, semak, tumbuhan, dan rumput, jamur, pakis, lumut, dan lumut. Tempat itu sangat sepi di sekitar tempat suci Besakih.

SURVEY KEDUA
Oktober 1963
Saat penulis (Prof. Anwari Dilmy) berkunjung ke Bali lagi pada bulan Oktober 1963, dengan Dr. Tarnavschi dari Rumania dan Prof. Jacovlev dari Soviet Rusia, kami tidak menemukan apa di sekitar Besakih selain tanaman mati kecuali tiga spesies yang mulai tumbuh. Sejauh yang bisa kita lihat, semua tanaman lainnya telah mati.

SURVEY KETIGA
Maret 1964
Survei ketiga selama bulan Maret 1964, sangat mudah karena 90% wilayahnya masih tandus. Saat ada pohon-pohon yang hampir semuanya mati. Tanaman ditemukan hanya di dekat sungai kecil dan di tempat yang lembab. Dengan delapan pembantu kami mengumpulkan tanaman dan menyiapkan bahan herbarium. Kita bisa menamai 75% tanaman di lapangan; Sisanya ditentukan di herbarium di Bogor.

HASIL SURVEY Maret 1964
Keadaannya sangat berbeda dengan yang terjadi di bulan Oktober. Meski ada arus keluar awan dari gunung berapi setiap hari, tidak ada lapilli, pasir, atau abu yang dikeluarkan lagi, sehingga setelah hujan mulai mulai tumbuh lagi.

Rumah-rumah masih reruntuhan dan hanya satu atau dua yang ditempati; 10% tanah di sekitar kuil Besakih memiliki tutup rumput, tumbuhan, semak, dan pepohonan yang kehijauan mulai tumbuh, bersama dengan beberapa spesimen yang tumbuh daun dan tumbuh normal lagi.

Antara ketinggian 900 dan 1250 m di atas permukaan laut, 83 spesies rumput, tumbuh-tumbuhan, semak, dan pepohonan tumbuh. Semua tanaman yang disebutkan di atas hanya mencakup 10% area; Permukaan tanah lainnya masih tandus, seolah daerah itu telah terbangun. Tidak ada tanaman sejenis yang tumbuh di sana.

Saat kami mencapai ketinggian 1.250 m, kami menemukan hutan pinus Pinus merkussii Yunghuhn dan de Vr. semua mati dan tanah di sekitarnya mengeras seakan disemen. Kami membuat tiga lubang di permukaan yang mengeras ini dan mendapati pengerasan melebar sampai kedalaman 10-15 em. Di bawah lapisan ini kita menemukan jarum pohon pinus, yang masih tidak rusak, dan langsung berada di bawah lapisan jarum tanah asli ini.

Ada 316 hektar hutan pinus yang mengelilingi Besakih, semua pohonnya mati karena awan panas, lahar, lapilli, atau pasir dan abu dari gunung berapi. Lava ini dicampur dengan lapilli, pasir, dan abu membentuk lapisan atas yang disemen 10-15 cm.

Di atas 1250 m hanya sembilan spesies tumbuhan telah ditemukan: Albizzia montana Benth., Cynodon dactylon Pers, Ficus sp., Gigantochloa apus Kurz., Imperata cylindrica Beauv., Pennisetum purpureum Schumacher dan Thonn., Plantago major Linn., Sesbania grandiflora Pers, dan Themeda gigantea Hack.

Pada ketinggian 1400 m pohon pinus yang mati dibiarkan berdiri, sementara jauh di lembah satu atau dua spesimen dari spesies berikut diamati: Phragmites karka T rin., Sambucus javanica Reinw., Pennisetum purpureum Schum. dan Swarz., Themeda gigantea Hack., Engelhardia sp., Schima wallichii vat. noronhae bl.

Di lereng lembah yang kami temukan: Polygonumsinensis Linn., CordiaobliqueWilld., Dryopteris campestris Rumph., Cheilanth es tenuifolia Swarz., Coffea sp., Dan Gigantochloa apus Kurz. (T)

Tags: besakiherupsiGunung Agungkarangasem
Share123TweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Mahasiswa Jaman Now: Baca Buku itu Mitos

Next Post

“Nyepi Segara” di Nusa Penida: Berani Berhenti Berani Menepi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post

"Nyepi Segara" di Nusa Penida: Berani Berhenti Berani Menepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co