27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (3)

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
February 2, 2018
in Esai

Anak-anak Papua. /Foto: Dok. Sekolah Bunga Papua

 

“Yang sekolah kan bukan seragamnya tapi anaknya loh”

(Danarti Wulandari, pendiri Sekolah Bunga Papua kepada redaksi aldp-papua.com)

BAGIAN kedua esai sebelumnya saya menggambarkan keluh-kesah dan dinamika yang terjadi dalam menjalankan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Bunga Papua di wilayah urban Kota Sorong. Berbagai permasalahan muncul, yaitu dari mendekati warga di lokasi sekolah berdiri, tantangan menghadapi lingkungan sekitar yang mencibir sekolah, hingga para bunda (guru) Bunga Papua yang patah tumbuh hilang berganti.

Para bunda ini adalah sukarelawan yang tidak digaji setiap bulan dan menjalankan tugasnya untuk mendidik anak-anak dengan sukarela. Namun, tantangan tetap adalah tantangan yang harus dihadapi. “Yang penting tong jalan, selalu ada jalan tak terduga untuk menyelesaikan permasalahan,” ungkap Danarti Wulandari, pendiri sekolah mengungkapkan dengan nada optimis kepada saya.

Pada bagian ketiga esai ini, saya kembali melanjutkan cerita Bunga Papua yang hadir di kampung-kampung urban di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat dan dinamika yang mereka hadapi. Di sisi lain, tantangan menjadi “sekolah yang tidak umum” juga adalah persoalan yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Berbagai respon ketidakpercayaan dan tidak peduli adalah tantangan sendiri.

PAUD umum yang formal memang sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah bawah, namun bukan berarti kehadiran sekolah Bunga Papua di tengah mereka akan mendapatkan sambutan yang antusias. Kehadiran sekolah di tengah masyarakat yang putus asa dan apatis adalah situasi yang sulit. Namun di tengah situasi tersebut bukannya tidak ada secercah harapan. Tinggal kita mampu mencari dan mendapatkannya atau berputus asa dengan keadaan yang melumpuhkan kreatifitas tersebut.

Orang Tua Tra Peduli

Salah satu wilayah berdirinya Sekolah Bunga Papua adalah Aspen (Asrama Pensiunan). Pensiunan yang dimaksud adalah para polisi yang rumah-rumahnya berjejer menjadi satu kompleks. Di lokasi itulah terdapat sisi lainnya yaitu kompleks perumahan masyarakat menengah ke bawah. Banyak anak-anak mereka yang tidak bersekolah dan berkeliaran di sekitar kompleks. Jumlah mereka tidak sedikit, yaitu hingga 40-an anak. Anak-anak inilah yang disasar oleh Sekolah Bunga Papua. Aspen menjadi salah satu wilayah di Kota Sorong yang sangat rentan terhadap perkembangan anak-anak.

Proses pembelajaran sehari-hari yang terjadi di Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua)

Di Aspen, judi masuk ke kompleks dan mempengaruhi perkembangan anak-anak. Anak yang “sekadar” sekolah SD kelas 1 belajar angka sangat pintar tetapi tidak dengan huruf. Mereka mendapatkan pengaruh dari permainan judi di kompleks tempat mereka tinggal.

Wajar saja anak-anak di Kompleks Aspen hingga SD kelas 4 belum semuanya bisa membaca. Beberapa anak sudah bisa membaca tapi dengan mulut bergerak. Tidak hafal huruf. Dasar dari semua permasalahan ini adalah pada tingkat PAUD mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk pengenalan dasar-dasar membaca dan berhitung.

Danarti Wulandari mengungkapkan bahwa pendidikan PAUD dan TK (Taman Kanak-Kanak) adalah pelatak dasar pendidikan kepada anak-anak berikutnya. Setelah itu, dengan pondasi yang kuat, mereka akan relatif mudah mengikuti pelajaran. Logika untuk huruf dan angka diajarkan sehingga pelajaran di SD akan dengan mudah mereka cerna.

Namun, kondisinya berbeda bagi anak-anak kurang mampu di kawasan Aspen. Mereka sangat susah masuk ke sekolah PAUD formal yang berada tidak jauh di lokasi mereka tinggal. Permasalahannya adalah biaya yang mahal untuk sekolah PAUD. Pada akhirnya mereka tidak mengenyam PAUD dan TK. Jumlah mereka awalnya sedikit, namun perlahan-lahan menjadi meningkat.

Anak-anak di Kota Sorong sebagian besar tidak mengenyam pendidikan PAUD dan TK. Danarti memperkirakan hampir 75% anak-anak tidak mengikuti pendidikan. Menyadari kondisi seperti itulah mereka menggerakkan Bunga Papua sebagai tempat alternatif untuk anak-anak mendapatkan pendidikan melalui bermain.

