15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
May 9, 2024
in Esai
Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya

Indahnya sunrise di Jalan Raya Singaraja – Amlapura | Foto: Pande

PERJALANAN baru ini, tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Setelah aku cek lagi, ternyata 98 kilometer terlalu sangat jauh bagiku. Tidak-tidak, aku belum siap akan hal itu, aku belum siap untuk keluar dari tempat kelahiranku ini. Belum siap untuk jauh dari keluarga apalagi teman-temanku di desa. “Ternyata ini terlalu jauh, apa tidak ada tempat kuliah lebih dekat dari tempat ini?” pikirku sambil bermain game bola kesukaanku.

“Singaraja itu bagaimana, Pak?” aku bertanya kepada Bapak, kebetulan bapak pernah bekerja di sana, namun saat ini telah purna tugas. “Ingat lagi waktu kecil, sekarang tidak jauh-jauh berubah sampai bapak pensiun,” kata Bapak sembari bermain ponselnya.

Ya, aku baru ingat, aku pernah bersua di kota ini, tapi umurku masih sama kecil dengan daya ingatku. Kota Singaraja, sudah lama aku tak menyambanginya. Dulu semasih kelas 2 sekolah dasar, pernah untuk sekali bermain ke tempat dengan julukan kota pendidikan ini, sudah lama bahkan sudah lupa.

Dulu hanya main ke taman kota, seingatku taman kota masih tanah lapang yang masih dipakai tempat kegiatan konser, waktu itu kebetulan ada konser penyanyi lokal, Nanoe Biroe. Tempatnya pun masih dipakai tempat pameran pembangunan, waktu itu pengunjung memang membludak, aku kecil hanya bisa digendong untuk sekadar berkeliling.

Rasa traumaku mulai muncul. Bepergian jauh itu menjadi salah satu ketakutanku. Waktu kecil, musuh terberatku adalah muntah dan mabuk perjalanan, orang-orang setahuku  muntah karena menggunakan mobil, beda denganku, ketika kecil dulu, jangankan memakai mobil, pakai motor pun aku tak kuat.

“Apakah aku masih mabuk perjalanan ketika berkendara dengan motor? Apalagi sampai sejauh ini?” terlintas sejenak dipikiranku, namun aku rasa hal seperti itu tidak mungkin lagi terjadi padaku saat ini. Mungkin jikalau masih mabuk, tinggal minum obat anti mabuk saja.

Waktu kian berlalu, terhitung 1 minggu waktu semakin dekat untuk pergi meninggalkan desa kecilku ini. Aku tumbuh sejak kecil hingga masa remaja di desa ini. Aku habiskan untuk berpetualang di tempat lahirku sendiri. Memang, desaku bisa dikatakan jauh dari namanya hiruk-pikuk perkotaan. Untuk ke Kota Amlapura saja butuh waktu 15 menit lamanya.

Jalan Raya Amlapura – Singaraja dalam situasi hujan | Foto: Pande

“Amlapura menuju Singaraja, ternyata perlu ditempuh dengan waktu 2 jam 30 menit, bahkan bisa saja lebih, apa tidak mengakar jika kalau duduk terlalu lama? Mungkin saja iya.” Aku tertawa kecil sembari membayangkan membawa motor bututku itu.

Bagiku itu sudah cukup jauh untuk diriku yang memang tidak pernah pergi bahkan hingga sejauh ini. Mau melepaskan zona nyamanku menjadi salah satu ketakutan terbesarku. Kembali terlintas dalam benakku, bingung dan pasrah saja sudah paling betul.

Dari kecil aku tak pernah terbesit untuk pergi jauh dari rumah yang serba nyaman ini. Meninggalkan kasur dan kursi gaming kesayanganku, aku berpikir ini rasanya berat sekali, apalagi sekarang harus pergi terlalu jauh, hingga ke Bali Utara.

Pergi sekadar dua sampai tiga hari saja, menjadi salah satu perkara yang rumit bagiku, apalagi harus meninggalkan rumah untuk dua sampai tiga bulan lamanya. Jauh terlalu lama dari keluarga, rasanya belum menjadi suatu kebiasaan, tapi harus mencoba untuk bisa terbiasa.

