20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Luh Eka Susanti by Luh Eka Susanti
May 9, 2024
in Esai
Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

WALLS. DIAMOND. GELATO. AICE. Siapa tak kenal merk es krim tersebut?

Ketiga merek ini memiliki pangsa pasar yang kuat di Indonesia, masing-masing dengan segmen pasar dan strategi branding yang berbeda. Walls dengan brand globalnya, Diamond dengan harga yang terjangkau, dan gelato dengan posisinya sebagai produk premium.

Aice yang merupakan pendatang baru di pasaran Indonesia tetapi telah berhasil mengambil pangsa pasar yang signifikan dengan produk es krim yang terjangkau dan variasi rasa yang menarik.

Siapa tak suka es krim ?

Es krim merupakan salah satu makanan beku yang telah ada sejak zaman kuno, dengan bentuk awal yang dapat ditelusuri kembali ke zaman kerajaan-kerajaan kuno seperti Persia dan China. Versi awal es krim merupakan campuran salju dengan buah-buahan dan madu. Seiring berjalannya waktu, es krim mulai dikembangkan di Eropa, terutama Italia dan Prancis, dengan penambahan krim dan gula.

Dalam era modern, es krim telah berkembang menjadi sebuah produk gaya hidup yang tidak hanya dinikmati sebagai makanan penutup tetapi juga sebagai simbol kebahagiaan, kenyamanan, dan kebersamaan. Dengan keanekaragaman rasa dan bentuk, es krim jadi bagian dari budaya pop dan seringkali terkait dengan momen-momen khusus serta kenangan masa kecil.

Dalam dekade terakhir, tren es krim juga telah mengalami evolusi seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, dengan munculnya varian es krim yang mengandung bahan-bahan lebih sehat, seperti penambahan buah-buahan, rempah-rempah, komponen kaya protein, probiotik, dan prebiotik

Sejalan dengan tren gaya hidup yang modern, es krim dijadikan sebagai produk yang dapat merefleksikan kepribadian atau identitas seseorang, serta alat untuk bersosialisasi dan ekspresi diri. Dengan demikian, es krim tidak hanya menjadi makanan yang dinikmati tetapi juga bagian dari cara hidup kontemporer. Dengan inovasi teknologi pembekuan, es krim kini lebih mudah diakses. Produk yang berorientasi pada kemudahan seperti es krim batangan dan kemasan single-serve mencerminkan gaya hidup modern yang dinamis dan sibuk.

Pengalaman sosial juga dapat diperoleh lewat konsumsi es krim, dari perayaan ulang tahun hingga kumpul-kumpul kasual. Es krim merupakan simbol persatuan dan kegembiraan, yang beresonansi dengan gaya hidup yang menitikberatkan pada pengalaman dan konektivitas.

Dengan trend es krim artisanal, konsumen modern dapat mengungkapkan identitas mereka melalui preferensi terhadap brand atau varian tertentu, ini juga mencerminkan kesadaran lebih besar tentang merek dan nilai-nilai mereka, seperti keberlanjutan dan produksi lokal.

Varian rasa es krim tidak hanya selalu tentang rasa cokelat, strawberry, dan vanilla. Memang ketiga rasa es krim ini adalah rasa yang sangat umum untuk dikonsumsi publik. Namun, terdapat kecenderungan rasa bosan terhadap ketiga varian rasa es krim ini.

Ide untuk melestarikan dan memperkenalkan rasa lokal melalui inovasi produk es krim dengan rasa lidah lokal mulai dilirik oleh Prodi D3 Perhotelan Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional. Melalui program regular pada jurusan Konsentrasi Tata Boga yaitu pada mata kuliah Sweet, Candy and Ice Cream, serangkaian kegiatan mata kuliah ini mengangkat peran produk lokal terhadap inovasi es krim di masa modern ini.

