13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 13, 2025
in Kritik Sastra
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Buku karya Trakl

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl tumbuh dalam keluarga yang keras. Ia berkonflik dengan ayahnya dan menjalin hubungan kompleks dengan saudari kandungnya, Grete, yang oleh banyak penafsir diyakini membekas kuat dalam puisinya. Sejak muda ia sudah bersentuhan dengan morfin dan kokain.

Perang Dunia I menjadi titik balik. Sebagai apoteker militer, ia menyaksikan luka, darah, dan tubuh-tubuh yang hancur. Trauma peperangan memperburuk gejolak batinnya yang memang rapuh. Pada 1914, di sebuah rumah sakit jiwa di Kraków, Trakl meninggal karena overdosis kokain. Banyak yang menduga itu bunuh diri. Usianya baru 27 tahun.

Salah satu sajaknya yang terkenal, “Malam Musim Dingin”, memperlihatkan betapa Trakl membangun lanskap batin dengan citraan keras dan dingin; kebekuan hitam, tanah keras, udara pahit, langkah membatu dekat rel kereta, hingga serigala merah dicekik malaikat.

Puisi itu seakan menghadirkan dunia yang dingin dan kejam, di mana manusia berjalan seperti mesin, wajah membatu, dan salju menjadi lambang kebekuan jiwa. Kutipan berikut adalah penggalan puisinya dalam terjemahan Indonesia:

……………………..

Kebekuan hitam. Tanah keras, udara pahit di lidah.

            Bintang-bintangmu mengatup jadi pertanda buruk.

            Dengan langkah membatu kau menderap dekat rel kereta, dengan

            Mata bulat bagai prajurit yang menyerang benteng hitam. Avanti!

                        Pahit salju dan bulan!

                        Serigala merah dicekik malaikat. Kakimu melangkah

            gemerincing bagai es yang biru. Senyum sarat duka dan

            keangkuhan membatukan wajahmu, dan dahimu memucat oleh

berahi kebekuan;

            atau dahi itu membungkuk bisu di atas lelap penjaga yang

rebah di gubug kayu.

…………………………………………………

            (Malam Musim Dingin, Hal.65)

Membaca baris-baris itu, kita seperti diseret masuk ke dalam halusinasi yang getir. Trakl tidak hanya menulis puisi, ia menyalin denyut jiwanya yang retak.

Tema paling kuat dalam sajak Trakl adalah kegelapan, kesepian, dan kematian. Puisinya mencatat perjalanan menuju senja, di mana kematian selalu hadir sebagai bayangan yang setia menunggu. Alam muram—musim gugur, musim dingin, salju, senja—tidak sekadar latar, melainkan metafora bagi jiwa yang terasing.

Trakl juga kerap menyinggung simbol religius, yakni, salib, Gethsemane, malaikat. Namun alih-alih menjadi sumber harapan, simbol-simbol itu muncul sebagai lambang doa yang tak sampai, iman yang tertikam putus asa. Relasi keluarga, kata “saudara” atau “anak”, sering menyembunyikan rahasia gelap, menegaskan luka batin yang tak pernah pulih.

Estetika Ekspresionisme

Secara estetik, Trakl ditempatkan dalam arus ekspresionisme Jerman-Austria. Puisinya padat, fragmentaris, penuh warna kontras, seperti, hitam, merah, biru. Bahasanya kerap menyerupai mimpi atau halusinasi. Ia menulis spontan, lalu kadang merevisi keesokan hari, sehingga puisinya sering terdiri dari fragmen-fragmen.

Bagi Trakl, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang untuk memproyeksikan kegelisahan batin. Dari kehancuran jiwa lahirlah bahasa puisi yang unik, tak tertandingi oleh penyair lain sezamannya.

Kondisi skizofrenia Trakl memberi pengaruh besar pada karya-karyanya. Puisi baginya menjadi catatan jiwa yang gelisah, potret pikiran yang sulit terurai, sekaligus pelarian dari beban mental yang ia pikul. Membaca Trakl hari ini, pembaca modern terutama yang pernah bersentuhan dengan trauma atau gangguan mental akan menemukan resonansi mendalam.

