14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto: bbc.com/Terence Spencer/The LIFE Images Collection/Getty Images. //Gelombang di sungai-sungai di Bali, penuh dengan lumpur dan abu dan puing setelah letusan Gunung Agung 1963.

 

Kesaksian Prof. Anwari Dilmy

Prof. Anwari Dilmy adalah ahli botani ternama, lulusan Sekolah Pertanian Buitenzorg (sekarang Bogor), sebulan setelah letusan Gunung Agung terjadi tahun 1963 datang ke Besakih meneliti tumbuh-tumbuhan dan keadaan Besakih dan Gunung Agung.
Prof. Anwari Dilmy menulis makalah berjudul: ‘Pioneer Plants Found One Year After the 1963 Eruption of Agung in Bali’, ditulis berdasarkan kesaksiannya berkunjung/survey 3 kali ke Besakih dan naik Gunung Agung.

Di bawah ini adalah terjemahkan cepat, disederhanakan dan versi pendek makalah yang ditulis Prof. Anwari Dilmy tersebut:

TANDA-TANDA SEBELUM LETUSAN

GEMPA TREMOR
16-17 Februari 1963
Indikasi pertama dari gunung berapi yang aktif pada tahun 1963 adalah gempa dan guncangan gempa yang sering terjadi dan berulang yang dirasakan oleh beberapa orang yang tinggal di Jehkuri, sebuah desa di lereng selatan gunung berapi sekitar 6 kilometer dari puncak.

Tidak tercatat jam berapa tepat gempa dan guncangan gempa terjadi, namun dirasakan pada sore hari tanggal 16 Februari. Keesokan harinya gempa bumi yang lemah kembali terasa, kali ini di Kubu, sebuah desa pantai di kaki utara gunung berapi. Kejadian ini menyebabkan ayunan lampu gantung berayun-ayun lambat.

GEMURUH
18 Februari 1963
Keesokan harinya, 18 Februari, pukul 11 malam, gemuruh yang lemah tapi berbeda terdengar untuk pertama kalinya.

AWAN TIPIS & API
19 Februari 1963
Pada jam 3 pagi hari pada tanggal 19 beberapa orang yang khawatir dan tetap terjaga sepanjang malam melihat pendakian pertama dari sebuah kolom asap tipis yang naik secara vertikal. Dari saat itu, aktivitas terus berlanjut sebentar-sebentar, dengan periode aktivitas yang berlangsung sekitar 1 jam diikuti dengan periode istirahat 1 jam. Pada malam hari ke-19 sinar terlihat di bibir kawah utara.

LAHAR MENGALIR
20 Februari 1963
Aktivitas vulkanik periodik berlanjut dengan intensitas yang meningkat sampai 20 Februari, pada hari dimana lahar mulai mengalir di sepanjang lereng utara dan ‘nuees ardentes’ turun ke arah yang sama, menyebabkan kematian korban pertama di Siligading.

LAHAR SEBULAN
Pertengahan Maret 1963
Pencurahan lahar berlanjut sampai pertengahan Maret.
Panjang sungai mencapai sampai 7 km dan lidahnya berhenti pada ketinggian sekitar 500 m.

Hari demi hari-hari aktivitas gunung berapi meningkat dalam intensitas.

GEMPA KERAS
15 Maret 1963
Terjadi gempa bumi yang keras.

MELETUS
17 Maret 1963
Letusan paroxysmal pertama dimulai pada 17 Maret saat matahari terbit dan berlangsung sekitar 7 jam. Hal itu didahului pagi hari dua hari sebelumnya oleh gempa bumi yang kuat.
Sebagai rangkaian ledakan baru muncul di lereng selatan dan utara, dengan kekuatan destruktif yang dihasilkan mencapai jarak maksimal 14 km.

Ledakan dari rongga kawah pada 17 Maret membawa keluarnya arus keluar lahar.
Ereksi karat pada lava andesito-basalt, fakta bahwa ia mulai mencurahkan nyawa pada fase awal letusan, dan fakta bahwa pencobaannya berhenti sesaat sebelum ledakan paroksismal pada 17 Maret, mendukung teori bahwa lahar ini adalah sisa dari letusan sebelumnya 1843 macet di gunung berapi dan dipanaskan dan dicairkan dalam letusan saat ini.

JUMLAH KEMATIAN
Jumlah kematian yang disebabkan pada siklus pertama letusan 1963 sekitar 1.100, dan sekitar 150 pada ledakan kedua.

TOTAL VOLUME LETUSAN
Kusumadinata (1964) dari Survei Geologi Indonesia memperkirakan total volume material yang dikeluarkan sekitar 280 X 106 meter kubik. Dari perkiraan volume material dikeluarkan energi termal dan kinetik yang dilepaskan dihitung. Dengan demikian total energi kinetik dan termal, seperti yang diperkirakan, berjumlah 8,2 X 1024 ergs.
Lava, aliran lumpur, awan menyala, nuees ardentes, lapilli, pasir dan abu membunuh tidak hanya manusia dan hewan tapi juga tanaman.

