30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
February 2, 2018
in Esai

Anak-anak Papua. /Foto: Dok. Sekolah Bunga Papua

 

“Yang sekolah kan bukan seragamnya tapi anaknya loh”

(Danarti Wulandari, pendiri Sekolah Bunga Papua kepada redaksi aldp-papua.com)

BAGIAN kedua esai sebelumnya saya menggambarkan keluh-kesah dan dinamika yang terjadi dalam menjalankan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Bunga Papua di wilayah urban Kota Sorong. Berbagai permasalahan muncul, yaitu dari mendekati warga di lokasi sekolah berdiri, tantangan menghadapi lingkungan sekitar yang mencibir sekolah, hingga para bunda (guru) Bunga Papua yang patah tumbuh hilang berganti.

Para bunda ini adalah sukarelawan yang tidak digaji setiap bulan dan menjalankan tugasnya untuk mendidik anak-anak dengan sukarela. Namun, tantangan tetap adalah tantangan yang harus dihadapi. “Yang penting tong jalan, selalu ada jalan tak terduga untuk menyelesaikan permasalahan,” ungkap Danarti Wulandari, pendiri sekolah mengungkapkan dengan nada optimis kepada saya.

Pada bagian ketiga esai ini, saya kembali melanjutkan cerita Bunga Papua yang hadir di kampung-kampung urban di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat dan dinamika yang mereka hadapi. Di sisi lain, tantangan menjadi “sekolah yang tidak umum” juga adalah persoalan yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Berbagai respon ketidakpercayaan dan tidak peduli adalah tantangan sendiri.

PAUD umum yang formal memang sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah bawah, namun bukan berarti kehadiran sekolah Bunga Papua di tengah mereka akan mendapatkan sambutan yang antusias. Kehadiran sekolah di tengah masyarakat yang putus asa dan apatis adalah situasi yang sulit. Namun di tengah situasi tersebut bukannya tidak ada secercah harapan. Tinggal kita mampu mencari dan mendapatkannya atau berputus asa dengan keadaan yang melumpuhkan kreatifitas tersebut.

Orang Tua Tra Peduli

Salah satu wilayah berdirinya Sekolah Bunga Papua adalah Aspen (Asrama Pensiunan). Pensiunan yang dimaksud adalah para polisi yang rumah-rumahnya berjejer menjadi satu kompleks. Di lokasi itulah terdapat sisi lainnya yaitu kompleks perumahan masyarakat menengah ke bawah. Banyak anak-anak mereka yang tidak bersekolah dan berkeliaran di sekitar kompleks. Jumlah mereka tidak sedikit, yaitu hingga 40-an anak. Anak-anak inilah yang disasar oleh Sekolah Bunga Papua. Aspen menjadi salah satu wilayah di Kota Sorong yang sangat rentan terhadap perkembangan anak-anak.

Proses pembelajaran sehari-hari yang terjadi di Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua)

Di Aspen, judi masuk ke kompleks dan mempengaruhi perkembangan anak-anak. Anak yang “sekadar” sekolah SD kelas 1 belajar angka sangat pintar tetapi tidak dengan huruf. Mereka mendapatkan pengaruh dari permainan judi di kompleks tempat mereka tinggal.

Wajar saja anak-anak di Kompleks Aspen hingga SD kelas 4 belum semuanya bisa membaca. Beberapa anak sudah bisa membaca tapi dengan mulut bergerak. Tidak hafal huruf. Dasar dari semua permasalahan ini adalah pada tingkat PAUD mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk pengenalan dasar-dasar membaca dan berhitung.

Danarti Wulandari mengungkapkan bahwa pendidikan PAUD dan TK (Taman Kanak-Kanak) adalah pelatak dasar pendidikan kepada anak-anak berikutnya. Setelah itu, dengan pondasi yang kuat, mereka akan relatif mudah mengikuti pelajaran. Logika untuk huruf dan angka diajarkan sehingga pelajaran di SD akan dengan mudah mereka cerna.

Namun, kondisinya berbeda bagi anak-anak kurang mampu di kawasan Aspen. Mereka sangat susah masuk ke sekolah PAUD formal yang berada tidak jauh di lokasi mereka tinggal. Permasalahannya adalah biaya yang mahal untuk sekolah PAUD. Pada akhirnya mereka tidak mengenyam PAUD dan TK. Jumlah mereka awalnya sedikit, namun perlahan-lahan menjadi meningkat.