Permasalahan biaya yang menjadi alasan utama disiasati dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan dengan beberapa persyaratan. Salah satunya adalah peranan aktif dari orang tua di kompleks atau kampung untuk mendukung sekolah. Ini memang terlihat sepele namun sangat rumit jika sudah di lapangan. Kebanyakan para orangtua acuh tak acuh terhadap aktivitas anak, terutama menyangkut pendidikan. Para orang tua hanya peduli jika anaknya bekerja membantu orang tua dan mendapatkan uang untuk biaya makan sehari-hari. Kondisi ini memang pelik.

Bunga Papua hadir di kompleks dan kampung-kampung penduduk menengah ke bawah dengan menggratiskan biaya pendidikan namun dengan syarat keterlibatan aktif orang tua. Para bunda juga diutamakan berasal dari kampung tersebut dengan harapan memudahkan interaksi dan penyesuaian. Itu yang diharapkan, namun tidak semudah yang terjadi di lapangan. Banyak generasi muda di kampung yang enggan menjadi guru karena melihat tidak ada harapan mendapatkan gaji setiap bulan. Dan memang kenyataannya demikian. Bunga Papua tidak mampu menyediakan gaji yang memadai.

Langkah awal menjalankan Bunga Papua juga hanya bermodal semangat dari kawan-kawan sevisi dan seperjuangan. Semuanya berawal dari dukungan perorangan dari beberapa kawan dari Danarti dan juga kawan-kawan anggota LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di Jayapura dan Yogyakarta.

Mereka ini memberikan sumbangan pribadi untuk mengawali langkah menjalankan Bunga Papua. Pada tahun pertama mereka berjalan dengan modal semangat dan beberapa donasi dari teman-teman yang peduli dalam gerakan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu. Meski dengan bermodal dana yang minim, namun mereka berhasil menjalankan sekolah di Aspen dan Bambu Kuning. Sekolah Bunga Papua memiliki sekretariat bersama dengan LSM Belantara Papua di salah satu kawasan pemukiman di Kota Sorong.

Pada tahun kedua dan ketiga, Bunga Papua mendapatkan bantuan dana Otsus Papua sejumlah Rp. 100 juta. Namun pada tahun keempat mereka tidak mendapatkan lagi bantuan yang setiap tahunnya berjumlah Rp.50 juta tersebut. Menyiasati hal tersebut, selain terus mencari bantuan sukarela perorangan, Bunga Papua juga pada akhirnya memungut iuran kepada orang tua siswa setiap minggu sejumlah Rp.3000. Iuran orang tua inilah yang kemudian dikumpulkan untuk memberikan uang pulsa dan sayur kepada para bunda yang mengajar anak mereka. Jadi, derma dari orang tua inilah yang dipergunakan untuk operasional sekolah.

Anak-anak Bunga Papua menghadapi permasalahan bersar dengan membaca daripada berhitung
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Para orangtua siswa di wilayah Aspen dilibatkan langsung dalam operasional sekolah. Bendahara adalah orang tua siswa yang mengurus pemasukan dan pengeluaran untuk operasional sekolah. Meski dengan jumlah yang tidak banyak, ada saja orang tua yang tidak bersedia membayar iuran tersebut. Alasannya berbagai macam, dari mulai tidak punya uang hingga lebih baik anaknya tidak sekolah jika harus membayar. Situasi ini umum terjadi di wilayah-wilayah pemukiman masyarakat menengah ke bawah yang lebih mementingkan anak bekerja agar mampu menghasilkan uang.

Kondisi yang ironis terjadi di Aspen saat masyarakat lebih tertarik untuk berjudi togel daripada menyumbang Rp.3000 untuk membantu iuran anak sekolah. Situasi ini tentu sangat menyedihkan. Danarti menuturkan:

Beli togel bisa, tapi sekolah tidak. Sekolah Bunga Papua itu gratis. Orang tua menganggap remeh sekolah itu. Tidak penting sekolah itu.

Situasi meremehkan sekolah pada masyarakat kelas menengah ke bawah sangat sulit diubah dalam waktu cepat. Para bunda yang berasal dari kampung tersebut tahu betul tipikal para orang tua yang kurang memikirkan pendidikan anaknya. Jika alasannya adalah dana, Sekolah Bunga Papua itu sama sekali tidak memungut iuran perbulan untuk biaya pendidikan.