Merantau mungkin sudah menjadi topik hangat dari setiap masanya, semua orang pasti akan pernah mengalaminya, pergi jauh meninggalkan kampung halaman menjadi tantangan tersendiri. Menuntut ilmu, itulah menjadi salah satu faktor yang membuatku harus keluar dari zona nyaman yang sudah aku bentuk selama ini.

Lalu menjadi pertanyaan dalam benakku, di Singaraja, apakah aku bisa hidup sendiri? Apakah aku bisa hidup lebih mandiri? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa hidup di sana? Sudah hampir setiap malam, sebelum notifikasi tidur berdering, gelisah itu menjadi kecamuk bagiku, bingung dan pasrah rasanya sudah aku tanamkan dalam diri.

***

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, rasa gugup ini akan kulawan dengan segala kemampuan dan keberanian, meskipun sedikit. Segala keperluan sudah aku persiapkan, hingga sekecil apa pun itu, seperti odol dan sikat gigi, misalnya.

Kedua orang tuaku hanya menitipkan pesan “Belajar untuk mandiri di sana ya, Nak.” Pamitku mengecup kedua tangan orang tuaku, air mata terbendung di kelopak mataku. Inginnya menetes, tapi lebih tertahan karena rasa malu, sudah menjadi alasan utama, anak laki-laki ternyata banyak gengsinya.

Perjalanan aku mulai pukul 05.00 WITA. Aku harus berangkat sepagi itu karena untuk mengurusi beberapa keperluan persyaratan perkuliahan di kampus, sembari menaruh beberapa barang di tempat kos. Aku tahu suasana pagi itu memang mendung, namun tak mengurungkan niatku untuk men-stater motor, sambil membunyikan klaskon sebagai tanda keberangkatanku.

Selama perjalanan meninggalkan desa, masih bisa melihat samar indahnya hamparan sawah yang luas, dengan background Gunung Agung yang megah, ini akan menjadi salah satu alasanku pulang kampung nanti.

Aku mulai menembus batas kota, bisingnya kendaraan pun mulai terdengar. Dari balik pohon yang disinari lampu penerangan jalan, sepintas aku melihat siluet tinggi terpampang ditengah jalan. Tenang, aku pastikan itu adalah patung Dewa Brahma, menandakan aku telah sampai di Kota Amlapura.

Kedap-kedip terlintas aku melihatnya, tak kusangka, indikator bensin tersisa hanya 1 bar saja. Aku sempatkan motorku untuk mengisi perutnya. Selama mengisi bensin, aku menyaksikan dengan saksama, beberapa pengendara motor dari arah utara telah memakai jas hujan, kaca mobil pun terlihat basah dengan bintik-bintik air.

Aku sudah siap dengan poncoku, akhir-akhir ini memang lebih sering terjadi hujan di pagi hari. Aku lanjutkan perjalanan, tak terasa rintik demi rintik membasahiku, hingga aku putuskan memakai ponco ketika aku sampai di tempat parkir salah satu objek wisata, Taman Air Tirta Gangga.

Jujur saja, pagi di sini ternyata begitu dingin, apalagi ditambah dengan rintik-rintik hujan. Padahal aku sudah memakai baju double serta memakai jaket yang cukup tebal, namun suasana dingin ini masih saja menusuk.

Tak terasa perjalanan sudah 45 menit lebih. Hujan rintik tadi berubah menjadi begitu deras, aku tidak dapat memastikan sudah di mana aku saat ini. Jatuhnya begitu deras bahkan membuat kaca helmku menjadi begitu basah, susah untuk melihat. Perlu sesekali aku usap kaca helmku agar bisa terlihat dengan jelas. “Lebih enak tidur kalau hujan-hujan seperti ini. Dingin, benar-benar dingin, aku perlu selimutku itu,” ucapku sambil bergumam diterpa hujan yang begitu deras.

Kian jauh berjalan, derai hujan mulai menunjukkan lelahnya. Perjalananku terhenti, untuk membuka ponco yang masih melekat di tubuhku. Suasana pagi masih begitu dingin, wilayah ini pun, jauh lebih sepi dari desaku sendiri. Aku perhatikan lebih saksama, entah dari mana pusatnya, di sini lebih banyak truk-truk besar memuat pasir, yang mondar-mandir dari tadi.

