2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi

Chusmeru by Chusmeru
June 21, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SALAH satu hal yang sulit diprediksi dalam industri pariwisata adalah perilaku wisatawan. Selalu saja terjadi perubahan pada perilaku orang dalam berwisata. Perubahan bisa terjadi pada moda transportasi, preferensi pilihan destinasi, akomodasi, dan sebagainya.

Dunia pariwisata sempat diwarnai dengan fenomena FOMO ( Fear Of Missing Out). Orang merasa takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengunjungi satu destinasi wisata yang sedang viral. Peran media sosial sangat mempengaruhi FOMO dalam pariwisata. Semakin viral objek wisata di media sosial, semakin banyak diburu wisatawan.

Fenomena FOMO dalam berwisata didukung pula oleh gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang melanda generasi milenial dan generasi Z. Gaya hidup ini lebih berorientasi pada mengejar pengalaman dan kesenangan saat ini tanpa memikirkan jangka panjang.

Berwisata sempat menjadi semacam kebutuhan primer bagi kalangan muda. Prinsipnya, hidup hanya sekali. Maka selagi masih hidup, berwisata menjadi wajib dilakukan. Orang menjadi tak peduli jika terpaksa harus berhutang untuk berwisata.

Seiring dengan perjalanan waktu, gaya hidup FOMO dan YOLO ternyata menjadikan beban hidup kaum muda semakin berat. Terjadi perubahan gaya hidup yang lebih realistis, yaitu YONO (You Only Need One). Gaya hidup minimalis ini merupakan antitesis dari YOLO. Orang mulai berpikir pentingnya keberlanjutan dalam hidup, lebih fungsional dan berkualitas.

Orang melakukan perjalanan wisata bukan lagi karena viralitas objek wisata, tetapi lebih karena pertimbangan kondisi objektif keuangan. Frugal living sebagai gaya hidup hemat menjadi faktor bagi orang untuk menentukan perjalanan wisatanya.

Berwisata kini bagi sebagian orang bukan lagi soal kemewahan dan gaya hidup. Muncul kemudian konsep micro tourism dalam aktivitas pariwisata. Micro tourism merupakan konsep berwisata lokal yang lebih mengutamakan destinasi wisata terdekat dengan biaya perjalanan yang serendah mungkin. Tak heran jika konsep berwisata ini menjadi alasan bagi kaum milenial dan Z untuk berwisata dengan prinsip efisiensi.

            Faktor Pendukung

Micro tourism tidak mengharuskan orang mengunjungi objek wisata yang populer. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk menikmati objek wisata. Tidak harus menikmati wahana wisata yang seru. Tidak pula harus merasakan sensasi kuliner yang mahal. Cukup berwisata ke destinasi yang biasa-biasa saja, sepanjang anggaran mencukupi.

Banyak faktor yang mendukung tumbuhnya micro tourism ini. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu alasan yang paling kuat. Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada masalah ekonomi yang sulit. Kebijakan efisiensi anggaran bukan hanya berdampak pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta.

Kelompok milenial yang bekerja terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran. Mereka tidak lagi leluasa mengunjungi destinasi wisata yang jauh. Perjalanan dinas dipangkas, lama tinggal di destinasi juga berkurang. Sementara generasi Z yang sebagian masih bergantung pada orang tua juga tak lagi menjadikan berwisata sebagai gaya hidup kekinian. Andai pun mereka bepergian, akan menyasar objek wisata yang dekat dengan anggaran yang hemat.

Pembangunan infrastruktur di daerah ikut menjadi faktor pendukung micro tourism. Daerah yang sudah memiliki aksesibilitas baik akan memacu mobilitas orang untuk berwisata di daerah sendiri. Apalagi kini banyak daerah yang mengembangkan objek dan daya tarik wisata baru, sehingga membuat banyak pilihan berwisata di daerah.

Kemacetan di destinasi wisata populer menjadi alasan lain bagi orang untuk berwisata ke objek wisata yang dekat, sepi, dan murah. Secara ideal, mereka yang melakukan micro tourism adalah wisatawan yang juga jenuh pada destinasi favorit yang mulai terjadi kerusakan lingkungan.  Mengunjungi objek wisata yang baru dan masih natural menjadi alternatif dalam micro tourism.

Arah Perubahan

Perilaku wisatawan yang berubah dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi mereka yang menggeluti bisnis akomodasi, perubahan efisiensi pengeluaran wisatawan dalam menginap tentu saja merugikan, utamanya pada hotel berbintang. Namun arah perubahan perilaku wisatawan dalam hal akomodasi akan sangat menguntungkan bagi pengelola homestay maupun rumah penginapan.

Kondisi tersebut kadang memunculkan kasus baru dalam bisnis akomodasi, seperti terjadi di Bali misalnya. Dengan alasan menghemat biaya perjalanan wisata, orang akan mencari penginapan atau tempat kost murah yang dapat ditinggali selama beberapa hari. Menginap di hotel untuk jangka waktu yang lama tentu memakan biaya tinggi.

Hanya saja, muncul kemudian problematik perizinan berkaitan dengan bisnis pariwisata. Di satu sisi perubahan perilaku wisatawan menguntungkan pemilik homestay dan tempat kost, di lain sisi pemerintah daerah kehilangan pajak pendapatan dari sektor akomodasi. Wisatawan tentunya tidak dapat disalahkan, karena mereka berwisata dengan prinsip efisiensi.

Arah perubahan berwisata juga terjadi pada moda transportasi, terutama pada wisatawan dalam strata ekonomi menengah ke bawah. Sarana transportasi yang murah meriah akan menjadi pilihan. Menuju destinasi wisata cukup menggunakan kereta api kelas ekonomi maupun transportasi umum yang murah. Untuk rombongan keluarga kecil, transportasi kendaraan pribadi menjadi solusi.

Perubahan perilaku wisatawan dalam micro tourism tak luput menyasar pada pilihan objek wisata yang akan dikunjungi. Objek wisata yang dekat dengan tempat tinggal dan objek wisata yang murah menjadi alternatif. Orang tidak lagi tergiur pada objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan jika ternyata jarak tempuh cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya banyak.

Objek wisata yang dekat dengan pemandangan alam yang masih belum terkontaminasi oleh wahana permainan dan baliho iklan produk lebih diminati. Wisatawan cukup menikmati kuliner khas daerah dengan harga yang sangat terjangkau. Justru sensasi kuliner tradisional ini yang kini kembali diminati wisatawan.

Dengan mengunjungi objek wisata yang dekat, wisatawan tidak perlu menginap di hotel. Andaikan menginap, cukup satu malam. Tidak heran jika muncul keluhan dari pengusaha bisnis perhotelan di daerah. Pariwisata bergeliat, jumlah hotel meningkat, kunjungan wisatawan juga melesat; namun tingkat hunian hotel menurun.

Micro tourism dapat menjadi antitesis pengembangan pariwisata yang kapitalistik. Pariwisata yang mengeksploitasi alam dengan target kunjungan sebanyak-banyaknya. Micro tourism secara nyata berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal. Bahagia memang sederhana, cukup berwisata di tempat yang dekat dengan anggaran seadanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Tags: ilmu pariwisataPariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Next Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co