2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Wirata# Puisi: Aku Memungut Bendera dan Air Mata Seekor Elang

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Wirata

.
AKU MEMUNGUT BENDERA DAN AIR MATA SEEKOR ELANG

Pagi ini aku memungut airmata seekor elang
Kukira kesedihan
Sebab luka menganga
Tapi tak bersua di sana sebab luka
Tak ada hubungannya dengan air mata
Pagi ini aku memungut bendera di ruas jalan
Dimana orang sering lupa ke tujuan semula
Mencari arah
Sesudah pesta raya
Kebun bunga dan rumput terinjak
Seekor elang yang patah satu sayapnya
Dan seekor merpati menyapanya: apa
Engkau akan pulang atau
Terus melawan? Dan
Akupun memungut sajak
Ketika elang menjawab :
Kemerdekaan itu tak mengenal rumah dan cinta
Jika rumah dan cinta adalah tali pengikat
Kemerdekaan itu tanpa bendera
Jika bendera adalah tali pengikat
Karena peristiwa terus bergerak bebas dari yang dikenal
Dan aku ucapkan selamat tinggal
Tanpa kata perpisahan
Dan aku memungut cahaya perlawanan di matanya
Dan aku memungut rindu yang mengagumkan
Di tengah rasa masgul
Sebab aku adalah rumput rasa masgulpun merambat
Ke relung sepi yang berapi
Ke slogan yang terbaca berulang ulang
Ke kata kata yang terpelanting .Ke
Warna warni bendera
Yang membuat debar jantung makin kencang
Sebab aku adalah rumpun bambu
Rasa masgul membakar
Tapi rumput dan bambu
Akan selalu tumbuh sebab
Tak pernah lunas api membakar
Sebab peristiwa dan tindakan akan menguji kesetiaan
Maka jawablah setiap pertanyaan
Apakah kemiskinan akan terus menelanjangi
Apakah rumah rumah sakit dapat menampung yang sekarat
Mengubah wabah di sanitasi yang buruk
Sebab air bersih bercampur lumpur terpaksa diminum
Dan anak anak tak sempat duduk di bangku sekolah
Dan sebagai burung
Semoga tak terusir dari sawah pujaan dan asing
Dari tanah mengandung sejarah nenek moyangnya

9.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SORE YANG BASAH ADALAH BURUNG BERSAYAP LEMBAB

Sore yang basah
adalah burung bersayap lembab
dan lebar
Sore yang serakah
Dan siang merasa kehilangan
bagian tubuhnya
Lalu keinginan ingin cepat pulih
menjadi pagi
Sedangkan gelap baru memulai
Memasuki ranjang tidurnya
Tapi kata takan pernah lelap
Kata dan kesunyian
adalah berkah
bukan pengasingan
Sore yang mengetuk kegelisahan
Setiap sore adalah jantung yang berdebar
Di sebuah tempat
Panggung calonarang disiapkan
Siapa yang akan menjadi apa
Namun sunyi punya alasan
mementaskan peristiwa
Dan terlibatlah
Menari ,menyanyi
Sebab kesunyian bukan pengasingan
Sebab
Tubuh adalah pasar raya
Dihuni tengkulak pedagang
Dan tempat para pertapa
Sore yang ramah
Membuka pintu di sekujur tubuhnya
Lorong lorong yang merindukan cahaya
Aku juga merindukannya
Gugusan api di setiap mata angin
Dan di tengah bersinggasana
Memutar jagat raya sunyi
Tanpa mahkota
Tak berusaha jadi cendikia
Hanya kemalangan merestui ingatan:
Hambatan terbesarmu
Adalah kematian
Sore yang galau
Karena disinggahi burung gagak
Kematian yang paling menakutkan
Ketika kehidupan masih menyimpan mesiu
Sore yang indah
Adalah burung bersayap lebar dan lembab
Menukik ke dalam rahasia hati
Menenggelam dalam telaga riuh
Untuk menghirup rasa sunyinya
Lalu menjelma sajak sajak
Yang menikmati kemerdekaannya
Sore yang telanjang
Minta dibuahi
Melalui persenggamaan

14.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SUNYI BÙKAN PENGASINGAN

Sunyi tak memiliki tempat khusus
Tanpa ruang tunggu
Seperti ruang praktik para dokter
Kebijakannya
Tak pernah bersekutu
Atau berseteru
Kastanya adalah melayani
Mantranya suara suksma
Berkelana di sepanjang abad
Tanpa upacara dan perayaan
Pintu masuknya
pintu rendahhati
Di tubuh yang berlari
Di tubuh yang tersakiti
Jika pengasingan
Menjauh dari huruhara
Hanya alasan
Kehilangan keberanian
Dan tantangan
Adalah peristiwa sehari-hari
Yang meminta kepastian
Tindakan yang tak harus sempurna
Sebab kesunyian
Akan menyempurnakan
Seekor ular belang
Berkubang dalam jiwa
Seekor singa di belantara
Hiu bercula di samudra
Sunyi dengan wajah merunduk
Menyalami semua
Yang bermukim di tubuh
Kau kehilangan
Rasa sunyimu
Lalu berlari ke dalam pengasingan
Jika pasar adalah tubuhmu
Kemana sunyi kau cari
Jika wujudnya sepenggal dalam kalimat
Dingin kehilangan cahaya
Bagaimana menghidupkan kematian