Kubu, Tianyar, begitu Google Maps memberitahuku. Samar-samar biru tua tampak mata ini memandang, tempat ini ternyata memiliki sabana yang begitu luas. Jauh aku melihat ada satu hal yang tak asing lagi bagiku, panorama Gunung Agung yang berselimut awan. Di sini aku pastikan, tak ada siapa pun lagi selain aku dan motor bututku.

Panorama sabana luas dan Gunung Agung yang berselimut awan | Foto: Pande

“Terus lurus sejauh tiga kilometer,” begitu romantisnya Google memberitahuku. Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dikenal dengan nama Kota Pendidikan itu. Tak berselang lama, tidak jauh dari tempat pemberhentianku, langkah motorku kian mengecil, menyaksikan macetnya barisan truk yang begitu panjang.

Aku mencoba untuk menembus barisan truk itu, yang tampaknya sudah mengantre cukup lama. “Mengapa barisan truk ini tampak kompak saling berhenti?” Bingung itu sudah pasti, panik sudah jadi bonus bagiku. Tak tahu dari mana datangnya air bah ini, begitu derasnya melintas hingga memotong badan yang menjadi jalan utama jalur Amlapura-Singaraja.

Aku terduduk diam di atas motor, dari tadi hanya menonton atraksi air bah yang berwarna cokelat itu. Sudah 20 menit lamanya menunggu, tak satu pun roda mulai menampakkan dirinya untuk bergulir. Air bah itu tampak begitu pekat, tidak ada juga yang berani mendekat, orang-orang hanya berjejer untuk sekadar melihat.

“Teng”, begitu pikirku dalam hati, setengah jam sudah, hanya menunggu air pekat yang membawa berbagai material seperti kerikil yang berselimut lumpur, dan entah benda apa yang dilewatinya. “Sepertinya sudah mulai surut, ayo pelan-pelan saja, lewat di bagian sisi kiri biar lebih aman,” ucap seorang pria tua yang kurasa ia adalah salah satu warga di sana. Sembari mengarahkan, perlahan orang tua itu mulai masuk menembus air yang dingin dan penuh lumpur itu.

Bapak tua itu, bagiku benar bak seorang pahlawan. Bayangkan saja, 500 meter dari lokasi itu, sudah ada ombak yang lahap menyantap apa pun yang ada di depannya. Sedikit saja tidak berhati-hati, alam lain sudah menanti, sedikit seram ceritaku namun benar adanya seperti itu.

Aku perhatikan lagi, tinggi air itu lima centimeter lebih tinggi dari atas mata kaki. “Ayo, pelan-pelan saja lewatnya,” ucap orang tua itu dengan penuh yakin. Pria tua dengan jaket lusuh dan celana pendek hitam itu melambaikan tangannya ketika ia sudah berada tepat di tengah aliran air bah.

Truk dan motor, kian detik mulai menghilang satu-persatu. Kulihat ke belakang, barisan itu pun sudah Tampak tak begitu panjang. Pelan-pelan sembari memantapkan diri, aku coba menerobos derasnya air yang bercampur lumpur itu.

Takut sudah pasti. “Masalahnya apakah motorku akan kuat?” tanyaku dalam hati, sembari mendengar bunyi aneh yang datang dari bawah kananku, bunyinya benar-benar membuat spot jantung diuji. “Blubub-blubub.” Tak disangka semakin ke tengah ternyata semakin dalam, bunyi knalpot itu rasanya menjadi part yang paling menegangkan bagiku.

Sontak begitu panik dan tegang. “Bisa, Pak? Pelan-pelan saya bantu,” pria tua itu membantu mendorong motorku agar lebih cepat sampai ke seberang. Entah apa yang ada di pikiran bapak itu, rela menantang maut hanya untuk membantu orang, yang bahkan tak ia kenal sama sekali.

Air bah menutupi badan jalan utama Amlapura – Singaraja | Foto: Pande

“Terima kasih banyak, Pak,” ucapku ketika berhasil tiba di seberang. Ternyata bapak itu sudah tidak menuntunku, dengan sigap ia membantu pengendara lain untuk melewati air bah itu. Terlintas dalam pikirku, semoga bapak itu mendapat balasan yang terbaik setelah ini.

