23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 19, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PENGALAMAN yang menyenangkan merupakan sesuatu yang didambakan wisatawan ketika mengunjungi satu destinasi. Namun tidak jarang wisatawan mengalami kedongkolan saat berada di destinasi wisata. Tentu saja ini akan membuat wisatawan kapok untuk kembali mengunjungi destinasi tersebut.

Biasanya wisatawan melakukan perjalanan tidak ujug-ujug. Sebelum mengunjungi destinasi wisata, orang akan melakukan perencanaan dan persiapan yang matang. Pilihan terhadap destinasi maupun objek wisata direncanakan berdasarkan pada banyak hal, seperti anggaran perjalanan, moda transportasi yang digunakan, akomodasi, tempat kuliner, jumlah peserta, apakah melakukan perjalanan secara mandiri atau melalui biro perjalanan, maupun barang bawaan selama berwisata.

Kedongkolan wisatawan dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Kesiapan anggaran kerap menjadi alasan bagi wisatawan untuk berhati-hati dalam pengeluaran. Anggaran akan menentukan apakah wisatawan akan menggunakan pesawat, kereta api, atau kendaraan pribadi. Harga tiket pesawat yang mahal sempat membuat wisatawan kesal dan kapok, sehingga memilih menunda perjalanan atau menggunakan moda transportasi lain yang lebih murah.

Di mana wisatawan akan menginap juga ditentukan oleh anggaran perjalanan. Apakah menginap di hotel atau homestay. Informasi tentang akomodasi sering diperoleh melalui internet, lantaran pengusaha akomodasi melakukan promosi dan pemasaran secara digital. Kekecewaan yang berujung kapok dapat terjadi ketika fasilitas yang diberikan berbeda dengan yang dipromosikan.

Tempat kuliner acap mejadi sasaran kedongkolan wisatawan. Salah satu pengalaman yang menyenangkan bagi wisatawan memang menikmati kuliner khas daerah. Namun kadang wisatawan dibuat kapok untuk kembali menikmati kuliner itu, entah karena rasanya yang tidak sesuai ekspektasi maupun harga makanan yang terlalu mahal. Hal ini akan sangat dirasakan bagi wisatawan yang mengajak anggota keluarga dalam jumlah banyak.

Menikmati perjalanan wisata melalui biro perjalanan kadang menjadi pilihan bagi wisatawan, karena dianggap praktis, utamanya bagi wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi satu destinasi. Akan tetapi ketidakcermatan dalam memilih biro perjalanan juga dapat berujung kekecewaan. Ada saja yang membuat wisatawan kapok, lantaran apa yang diterima wisatawan tidak sesuai dengan paket wisata yang ditawarkan. Ini bisa terjadi pada biro perjalanan wisata yang abal-abal atau tidak tersertifikasi.

Destinasi yang Bikin Kapok

Keluhan setiap wisatawan tentang destinasi yang dikunjungi berbeda-beda. Ada wisatawan yang mengeluhkan fasilitas akomodasi, ada yang kecewa terhadap wahana wisata, ada yang tidak puas pada pelayanan pekerja wisata, ada pula yang kapok berkunjung karena lingkungan yang rusak di destinasi wisata. Semua keluhan, kekecewaan, dan ketidakpuasan yang bikin kapok wisatawan adalah alarm dalam industri pariwisata, peringatan keras bagi pengembangan pariwisata.

Tidak sedikit destinasi yang bikin kapok wisatawan, baik yang ada di Indonesia maupun mancanegara. Beberapa destinasi di Indonesia berpotensi membuat kapok wisatawan. Sebut saja Puncak Bogor, Bandung, Yogyakarta, Bali, Danau Toba, Labuhan Bajo, Raja Ampat, dan daerah lain yang pernah dikeluhkan wisatawan.

Puncak Bogor di Jawa Barat merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan setiap libur panjang tiba. Namun alih-alih menikmati kenyamanan, wisatawan justru disuguhi kemacetan lalu lintas. Bagi yang mendambakan kenyamanan dalam berwisata, Puncak Bogor bisa bikin kapok. Meski kenyataannya setiap libur panjang Puncak Bogor selalu diburu wisatawan.

Nyaris sama dengan Puncak Bogor, Bandung juga kerap membuat kesal wisatawan. Kota yang konon disebut Paris Van Java ini tak lagi senyaman dulu. Berwisata ke Bandung pada libur panjang harus bersiap dengan kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas di dalam kota. Kuliner Sunda mungkin bisa menyajikan kenikmatan, namun rasa lelah di jalanan akan sulit terobati.

