23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Wirata# Puisi: Aku Memungut Bendera dan Air Mata Seekor Elang

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Wirata

.
AKU MEMUNGUT BENDERA DAN AIR MATA SEEKOR ELANG

Pagi ini aku memungut airmata seekor elang
Kukira kesedihan
Sebab luka menganga
Tapi tak bersua di sana sebab luka
Tak ada hubungannya dengan air mata
Pagi ini aku memungut bendera di ruas jalan
Dimana orang sering lupa ke tujuan semula
Mencari arah
Sesudah pesta raya
Kebun bunga dan rumput terinjak
Seekor elang yang patah satu sayapnya
Dan seekor merpati menyapanya: apa
Engkau akan pulang atau
Terus melawan? Dan
Akupun memungut sajak
Ketika elang menjawab :
Kemerdekaan itu tak mengenal rumah dan cinta
Jika rumah dan cinta adalah tali pengikat
Kemerdekaan itu tanpa bendera
Jika bendera adalah tali pengikat
Karena peristiwa terus bergerak bebas dari yang dikenal
Dan aku ucapkan selamat tinggal
Tanpa kata perpisahan
Dan aku memungut cahaya perlawanan di matanya
Dan aku memungut rindu yang mengagumkan
Di tengah rasa masgul
Sebab aku adalah rumput rasa masgulpun merambat
Ke relung sepi yang berapi
Ke slogan yang terbaca berulang ulang
Ke kata kata yang terpelanting .Ke
Warna warni bendera
Yang membuat debar jantung makin kencang
Sebab aku adalah rumpun bambu
Rasa masgul membakar
Tapi rumput dan bambu
Akan selalu tumbuh sebab
Tak pernah lunas api membakar
Sebab peristiwa dan tindakan akan menguji kesetiaan
Maka jawablah setiap pertanyaan
Apakah kemiskinan akan terus menelanjangi
Apakah rumah rumah sakit dapat menampung yang sekarat
Mengubah wabah di sanitasi yang buruk
Sebab air bersih bercampur lumpur terpaksa diminum
Dan anak anak tak sempat duduk di bangku sekolah
Dan sebagai burung
Semoga tak terusir dari sawah pujaan dan asing
Dari tanah mengandung sejarah nenek moyangnya

9.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SORE YANG BASAH ADALAH BURUNG BERSAYAP LEMBAB

Sore yang basah
adalah burung bersayap lembab
dan lebar
Sore yang serakah
Dan siang merasa kehilangan
bagian tubuhnya
Lalu keinginan ingin cepat pulih
menjadi pagi
Sedangkan gelap baru memulai
Memasuki ranjang tidurnya
Tapi kata takan pernah lelap
Kata dan kesunyian
adalah berkah
bukan pengasingan
Sore yang mengetuk kegelisahan
Setiap sore adalah jantung yang berdebar
Di sebuah tempat
Panggung calonarang disiapkan
Siapa yang akan menjadi apa
Namun sunyi punya alasan
mementaskan peristiwa
Dan terlibatlah
Menari ,menyanyi
Sebab kesunyian bukan pengasingan
Sebab
Tubuh adalah pasar raya
Dihuni tengkulak pedagang
Dan tempat para pertapa
Sore yang ramah
Membuka pintu di sekujur tubuhnya
Lorong lorong yang merindukan cahaya
Aku juga merindukannya
Gugusan api di setiap mata angin
Dan di tengah bersinggasana
Memutar jagat raya sunyi
Tanpa mahkota
Tak berusaha jadi cendikia
Hanya kemalangan merestui ingatan:
Hambatan terbesarmu
Adalah kematian
Sore yang galau
Karena disinggahi burung gagak
Kematian yang paling menakutkan
Ketika kehidupan masih menyimpan mesiu
Sore yang indah
Adalah burung bersayap lebar dan lembab
Menukik ke dalam rahasia hati
Menenggelam dalam telaga riuh
Untuk menghirup rasa sunyinya
Lalu menjelma sajak sajak
Yang menikmati kemerdekaannya
Sore yang telanjang
Minta dibuahi
Melalui persenggamaan

14.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SUNYI BÙKAN PENGASINGAN

Sunyi tak memiliki tempat khusus
Tanpa ruang tunggu
Seperti ruang praktik para dokter
Kebijakannya
Tak pernah bersekutu
Atau berseteru
Kastanya adalah melayani
Mantranya suara suksma
Berkelana di sepanjang abad
Tanpa upacara dan perayaan
Pintu masuknya
pintu rendahhati
Di tubuh yang berlari
Di tubuh yang tersakiti
Jika pengasingan
Menjauh dari huruhara
Hanya alasan
Kehilangan keberanian
Dan tantangan
Adalah peristiwa sehari-hari
Yang meminta kepastian
Tindakan yang tak harus sempurna
Sebab kesunyian
Akan menyempurnakan
Seekor ular belang
Berkubang dalam jiwa
Seekor singa di belantara
Hiu bercula di samudra
Sunyi dengan wajah merunduk
Menyalami semua
Yang bermukim di tubuh
Kau kehilangan
Rasa sunyimu
Lalu berlari ke dalam pengasingan
Jika pasar adalah tubuhmu
Kemana sunyi kau cari
Jika wujudnya sepenggal dalam kalimat
Dingin kehilangan cahaya
Bagaimana menghidupkan kematian