Biaya yang dipungut kepada orang tua siswa adalah sumbangan sukarela, dan itu tidak seberapa jumlahnya. Sebagian besar biaya pendidikan Bunga Papua masih mengandalkan donatur perseorangan yang terus digalang oleh pengelola sembari mencari penyokong dana dari dalam dan luar negeri. Meski tertatih, mereka terbukti mampu melaksanakan proses pembelajaran di beberapa Sekolah Bunga Papua di Kota Sorong.

Kebanggaan

Salah satu yang menjadi kebanggaan siswa Bunga Papua adalah pada saat wisuda sebagai proses akhir pembelajaran. Jangan membayangkan proses wisuda berlangsung di gedung yang mewah dengan undangan para pejabat. Wisuda berlangsung sederhana namun penuh dengan kehangatan. Yang terpenting adalah ada makanan dan yang ditunggu-tunggu adalah penampilan kesenian dengan budaya masing-masing suku yang ada di Papua.

Mereka menyebutnya dengan Pentas Budaya karena yang utama adalah penampilan tarian dan lagu-lagu daerah Papua. Pentas budaya selalu menjadi perekat kebersamaan para bunda, anak-anak, para orang tua, dan masyarakat kampung. Sekolah Bunga Papua selalu mengutamakan ekspresi kebudayaan para siswanya untuk menunjukkan budaya dengan menari dan bernyanyi. Seni dan identitas budaya Papua menjadi salah satu kekuatan dari Bunga Papua.

Latihan menari dan menyanyi menuju pergelaran pentas budaya Sekolah Bunga Papua
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Selain pentas budaya setiap akhir masa pembelajaran, Bunga Papua juga mengadakan kegiatan berwisata bersama-sama. Kegiatan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali sebagai bentuk penyegaran dan menjalin kebersamaan antara para bunda, anak-anak, dan para mama. Mama-mama juga dilibatkan dalam proses pembelajaran.

Setiap hari kamis, para mama diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas untuk memberikan ruang partisipasi para mama dan rasa memiliki terhadap Sekolah Bunga Papua. Para mama juga sekaligus menjadi pengajar di sekolah minggu—sekolah untuk anak-anak dalam tradisi gereja—di kampung tersebut bersama para bunda. Inisiatif ini datang dari para bunda untuk menambah pembelajaran agama bagi anak-anak.

Kebanggaan akan berlangsungnya pendidikan bagi anak-anak dengan kerjasama dari para mama di lokasi Sekolah Bunga Papua sangat penting. Bagi para mama, kerjasama dengan para bunda yang menjadi motor penggerak berlangsungnya proses pembelajaran menjadi sangat vital. Danarti Wulandari mengungkapkan tidak semua para bunda yang direkrut bisa bertahan lama mengasuh sekolah Bunga Papua. Para bunda juga sering mengadakan kumpul bersama untuk berbagi cerita dan merefleksikan apa yang mereka alami. Paling tidak setahun sekali para bunda akan berkumpul. Refleksi yang mereka ungkapkan bermacam-macam.

Yang paling utama adalah dalam proses pendampingan terhadap anak-anak selama pembelajaran berlangsung. Pendampingan menjadi kata yang penting karena anak-anak Bunga Papua memerlukan pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang dimaksudkan adalah mencurahkan semua perhatian untuk membimbing dengan sabar dan dengan hati tulus. Jika anak-anak sudah merasa dekat dan percaya dengan bunda, maka bisa dipastikan proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.

Pentas budaya anak-anak Sekolah Bunga Papua adalah yang ditunggu-tunggu
(foto: dokumentasi Sekolah Bunga Papua).

Cara-cara formal dan struktural untuk mendidik anak-anak Papua akan gagal. Apalagi dengan cara kekerasan dan disiplin sejak awal akan memunculkan permasalahan baru. Kedisiplinan mutlak diperlukan saat rasa percaya dan sehati antara para bunda dan anak-anak Papua terjalin.

Jika saling percaya dan sehati ini belum terjalin, yang akan terjadi adalah perlawanan bukan saja dari si anak, tetapi juga para orang  tua mereka. Kisah para guru yang dikejar orang tua siswa dengan parang dan benda tajam lainnya berawal dari kesalahpahaman ini. Namun, jika kepercayaan sudah terjalin, anak-anak akan dengan sukarela disiplin dan mengikuti seluruh proses pembelajaran. (T)

Tags: PapuaPendidikansekolah
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Jalan Tanpa Mundur

Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
0
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

Read moreDetails

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
0
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

Read moreDetails

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
0
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

Read moreDetails

Negeri Pesugihan

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

Read moreDetails

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails
Next Post

Boruto dan Tantangan “Kids Jaman Now” di Era Serba Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co