22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 13, 2025
in Kritik Sastra
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Buku karya Trakl

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl tumbuh dalam keluarga yang keras. Ia berkonflik dengan ayahnya dan menjalin hubungan kompleks dengan saudari kandungnya, Grete, yang oleh banyak penafsir diyakini membekas kuat dalam puisinya. Sejak muda ia sudah bersentuhan dengan morfin dan kokain.

Perang Dunia I menjadi titik balik. Sebagai apoteker militer, ia menyaksikan luka, darah, dan tubuh-tubuh yang hancur. Trauma peperangan memperburuk gejolak batinnya yang memang rapuh. Pada 1914, di sebuah rumah sakit jiwa di Kraków, Trakl meninggal karena overdosis kokain. Banyak yang menduga itu bunuh diri. Usianya baru 27 tahun.

Salah satu sajaknya yang terkenal, “Malam Musim Dingin”, memperlihatkan betapa Trakl membangun lanskap batin dengan citraan keras dan dingin; kebekuan hitam, tanah keras, udara pahit, langkah membatu dekat rel kereta, hingga serigala merah dicekik malaikat.

Puisi itu seakan menghadirkan dunia yang dingin dan kejam, di mana manusia berjalan seperti mesin, wajah membatu, dan salju menjadi lambang kebekuan jiwa. Kutipan berikut adalah penggalan puisinya dalam terjemahan Indonesia:

……………………..

Kebekuan hitam. Tanah keras, udara pahit di lidah.

            Bintang-bintangmu mengatup jadi pertanda buruk.

            Dengan langkah membatu kau menderap dekat rel kereta, dengan

            Mata bulat bagai prajurit yang menyerang benteng hitam. Avanti!

                        Pahit salju dan bulan!

                        Serigala merah dicekik malaikat. Kakimu melangkah

            gemerincing bagai es yang biru. Senyum sarat duka dan

            keangkuhan membatukan wajahmu, dan dahimu memucat oleh

berahi kebekuan;

            atau dahi itu membungkuk bisu di atas lelap penjaga yang

rebah di gubug kayu.

…………………………………………………

            (Malam Musim Dingin, Hal.65)

Membaca baris-baris itu, kita seperti diseret masuk ke dalam halusinasi yang getir. Trakl tidak hanya menulis puisi, ia menyalin denyut jiwanya yang retak.

Tema paling kuat dalam sajak Trakl adalah kegelapan, kesepian, dan kematian. Puisinya mencatat perjalanan menuju senja, di mana kematian selalu hadir sebagai bayangan yang setia menunggu. Alam muram—musim gugur, musim dingin, salju, senja—tidak sekadar latar, melainkan metafora bagi jiwa yang terasing.

Trakl juga kerap menyinggung simbol religius, yakni, salib, Gethsemane, malaikat. Namun alih-alih menjadi sumber harapan, simbol-simbol itu muncul sebagai lambang doa yang tak sampai, iman yang tertikam putus asa. Relasi keluarga, kata “saudara” atau “anak”, sering menyembunyikan rahasia gelap, menegaskan luka batin yang tak pernah pulih.

Estetika Ekspresionisme

Secara estetik, Trakl ditempatkan dalam arus ekspresionisme Jerman-Austria. Puisinya padat, fragmentaris, penuh warna kontras, seperti, hitam, merah, biru. Bahasanya kerap menyerupai mimpi atau halusinasi. Ia menulis spontan, lalu kadang merevisi keesokan hari, sehingga puisinya sering terdiri dari fragmen-fragmen.

Bagi Trakl, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang untuk memproyeksikan kegelisahan batin. Dari kehancuran jiwa lahirlah bahasa puisi yang unik, tak tertandingi oleh penyair lain sezamannya.

Kondisi skizofrenia Trakl memberi pengaruh besar pada karya-karyanya. Puisi baginya menjadi catatan jiwa yang gelisah, potret pikiran yang sulit terurai, sekaligus pelarian dari beban mental yang ia pikul. Membaca Trakl hari ini, pembaca modern terutama yang pernah bersentuhan dengan trauma atau gangguan mental akan menemukan resonansi mendalam.

