23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
in Kritik Sastra
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Geguritan Jerum ke novel

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung?

Ide itu tiba-tiba saya lontarkan ketika menjadi penguji pada ujian promosi doktor sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025. Yang ujian promosi doktor waktu itu adalah I Wayan Juliana, dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, yang mempertahankan disertasi berjudul Wacana Satya Lintas Genre: Transformasi Ideologi Kesetiaan Kidung Jerum Kundangdia dalam Novel Jerum. Yang hadir saat ujian itu cukup banyak. Selain mahasiswa S3 FIB Unud, juga dosen-dosen sahabat Juliana dari IAHN Mpu Kuturan.

Ujian promosi doktor sastra I Wayan Juliana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025

Alih wahana, objek kajian disertasi itulah, menjadi sumber inspirasi. Oka Rusmini mengadaptasi Kidung Jerum Kundangdia—sebuah karya puisi naratif tradisional Bali yang ditulis dalam bentuk kidung—menjadi novel berjudul Jerum yang diterbitkan pada 2020 oleh Grasindo. Kidung Jerum terdiri atas 325 bait pupuh, seluruhnya menggunakan pupuh Jerum, dan ditulis dalam bahasa Kawi. Geguritan atau puisi naratif ini memuat lapisan-lapisan nilai religius, etis, dan sosial yang khas Bali.

Dalam versi novelnya, Oka Rusmini mentransformasikan karya tersebut menjadi narasi sepanjang 186 halaman, berbentuk novel, berbahasa Indonesia, menjadikannya lebih mudah diakses oleh pembaca modern tanpa kehilangan kekayaan simbolik dan filosofis dari versi kidung. Alih wahana ini menjadi contoh bagaimana warisan sastra klasik bisa dihidupkan kembali melalui pendekatan sastra modern. Pembaca yang tidak paham bahasa Bali pun bisa menikmati cerita ini dalam versi novel.

Dari geguritan ke Novel Tantri, Perempuan yang Bercerita karya Cok Sawitri

Sebelumnya, Cok Sawitri juga melakukan alih wahana dengan mengadaptasi cerita Geguritan Ni Dyah Tantri, yang berasal dari tradisi sastra Jawa dan Bali atau mirip kisah berbingkai Seribu Satu Malam, menjadi novel modern berjudul Tantri: Perempuan yang Bicara (2003). Novel ini mentransformasikan kisah klasik penuh alegori pelecehan perempuan oleh raja tersebut menjadi narasi yang lebih reflektif dan berorientasi pada kesadaran perempuan dalam masyarakat kontemporer. Alih wahana ini tidak hanya mengubah bentuk naratif dari lisan atau geguritan ke prosa modern, tetapi juga menyesuaikan sudut pandang dan ideologi sesuai konteks zaman.

Dalam kajian sastra, istilah alih wahana merujuk pada proses pengalihan atau transformasi sebuah karya dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya, tanpa menghilangkan inti atau makna utama karya tersebut. Secara etimologis, “alih” berarti memindahkan, sedangkan “wahana” berarti sarana atau media. Dengan demikian, alih wahana adalah bentuk adaptasi kreatif dari satu medium ke medium lain, misalnya dari teks ke visual, dari tulisan ke audio, atau dari narasi menjadi pertunjukan. Pengertian alih wahana bisa diperluas menjadi penggubahan bentuk geguritan menjadi novel; dari bentuk tradisional ke bentuk modern.

Kalau geguritan atau kidung bisa diadaptasi menjadi novel yang menarik, mestinya novel juga bisa digubah ke dalam geguritan atau kidung. Jika ide ini mendapat sambutan, terbayang bagaimana novel Sukreni Gadis Bali atau I Swasta Setahun di Bedahulu, keduanya karya Panji Tisna, akan lahir menjadi Geguritan Sukreni Gadis Bali atau Kidung I Swasta Setahun di Bedahulu. Kita juga mungkin akan melihat Geguritan Tarian Bumi sebagai alih wahana dari novel Tarian Bumi (2000) karya Oka Rusmini, atau Geguritan Katemu ring Tampaksiring gubahan atas cerita pendek berbahasa Bali karya I Made Sanggra. Novel-novel klasik yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya, juga bisa diadaptasi menjadi geguritan seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli atau Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya.