KEADAAN BESAKIH SETELAH LETUSAN

SURVEY PERTAMA
Mei 1963
Pada bulan Mei 1963, kami melakukan perjalanan ke kuil Besakih di dekat resthouse Dinas Kehutanan, di lereng utara Agung, lebih dari 900 m dpl. Di sini kita tidak melihat apa-apa selain tanaman mati, semak, tumbuhan, dan rumput, jamur, pakis, lumut, dan lumut. Tempat itu sangat sepi di sekitar tempat suci Besakih.

SURVEY KEDUA
Oktober 1963
Saat penulis (Prof. Anwari Dilmy) berkunjung ke Bali lagi pada bulan Oktober 1963, dengan Dr. Tarnavschi dari Rumania dan Prof. Jacovlev dari Soviet Rusia, kami tidak menemukan apa di sekitar Besakih selain tanaman mati kecuali tiga spesies yang mulai tumbuh. Sejauh yang bisa kita lihat, semua tanaman lainnya telah mati.

SURVEY KETIGA
Maret 1964
Survei ketiga selama bulan Maret 1964, sangat mudah karena 90% wilayahnya masih tandus. Saat ada pohon-pohon yang hampir semuanya mati. Tanaman ditemukan hanya di dekat sungai kecil dan di tempat yang lembab. Dengan delapan pembantu kami mengumpulkan tanaman dan menyiapkan bahan herbarium. Kita bisa menamai 75% tanaman di lapangan; Sisanya ditentukan di herbarium di Bogor.

HASIL SURVEY Maret 1964
Keadaannya sangat berbeda dengan yang terjadi di bulan Oktober. Meski ada arus keluar awan dari gunung berapi setiap hari, tidak ada lapilli, pasir, atau abu yang dikeluarkan lagi, sehingga setelah hujan mulai mulai tumbuh lagi.

Rumah-rumah masih reruntuhan dan hanya satu atau dua yang ditempati; 10% tanah di sekitar kuil Besakih memiliki tutup rumput, tumbuhan, semak, dan pepohonan yang kehijauan mulai tumbuh, bersama dengan beberapa spesimen yang tumbuh daun dan tumbuh normal lagi.

Antara ketinggian 900 dan 1250 m di atas permukaan laut, 83 spesies rumput, tumbuh-tumbuhan, semak, dan pepohonan tumbuh. Semua tanaman yang disebutkan di atas hanya mencakup 10% area; Permukaan tanah lainnya masih tandus, seolah daerah itu telah terbangun. Tidak ada tanaman sejenis yang tumbuh di sana.

Saat kami mencapai ketinggian 1.250 m, kami menemukan hutan pinus Pinus merkussii Yunghuhn dan de Vr. semua mati dan tanah di sekitarnya mengeras seakan disemen. Kami membuat tiga lubang di permukaan yang mengeras ini dan mendapati pengerasan melebar sampai kedalaman 10-15 em. Di bawah lapisan ini kita menemukan jarum pohon pinus, yang masih tidak rusak, dan langsung berada di bawah lapisan jarum tanah asli ini.

Ada 316 hektar hutan pinus yang mengelilingi Besakih, semua pohonnya mati karena awan panas, lahar, lapilli, atau pasir dan abu dari gunung berapi. Lava ini dicampur dengan lapilli, pasir, dan abu membentuk lapisan atas yang disemen 10-15 cm.

Di atas 1250 m hanya sembilan spesies tumbuhan telah ditemukan: Albizzia montana Benth., Cynodon dactylon Pers, Ficus sp., Gigantochloa apus Kurz., Imperata cylindrica Beauv., Pennisetum purpureum Schumacher dan Thonn., Plantago major Linn., Sesbania grandiflora Pers, dan Themeda gigantea Hack.

Pada ketinggian 1400 m pohon pinus yang mati dibiarkan berdiri, sementara jauh di lembah satu atau dua spesimen dari spesies berikut diamati: Phragmites karka T rin., Sambucus javanica Reinw., Pennisetum purpureum Schum. dan Swarz., Themeda gigantea Hack., Engelhardia sp., Schima wallichii vat. noronhae bl.

Di lereng lembah yang kami temukan: Polygonumsinensis Linn., CordiaobliqueWilld., Dryopteris campestris Rumph., Cheilanth es tenuifolia Swarz., Coffea sp., Dan Gigantochloa apus Kurz. (T)

Tags: besakiherupsiGunung Agungkarangasem
Share123TweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Mahasiswa Jaman Now: Baca Buku itu Mitos

Next Post

“Nyepi Segara” di Nusa Penida: Berani Berhenti Berani Menepi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post

"Nyepi Segara" di Nusa Penida: Berani Berhenti Berani Menepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co