14.01.2018
MunangManingNung

PAPUA

Aku belajar
membaca peristiwa
Anak anak memberiku sayap
Ibu ibu memberi air mata
Ladang dan pohon sagu
Memberi harapan
Hutan perburuan memberi
Kebijakan alam
Kian terberangus
Kelaparan
Dan kurang gizi
Cukup membuat kita kembali ke asal
Dimana perjanjian bathin
Awalnya ditandatangani
Beserta riuhnya janji
Aku membaca
air matamu ibu
Sejak masa sulit melahirkan
dengan rasa sakit
Kemudian terisak
Menatap yang lahir
Aku membaca
Bulan mati di penanggalan besok
Malam ini kami terjaga
Merenungkan hutanmu
Perburuan
Dan belantaramu
Dan akankah tiba anak anakmu si pemburu
pada ladang ladang sagu
Pohon kehidupan yang rimbun
Berbunga berbuah
Aku
Merenung tentang akar dan tujuan
Atau
Seberapa lama keadaan
Seperti dahan dan ranting
Kelopak daun
mengering
Kemudian desah dan wajahmu
Memudar
Kemudian dilupakan
Dalam jejalan peristiwa riuh
Perebutan takhta di pusat pusat kota
Karena kalian jauh tak terjangkau
Oleh janji janji
Namun apa yang dekat yang tersekat
Dalam himpitan
Tergapai
Kami sediakan takhta
Bagi kekuasaan
Yang bakal kami pilih nanti
Apakah
Yang dekat tergapai
Yang jauh dipelosok akan tercapai
Hingga tak tersiar
Jadi kabar menyakitkan
Aku memungut kertas kertas bisu
Dengan potret wajah para ksatriya
Yang menang
Dan yang kalah
Aku akan belajar membacamu
Dalam setiap peristiwa
Apakah kalian akan terus hadir
Menafkahi bhatin dengan luka
Memulyakan kehidupan adalah
Cara terindah ketika
Orang orang merasa tak ditinggalkan
Lapar
Sesudah pesta usai

15.01.2018

DARI JENDELA

Dari jendela teratak
Ada warna pink memudar,memberat berangkat
Ke tanah berpijak
Pohon cinta yang lahir dari usia
Dimana kita bertemu
Sewaktumu masih muda
Baru belajar berbunga
Ingin membuah
Dan itu kemudian terjadi
Bersama reranting yang patah tumbuh berganti
Akar tunjang
Menyerabut ke rumah sujud
Dari jendela teratak urban senantiasa berpeluh
Pohon pohon menunggu hujan
Panas terik
Tapi bunga tetap tumbuh
Makin tua pohonnya makin pekat warnanya
Kecuali jika
Menjelang luruh
Tentu memudar
Tapi cinta
Tak pernah peduli
Tentang warna
Hanya tentang akar

17.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

KISAH PARA PEMULUNG KOTA

Di fb aku memungut:
Kotaku lari pagi
Bersih bersolek rapi
Melukis alis dan bibir
Warna hijau
Di wajahnya

Aku memungut kota
Yang tak bisa menangis
Padahal air mata perlu
Untuk membersihkan hati
Dari pada marah
Penyebab darah membuncah

Dan kalimat itu bikinan para rahib
Kalimat lain kutemui di bibirmu,kota
Lupakanlah
Hati yang sulit bersih
Karena beku
Tak memiliki air
Barangkali juga mata

Di fb aku memungut kota : kota adalah
Taman dan pohon-pohon menari
Sekalipun bunga-bunganya luruh
Akar-akar kering
Ia tak pernah menangis

Dan kupungut juga seratus mata
Sebab kupikir
Kini bukan hanya persoalan mata
Hanya milik kepala
Adalah karena
Tanggul tanggul sungai yang menyempit
Rumah rumah orang kalah
Lalulintas macet karena melawan arus
Genangan pikiran menyempit dan
Warna hijau lumut di lumpurnya
Luapan emosi yang meledakkan sampah plastik
Bunga busuk menyengat
Sesudah ritual panjang

Di fb aku memungut , batu
Kulempar di telaga taman kota
Plung
Ikan-ikan besar tercengang gagap
Ikan-ikan kecil ambyar

Memikirkan wajahmu
Aku merasa engkau selalu remaja
Penuh fantasi
Suka bersolek

Aku memungut seonggok foto telanjang di fb
Naluri laki lakiku ternyata liar
Memberi perintah mataku
Untuk memeluk
Ah kotalah yang mengajariku agar santun
Tapi juga liar
Seperti sungai berlimbah
Tanggul tanggulnya mudah roboh
Sehingga orang-orang berkata:
Cinta, alirkanlah kesetiaan bersamamu,sebab
Kota adalah reinkarnasi para penyihir

11.2017

Tags: Puisi
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co