9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Esai

Google

 

KIRANYA, atmosfer peralihan zaman yang dirasakan oleh penulis cerita kartun Boruto di Jepang dan di Indonesia tidak jauh berbeda. Perbedaan itu nyaris tak tampak, apalagi dengan sebuah istilah yang sempat muncul ke permukaan beberapa waktu lalu yang biasa dikenal orang dengan istilah “Kids Jaman Now”.

Bisa diperkirakan keadaan Jepang dan di Indonesia hampirlah sama. Hal ini ditunjukkan dengan kartun Boruto sebagai sebuah representasi dari ekspresi kebudayaan yang dirasakan oleh si penulis cerita.

Kartun Boruto adalah sebuah cerita manga lanjutan, atau generasi ke dua dari komik pendahulunya, yaitu Naruto. Boruto sebagai putra Naruto yang sudah menjadi hokage hidup di zaman yang sudah sangat berbeda jauh dari apa yang dulu bapaknya rasakan.

Bila pada masa kecil Naruto, meski memang belum terjadi perang antar Shinobi (sebutan untuk ninja dalam kartun tersebut), tetapi nyatanya waktu itu seluruh desa masih dalam hubungan yang kurang baik. Masing-masing memendam kekuatan untuk kelak dipersiapkan bila terjadi perang antardesa.

Apalagi ketika zaman Naruto masih kecil, desa tempat tinggalnya (Konoha) masih diliputi suasana ketakutan pasca kematian ayah Naruto (Minato) yang disebabkan oleh penyerangan monster Kyubi yang didalangi oleh Madara. Zaman Naruto kecil sungguh penuh dengan kisah konflik dan balas dendam sehingga semua Shinobi banyak yang berlatih keras menempa dirinya untuk menjaga diri dan desanya bila kelak konflik bergejolak kembali.

Lain halnya dengan di zaman Boruto yang sudah sangat dapat dikatakan damai, tentram, dan sejahtera. Sudah dapat dipastikan tidak ada permusuhan antar masing-masing desa. Namun di zaman Boruto inilah sesungguhnya ujian dan cobaan paling berat bagi diri Shinobi untuk dapat menemukan arah orientasi pergerakan praktis ideologinya.

Tapi bukan itu yang terpenting. Bila kita lihat secara majazi, kondisi antara zaman Naruto sampai Boruto sama persis seperti apa yang di negara kita terjadi.

Mulanya orang tua kita dulu hidup dalam kesengsaraan penjajahan dan penindasan sehingga mereka tidak boleh tidak pasti akan mengarahkan orientasi hidup mereka terhadap kemerdekaan dan kebebasan. Kemudian setelah kemerdekaan didapat dan Indonesia menjadi negara kesatuan yang sejahtera, lantas muncul kebingungan.

Kebingungan dalam hal orientasi apalagi yang harus dipilih oleh generasi bangsa dalam perjalanan hidup mereka. Merdeka sudah iya, tidak ada penjajahan, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat hidup serasa tanpa beban sama sekali.

Melalui representasi karya kartun yang berupa cerita Boruto ini, sesungguhnya apa yang dirasa dan ingin disampaikan penulis cerita sangatlah relevan dengan kondisi zaman sekarang. Di zaman yang modern di mana Boruto lahir dengan penuh keadaan damai, apakah masih diperlukan eksistensi Shinobi yang dalam hal ini dikenal dengan orang yang dapat menggunakan jurus atau jutsu luar biasa.

Urgensi macam apa lagi yang kemudian membutuhkan jutsu dan ilmu perninjaan di cerita Boruto itu bila dunia sudah diliputi dengan ketentraman. Seakan dunia Shinobi atau ninja sudah mencapai batas akhir kepunahan di era Boruto.

Jika digambarkan, dalam cerita manga tersebut, jutsu di zaman Boruto sudah hanya sekedar menjadi sebuah keahlian dan kreatifitas tanpa ada kontribusi dan orientasi yang kongkrit. Buat apa jutsu berlari secepat kilat kalau sudah ada kereta dan kendaraan lain. Buat apa jutsu petir toh listrik sudah banyak ditemui. Inilah tantangan Boruto sebagai “Kids Jaman Now” dalam cerita kartun tersebut.

Dalam dunia nyata seperti yang kita rasakan sekarang, munculnya istilah dan sebutan “Kids Jaman Now” menjadi sebuah teguran tersendiri baik bagi generasi penerus bangsa juga bagi para orang tua.

Munculnya istilah tersebut dapat mengindikasikan bahwa seakan sudah tidak ada lagi tindakan dan perilaku generasi bangsa yang dapat berkontribusi terhadap kemajuan peradaban, sehingga hal-hal yang senyatanya tidak penting bahkan tak bernilai sama sekalimereka jadikan tren dan gaya hidup.

Munculnya postingan-postingan aneh yang hanya mengejar popularitas tanpa integritas dan kualitas menjadi wabah akibat kurangnya orientasi atau pandangan hidup dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa. Akibatnya, mereka kurang mempunyai pikiran tentang perbuatan apa yang kiranya lebih bermanfaat untuk dilakukan.

Sehingga konstruk pikiran yang terbentuk adalah sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan di zaman yang penuh kejayaan ini dan akhirnya pemuda yang mengalami kebingungan orientasi hidup akan melakukan hal-hal tak bermanfaat. Dan parahnya, mereka memamerkan tindakan tersebut.

Oleh karena itu, dalam hikmah dan gagasan yang terdapat dalam kisah Boruto adalah bahwa sebisa mungkin pemuda sebagai generasi penerus bisa berpikiran dan menemukan orientasi hidup yang jelas sehingga akan berdampak pada perilaku dan tindakan yang lebih bermanfaat. Boruto dan kawan-kawannya sebagai penerus Naruto masih terus berusaha menemukan jati diri dan pandangan masa depan Shinobi di dunia mereka sekarang yang penuh perdamaian.

Kita sebagai genarasi Indonesia yang kelak akan menjalankan roda peradaban juga sepatutnya memikirkan hal tersebut mulai dari sekarang. Apa yang akan kita lakukan bagi masa depan kehidupan manusia kelak. Sebab perdamaian terkadang akan membawa pada keterlenaan, dan keterlenaan akan membawa kepada kelalaian, dan akhirnya kelalaian akan membawa kita kembali pada kegelapan.

Dengan terus mengarahkan diri kepada perilaku dan tindakan yang lebih membawa manfaat, setidaknya kita sudah tidak menyia-nyiakan perdamaian yang telah orang tua kita dulu perjuangkan. Sekian. (T)

Tags: Generasi Zaman NowIndonesiaJepangkartun
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co