23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Mahasiswa Jaman Now: Baca Buku itu Mitos

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

 

“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya.”
— Joseph Bordsky

MENGGELIKAN, bikin ketawa, dan kadang sebel juga melihat tingkah-polah kebanyakan mahasiswa masa kini. Setidaknya mahasiswa di sekitar saya. Dalam hal penampilan misalnya. Banyak yang berlomba-lomba memamerkan baju, aksesoris, sepatu, handpone mahal dan bermerk, seakan-akan mereka dilahirkan hanya untuk berlomba dalam hal penampilan. Apa gunanya coba? Lucu ya, guys. Lucu-lucuin aja, hargai penulis, pliss.

Kalau perihal di atas, kebanyakan mahasiswa jaman now (hehehe, mengutip istilah populer di facebook) sangat semangat membahasnya, mengeksploitasi pemikirannya untuk bagaimana caranya memiliki barang-barang mahal, bahkan ada yang rela meminta jatah lebih kepada orangtua dengan alasan beli buku-lah, iuran-lah, fotokopi makalah-lah. Akan tetapi, dalam hal satu ini, kebanyakan mahasiswa sudah menganggap mitos; baca buku.

Mahasiswa yang seharusnya empat tahun lamanya, bergelut dengan buku (Iwan Fals), realitanya sekarang malah sebaliknya. Setidaknya berdasar pengamatan di lingkungan saya.

Lihatlah perpustakaan-perpustakaan yang bukunya mangkrak tak terbaca. Mahasiswa masuk perpustakaan hanya ketika mendapatkan tugas dari dosen, atau lebih miris masuk perpustakaan hanya ketika mencari referensi skripsi saja. Jadi, boleh jadi seorang mahasiswa masuk perpustakaan empat tahun sekali saja, ya, saat nyusun skripsi.

Di hari-hari biasa tampaknya jarang ada yang suka baca buku untuk menambah wawasan, untuk belajar berpikir, atau untuk semata hiburan. Atau setidaknya untuk baca novel demi menghilangkan jenuh sehabis dibombardir teari-teori dalam kelas.

Atau mari lihat minimnya minat baca bangsa Indonesia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Ciee Indonesia.

Dan kalau kita lihat skala mikronya—di Taman Kota Singaraja misalnya—di Taman Kota setiap malam minggu para mahasiswa yang peduli leterasi membuka perpustakaan jalanan—membaca gratis—tapi apa? Masih sangat minim sekali mahasiswa datang untuk membaca. Ciee yang tidak suka membaca buku.

Memang, saat ini hubungan buku dan mahasiswa sedang mengalami sebuah hubungan yang tidak baik-baik saja. Bayangkan buku itu suami dan mahasiswa itu istrinya, dan sepasang suami istri itu sedang mengalami pertengkaran hebat. Si suami masih cinta mati sama istrinya tapi si istri sudah ogah dengan suaminya. Begitu pun buku. Buku merangkak-rangkak, bertebaran, menjadi rumah laba-laba, terlantar, terlunta-lunta, menangis, jadi bungkus gorengan, tersobek, berbisik begitu lirih, untuk dibaca oleh mahasiswa tapi mahasiswa sendiri malah berpaling dari buku.

Buku yang seharusnya menjadi suami bagi mahasiswa, tapi kebanyakan mahasiswa masa kini malah selingkuh dengan samrtphone, internet, status facebook, IG, dll. Padahal membaca buku itu akan membuat mahasiswa pintar, tapi kalau internet/smartphone hanya akan menciptakan mahasiswa yang sok pinter. Ciee yang sering baca tiga paragraf artikel di internet tapi sudah merasa dirinya pinter.

Ini masalah, ini penyakit, ini tumor yang harus segera dioperasi. Jangan ketika tubuh sudah terserang tumor, tapi hanya dianjurkan untuk kerokan pakai balsem atau minum kapsul MLM (upst keceplosan). Seharusnya ketika tubuh terserang tumor, ya harus dioperasi. Ketika mahasiswa sudah enggan membaca buku, ya harus ada gerakan untuk mendorong mahasiswa membaca buku lagi.

Seperti aku, Riyan, Fajar, Faruq, Bang Andre dan kawan-kawan peduli literasi setiap malam minggu membuka perpustakaan jalanan di Taman Kota Singaraja. Kok terkesan sombang ya.

Itu perpustakaan berada di pihak eksternal kampus. Bagaimana dengan kampus? Ya sudah jelas penting dong, kampus sebagai wadah pendidikan formal yang nantinya akan mencetak manusia pembawa perubahan, pengontrol sosial, dan generasi penerus perjuangan, sudah barang tentu kampus sangat penting untuk mendorong mahasiswa kembali membaca buku.

Terus caranya bagaimana? Berbicara masalah cara tentu perspektif setiap orang berbeda-beda ya, tapi kalau ditanya seperti itu ya terpaksa aku harus jawab; dalam setiap kampus pasti ada organisasi dari tinggat jurusan sampai yang mahasiswa katakan eksekutif dan legislatif, waw julukannya luar biasa rek.

Di sinilah seharusnya organisasi kampus itu memiliki satu program kerja yang khusus membahas tentang literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Tidak lagi memikirkan bagaimana setiap jurusan atau fakultas itu berlomba-lomba mengundang artis papan atas sebagai penghibur. Ternyata mahasiswa sekarang ini kurang hiburan.

Jujur, aku kasihan melihat mahasiswa masa kini. Bayangkan, guys, masa sekelas mahasiswa tidak tahu apa itu thesis, anti thesis, dan sintesa? Tidak tahu apa itu post test dan pre test? Ini mahasiswa apa siswa, guys? Ketika ospek aja mereka membentak, berteriak, bicara kedisiplinan, bicara A sampai Z, tapi setelah ospek, ternyata… Ah sudahlah.

Yang jelas, aku berharap lewat tulisan yang hina-dina ini, bisa sedikit mengusik hati yang katanya siswa berjuluk maha untuk kembali atau CLBK kepada dunia literasi; membaca, berdiskusi, dan menulis. Kasihan penulis buku yang sudah menulis sampai berdarah-darah tapi tidak ada yang membaca.

Sekali lagi aku himbau, janganlah membunuh buku dengan handpone, facebook, google, IG, atau apapun itu yang hanya dunia maya. Itu kurang keren, guys. Mari kita bangkitkan tradisi literasi dikalangan mahasiswa. Ayo datang ke Taman Kota setiap malam minggu. Lho, kok malah iklan lagi. Tulisan gak jelas.

Udah itu aja. Oh iya, setelah kalian membaca tulisan ini jangan datangi aku untuk berdebat atau diskriminasi aku, ya. Pliss… anggaplah ini autokritik, karena aku juga mahasiswa, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi guru sambil menulis dan bertani itu aja. Jangan, ya, nanti aku jadi takut.

Semoga bermanfaat. Kaburrr….. (T)

Tags: Bukukampusmahasiswamitosperpustakaan
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Mengatasi Phobia PKI

Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Gelagat Gunung Agung Sebelum Meletus & Keadaan Besakih Setelah Letusan 1963

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co