24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Wirata# Puisi: Aku Memungut Bendera dan Air Mata Seekor Elang

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan: Nyoman Wirata

.
AKU MEMUNGUT BENDERA DAN AIR MATA SEEKOR ELANG

Pagi ini aku memungut airmata seekor elang
Kukira kesedihan
Sebab luka menganga
Tapi tak bersua di sana sebab luka
Tak ada hubungannya dengan air mata
Pagi ini aku memungut bendera di ruas jalan
Dimana orang sering lupa ke tujuan semula
Mencari arah
Sesudah pesta raya
Kebun bunga dan rumput terinjak
Seekor elang yang patah satu sayapnya
Dan seekor merpati menyapanya: apa
Engkau akan pulang atau
Terus melawan? Dan
Akupun memungut sajak
Ketika elang menjawab :
Kemerdekaan itu tak mengenal rumah dan cinta
Jika rumah dan cinta adalah tali pengikat
Kemerdekaan itu tanpa bendera
Jika bendera adalah tali pengikat
Karena peristiwa terus bergerak bebas dari yang dikenal
Dan aku ucapkan selamat tinggal
Tanpa kata perpisahan
Dan aku memungut cahaya perlawanan di matanya
Dan aku memungut rindu yang mengagumkan
Di tengah rasa masgul
Sebab aku adalah rumput rasa masgulpun merambat
Ke relung sepi yang berapi
Ke slogan yang terbaca berulang ulang
Ke kata kata yang terpelanting .Ke
Warna warni bendera
Yang membuat debar jantung makin kencang
Sebab aku adalah rumpun bambu
Rasa masgul membakar
Tapi rumput dan bambu
Akan selalu tumbuh sebab
Tak pernah lunas api membakar
Sebab peristiwa dan tindakan akan menguji kesetiaan
Maka jawablah setiap pertanyaan
Apakah kemiskinan akan terus menelanjangi
Apakah rumah rumah sakit dapat menampung yang sekarat
Mengubah wabah di sanitasi yang buruk
Sebab air bersih bercampur lumpur terpaksa diminum
Dan anak anak tak sempat duduk di bangku sekolah
Dan sebagai burung
Semoga tak terusir dari sawah pujaan dan asing
Dari tanah mengandung sejarah nenek moyangnya

9.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SORE YANG BASAH ADALAH BURUNG BERSAYAP LEMBAB

Sore yang basah
adalah burung bersayap lembab
dan lebar
Sore yang serakah
Dan siang merasa kehilangan
bagian tubuhnya
Lalu keinginan ingin cepat pulih
menjadi pagi
Sedangkan gelap baru memulai
Memasuki ranjang tidurnya
Tapi kata takan pernah lelap
Kata dan kesunyian
adalah berkah
bukan pengasingan
Sore yang mengetuk kegelisahan
Setiap sore adalah jantung yang berdebar
Di sebuah tempat
Panggung calonarang disiapkan
Siapa yang akan menjadi apa
Namun sunyi punya alasan
mementaskan peristiwa
Dan terlibatlah
Menari ,menyanyi
Sebab kesunyian bukan pengasingan
Sebab
Tubuh adalah pasar raya
Dihuni tengkulak pedagang
Dan tempat para pertapa
Sore yang ramah
Membuka pintu di sekujur tubuhnya
Lorong lorong yang merindukan cahaya
Aku juga merindukannya
Gugusan api di setiap mata angin
Dan di tengah bersinggasana
Memutar jagat raya sunyi
Tanpa mahkota
Tak berusaha jadi cendikia
Hanya kemalangan merestui ingatan:
Hambatan terbesarmu
Adalah kematian
Sore yang galau
Karena disinggahi burung gagak
Kematian yang paling menakutkan
Ketika kehidupan masih menyimpan mesiu
Sore yang indah
Adalah burung bersayap lebar dan lembab
Menukik ke dalam rahasia hati
Menenggelam dalam telaga riuh
Untuk menghirup rasa sunyinya
Lalu menjelma sajak sajak
Yang menikmati kemerdekaannya
Sore yang telanjang
Minta dibuahi
Melalui persenggamaan

14.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

SUNYI BÙKAN PENGASINGAN

Sunyi tak memiliki tempat khusus
Tanpa ruang tunggu
Seperti ruang praktik para dokter
Kebijakannya
Tak pernah bersekutu
Atau berseteru
Kastanya adalah melayani
Mantranya suara suksma
Berkelana di sepanjang abad
Tanpa upacara dan perayaan
Pintu masuknya
pintu rendahhati
Di tubuh yang berlari
Di tubuh yang tersakiti
Jika pengasingan
Menjauh dari huruhara
Hanya alasan
Kehilangan keberanian
Dan tantangan
Adalah peristiwa sehari-hari
Yang meminta kepastian
Tindakan yang tak harus sempurna
Sebab kesunyian
Akan menyempurnakan
Seekor ular belang
Berkubang dalam jiwa
Seekor singa di belantara
Hiu bercula di samudra
Sunyi dengan wajah merunduk
Menyalami semua
Yang bermukim di tubuh
Kau kehilangan
Rasa sunyimu
Lalu berlari ke dalam pengasingan
Jika pasar adalah tubuhmu
Kemana sunyi kau cari
Jika wujudnya sepenggal dalam kalimat
Dingin kehilangan cahaya
Bagaimana menghidupkan kematian