Senada, Yogyakarta juga destinasi yang menyenangkan dan penuh kenangan bagi wisatawan. Namun Yogyakarta juga menyimpan banyak persoalan yang membuat kapok wisatawan. Selain kemacetan, Yogyakarta juga bermasalah dengan parkir liar maupun tarif parkir yang tak wajar, membuat kesal wisatawan. Belum lagi Jalan Malioboro yang legendaris diwarnai dengan pengamen yang membuat wisatawan dongkol; apalagi pengamen yang marah ketika tidak diberikan uang.

Bali sempat menjadi destinasi yang bikin kapok wisatawan. Bahkan Fodor’s Travel pernah menyarankan wisatawan untuk mempertimbangkan jika ingin berkunjung ke Pantai Kuta. Padatnya wisatawan domestik dan mancanegara membuat Pantai Kuta tak lagi nyaman untuk dikunjungi. Belum lagi persoalan sampah dan abrasi pantai membuat wisatawan kapok untuk berkunjung kembali.

Walau Bali tetap ramai dikunjungi wisatawan, namun bagi mereka yang mengejar kualitas berwisata, Bali mendapat alarm berbahaya. Kemacetan lalu lintas di Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan memasuki tahap parah. Belum lagi tindak kriminalitas yang melibatkan wisatawan membuat Bali tidak lagi aman dan nyaman. Bule yang mabuk dan ugal-ugalan di jalanan membuat was-was wisatawan lain yang menginginkan kenyamanan dan keamanan.

Raja Ampat di Papua Barat Daya sesungguhnya merupakan destinasi yang masih alami. Namun Raja Ampat juga didera masalah yang dapat membuat wisatawan kapok dan menjadi alarm berbahaya bagi industri pariwisata Tanah Air. Pungutan liar kepada wisatawan di Raja Ampat sempat meresahkan. Disusul kemudian kasus sejumlah warga yang mengusir wisatawan asing di Raja Ampat sebagai buntut pencabutan izin usaha pertambangan di wilayah itu. Hal ini tentu dapat memicu rasa kapok wisatawan.

Tren Anti Promosi Influencer

Animo wisatawan mengunjungi satu destinasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain keunggulan yang dimiliki destinasi, promosi wisata terhadap destinasi juga mengundang wisatawan untuk berkunjung. Peran influencer atau kaum pemengaruh ini cukup besar dalam menumbuhkan keinginan orang untuk berwisata.

Meski begitu, saat terjadi masalah di sebuah destinasi, maka peran influencer akan terabaikan. Wisatawan yang terlanjur dongkol atas kualitas produk wisata di destinasi akan menganggap tayangan influencer di berbagai media sosial adalah omong kosong belaka. Apalagi kini muncul tren anti influencer yang dilakukan wisatawan.

Mengutip CEO jejaring sosial ASMALLWORD, Jan Luescher sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia (11/2/2025), para wisatawan mulai menghindari rekomendasi destinasi dari para influencer sebagai upaya menghindari tempat yang terlalu ramai. Wisatawan mencari perjalanan yang lebih bersifat personal dan berbeda dari rencana perjalanan yang dapat diprediksi dan penuh dengan foto yang dibentuk media sosial.

Tren ini sesungguhnya bersifat linier dengan pengalaman wisatawan ketika mengunjungi satu destinasi. Pekerjaan influencer hanya sia-sia saat memuji dan mengunggah foto-foto menarik tentang destinasi bila wisatawan justru dikecewakan dan dibuat kapok mengunjungi destinasi itu.

Bukan hanya di Indonesia, destinasi bermasalah juga dijumpai di beberapa negara. Venesia di Italia, Menara Eiffel di Prancis, Grand Canyon Amerika Serikat, Times Square di New York, Tembok Besar Cina, Santorini di Yunani, dan masih banyak destinasi lain yang bikin wisatawan kapok untuk berkunjung kembali lantaran padat, macet, kumuh, kerusakan lingkungan, dan tak lagi nyaman.

Destinasi yang bikin kapok adalah persoalan besar dalam pariwisata, alarm serius dalam industri pariwisata. Destinasi bikin kapok bukan hanya di kota-kota besar di Tanah Air. Banyak pula wisatawan yang kapok mengunjungi destinasi wisata di daerah karena masalah yang dianggap sepele, seperti parkir liar, toilet jorok, serta objek wisata yang tidak ramah anak dan penyandang disabilitas. Saatnya wisatawan diutamakan, waktunya alarm tanda bahaya diperhatikan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Tags: destinasi wisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ancaman Video AI dalam Diseminasi Informasi Kesehatan

Next Post

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co