27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
May 8, 2024
in Khas
Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam

Seorang pedagang sedang melayani pembeli | Foto: Agus Eka

“SUDAH dari zaman dulu orang berjualan di sini, bahkan sudah turun-temurun orangnya masih juga berjualan,” tutur pedagang itu sambil memukul balok es menjadi serpihan-serpihan kecil. Di atas trotoar itu ia duduk sambil menyiapkan dagangannya. Palu itu terus memukul satu per satu balok es berukuran betis orang dewasa hingga hancur.

Malam itu, di jantung Kota Singaraja, tepatnya di Jalan Ahmad Yani bagian timur, yang biasanya ramai aktivitas manusia, tampak lengang dari hiruk-pikuk, hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang menggunakan kendaraan roda dua mapun roda empat.

Toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan sudah menutup dirinya, berganti dengan payung warna-warni yang berbaris rapi di depan toko. Di bawah payung itu terdapat sosok ibu-ibu yang sedang mengais rezeki.

Malam itu sedikit bebeda. Bintang-bintang yang biasanya bersinar, saat itu tampaknya sedang diselimuti awan hitam. Tapi, meski hanya ditemani cahaya lampu, gelapnya malam tidak membuat orang-orang yang tinggal di pusat Kota Singaraja berdiam diri di dalam rumah.

Di sepanjang Jalan Ahmad Yani Singaraja, dari timur sampai ke barat, setiap menjelang pukul sepuluh malam—waktu di mana toko-toko besar menutup pelayanan—dapat kita temui para pedagang yang membuka lapak, dari yang menjual nasi kuning (ini yang paling dominan), angkringan gerobak, sampai angkringan lesehan yang menggelar tikar di trotoar.

Benar. Sepanjang 500 meter dari lampu merah simpang Jalan Pramuka-Ahmad Yani sampai di depan Puskesmas Buleleng I, berjejer lapak-lapak pedagang nasi kuning, nasi jinggo, lalapan, hingga sate kambing, lengkap ada di sana.

Menurut Fauzan, salah satu pedagang yang sudah berjualan di pinggir Jalan A. Yani, para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan besar ini sudah ada sejak tahun 90-an. “Di sini sudah lama yang jualan, sejak saya masih kecil,” tuturnya sambil memasang lampu penerang lapaknya. Ia naik ke kursi kecil untuk menyambungkan listrik dari stop kontak di depan ruko tempat ia jualan, Selasa (7/5/2024).

Fauzan manambahkan, para pedagang yang julan di sepanjang Jalan Ahmad Yani ini sudah mengelami regenerasi. “Bahkan sampai dilanjutkan oleh anaknya,” ujar pedagang angkringan gerobak yang sudah berjualan selama enam tahun itu.

Beberapa orang tampak menghampiri payung-payung pelangi itu—payung yang digunakan para pedagang nasi jinggo dan nasi kuning di pinggir Jalan A. Yani. Ada yang hanya sekadar membeli kopi untuk menghilangkan kantuk, dan tak sedikit pula yang bertujuan untuk mengisi perut keroncongan dengan nasi berbungkus daun pisang itu—di Bali dikenal dengan sebutan nasi jinggo.

Di Bali, nasi dengan harga lima ribu rupiah itu menjadi primadona, apalagi bagi mahasiswa kos-kosan, tentu nasi itu menjadi incaran ketika uang bulanan telah menipis. Nasi jinggo biasanya dijajakan pada malam hari, sekitar pukul sembilan sampai dini hari. Nasi ini isinya hanya sesuap saja, lauknya ada mi, sambal, tempe kering, telur seperempat, kadang ada juga suwiran pindang atau ayam.

Jalan Ahmad Yani memang terkenal dengan kepadatannya. Hal ini disebabkan karena di sepanjang jalan itu, merupakan salah satu pusat perekonomian Kota Singaraja. Toko elektronik, alat pemancingan, percetakan, toko kue, bank, sampai rumah sakit, berdiri di pinggir-pinggirnya. Sehingga tak heran jika jalan ini hanya akan sepi ketika perayaan hari raya Nyepi saja. Hari-hari biasa, kendaraan seperti tak ada putus-putusnya.

Suasana siang dan malam di pinggiran Jalan Ahmad Yani tentang sangat berbeda. Jika pagi hingga sore bahu jalan diramaikan oleh toko-toko besar, malam hingga dini hari, sebagaimana telah disinggung di atas, dihias oleh para pedagang kecil-kecilan dengan lapak dan payung warna-warni yang khas.

Para pembeli pada malam hari biasanya juga didominasi kalangan anak muda dan para mahasiswa yang menuntut ilmu di kota dengan ikon singa ini. Setidaknya ada dua hal yang membuat lapak para pedagang ini selalu diserbu pembeli. Pertama, karena harganya terjangkau. Kedua, karena mereka membuka lapak di jam-jam malas memasak. Dan dua hal ini sangat menguntungkan mahasiswa-mahasiswa kos-kosan yang, selain pas-pasan, juga malas mandiri.

Selain harga yang ditawarkan sangat terjangkau, setiap lapak, khususnya angkringan, juga menawarkan banyak menu. Ada segala jenis minuman, dari kopi sampai minuman bubuk dengan aspartam yang tinggi. Ada juga nasi jinggo, gorengan, dan cemilan ringan seperti usus, sate telur puyuh, kacang-kacangan, dan kerupuk seribuan.

Aditya, salah satu pengunjung setia Jalan Ahmad Yani pukul sepuluh malam, mengatakan bahwa dirinya sangat terbantu dengan adanya pedagang makanan di sepanjang jalan besar ini. “Saya cukup sering ke sini, karena saya sering lapar malam-malam. Apalagi kalau lagi stres dengan tugas kuliah yang banyak, pasti larinya ke sini, untuk sekadar beli kopi,” tuturnya sambil memamah-biak nasi jinggo yang ia beli.

Sekali lagi, dari pukul sepuluh malam hingga pukul tiga dini hari, para pedagang itu mengumpulkan pundi-pundi rupiah di pinggir Jalan Ahmad Yani. Mereka seperti kelelawar yang beraktivitas ketika hari sudah gelap.

Menurut beberapa pedagang, tidak sembarang orang boleh berjualan di Jalan Ahmad Yani. Mereka harus izin dan membayar beberapa rupiah kepada PD pasar. Selain itu, para pedagang juga harus mendapatkan izin dari pemilik ruko yang halaman depannya mereka tempati.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Jangan Pilih-Pilih Penjual saat Beli Nasi Kuning, Toh Rasanya Tak Jauh Beda
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: angkringanJalan Ahmad Yani Singarajanasi jinggonasi kuning
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DANA ABADI PURA — PERINTAH MPU KUTURAN | Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

LONTAR SANGHYANG WIDHI DI GEDONG KIRTYA

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR SANGHYANG WIDHI DI GEDONG KIRTYA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co