2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi

Chusmeru by Chusmeru
June 21, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SALAH satu hal yang sulit diprediksi dalam industri pariwisata adalah perilaku wisatawan. Selalu saja terjadi perubahan pada perilaku orang dalam berwisata. Perubahan bisa terjadi pada moda transportasi, preferensi pilihan destinasi, akomodasi, dan sebagainya.

Dunia pariwisata sempat diwarnai dengan fenomena FOMO ( Fear Of Missing Out). Orang merasa takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengunjungi satu destinasi wisata yang sedang viral. Peran media sosial sangat mempengaruhi FOMO dalam pariwisata. Semakin viral objek wisata di media sosial, semakin banyak diburu wisatawan.

Fenomena FOMO dalam berwisata didukung pula oleh gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang melanda generasi milenial dan generasi Z. Gaya hidup ini lebih berorientasi pada mengejar pengalaman dan kesenangan saat ini tanpa memikirkan jangka panjang.

Berwisata sempat menjadi semacam kebutuhan primer bagi kalangan muda. Prinsipnya, hidup hanya sekali. Maka selagi masih hidup, berwisata menjadi wajib dilakukan. Orang menjadi tak peduli jika terpaksa harus berhutang untuk berwisata.

Seiring dengan perjalanan waktu, gaya hidup FOMO dan YOLO ternyata menjadikan beban hidup kaum muda semakin berat. Terjadi perubahan gaya hidup yang lebih realistis, yaitu YONO (You Only Need One). Gaya hidup minimalis ini merupakan antitesis dari YOLO. Orang mulai berpikir pentingnya keberlanjutan dalam hidup, lebih fungsional dan berkualitas.

Orang melakukan perjalanan wisata bukan lagi karena viralitas objek wisata, tetapi lebih karena pertimbangan kondisi objektif keuangan. Frugal living sebagai gaya hidup hemat menjadi faktor bagi orang untuk menentukan perjalanan wisatanya.

Berwisata kini bagi sebagian orang bukan lagi soal kemewahan dan gaya hidup. Muncul kemudian konsep micro tourism dalam aktivitas pariwisata. Micro tourism merupakan konsep berwisata lokal yang lebih mengutamakan destinasi wisata terdekat dengan biaya perjalanan yang serendah mungkin. Tak heran jika konsep berwisata ini menjadi alasan bagi kaum milenial dan Z untuk berwisata dengan prinsip efisiensi.

            Faktor Pendukung

Micro tourism tidak mengharuskan orang mengunjungi objek wisata yang populer. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk menikmati objek wisata. Tidak harus menikmati wahana wisata yang seru. Tidak pula harus merasakan sensasi kuliner yang mahal. Cukup berwisata ke destinasi yang biasa-biasa saja, sepanjang anggaran mencukupi.

Banyak faktor yang mendukung tumbuhnya micro tourism ini. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu alasan yang paling kuat. Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada masalah ekonomi yang sulit. Kebijakan efisiensi anggaran bukan hanya berdampak pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta.

Kelompok milenial yang bekerja terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran. Mereka tidak lagi leluasa mengunjungi destinasi wisata yang jauh. Perjalanan dinas dipangkas, lama tinggal di destinasi juga berkurang. Sementara generasi Z yang sebagian masih bergantung pada orang tua juga tak lagi menjadikan berwisata sebagai gaya hidup kekinian. Andai pun mereka bepergian, akan menyasar objek wisata yang dekat dengan anggaran yang hemat.

Pembangunan infrastruktur di daerah ikut menjadi faktor pendukung micro tourism. Daerah yang sudah memiliki aksesibilitas baik akan memacu mobilitas orang untuk berwisata di daerah sendiri. Apalagi kini banyak daerah yang mengembangkan objek dan daya tarik wisata baru, sehingga membuat banyak pilihan berwisata di daerah.

Kemacetan di destinasi wisata populer menjadi alasan lain bagi orang untuk berwisata ke objek wisata yang dekat, sepi, dan murah. Secara ideal, mereka yang melakukan micro tourism adalah wisatawan yang juga jenuh pada destinasi favorit yang mulai terjadi kerusakan lingkungan.  Mengunjungi objek wisata yang baru dan masih natural menjadi alternatif dalam micro tourism.

Arah Perubahan

Perilaku wisatawan yang berubah dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi mereka yang menggeluti bisnis akomodasi, perubahan efisiensi pengeluaran wisatawan dalam menginap tentu saja merugikan, utamanya pada hotel berbintang. Namun arah perubahan perilaku wisatawan dalam hal akomodasi akan sangat menguntungkan bagi pengelola homestay maupun rumah penginapan.

Kondisi tersebut kadang memunculkan kasus baru dalam bisnis akomodasi, seperti terjadi di Bali misalnya. Dengan alasan menghemat biaya perjalanan wisata, orang akan mencari penginapan atau tempat kost murah yang dapat ditinggali selama beberapa hari. Menginap di hotel untuk jangka waktu yang lama tentu memakan biaya tinggi.

Hanya saja, muncul kemudian problematik perizinan berkaitan dengan bisnis pariwisata. Di satu sisi perubahan perilaku wisatawan menguntungkan pemilik homestay dan tempat kost, di lain sisi pemerintah daerah kehilangan pajak pendapatan dari sektor akomodasi. Wisatawan tentunya tidak dapat disalahkan, karena mereka berwisata dengan prinsip efisiensi.

Arah perubahan berwisata juga terjadi pada moda transportasi, terutama pada wisatawan dalam strata ekonomi menengah ke bawah. Sarana transportasi yang murah meriah akan menjadi pilihan. Menuju destinasi wisata cukup menggunakan kereta api kelas ekonomi maupun transportasi umum yang murah. Untuk rombongan keluarga kecil, transportasi kendaraan pribadi menjadi solusi.

Perubahan perilaku wisatawan dalam micro tourism tak luput menyasar pada pilihan objek wisata yang akan dikunjungi. Objek wisata yang dekat dengan tempat tinggal dan objek wisata yang murah menjadi alternatif. Orang tidak lagi tergiur pada objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan jika ternyata jarak tempuh cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya banyak.

Objek wisata yang dekat dengan pemandangan alam yang masih belum terkontaminasi oleh wahana permainan dan baliho iklan produk lebih diminati. Wisatawan cukup menikmati kuliner khas daerah dengan harga yang sangat terjangkau. Justru sensasi kuliner tradisional ini yang kini kembali diminati wisatawan.

Dengan mengunjungi objek wisata yang dekat, wisatawan tidak perlu menginap di hotel. Andaikan menginap, cukup satu malam. Tidak heran jika muncul keluhan dari pengusaha bisnis perhotelan di daerah. Pariwisata bergeliat, jumlah hotel meningkat, kunjungan wisatawan juga melesat; namun tingkat hunian hotel menurun.

Micro tourism dapat menjadi antitesis pengembangan pariwisata yang kapitalistik. Pariwisata yang mengeksploitasi alam dengan target kunjungan sebanyak-banyaknya. Micro tourism secara nyata berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal. Bahagia memang sederhana, cukup berwisata di tempat yang dekat dengan anggaran seadanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Tags: ilmu pariwisataPariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Next Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co