Secara teknis, alih wahana ini tidak sulit. Secara estetik, tentu tergantung pada kemampuan penggubah. Yang jelas, prosesnya mungkin lebih mudah karena sudah tersedia pakem pupuh dengan aturan padalingsa yang ketat, tinggal penggubah mematuhi ketentuan itu. Alih wahana prosa ke dalam geguritan bukan hal baru. Geguritan Sampik Ing Tay adalah salah satu contoh. Cerita rakyat Cina yang mengisahkan percintaan tragis antara Sampik dan Ing Tai ini pertama kali disadur dari prosa bahasa Mandarin ke dalam bahasa Melayu oleh Boen Sing Hoo pada tahun 1885. Saduran prosa naratif ini kemudian diadaptasi dan disesuaikan ke dalam bentuk geguritan oleh Ida Ketut Sari dari Desa Sanur pada tahun 1915.

Meskipun demikian, tidak ada konsensus mengenai siapa yang pertama kali menulis Geguritan Sampik ini dalam bahasa Bali. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pengarangnya anonim, sementara yang lain menyebut Ida Ketut Sari sebagai penggubahnya. Yang jelas, cerita ini sangat terkenal di Bali, dan telah dialihwahanakan ke dalam pertunjukan drama gong maupun diadaptasi ke dalam lagu pop Bali, salah satunya dinyanyikan oleh Widi Widiana.

Novel karya Marah Rusli dan Pandji Tisna

Jika alih wahana novel ke geguritan atau kidung bisa terjadi, niscaya karya-karya tersebut dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia dan sastra Bali, serta memperkuat karakteristik heterogenitas sastra di Bali. Selain itu, kita akan mulai bisa—dan lama-lama terbiasa—mendengarkan kidung Gita Shanti di acara ritual Bali, Geguritan I Swasta di Bedahulu atau Geguritan Sukreni Gadis Bali, dan Geguritan Siti Nurbaya yang nilai pendidikan dan moralnya tak kalah dari geguritan lain. Tergantung kemampuan juru artos (penafsir) dalam gita shanti.

Pendek kata, alih wahana atau adaptasi novel (sastra modern) ke bentuk kidung atau geguritan (sastra tradisional Bali), akan memberikan empat keuntungan berikut:

  1. Menjaga api apresiasi sastra, karena adaptasi karya pasti diawali dengan membaca dan menikmati karya sastra yang akan dijadikan target adaptasi.
  2. Menjaga semangat kreativitas, karena adaptasi adalah kegiatan kreatif. Makin banyak yang tertarik melakukannya, semangat kreativitas akan makin kuat dan memberikan hasil yang memikat.
  3. Menambah kuantitas khazanah teks Gita Shanti. Bukan saja karya tradisional memperkaya sastra modern, tetapi karya modern pun dapat memperkaya sastra tradisional.
  4. Menyediakan variasi kisah dalam penembangan ritual, tak hanya berkutat pada Geguritan Jayaprana-Layonsari, Cupak-Grantang, Lubdaka, atau Ni Dyah Tantri, tetapi juga Geguritan Sukreni Gadis Bali atau mungkin Geguritan Siti Nurbaya.

Salam sastra, salam kreatif. [T]

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I NYOMAN DARMA PUTRA

Kumpulan Puisi “Renganis” Karya Komang Sujana dari Buleleng Meraih Hadiah Sastra Rancage 2025
“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Tags: geguritannovelProf. Darma PutraUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata

Next Post

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

by I Wayan Artika
March 4, 2025
0
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

MEMBACA karya sastra merupakan pengalaman yang sangat mengesankan karena seseorang akan masuk ke dalam dunia karya tersebut.  Dunia karya sastra...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co