25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
February 2, 2018
in Esai

Anak-anak Papua. /Foto: Dok. Sekolah Bunga Papua

 

“Yang sekolah kan bukan seragamnya tapi anaknya loh”

(Danarti Wulandari, pendiri Sekolah Bunga Papua kepada redaksi aldp-papua.com)

BAGIAN kedua esai sebelumnya saya menggambarkan keluh-kesah dan dinamika yang terjadi dalam menjalankan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Bunga Papua di wilayah urban Kota Sorong. Berbagai permasalahan muncul, yaitu dari mendekati warga di lokasi sekolah berdiri, tantangan menghadapi lingkungan sekitar yang mencibir sekolah, hingga para bunda (guru) Bunga Papua yang patah tumbuh hilang berganti.

Para bunda ini adalah sukarelawan yang tidak digaji setiap bulan dan menjalankan tugasnya untuk mendidik anak-anak dengan sukarela. Namun, tantangan tetap adalah tantangan yang harus dihadapi. “Yang penting tong jalan, selalu ada jalan tak terduga untuk menyelesaikan permasalahan,” ungkap Danarti Wulandari, pendiri sekolah mengungkapkan dengan nada optimis kepada saya.

Pada bagian ketiga esai ini, saya kembali melanjutkan cerita Bunga Papua yang hadir di kampung-kampung urban di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat dan dinamika yang mereka hadapi. Di sisi lain, tantangan menjadi “sekolah yang tidak umum” juga adalah persoalan yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Berbagai respon ketidakpercayaan dan tidak peduli adalah tantangan sendiri.

PAUD umum yang formal memang sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah bawah, namun bukan berarti kehadiran sekolah Bunga Papua di tengah mereka akan mendapatkan sambutan yang antusias. Kehadiran sekolah di tengah masyarakat yang putus asa dan apatis adalah situasi yang sulit. Namun di tengah situasi tersebut bukannya tidak ada secercah harapan. Tinggal kita mampu mencari dan mendapatkannya atau berputus asa dengan keadaan yang melumpuhkan kreatifitas tersebut.

Orang Tua Tra Peduli

Salah satu wilayah berdirinya Sekolah Bunga Papua adalah Aspen (Asrama Pensiunan). Pensiunan yang dimaksud adalah para polisi yang rumah-rumahnya berjejer menjadi satu kompleks. Di lokasi itulah terdapat sisi lainnya yaitu kompleks perumahan masyarakat menengah ke bawah. Banyak anak-anak mereka yang tidak bersekolah dan berkeliaran di sekitar kompleks. Jumlah mereka tidak sedikit, yaitu hingga 40-an anak. Anak-anak inilah yang disasar oleh Sekolah Bunga Papua. Aspen menjadi salah satu wilayah di Kota Sorong yang sangat rentan terhadap perkembangan anak-anak.

Proses pembelajaran sehari-hari yang terjadi di Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua)

Di Aspen, judi masuk ke kompleks dan mempengaruhi perkembangan anak-anak. Anak yang “sekadar” sekolah SD kelas 1 belajar angka sangat pintar tetapi tidak dengan huruf. Mereka mendapatkan pengaruh dari permainan judi di kompleks tempat mereka tinggal.

Wajar saja anak-anak di Kompleks Aspen hingga SD kelas 4 belum semuanya bisa membaca. Beberapa anak sudah bisa membaca tapi dengan mulut bergerak. Tidak hafal huruf. Dasar dari semua permasalahan ini adalah pada tingkat PAUD mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk pengenalan dasar-dasar membaca dan berhitung.

Danarti Wulandari mengungkapkan bahwa pendidikan PAUD dan TK (Taman Kanak-Kanak) adalah pelatak dasar pendidikan kepada anak-anak berikutnya. Setelah itu, dengan pondasi yang kuat, mereka akan relatif mudah mengikuti pelajaran. Logika untuk huruf dan angka diajarkan sehingga pelajaran di SD akan dengan mudah mereka cerna.

Namun, kondisinya berbeda bagi anak-anak kurang mampu di kawasan Aspen. Mereka sangat susah masuk ke sekolah PAUD formal yang berada tidak jauh di lokasi mereka tinggal. Permasalahannya adalah biaya yang mahal untuk sekolah PAUD. Pada akhirnya mereka tidak mengenyam PAUD dan TK. Jumlah mereka awalnya sedikit, namun perlahan-lahan menjadi meningkat.