Trakl mengingatkan kita bahwa di balik gangguan jiwa ada suara manusia yang tetap bisa bersuara, meski dengan bahasa yang sulit dimengerti. Suara yang tidak hadir sebagai solusi, melainkan sebagai kesaksian.

Trakl di Indonesia

Nama Trakl masuk ke Indonesia lewat buku Mimpi dan Kelam Jiwa, dterbitkan pertama kali pada 2012, oleh penerbit Komodo Books bekerja sama dengan  Goethe-Institut Indonesien. Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser sebagai penerjemah berupaya menjaga kepadatan bahasa dan aura kemuraman Trakl. Mereka tidak hanya mengalihbahasakan kata, tetapi juga nuansa—tugas yang berat mengingat puisi Trakl sarat metafora kompleks dan struktur fragmentaris.

Peluncuran buku itu mendapat sorotan media. Trakl diterima sebagai suara asing yang justru terasa akrab, sebab masyarakat kita juga hidup di zaman penuh trauma sosial, alienasi, dan keterasingan batin.

Pada sebuah sore di Semarang, Februari 2013 silam, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) kedatangan seorang tamu dari Jerman, Berthold Damshäuser, dosen Universitas Bonn. Ia hadir bukan untuk mengajar kelas, melainkan membuka lorong gelap sastra Eropa, memperkenalkan Georg Trakl.

Acara itu bertajuk ”Peluncuran Jilid ke-VII Seri Puisi Jerman, Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl “Mimpi dan Kelam Jiwa”, hasil kerja sama Goethe-Institut Indonesien, Rumah Buku Dunia Tera, dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Diskusi dimoderatori penyair Dorothea Rosa Herliany, dengan lantunan pembacaan puisi oleh Timur Sinar Suprabana.

“Trakl selalu membicarakan penderitaan. Kritiknya terhadap peradaban modern disampaikan dalam bahasa yang khas,” ujar Berthold. Ia menambahkan, Trakl telah lama diakui sebagai penyair besar abad 20, meski hidupnya singkat dan tragis. “Sayangnya ia meninggal di usia 27 tahun,” katanya. (Sumber: Berita FBS Unnes, 2013)

Kajian tentang Trakl memang terbatas di Indonesia, tetapi tetap ada. Beberapa esai menyoroti bagaimana metafora dan simbolisme Trakl tetap hidup dalam terjemahan Indonesia. Ada pula pengamat sastra yang melihat gema Trakl dalam puisi kontemporer Indonesia, termasuk karya-karya yang menyuarakan kegelisahan eksistensial dengan citraan muram.

Di ranah internasional, para akademisi sudah lama membaca Trakl sebagai penyair trauma. Jurnal Modern Austrian Literature menulis bahwa puisi Trakl adalah “rekaman psikis dari tubuh yang pecah oleh sejarah, sekaligus tubuh yang mencari keselamatan melalui bahasa.” Penelitian lain, seperti yang diterbitkan di German Studies Review, mengaitkan puisinya dengan “trauma kolektif awal abad 20” yang lahir dari perang dan industrialisasi.

Dalam buku Georg Trakl: Poetry and Silence karya James Wright, disebutkan bahwa keheningan dalam sajak Trakl bukanlah ketiadaan, melainkan gema dari sesuatu yang tak terkatakan—sebuah suara batin yang terlalu rapuh untuk diucapkan, tetapi juga terlalu penting untuk diabaikan.

Membaca Trakl akhirnya adalah membaca paradoks: dari jiwa yang hancur lahir bahasa yang kuat, dari penderitaan pribadi tercipta puisi yang abadi, dari kegelapan muncul cahaya yang tetap menyinari sastra dunia. Warisan Georg Trakl adalah keberanian untuk menyuarakan kelam jiwa, agar manusia lain tak merasa sendirian di dalamnya. Membaca Trakl, kita belajar bahwa penderitaan, seaneh apa pun bentuknya, dapat menjadi bahasa yang melintasi waktu dan benua. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Georg TraklPuisisastraskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Next Post

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

by I Wayan Artika
March 4, 2025
0
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

MEMBACA karya sastra merupakan pengalaman yang sangat mengesankan karena seseorang akan masuk ke dalam dunia karya tersebut.  Dunia karya sastra...

Read moreDetails
Next Post
Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co