Trakl mengingatkan kita bahwa di balik gangguan jiwa ada suara manusia yang tetap bisa bersuara, meski dengan bahasa yang sulit dimengerti. Suara yang tidak hadir sebagai solusi, melainkan sebagai kesaksian.

Trakl di Indonesia

Nama Trakl masuk ke Indonesia lewat buku Mimpi dan Kelam Jiwa, dterbitkan pertama kali pada 2012, oleh penerbit Komodo Books bekerja sama dengan  Goethe-Institut Indonesien. Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser sebagai penerjemah berupaya menjaga kepadatan bahasa dan aura kemuraman Trakl. Mereka tidak hanya mengalihbahasakan kata, tetapi juga nuansa—tugas yang berat mengingat puisi Trakl sarat metafora kompleks dan struktur fragmentaris.

Peluncuran buku itu mendapat sorotan media. Trakl diterima sebagai suara asing yang justru terasa akrab, sebab masyarakat kita juga hidup di zaman penuh trauma sosial, alienasi, dan keterasingan batin.

Pada sebuah sore di Semarang, Februari 2013 silam, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) kedatangan seorang tamu dari Jerman, Berthold Damshäuser, dosen Universitas Bonn. Ia hadir bukan untuk mengajar kelas, melainkan membuka lorong gelap sastra Eropa, memperkenalkan Georg Trakl.

Acara itu bertajuk ”Peluncuran Jilid ke-VII Seri Puisi Jerman, Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl “Mimpi dan Kelam Jiwa”, hasil kerja sama Goethe-Institut Indonesien, Rumah Buku Dunia Tera, dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Diskusi dimoderatori penyair Dorothea Rosa Herliany, dengan lantunan pembacaan puisi oleh Timur Sinar Suprabana.

“Trakl selalu membicarakan penderitaan. Kritiknya terhadap peradaban modern disampaikan dalam bahasa yang khas,” ujar Berthold. Ia menambahkan, Trakl telah lama diakui sebagai penyair besar abad 20, meski hidupnya singkat dan tragis. “Sayangnya ia meninggal di usia 27 tahun,” katanya. (Sumber: Berita FBS Unnes, 2013)

Kajian tentang Trakl memang terbatas di Indonesia, tetapi tetap ada. Beberapa esai menyoroti bagaimana metafora dan simbolisme Trakl tetap hidup dalam terjemahan Indonesia. Ada pula pengamat sastra yang melihat gema Trakl dalam puisi kontemporer Indonesia, termasuk karya-karya yang menyuarakan kegelisahan eksistensial dengan citraan muram.

Di ranah internasional, para akademisi sudah lama membaca Trakl sebagai penyair trauma. Jurnal Modern Austrian Literature menulis bahwa puisi Trakl adalah “rekaman psikis dari tubuh yang pecah oleh sejarah, sekaligus tubuh yang mencari keselamatan melalui bahasa.” Penelitian lain, seperti yang diterbitkan di German Studies Review, mengaitkan puisinya dengan “trauma kolektif awal abad 20” yang lahir dari perang dan industrialisasi.

Dalam buku Georg Trakl: Poetry and Silence karya James Wright, disebutkan bahwa keheningan dalam sajak Trakl bukanlah ketiadaan, melainkan gema dari sesuatu yang tak terkatakan—sebuah suara batin yang terlalu rapuh untuk diucapkan, tetapi juga terlalu penting untuk diabaikan.

Membaca Trakl akhirnya adalah membaca paradoks: dari jiwa yang hancur lahir bahasa yang kuat, dari penderitaan pribadi tercipta puisi yang abadi, dari kegelapan muncul cahaya yang tetap menyinari sastra dunia. Warisan Georg Trakl adalah keberanian untuk menyuarakan kelam jiwa, agar manusia lain tak merasa sendirian di dalamnya. Membaca Trakl, kita belajar bahwa penderitaan, seaneh apa pun bentuknya, dapat menjadi bahasa yang melintasi waktu dan benua. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Georg TraklPuisisastraskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Next Post

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co