19 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Esai

Google

 

KIRANYA, atmosfer peralihan zaman yang dirasakan oleh penulis cerita kartun Boruto di Jepang dan di Indonesia tidak jauh berbeda. Perbedaan itu nyaris tak tampak, apalagi dengan sebuah istilah yang sempat muncul ke permukaan beberapa waktu lalu yang biasa dikenal orang dengan istilah “Kids Jaman Now”.

Bisa diperkirakan keadaan Jepang dan di Indonesia hampirlah sama. Hal ini ditunjukkan dengan kartun Boruto sebagai sebuah representasi dari ekspresi kebudayaan yang dirasakan oleh si penulis cerita.

Kartun Boruto adalah sebuah cerita manga lanjutan, atau generasi ke dua dari komik pendahulunya, yaitu Naruto. Boruto sebagai putra Naruto yang sudah menjadi hokage hidup di zaman yang sudah sangat berbeda jauh dari apa yang dulu bapaknya rasakan.

Bila pada masa kecil Naruto, meski memang belum terjadi perang antar Shinobi (sebutan untuk ninja dalam kartun tersebut), tetapi nyatanya waktu itu seluruh desa masih dalam hubungan yang kurang baik. Masing-masing memendam kekuatan untuk kelak dipersiapkan bila terjadi perang antardesa.

Apalagi ketika zaman Naruto masih kecil, desa tempat tinggalnya (Konoha) masih diliputi suasana ketakutan pasca kematian ayah Naruto (Minato) yang disebabkan oleh penyerangan monster Kyubi yang didalangi oleh Madara. Zaman Naruto kecil sungguh penuh dengan kisah konflik dan balas dendam sehingga semua Shinobi banyak yang berlatih keras menempa dirinya untuk menjaga diri dan desanya bila kelak konflik bergejolak kembali.

Lain halnya dengan di zaman Boruto yang sudah sangat dapat dikatakan damai, tentram, dan sejahtera. Sudah dapat dipastikan tidak ada permusuhan antar masing-masing desa. Namun di zaman Boruto inilah sesungguhnya ujian dan cobaan paling berat bagi diri Shinobi untuk dapat menemukan arah orientasi pergerakan praktis ideologinya.

Tapi bukan itu yang terpenting. Bila kita lihat secara majazi, kondisi antara zaman Naruto sampai Boruto sama persis seperti apa yang di negara kita terjadi.

Mulanya orang tua kita dulu hidup dalam kesengsaraan penjajahan dan penindasan sehingga mereka tidak boleh tidak pasti akan mengarahkan orientasi hidup mereka terhadap kemerdekaan dan kebebasan. Kemudian setelah kemerdekaan didapat dan Indonesia menjadi negara kesatuan yang sejahtera, lantas muncul kebingungan.

Kebingungan dalam hal orientasi apalagi yang harus dipilih oleh generasi bangsa dalam perjalanan hidup mereka. Merdeka sudah iya, tidak ada penjajahan, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat hidup serasa tanpa beban sama sekali.

Melalui representasi karya kartun yang berupa cerita Boruto ini, sesungguhnya apa yang dirasa dan ingin disampaikan penulis cerita sangatlah relevan dengan kondisi zaman sekarang. Di zaman yang modern di mana Boruto lahir dengan penuh keadaan damai, apakah masih diperlukan eksistensi Shinobi yang dalam hal ini dikenal dengan orang yang dapat menggunakan jurus atau jutsu luar biasa.

Urgensi macam apa lagi yang kemudian membutuhkan jutsu dan ilmu perninjaan di cerita Boruto itu bila dunia sudah diliputi dengan ketentraman. Seakan dunia Shinobi atau ninja sudah mencapai batas akhir kepunahan di era Boruto.

Jika digambarkan, dalam cerita manga tersebut, jutsu di zaman Boruto sudah hanya sekedar menjadi sebuah keahlian dan kreatifitas tanpa ada kontribusi dan orientasi yang kongkrit. Buat apa jutsu berlari secepat kilat kalau sudah ada kereta dan kendaraan lain. Buat apa jutsu petir toh listrik sudah banyak ditemui. Inilah tantangan Boruto sebagai “Kids Jaman Now” dalam cerita kartun tersebut.

Dalam dunia nyata seperti yang kita rasakan sekarang, munculnya istilah dan sebutan “Kids Jaman Now” menjadi sebuah teguran tersendiri baik bagi generasi penerus bangsa juga bagi para orang tua.

Munculnya istilah tersebut dapat mengindikasikan bahwa seakan sudah tidak ada lagi tindakan dan perilaku generasi bangsa yang dapat berkontribusi terhadap kemajuan peradaban, sehingga hal-hal yang senyatanya tidak penting bahkan tak bernilai sama sekalimereka jadikan tren dan gaya hidup.

Munculnya postingan-postingan aneh yang hanya mengejar popularitas tanpa integritas dan kualitas menjadi wabah akibat kurangnya orientasi atau pandangan hidup dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa. Akibatnya, mereka kurang mempunyai pikiran tentang perbuatan apa yang kiranya lebih bermanfaat untuk dilakukan.

Sehingga konstruk pikiran yang terbentuk adalah sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan di zaman yang penuh kejayaan ini dan akhirnya pemuda yang mengalami kebingungan orientasi hidup akan melakukan hal-hal tak bermanfaat. Dan parahnya, mereka memamerkan tindakan tersebut.

Oleh karena itu, dalam hikmah dan gagasan yang terdapat dalam kisah Boruto adalah bahwa sebisa mungkin pemuda sebagai generasi penerus bisa berpikiran dan menemukan orientasi hidup yang jelas sehingga akan berdampak pada perilaku dan tindakan yang lebih bermanfaat. Boruto dan kawan-kawannya sebagai penerus Naruto masih terus berusaha menemukan jati diri dan pandangan masa depan Shinobi di dunia mereka sekarang yang penuh perdamaian.

Kita sebagai genarasi Indonesia yang kelak akan menjalankan roda peradaban juga sepatutnya memikirkan hal tersebut mulai dari sekarang. Apa yang akan kita lakukan bagi masa depan kehidupan manusia kelak. Sebab perdamaian terkadang akan membawa pada keterlenaan, dan keterlenaan akan membawa kepada kelalaian, dan akhirnya kelalaian akan membawa kita kembali pada kegelapan.

Dengan terus mengarahkan diri kepada perilaku dan tindakan yang lebih membawa manfaat, setidaknya kita sudah tidak menyia-nyiakan perdamaian yang telah orang tua kita dulu perjuangkan. Sekian. (T)

Tags: Generasi Zaman NowIndonesiaJepangkartun
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails
Next Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co