Anak-anak di Kota Sorong sebagian besar tidak mengenyam pendidikan PAUD dan TK. Danarti memperkirakan hampir 75% anak-anak tidak mengikuti pendidikan. Menyadari kondisi seperti itulah mereka menggerakkan Bunga Papua sebagai tempat alternatif untuk anak-anak mendapatkan pendidikan melalui bermain.

Permasalahan biaya yang menjadi alasan utama disiasati dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan dengan beberapa persyaratan. Salah satunya adalah peranan aktif dari orang tua di kompleks atau kampung untuk mendukung sekolah. Ini memang terlihat sepele namun sangat rumit jika sudah di lapangan. Kebanyakan para orangtua acuh tak acuh terhadap aktivitas anak, terutama menyangkut pendidikan. Para orang tua hanya peduli jika anaknya bekerja membantu orang tua dan mendapatkan uang untuk biaya makan sehari-hari. Kondisi ini memang pelik.

Bunga Papua hadir di kompleks dan kampung-kampung penduduk menengah ke bawah dengan menggratiskan biaya pendidikan namun dengan syarat keterlibatan aktif orang tua. Para bunda juga diutamakan berasal dari kampung tersebut dengan harapan memudahkan interaksi dan penyesuaian. Itu yang diharapkan, namun tidak semudah yang terjadi di lapangan. Banyak generasi muda di kampung yang enggan menjadi guru karena melihat tidak ada harapan mendapatkan gaji setiap bulan. Dan memang kenyataannya demikian. Bunga Papua tidak mampu menyediakan gaji yang memadai.

Langkah awal menjalankan Bunga Papua juga hanya bermodal semangat dari kawan-kawan sevisi dan seperjuangan. Semuanya berawal dari dukungan perorangan dari beberapa kawan dari Danarti dan juga kawan-kawan anggota LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di Jayapura dan Yogyakarta.

Mereka ini memberikan sumbangan pribadi untuk mengawali langkah menjalankan Bunga Papua. Pada tahun pertama mereka berjalan dengan modal semangat dan beberapa donasi dari teman-teman yang peduli dalam gerakan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu. Meski dengan bermodal dana yang minim, namun mereka berhasil menjalankan sekolah di Aspen dan Bambu Kuning. Sekolah Bunga Papua memiliki sekretariat bersama dengan LSM Belantara Papua di salah satu kawasan pemukiman di Kota Sorong.

Pada tahun kedua dan ketiga, Bunga Papua mendapatkan bantuan dana Otsus Papua sejumlah Rp. 100 juta. Namun pada tahun keempat mereka tidak mendapatkan lagi bantuan yang setiap tahunnya berjumlah Rp.50 juta tersebut. Menyiasati hal tersebut, selain terus mencari bantuan sukarela perorangan, Bunga Papua juga pada akhirnya memungut iuran kepada orang tua siswa setiap minggu sejumlah Rp.3000. Iuran orang tua inilah yang kemudian dikumpulkan untuk memberikan uang pulsa dan sayur kepada para bunda yang mengajar anak mereka. Jadi, derma dari orang tua inilah yang dipergunakan untuk operasional sekolah.

Anak-anak Bunga Papua menghadapi permasalahan bersar dengan membaca daripada berhitung
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Para orangtua siswa di wilayah Aspen dilibatkan langsung dalam operasional sekolah. Bendahara adalah orang tua siswa yang mengurus pemasukan dan pengeluaran untuk operasional sekolah. Meski dengan jumlah yang tidak banyak, ada saja orang tua yang tidak bersedia membayar iuran tersebut. Alasannya berbagai macam, dari mulai tidak punya uang hingga lebih baik anaknya tidak sekolah jika harus membayar. Situasi ini umum terjadi di wilayah-wilayah pemukiman masyarakat menengah ke bawah yang lebih mementingkan anak bekerja agar mampu menghasilkan uang.

Kondisi yang ironis terjadi di Aspen saat masyarakat lebih tertarik untuk berjudi togel daripada menyumbang Rp.3000 untuk membantu iuran anak sekolah. Situasi ini tentu sangat menyedihkan. Danarti menuturkan:

Beli togel bisa, tapi sekolah tidak. Sekolah Bunga Papua itu gratis. Orang tua menganggap remeh sekolah itu. Tidak penting sekolah itu.

Situasi meremehkan sekolah pada masyarakat kelas menengah ke bawah sangat sulit diubah dalam waktu cepat. Para bunda yang berasal dari kampung tersebut tahu betul tipikal para orang tua yang kurang memikirkan pendidikan anaknya. Jika alasannya adalah dana, Sekolah Bunga Papua itu sama sekali tidak memungut iuran perbulan untuk biaya pendidikan.

