24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Mahasiswa Jaman Now: Baca Buku itu Mitos

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

 

“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya.”
— Joseph Bordsky

MENGGELIKAN, bikin ketawa, dan kadang sebel juga melihat tingkah-polah kebanyakan mahasiswa masa kini. Setidaknya mahasiswa di sekitar saya. Dalam hal penampilan misalnya. Banyak yang berlomba-lomba memamerkan baju, aksesoris, sepatu, handpone mahal dan bermerk, seakan-akan mereka dilahirkan hanya untuk berlomba dalam hal penampilan. Apa gunanya coba? Lucu ya, guys. Lucu-lucuin aja, hargai penulis, pliss.

Kalau perihal di atas, kebanyakan mahasiswa jaman now (hehehe, mengutip istilah populer di facebook) sangat semangat membahasnya, mengeksploitasi pemikirannya untuk bagaimana caranya memiliki barang-barang mahal, bahkan ada yang rela meminta jatah lebih kepada orangtua dengan alasan beli buku-lah, iuran-lah, fotokopi makalah-lah. Akan tetapi, dalam hal satu ini, kebanyakan mahasiswa sudah menganggap mitos; baca buku.

Mahasiswa yang seharusnya empat tahun lamanya, bergelut dengan buku (Iwan Fals), realitanya sekarang malah sebaliknya. Setidaknya berdasar pengamatan di lingkungan saya.

Lihatlah perpustakaan-perpustakaan yang bukunya mangkrak tak terbaca. Mahasiswa masuk perpustakaan hanya ketika mendapatkan tugas dari dosen, atau lebih miris masuk perpustakaan hanya ketika mencari referensi skripsi saja. Jadi, boleh jadi seorang mahasiswa masuk perpustakaan empat tahun sekali saja, ya, saat nyusun skripsi.

Di hari-hari biasa tampaknya jarang ada yang suka baca buku untuk menambah wawasan, untuk belajar berpikir, atau untuk semata hiburan. Atau setidaknya untuk baca novel demi menghilangkan jenuh sehabis dibombardir teari-teori dalam kelas.

Atau mari lihat minimnya minat baca bangsa Indonesia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Ciee Indonesia.

Dan kalau kita lihat skala mikronya—di Taman Kota Singaraja misalnya—di Taman Kota setiap malam minggu para mahasiswa yang peduli leterasi membuka perpustakaan jalanan—membaca gratis—tapi apa? Masih sangat minim sekali mahasiswa datang untuk membaca. Ciee yang tidak suka membaca buku.

Memang, saat ini hubungan buku dan mahasiswa sedang mengalami sebuah hubungan yang tidak baik-baik saja. Bayangkan buku itu suami dan mahasiswa itu istrinya, dan sepasang suami istri itu sedang mengalami pertengkaran hebat. Si suami masih cinta mati sama istrinya tapi si istri sudah ogah dengan suaminya. Begitu pun buku. Buku merangkak-rangkak, bertebaran, menjadi rumah laba-laba, terlantar, terlunta-lunta, menangis, jadi bungkus gorengan, tersobek, berbisik begitu lirih, untuk dibaca oleh mahasiswa tapi mahasiswa sendiri malah berpaling dari buku.

Buku yang seharusnya menjadi suami bagi mahasiswa, tapi kebanyakan mahasiswa masa kini malah selingkuh dengan samrtphone, internet, status facebook, IG, dll. Padahal membaca buku itu akan membuat mahasiswa pintar, tapi kalau internet/smartphone hanya akan menciptakan mahasiswa yang sok pinter. Ciee yang sering baca tiga paragraf artikel di internet tapi sudah merasa dirinya pinter.

Ini masalah, ini penyakit, ini tumor yang harus segera dioperasi. Jangan ketika tubuh sudah terserang tumor, tapi hanya dianjurkan untuk kerokan pakai balsem atau minum kapsul MLM (upst keceplosan). Seharusnya ketika tubuh terserang tumor, ya harus dioperasi. Ketika mahasiswa sudah enggan membaca buku, ya harus ada gerakan untuk mendorong mahasiswa membaca buku lagi.

Seperti aku, Riyan, Fajar, Faruq, Bang Andre dan kawan-kawan peduli literasi setiap malam minggu membuka perpustakaan jalanan di Taman Kota Singaraja. Kok terkesan sombang ya.

Itu perpustakaan berada di pihak eksternal kampus. Bagaimana dengan kampus? Ya sudah jelas penting dong, kampus sebagai wadah pendidikan formal yang nantinya akan mencetak manusia pembawa perubahan, pengontrol sosial, dan generasi penerus perjuangan, sudah barang tentu kampus sangat penting untuk mendorong mahasiswa kembali membaca buku.

Terus caranya bagaimana? Berbicara masalah cara tentu perspektif setiap orang berbeda-beda ya, tapi kalau ditanya seperti itu ya terpaksa aku harus jawab; dalam setiap kampus pasti ada organisasi dari tinggat jurusan sampai yang mahasiswa katakan eksekutif dan legislatif, waw julukannya luar biasa rek.

Di sinilah seharusnya organisasi kampus itu memiliki satu program kerja yang khusus membahas tentang literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Tidak lagi memikirkan bagaimana setiap jurusan atau fakultas itu berlomba-lomba mengundang artis papan atas sebagai penghibur. Ternyata mahasiswa sekarang ini kurang hiburan.

Jujur, aku kasihan melihat mahasiswa masa kini. Bayangkan, guys, masa sekelas mahasiswa tidak tahu apa itu thesis, anti thesis, dan sintesa? Tidak tahu apa itu post test dan pre test? Ini mahasiswa apa siswa, guys? Ketika ospek aja mereka membentak, berteriak, bicara kedisiplinan, bicara A sampai Z, tapi setelah ospek, ternyata… Ah sudahlah.

Yang jelas, aku berharap lewat tulisan yang hina-dina ini, bisa sedikit mengusik hati yang katanya siswa berjuluk maha untuk kembali atau CLBK kepada dunia literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Kasihan penulis buku yang sudah menulis sampai berdarah-darah tapi tidak ada yang membaca.

Sekali lagi aku himbau, janganlah membunuh buku dengan handpone, facebook, google, IG, atau apapun itu yang hanya dunia maya. Itu kurang keren, guys. Mari kita bangkitkan tradisi literasi dikalangan mahasiswa. Ayo datang ke Taman Kota setiap malam minggu. Lho, kok malah iklan lagi. Tulisan gak jelas.

Udah itu aja. Oh iya, setelah kalian membaca tulisan ini jangan datangi aku untuk berdebat atau diskriminasi aku, ya. Pliss… anggaplah ini autokritik, karena aku juga mahasiswa, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi guru sambil menulis dan bertani itu aja. Jangan, ya, nanti aku jadi takut.

Semoga bermanfaat. Kaburrr….. (T)

Tags: Bukukampusmahasiswamitosperpustakaan
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Mengatasi Phobia PKI

Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co