***

Rasanya sudah terlalu lama aku menghabiskan waktu di sini. Doa menjadi tameng utama yang menemaniku untuk melanjutkan kembali perjalanan, dengan pasti aku tinggalkan tempat itu.

Tugu segitiga berlambang Gunung Agung bertuliskan “Terimakasih dan Selamat Jalan” menandakan diriku baru saja melewati kabupaten tempat kelahiranku. Suasana ketika itu rasanya jauh berbeda, hawa dingin di sini masih sangat terasa, meski sang surya perlahan menampakkan sinarnya. Sahutan demi sahutan burung merbah, sebagai pesan pagi yang cerah akan segera tiba.

Sepanjang jalan aku berpikir, aku tidak menemukan hal seindah apa yang aku temui tadi, tidak ada sabana, dan tidak ada gunung yang tampak megah di sini. Bahkan salah satu bukit di sini tertutupi jejeran rumah warga yang saling terikat tembok pagar satu sama lainnya.

Jauh berjalan, aku bertemu denganplangtanda dengan gambar gapuranya. Aku telah tiba di salah satu pura yang bernama Pura Ponjok Batu. Tujuanku berhenti untuk meminta restu kelancaran dalam setiap perjalananku.

“Di sana ada sebuah perahu batu, di letakkan di atas karang, itu adalah kisah perjalanan Danghyang Nirartha,” cerita Pak Wayan, salah satu guru Agama Hindu, ketika aku menginjak ubin sekolah menengah pertama.

Aku semakin penasaran ketika mengingat memori itu. Berhentilah aku di suatu tempat untuk beristirahat, bale bengong orang bali menyebutnya. Rasa penasaranku sirna ketika aku mulai menelisik garis pantai dari arah kiri ke kanan.

Tepat dari arah pojok kanan, terdapat apa yang telah diceritakan selama ini oleh guruku. Perahu batu itu tetap kokoh, meski sesekali harus menerima hantaman ombak yang datang. Aku takjub sejenak, betapa bersyukurnya aku hidup untuk ikut dalam menjaga dan melestarikan berbagai peninggalan sejarah.

Setelah badai berlalu, dengan jingga mentari aku bertemu, berkelok-kelok jalan ditemani panorama laut serta sang surya yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya, sekali lagi mataku dibuat terpesona memandangnya. Di sisi lain aku masih memikirkan pria tua dan air bah tadi. “Semoga aman-aman saja,” ucapku dalam hati.

Entah sudah berapa kali aku melewati marka jalan putus-putus, rasanya sudah banyak hal bisa aku lihat namun tidak semua aku ingat. “Apakah aku memakai mode auto-drive?” pikirku heran ketika aku lepas dari lamunanku dan melihat tugu lengkung bertuliskan “Selamat Datang di Kota Singaraja, Kota Pendidikan”. Tak kusangka sudah sampai di batas kota, padahal seingatku masih berada di Ponjok Batu.

Suasana kota ini tidak terasa seperti Kota Denpasar yang sering aku kunjungi. Masih terlihat klasik dan juga tidak terlalu ramai. Jauh lamanya waktu, kini sekarang sudah mulai banyak yang berbeda, namun gaya klasik itu tidak pernah lepas dari eks ibukota Sunda Kecil ini. Ya, aku lihat sebentar taman kota sudah mulai menghijau, dulu masih tanah lapang dengan rumput-rumput kecil yang tumbuh, kini hanya dijadikan tempat rekreasi ringan rasanya.

Pasar Banyuasri tak semegah dan secantik sekarang ini. Bahkan videotron pun belum ada yang terpasang di setiap sudut kota. Jauh berjalan menikmati indahnya kota ini, membuatku lupa jika tujuanku adalah daerah Banyuning.

Banyuning menjadi tempat di mana aku akan tinggal untuk beberapa tahun ke depan, tentunya selama menempuh pendidikan di kota ini. Aku rasa ini akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku, mengingat, untuk pertama kalinya aku jauh dari keluargaku. Sudah barang tentu, siap-tidak siap harus siap agar dipaksa belajar lebih mandiri dan jangan lupa untuk menuntaskan misi membahagiakan kedua orang tua.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Tags: karangasemPura Ponjok BatuSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Panti Asuhan Destawan dan Sosok Pahlawan di Baliknya

Next Post

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails
Next Post
Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co