Biaya yang dipungut kepada orang tua siswa adalah sumbangan sukarela, dan itu tidak seberapa jumlahnya. Sebagian besar biaya pendidikan Bunga Papua masih mengandalkan donatur perseorangan yang terus digalang oleh pengelola sembari mencari penyokong dana dari dalam dan luar negeri. Meski tertatih, mereka terbukti mampu melaksanakan proses pembelajaran di beberapa Sekolah Bunga Papua di Kota Sorong.

Kebanggaan

Salah satu yang menjadi kebanggaan siswa Bunga Papua adalah pada saat wisuda sebagai proses akhir pembelajaran. Jangan membayangkan proses wisuda berlangsung di gedung yang mewah dengan undangan para pejabat. Wisuda berlangsung sederhana namun penuh dengan kehangatan. Yang terpenting adalah ada makanan dan yang ditunggu-tunggu adalah penampilan kesenian dengan budaya masing-masing suku yang ada di Papua.

Mereka menyebutnya dengan Pentas Budaya karena yang utama adalah penampilan tarian dan lagu-lagu daerah Papua. Pentas budaya selalu menjadi perekat kebersamaan para bunda, anak-anak, para orang tua, dan masyarakat kampung. Sekolah Bunga Papua selalu mengutamakan ekspresi kebudayaan para siswanya untuk menunjukkan budaya dengan menari dan bernyanyi. Seni dan identitas budaya Papua menjadi salah satu kekuatan dari Bunga Papua.

Latihan menari dan menyanyi menuju pergelaran pentas budaya Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Selain pentas budaya setiap akhir masa pembelajaran, Bunga Papua juga mengadakan kegiatan berwisata bersama-sama. Kegiatan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali sebagai bentuk penyegaran dan menjalin kebersamaan antara para bunda, anak-anak, dan para mama. Mama-mama juga dilibatkan dalam proses pembelajaran.

Setiap hari kamis, para mama diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas untuk memberikan ruang partisipasi para mama dan rasa memiliki terhadap Sekolah Bunga Papua. Para mama juga sekaligus menjadi pengajar di sekolah minggu—sekolah untuk anak-anak dalam tradisi gereja—di kampung tersebut bersama para bunda. Inisiatif ini datang dari para bunda untuk menambah pembelajaran agama bagi anak-anak.

Kebanggaan akan berlangsungnya pendidikan bagi anak-anak dengan kerjasama dari para mama di lokasi Sekolah Bunga Papua sangat penting. Bagi para mama, kerjasama dengan para bunda yang menjadi motor penggerak berlangsungnya proses pembelajaran menjadi sangat vital. Danarti Wulandari mengungkapkan tidak semua para bunda yang direkrut bisa bertahan lama mengasuh sekolah Bunga Papua. Para bunda juga sering mengadakan kumpul bersama untuk berbagi cerita dan merefleksikan apa yang mereka alami. Paling tidak setahun sekali para bunda akan berkumpul. Refleksi yang mereka ungkapkan bermacam-macam.

Yang paling utama adalah dalam proses pendampingan terhadap anak-anak selama pembelajaran berlangsung. Pendampingan menjadi kata yang penting karena anak-anak Bunga Papua memerlukan pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang dimaksudkan adalah mencurahkan semua perhatian untuk membimbing dengan sabar dan dengan hati tulus. Jika anak-anak sudah merasa dekat dan percaya dengan bunda, maka bisa dipastikan proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.

Pentas budaya anak-anak Sekolah Bunga Papua adalah yang ditunggu-tunggu
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Cara-cara formal dan struktural untuk mendidik anak-anak Papua akan gagal. Apalagi dengan cara kekerasan dan disiplin sejak awal akan memunculkan permasalahan baru. Kedisiplinan mutlak diperlukan saat rasa percaya dan sehati antara para bunda dan anak-anak Papua terjalin.

Jika saling percaya dan sehati ini belum terjalin, yang akan terjadi adalah perlawanan bukan saja dari si anak, tetapi juga para orang  tua mereka. Kisah para guru yang dikejar orang tua siswa dengan parang dan benda tajam lainnya berawal dari kesalahpahaman ini. Namun, jika kepercayaan sudah terjalin, anak-anak akan dengan sukarela disiplin dan mengikuti seluruh proses pembelajaran. (T)

Tags: PapuaPendidikansekolah
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Jalan Tanpa Mundur

Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co