30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Esai

Google

 

KIRANYA, atmosfer peralihan zaman yang dirasakan oleh penulis cerita kartun Boruto di Jepang dan di Indonesia tidak jauh berbeda. Perbedaan itu nyaris tak tampak, apalagi dengan sebuah istilah yang sempat muncul ke permukaan beberapa waktu lalu yang biasa dikenal orang dengan istilah “Kids Jaman Now”.

Bisa diperkirakan keadaan Jepang dan di Indonesia hampirlah sama. Hal ini ditunjukkan dengan kartun Boruto sebagai sebuah representasi dari ekspresi kebudayaan yang dirasakan oleh si penulis cerita.

Kartun Boruto adalah sebuah cerita manga lanjutan, atau generasi ke dua dari komik pendahulunya, yaitu Naruto. Boruto sebagai putra Naruto yang sudah menjadi hokage hidup di zaman yang sudah sangat berbeda jauh dari apa yang dulu bapaknya rasakan.

Bila pada masa kecil Naruto, meski memang belum terjadi perang antar Shinobi (sebutan untuk ninja dalam kartun tersebut), tetapi nyatanya waktu itu seluruh desa masih dalam hubungan yang kurang baik. Masing-masing memendam kekuatan untuk kelak dipersiapkan bila terjadi perang antardesa.

Apalagi ketika zaman Naruto masih kecil, desa tempat tinggalnya (Konoha) masih diliputi suasana ketakutan pasca kematian ayah Naruto (Minato) yang disebabkan oleh penyerangan monster Kyubi yang didalangi oleh Madara. Zaman Naruto kecil sungguh penuh dengan kisah konflik dan balas dendam sehingga semua Shinobi banyak yang berlatih keras menempa dirinya untuk menjaga diri dan desanya bila kelak konflik bergejolak kembali.

Lain halnya dengan di zaman Boruto yang sudah sangat dapat dikatakan damai, tentram, dan sejahtera. Sudah dapat dipastikan tidak ada permusuhan antar masing-masing desa. Namun di zaman Boruto inilah sesungguhnya ujian dan cobaan paling berat bagi diri Shinobi untuk dapat menemukan arah orientasi pergerakan praktis ideologinya.

Tapi bukan itu yang terpenting. Bila kita lihat secara majazi, kondisi antara zaman Naruto sampai Boruto sama persis seperti apa yang di negara kita terjadi.

Mulanya orang tua kita dulu hidup dalam kesengsaraan penjajahan dan penindasan sehingga mereka tidak boleh tidak pasti akan mengarahkan orientasi hidup mereka terhadap kemerdekaan dan kebebasan. Kemudian setelah kemerdekaan didapat dan Indonesia menjadi negara kesatuan yang sejahtera, lantas muncul kebingungan.

Kebingungan dalam hal orientasi apalagi yang harus dipilih oleh generasi bangsa dalam perjalanan hidup mereka. Merdeka sudah iya, tidak ada penjajahan, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat hidup serasa tanpa beban sama sekali.

Melalui representasi karya kartun yang berupa cerita Boruto ini, sesungguhnya apa yang dirasa dan ingin disampaikan penulis cerita sangatlah relevan dengan kondisi zaman sekarang. Di zaman yang modern di mana Boruto lahir dengan penuh keadaan damai, apakah masih diperlukan eksistensi Shinobi yang dalam hal ini dikenal dengan orang yang dapat menggunakan jurus atau jutsu luar biasa.

Urgensi macam apa lagi yang kemudian membutuhkan jutsu dan ilmu perninjaan di cerita Boruto itu bila dunia sudah diliputi dengan ketentraman. Seakan dunia Shinobi atau ninja sudah mencapai batas akhir kepunahan di era Boruto.

Jika digambarkan, dalam cerita manga tersebut, jutsu di zaman Boruto sudah hanya sekedar menjadi sebuah keahlian dan kreatifitas tanpa ada kontribusi dan orientasi yang kongkrit. Buat apa jutsu berlari secepat kilat kalau sudah ada kereta dan kendaraan lain. Buat apa jutsu petir toh listrik sudah banyak ditemui. Inilah tantangan Boruto sebagai “Kids Jaman Now” dalam cerita kartun tersebut.

Dalam dunia nyata seperti yang kita rasakan sekarang, munculnya istilah dan sebutan “Kids Jaman Now” menjadi sebuah teguran tersendiri baik bagi generasi penerus bangsa juga bagi para orang tua.

Munculnya istilah tersebut dapat mengindikasikan bahwa seakan sudah tidak ada lagi tindakan dan perilaku generasi bangsa yang dapat berkontribusi terhadap kemajuan peradaban, sehingga hal-hal yang senyatanya tidak penting bahkan tak bernilai sama sekalimereka jadikan tren dan gaya hidup.

Munculnya postingan-postingan aneh yang hanya mengejar popularitas tanpa integritas dan kualitas menjadi wabah akibat kurangnya orientasi atau pandangan hidup dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa. Akibatnya, mereka kurang mempunyai pikiran tentang perbuatan apa yang kiranya lebih bermanfaat untuk dilakukan.

Sehingga konstruk pikiran yang terbentuk adalah sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan di zaman yang penuh kejayaan ini dan akhirnya pemuda yang mengalami kebingungan orientasi hidup akan melakukan hal-hal tak bermanfaat. Dan parahnya, mereka memamerkan tindakan tersebut.

Oleh karena itu, dalam hikmah dan gagasan yang terdapat dalam kisah Boruto adalah bahwa sebisa mungkin pemuda sebagai generasi penerus bisa berpikiran dan menemukan orientasi hidup yang jelas sehingga akan berdampak pada perilaku dan tindakan yang lebih bermanfaat. Boruto dan kawan-kawannya sebagai penerus Naruto masih terus berusaha menemukan jati diri dan pandangan masa depan Shinobi di dunia mereka sekarang yang penuh perdamaian.

Kita sebagai genarasi Indonesia yang kelak akan menjalankan roda peradaban juga sepatutnya memikirkan hal tersebut mulai dari sekarang. Apa yang akan kita lakukan bagi masa depan kehidupan manusia kelak. Sebab perdamaian terkadang akan membawa pada keterlenaan, dan keterlenaan akan membawa kepada kelalaian, dan akhirnya kelalaian akan membawa kita kembali pada kegelapan.

Dengan terus mengarahkan diri kepada perilaku dan tindakan yang lebih membawa manfaat, setidaknya kita sudah tidak menyia-nyiakan perdamaian yang telah orang tua kita dulu perjuangkan. Sekian. (T)

Tags: Generasi Zaman NowIndonesiaJepangkartun
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co