14.01.2018
MunangManingNung

PAPUA

Aku belajar
membaca peristiwa
Anak anak memberiku sayap
Ibu ibu memberi air mata
Ladang dan pohon sagu
Memberi harapan
Hutan perburuan memberi
Kebijakan alam
Kian terberangus
Kelaparan
Dan kurang gizi
Cukup membuat kita kembali ke asal
Dimana perjanjian bathin
Awalnya ditandatangani
Beserta riuhnya janji
Aku membaca
air matamu ibu
Sejak masa sulit melahirkan
dengan rasa sakit
Kemudian terisak
Menatap yang lahir
Aku membaca
Bulan mati di penanggalan besok
Malam ini kami terjaga
Merenungkan hutanmu
Perburuan
Dan belantaramu
Dan akankah tiba anak anakmu si pemburu
pada ladang ladang sagu
Pohon kehidupan yang rimbun
Berbunga berbuah
Aku
Merenung tentang akar dan tujuan
Atau
Seberapa lama keadaan
Seperti dahan dan ranting
Kelopak daun
mengering
Kemudian desah dan wajahmu
Memudar
Kemudian dilupakan
Dalam jejalan peristiwa riuh
Perebutan takhta di pusat pusat kota
Karena kalian jauh tak terjangkau
Oleh janji janji
Namun apa yang dekat yang tersekat
Dalam himpitan
Tergapai
Kami sediakan takhta
Bagi kekuasaan
Yang bakal kami pilih nanti
Apakah
Yang dekat tergapai
Yang jauh dipelosok akan tercapai
Hingga tak tersiar
Jadi kabar menyakitkan
Aku memungut kertas kertas bisu
Dengan potret wajah para ksatriya
Yang menang
Dan yang kalah
Aku akan belajar membacamu
Dalam setiap peristiwa
Apakah kalian akan terus hadir
Menafkahi bhatin dengan luka
Memulyakan kehidupan adalah
Cara terindah ketika
Orang orang merasa tak ditinggalkan
Lapar
Sesudah pesta usai

15.01.2018

DARI JENDELA

Dari jendela teratak
Ada warna pink memudar,memberat berangkat
Ke tanah berpijak
Pohon cinta yang lahir dari usia
Dimana kita bertemu
Sewaktumu masih muda
Baru belajar berbunga
Ingin membuah
Dan itu kemudian terjadi
Bersama reranting yang patah tumbuh berganti
Akar tunjang
Menyerabut ke rumah sujud
Dari jendela teratak urban senantiasa berpeluh
Pohon pohon menunggu hujan
Panas terik
Tapi bunga tetap tumbuh
Makin tua pohonnya makin pekat warnanya
Kecuali jika
Menjelang luruh
Tentu memudar
Tapi cinta
Tak pernah peduli
Tentang warna
Hanya tentang akar

17.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

KISAH PARA PEMULUNG KOTA

Di fb aku memungut:
Kotaku lari pagi
Bersih bersolek rapi
Melukis alis dan bibir
Warna hijau
Di wajahnya

Aku memungut kota
Yang tak bisa menangis
Padahal air mata perlu
Untuk membersihkan hati
Dari pada marah
Penyebab darah membuncah

Dan kalimat itu bikinan para rahib
Kalimat lain kutemui di bibirmu,kota
Lupakanlah
Hati yang sulit bersih
Karena beku
Tak memiliki air
Barangkali juga mata

Di fb aku memungut kota : kota adalah
Taman dan pohon-pohon menari
Sekalipun bunga-bunganya luruh
Akar-akar kering
Ia tak pernah menangis

Dan kupungut juga seratus mata
Sebab kupikir
Kini bukan hanya persoalan mata
Hanya milik kepala
Adalah karena
Tanggul tanggul sungai yang menyempit
Rumah rumah orang kalah
Lalulintas macet karena melawan arus
Genangan pikiran menyempit dan
Warna hijau lumut di lumpurnya
Luapan emosi yang meledakkan sampah plastik
Bunga busuk menyengat
Sesudah ritual panjang

Di fb aku memungut , batu
Kulempar di telaga taman kota
Plung
Ikan-ikan besar tercengang gagap
Ikan-ikan kecil ambyar

Memikirkan wajahmu
Aku merasa engkau selalu remaja
Penuh fantasi
Suka bersolek

Aku memungut seonggok foto telanjang di fb
Naluri laki lakiku ternyata liar
Memberi perintah mataku
Untuk memeluk
Ah kotalah yang mengajariku agar santun
Tapi juga liar
Seperti sungai berlimbah
Tanggul tanggulnya mudah roboh
Sehingga orang-orang berkata:
Cinta, alirkanlah kesetiaan bersamamu,sebab
Kota adalah reinkarnasi para penyihir

11.2017

Tags: Puisi
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co