Anak-anak di Kota Sorong sebagian besar tidak mengenyam pendidikan PAUD dan TK. Danarti memperkirakan hampir 75% anak-anak tidak mengikuti pendidikan. Menyadari kondisi seperti itulah mereka menggerakkan Bunga Papua sebagai tempat alternatif untuk anak-anak mendapatkan pendidikan melalui bermain.

Permasalahan biaya yang menjadi alasan utama disiasati dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan dengan beberapa persyaratan. Salah satunya adalah peranan aktif dari orang tua di kompleks atau kampung untuk mendukung sekolah. Ini memang terlihat sepele namun sangat rumit jika sudah di lapangan. Kebanyakan para orangtua acuh tak acuh terhadap aktivitas anak, terutama menyangkut pendidikan. Para orang tua hanya peduli jika anaknya bekerja membantu orang tua dan mendapatkan uang untuk biaya makan sehari-hari. Kondisi ini memang pelik.

Bunga Papua hadir di kompleks dan kampung-kampung penduduk menengah ke bawah dengan menggratiskan biaya pendidikan namun dengan syarat keterlibatan aktif orang tua. Para bunda juga diutamakan berasal dari kampung tersebut dengan harapan memudahkan interaksi dan penyesuaian. Itu yang diharapkan, namun tidak semudah yang terjadi di lapangan. Banyak generasi muda di kampung yang enggan menjadi guru karena melihat tidak ada harapan mendapatkan gaji setiap bulan. Dan memang kenyataannya demikian. Bunga Papua tidak mampu menyediakan gaji yang memadai.

Langkah awal menjalankan Bunga Papua juga hanya bermodal semangat dari kawan-kawan sevisi dan seperjuangan. Semuanya berawal dari dukungan perorangan dari beberapa kawan dari Danarti dan juga kawan-kawan anggota LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di Jayapura dan Yogyakarta.

Mereka ini memberikan sumbangan pribadi untuk mengawali langkah menjalankan Bunga Papua. Pada tahun pertama mereka berjalan dengan modal semangat dan beberapa donasi dari teman-teman yang peduli dalam gerakan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu. Meski dengan bermodal dana yang minim, namun mereka berhasil menjalankan sekolah di Aspen dan Bambu Kuning. Sekolah Bunga Papua memiliki sekretariat bersama dengan LSM Belantara Papua di salah satu kawasan pemukiman di Kota Sorong.

Pada tahun kedua dan ketiga, Bunga Papua mendapatkan bantuan dana Otsus Papua sejumlah Rp. 100 juta. Namun pada tahun keempat mereka tidak mendapatkan lagi bantuan yang setiap tahunnya berjumlah Rp.50 juta tersebut. Menyiasati hal tersebut, selain terus mencari bantuan sukarela perorangan, Bunga Papua juga pada akhirnya memungut iuran kepada orang tua siswa setiap minggu sejumlah Rp.3000. Iuran orang tua inilah yang kemudian dikumpulkan untuk memberikan uang pulsa dan sayur kepada para bunda yang mengajar anak mereka. Jadi, derma dari orang tua inilah yang dipergunakan untuk operasional sekolah.

Anak-anak Bunga Papua menghadapi permasalahan bersar dengan membaca daripada berhitung
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Para orangtua siswa di wilayah Aspen dilibatkan langsung dalam operasional sekolah. Bendahara adalah orang tua siswa yang mengurus pemasukan dan pengeluaran untuk operasional sekolah. Meski dengan jumlah yang tidak banyak, ada saja orang tua yang tidak bersedia membayar iuran tersebut. Alasannya berbagai macam, dari mulai tidak punya uang hingga lebih baik anaknya tidak sekolah jika harus membayar. Situasi ini umum terjadi di wilayah-wilayah pemukiman masyarakat menengah ke bawah yang lebih mementingkan anak bekerja agar mampu menghasilkan uang.

Kondisi yang ironis terjadi di Aspen saat masyarakat lebih tertarik untuk berjudi togel daripada menyumbang Rp.3000 untuk membantu iuran anak sekolah. Situasi ini tentu sangat menyedihkan. Danarti menuturkan:

Beli togel bisa, tapi sekolah tidak. Sekolah Bunga Papua itu gratis. Orang tua menganggap remeh sekolah itu. Tidak penting sekolah itu.

Situasi meremehkan sekolah pada masyarakat kelas menengah ke bawah sangat sulit diubah dalam waktu cepat. Para bunda yang berasal dari kampung tersebut tahu betul tipikal para orang tua yang kurang memikirkan pendidikan anaknya. Jika alasannya adalah dana, Sekolah Bunga Papua itu sama sekali tidak memungut iuran perbulan untuk biaya pendidikan.

