2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Mahasiswa Jaman Now: Baca Buku itu Mitos

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

 

“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya.”
— Joseph Bordsky

MENGGELIKAN, bikin ketawa, dan kadang sebel juga melihat tingkah-polah kebanyakan mahasiswa masa kini. Setidaknya mahasiswa di sekitar saya. Dalam hal penampilan misalnya. Banyak yang berlomba-lomba memamerkan baju, aksesoris, sepatu, handpone mahal dan bermerk, seakan-akan mereka dilahirkan hanya untuk berlomba dalam hal penampilan. Apa gunanya coba? Lucu ya, guys. Lucu-lucuin aja, hargai penulis, pliss.

Kalau perihal di atas, kebanyakan mahasiswa jaman now (hehehe, mengutip istilah populer di facebook) sangat semangat membahasnya, mengeksploitasi pemikirannya untuk bagaimana caranya memiliki barang-barang mahal, bahkan ada yang rela meminta jatah lebih kepada orangtua dengan alasan beli buku-lah, iuran-lah, fotokopi makalah-lah. Akan tetapi, dalam hal satu ini, kebanyakan mahasiswa sudah menganggap mitos; baca buku.

Mahasiswa yang seharusnya empat tahun lamanya, bergelut dengan buku (Iwan Fals), realitanya sekarang malah sebaliknya. Setidaknya berdasar pengamatan di lingkungan saya.

Lihatlah perpustakaan-perpustakaan yang bukunya mangkrak tak terbaca. Mahasiswa masuk perpustakaan hanya ketika mendapatkan tugas dari dosen, atau lebih miris masuk perpustakaan hanya ketika mencari referensi skripsi saja. Jadi, boleh jadi seorang mahasiswa masuk perpustakaan empat tahun sekali saja, ya, saat nyusun skripsi.

Di hari-hari biasa tampaknya jarang ada yang suka baca buku untuk menambah wawasan, untuk belajar berpikir, atau untuk semata hiburan. Atau setidaknya untuk baca novel demi menghilangkan jenuh sehabis dibombardir teari-teori dalam kelas.

Atau mari lihat minimnya minat baca bangsa Indonesia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Ciee Indonesia.

Dan kalau kita lihat skala mikronya—di Taman Kota Singaraja misalnya—di Taman Kota setiap malam minggu para mahasiswa yang peduli leterasi membuka perpustakaan jalanan—membaca gratis—tapi apa? Masih sangat minim sekali mahasiswa datang untuk membaca. Ciee yang tidak suka membaca buku.

Memang, saat ini hubungan buku dan mahasiswa sedang mengalami sebuah hubungan yang tidak baik-baik saja. Bayangkan buku itu suami dan mahasiswa itu istrinya, dan sepasang suami istri itu sedang mengalami pertengkaran hebat. Si suami masih cinta mati sama istrinya tapi si istri sudah ogah dengan suaminya. Begitu pun buku. Buku merangkak-rangkak, bertebaran, menjadi rumah laba-laba, terlantar, terlunta-lunta, menangis, jadi bungkus gorengan, tersobek, berbisik begitu lirih, untuk dibaca oleh mahasiswa tapi mahasiswa sendiri malah berpaling dari buku.

Buku yang seharusnya menjadi suami bagi mahasiswa, tapi kebanyakan mahasiswa masa kini malah selingkuh dengan samrtphone, internet, status facebook, IG, dll. Padahal membaca buku itu akan membuat mahasiswa pintar, tapi kalau internet/smartphone hanya akan menciptakan mahasiswa yang sok pinter. Ciee yang sering baca tiga paragraf artikel di internet tapi sudah merasa dirinya pinter.

Ini masalah, ini penyakit, ini tumor yang harus segera dioperasi. Jangan ketika tubuh sudah terserang tumor, tapi hanya dianjurkan untuk kerokan pakai balsem atau minum kapsul MLM (upst keceplosan). Seharusnya ketika tubuh terserang tumor, ya harus dioperasi. Ketika mahasiswa sudah enggan membaca buku, ya harus ada gerakan untuk mendorong mahasiswa membaca buku lagi.

Seperti aku, Riyan, Fajar, Faruq, Bang Andre dan kawan-kawan peduli literasi setiap malam minggu membuka perpustakaan jalanan di Taman Kota Singaraja. Kok terkesan sombang ya.

Itu perpustakaan berada di pihak eksternal kampus. Bagaimana dengan kampus? Ya sudah jelas penting dong, kampus sebagai wadah pendidikan formal yang nantinya akan mencetak manusia pembawa perubahan, pengontrol sosial, dan generasi penerus perjuangan, sudah barang tentu kampus sangat penting untuk mendorong mahasiswa kembali membaca buku.

Terus caranya bagaimana? Berbicara masalah cara tentu perspektif setiap orang berbeda-beda ya, tapi kalau ditanya seperti itu ya terpaksa aku harus jawab; dalam setiap kampus pasti ada organisasi dari tinggat jurusan sampai yang mahasiswa katakan eksekutif dan legislatif, waw julukannya luar biasa rek.

Di sinilah seharusnya organisasi kampus itu memiliki satu program kerja yang khusus membahas tentang literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Tidak lagi memikirkan bagaimana setiap jurusan atau fakultas itu berlomba-lomba mengundang artis papan atas sebagai penghibur. Ternyata mahasiswa sekarang ini kurang hiburan.

Jujur, aku kasihan melihat mahasiswa masa kini. Bayangkan, guys, masa sekelas mahasiswa tidak tahu apa itu thesis, anti thesis, dan sintesa? Tidak tahu apa itu post test dan pre test? Ini mahasiswa apa siswa, guys? Ketika ospek aja mereka membentak, berteriak, bicara kedisiplinan, bicara A sampai Z, tapi setelah ospek, ternyata… Ah sudahlah.

Yang jelas, aku berharap lewat tulisan yang hina-dina ini, bisa sedikit mengusik hati yang katanya siswa berjuluk maha untuk kembali atau CLBK kepada dunia literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Kasihan penulis buku yang sudah menulis sampai berdarah-darah tapi tidak ada yang membaca.

Sekali lagi aku himbau, janganlah membunuh buku dengan handpone, facebook, google, IG, atau apapun itu yang hanya dunia maya. Itu kurang keren, guys. Mari kita bangkitkan tradisi literasi dikalangan mahasiswa. Ayo datang ke Taman Kota setiap malam minggu. Lho, kok malah iklan lagi. Tulisan gak jelas.

Udah itu aja. Oh iya, setelah kalian membaca tulisan ini jangan datangi aku untuk berdebat atau diskriminasi aku, ya. Pliss… anggaplah ini autokritik, karena aku juga mahasiswa, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi guru sambil menulis dan bertani itu aja. Jangan, ya, nanti aku jadi takut.

Semoga bermanfaat. Kaburrr….. (T)

Tags: Bukukampusmahasiswamitosperpustakaan
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Mengatasi Phobia PKI

Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co