14.01.2018
MunangManingNung

PAPUA

Aku belajar
membaca peristiwa
Anak anak memberiku sayap
Ibu ibu memberi air mata
Ladang dan pohon sagu
Memberi harapan
Hutan perburuan memberi
Kebijakan alam
Kian terberangus
Kelaparan
Dan kurang gizi
Cukup membuat kita kembali ke asal
Dimana perjanjian bathin
Awalnya ditandatangani
Beserta riuhnya janji
Aku membaca
air matamu ibu
Sejak masa sulit melahirkan
dengan rasa sakit
Kemudian terisak
Menatap yang lahir
Aku membaca
Bulan mati di penanggalan besok
Malam ini kami terjaga
Merenungkan hutanmu
Perburuan
Dan belantaramu
Dan akankah tiba anak anakmu si pemburu
pada ladang ladang sagu
Pohon kehidupan yang rimbun
Berbunga berbuah
Aku
Merenung tentang akar dan tujuan
Atau
Seberapa lama keadaan
Seperti dahan dan ranting
Kelopak daun
mengering
Kemudian desah dan wajahmu
Memudar
Kemudian dilupakan
Dalam jejalan peristiwa riuh
Perebutan takhta di pusat pusat kota
Karena kalian jauh tak terjangkau
Oleh janji janji
Namun apa yang dekat yang tersekat
Dalam himpitan
Tergapai
Kami sediakan takhta
Bagi kekuasaan
Yang bakal kami pilih nanti
Apakah
Yang dekat tergapai
Yang jauh dipelosok akan tercapai
Hingga tak tersiar
Jadi kabar menyakitkan
Aku memungut kertas kertas bisu
Dengan potret wajah para ksatriya
Yang menang
Dan yang kalah
Aku akan belajar membacamu
Dalam setiap peristiwa
Apakah kalian akan terus hadir
Menafkahi bhatin dengan luka
Memulyakan kehidupan adalah
Cara terindah ketika
Orang orang merasa tak ditinggalkan
Lapar
Sesudah pesta usai

15.01.2018

DARI JENDELA

Dari jendela teratak
Ada warna pink memudar,memberat berangkat
Ke tanah berpijak
Pohon cinta yang lahir dari usia
Dimana kita bertemu
Sewaktumu masih muda
Baru belajar berbunga
Ingin membuah
Dan itu kemudian terjadi
Bersama reranting yang patah tumbuh berganti
Akar tunjang
Menyerabut ke rumah sujud
Dari jendela teratak urban senantiasa berpeluh
Pohon pohon menunggu hujan
Panas terik
Tapi bunga tetap tumbuh
Makin tua pohonnya makin pekat warnanya
Kecuali jika
Menjelang luruh
Tentu memudar
Tapi cinta
Tak pernah peduli
Tentang warna
Hanya tentang akar

17.01.2018.
Perumnas MunangManingNung.

KISAH PARA PEMULUNG KOTA

Di fb aku memungut:
Kotaku lari pagi
Bersih bersolek rapi
Melukis alis dan bibir
Warna hijau
Di wajahnya

Aku memungut kota
Yang tak bisa menangis
Padahal air mata perlu
Untuk membersihkan hati
Dari pada marah
Penyebab darah membuncah

Dan kalimat itu bikinan para rahib
Kalimat lain kutemui di bibirmu,kota
Lupakanlah
Hati yang sulit bersih
Karena beku
Tak memiliki air
Barangkali juga mata

Di fb aku memungut kota : kota adalah
Taman dan pohon-pohon menari
Sekalipun bunga-bunganya luruh
Akar-akar kering
Ia tak pernah menangis

Dan kupungut juga seratus mata
Sebab kupikir
Kini bukan hanya persoalan mata
Hanya milik kepala
Adalah karena
Tanggul tanggul sungai yang menyempit
Rumah rumah orang kalah
Lalulintas macet karena melawan arus
Genangan pikiran menyempit dan
Warna hijau lumut di lumpurnya
Luapan emosi yang meledakkan sampah plastik
Bunga busuk menyengat
Sesudah ritual panjang

Di fb aku memungut , batu
Kulempar di telaga taman kota
Plung
Ikan-ikan besar tercengang gagap
Ikan-ikan kecil ambyar

Memikirkan wajahmu
Aku merasa engkau selalu remaja
Penuh fantasi
Suka bersolek

Aku memungut seonggok foto telanjang di fb
Naluri laki lakiku ternyata liar
Memberi perintah mataku
Untuk memeluk
Ah kotalah yang mengajariku agar santun
Tapi juga liar
Seperti sungai berlimbah
Tanggul tanggulnya mudah roboh
Sehingga orang-orang berkata:
Cinta, alirkanlah kesetiaan bersamamu,sebab
Kota adalah reinkarnasi para penyihir

11.2017

Tags: Puisi
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat

Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

by Iwan Setiawan
March 28, 2026
0
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga di rambutnya, senja tersesat seperti...

Read moreDetails

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

by Alfiansyah Bayu Wardhana
March 27, 2026
0
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Taman yang Diam-diam Bersemi Maka pada suatu pagi yang heningkutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,sebagaimana benih yang lama tersembunyitiba-tiba mengenal...

Read moreDetails
Next Post

Perpustakaan Tempat Remidi dan Pacar Saya Membaca untuk Tahu Harga Komestik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co