Biaya yang dipungut kepada orang tua siswa adalah sumbangan sukarela, dan itu tidak seberapa jumlahnya. Sebagian besar biaya pendidikan Bunga Papua masih mengandalkan donatur perseorangan yang terus digalang oleh pengelola sembari mencari penyokong dana dari dalam dan luar negeri. Meski tertatih, mereka terbukti mampu melaksanakan proses pembelajaran di beberapa Sekolah Bunga Papua di Kota Sorong.

Kebanggaan

Salah satu yang menjadi kebanggaan siswa Bunga Papua adalah pada saat wisuda sebagai proses akhir pembelajaran. Jangan membayangkan proses wisuda berlangsung di gedung yang mewah dengan undangan para pejabat. Wisuda berlangsung sederhana namun penuh dengan kehangatan. Yang terpenting adalah ada makanan dan yang ditunggu-tunggu adalah penampilan kesenian dengan budaya masing-masing suku yang ada di Papua.

Mereka menyebutnya dengan Pentas Budaya karena yang utama adalah penampilan tarian dan lagu-lagu daerah Papua. Pentas budaya selalu menjadi perekat kebersamaan para bunda, anak-anak, para orang tua, dan masyarakat kampung. Sekolah Bunga Papua selalu mengutamakan ekspresi kebudayaan para siswanya untuk menunjukkan budaya dengan menari dan bernyanyi. Seni dan identitas budaya Papua menjadi salah satu kekuatan dari Bunga Papua.

Latihan menari dan menyanyi menuju pergelaran pentas budaya Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Selain pentas budaya setiap akhir masa pembelajaran, Bunga Papua juga mengadakan kegiatan berwisata bersama-sama. Kegiatan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali sebagai bentuk penyegaran dan menjalin kebersamaan antara para bunda, anak-anak, dan para mama. Mama-mama juga dilibatkan dalam proses pembelajaran.

Setiap hari kamis, para mama diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas untuk memberikan ruang partisipasi para mama dan rasa memiliki terhadap Sekolah Bunga Papua. Para mama juga sekaligus menjadi pengajar di sekolah minggu—sekolah untuk anak-anak dalam tradisi gereja—di kampung tersebut bersama para bunda. Inisiatif ini datang dari para bunda untuk menambah pembelajaran agama bagi anak-anak.

Kebanggaan akan berlangsungnya pendidikan bagi anak-anak dengan kerjasama dari para mama di lokasi Sekolah Bunga Papua sangat penting. Bagi para mama, kerjasama dengan para bunda yang menjadi motor penggerak berlangsungnya proses pembelajaran menjadi sangat vital. Danarti Wulandari mengungkapkan tidak semua para bunda yang direkrut bisa bertahan lama mengasuh sekolah Bunga Papua. Para bunda juga sering mengadakan kumpul bersama untuk berbagi cerita dan merefleksikan apa yang mereka alami. Paling tidak setahun sekali para bunda akan berkumpul. Refleksi yang mereka ungkapkan bermacam-macam.

Yang paling utama adalah dalam proses pendampingan terhadap anak-anak selama pembelajaran berlangsung. Pendampingan menjadi kata yang penting karena anak-anak Bunga Papua memerlukan pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang dimaksudkan adalah mencurahkan semua perhatian untuk membimbing dengan sabar dan dengan hati tulus. Jika anak-anak sudah merasa dekat dan percaya dengan bunda, maka bisa dipastikan proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.

Pentas budaya anak-anak Sekolah Bunga Papua adalah yang ditunggu-tunggu
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Cara-cara formal dan struktural untuk mendidik anak-anak Papua akan gagal. Apalagi dengan cara kekerasan dan disiplin sejak awal akan memunculkan permasalahan baru. Kedisiplinan mutlak diperlukan saat rasa percaya dan sehati antara para bunda dan anak-anak Papua terjalin.

Jika saling percaya dan sehati ini belum terjalin, yang akan terjadi adalah perlawanan bukan saja dari si anak, tetapi juga para orang  tua mereka. Kisah para guru yang dikejar orang tua siswa dengan parang dan benda tajam lainnya berawal dari kesalahpahaman ini. Namun, jika kepercayaan sudah terjalin, anak-anak akan dengan sukarela disiplin dan mengikuti seluruh proses pembelajaran. (T)

Tags: PapuaPendidikansekolah
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Jalan Tanpa Mundur

Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co