Melalui kegiatan “ICE CREAM FESTIVE” setiap kelas akan berinovasi untuk menciptakan rasa-rasa baru dengan menggunakan bahan-bahan atau kuliner lokal, seperti umbi-umbian, wedang ronde, temulawak, es doger, es cendol, asinan Bogor, dll.  Es krim ini dijual dengan harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. Mata kuliah ini pun menjadi salah satu Project-based learning di Prodi D3 Perhotelan karena UAS tertulis akan digantikan oleh projek yang tidak menekankan pada hasil melainkan pada proses.

Es krim dengan bahan dan rasa produk lokal merepresentasikan sebuah peluang kewirausahaan yang kuat dalam beberapa aspek, yaitu:

a) Autentisitas (bahan dan rasa lokal menyediakan autentisitas yang dicari banyak konsumen. Produk yang menggabungkan tradisi dan modernitas sering kali diterima baik karena mereka menyentuh rasa nostalgia sekaligus memberikan pengalaman baru,

b) Differensiasi Pasar (menggunakan rasa lokal dapat membedakan produk dari pesaing dan menarik perhatian pecinta kuliner yang ingin mencoba sesuatu yang unik dan berbeda,

c) Pengenalan Budaya (dapat menjadi cara untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya lokal kepada audiens yang lebih luas, termasuk turis yang mencari pengalaman autentik saat berkunjung),

d) Pemberdayaan Ekonomi Lokal (mengambil bahan baku dari supplier lokal tidak hanya meningkatkan ekonomi daerah tetapi juga mendukung keberlanjutan dan mengurangi jejak karbon),

e) Keanekaragaman Produk (ide-ide inovatif di kategori es krim membantu menciptakan keanekaragaman produk yang lebih luas, menarik segmen pasar yang berbeda dan memuaskan berbagai selera),

 f) Tren Kesadaran Kesehatan (dengan bahan alami dan lokal dapat diposisikan sebagai pilihan yang lebih sehat, terutama jika dibuat dengan bahan-bahan organik atau dengan menggunakan pemanis alami).

Mengembangkan usaha es krim dengan bahan dan rasa lokal bukan hanya memenuhi preferensi rasa tetapi juga membawa dimensi budaya dan sosial ekonomi yang lebih luas. Penggunaan bahan-bahan lokal dalam es krim bisa menciptakan rasa unik yang tidak ditemukan di es krim komersial, menarik mahasiswa yang ingin mencoba sesuatu yang baru.

Selain itu, mahasiswa sering lebih sadar akan isu sosial dan lingkungan. Mereka cenderung mendukung produk yang berkelanjutan dan mendukung komunitas lokal. Produk yang menggunakan bahan lokal umumnya dapat menawarkan harga yang lebih terjangkau bagi mahasiswa yang sering memiliki keterbatasan anggaran. Es krim dengan bahan lokal dapat memicu semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa, memberi inspirasi untuk memulai usaha sendiri yang mengangkat ciri khas lokal.

Projek “ICE CREAM FESTIVE” ini juga dapat menjadi kegiatan edukasi tentang pentingnya mendukung industri lokal dan manfaat gizi dari bahan baku lokal. Projek seperti ini juga berpotensi meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam pengelolaan usaha, memperkenalkan mereka pada aspek-aspek kewirausahaan praktis dan membangun keterampilan bisnis mereka. [T]

Implementasi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”  Melalui Wisata Edukasi “Coral Planting” di Pantai Pandawa
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
Tags: es krimInstitut Pariwisata dan Bisnis InternasionalkulinerPariwisataPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya

Next Post

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti, S.Pd.,M.Pd lahir di Denpasar, 19 Agustus 1988 silam. Ia memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2013. Karirnya menjadi dosen Bahasa Inggris dimulai sejak tahun 2010. Dia juga mengajar Bahasa Inggris untuk caddy golf, hotelier dan spa therapist, serta menekuni Pembelajaran BIPA. Selain itu, ia pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba Menulis Bahan Ajar Membaca Dini oleh Balai Bahasa Bali Tahun 2019 dan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Sisa SD Kelas Awal

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co