16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?

Chusmeru by Chusmeru
May 4, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DESA wisata adalah ujung tombak pariwisata kita. Dari Sabang hingga Merauke, desa-desa wisata telah menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga masyarakat yang ramah dan berdedikasi dalam mengembangkan daerahnya.

Pernyataan di atas disampaikan oleh Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana saat memberikan sambutan dalam acara Malam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Menurutnya, pengelola dan warga desa wisata untuk terus berinovasi dan berkomitmen dalam mengembangkan potensi desanya. Ia juga berjanji untuk mendukung dan memastikan keberlanjutan program desa wisata.(Marketeers.com, 19/11/2024).

Benarkah desa wisata menjadi ujung tombak pariwisata Indonesia seperti dinyatakan Menteri Pariwisata? Bagaimana perkembangan desa wisata dalam industri pariwisata Tanah Air? Akankah desa wisata mampu bersaing dengan destinasi wisata yang telah mapan?

Desa wisata memang memiliki potensi besar untuk menjadi ujung tombak pariwisata Indonesia, terutama dalam menghadapi tuntutan wisatawan akan pengalaman yang lebih autentik dan berkelanjutan. Apalagi belakangan tren kunjungan ke desa wisata juga mulai meningkat seiring dengan isu wisata hijau.

Desa wisata berkontribusi dalam diversifikasi sektor pariwisata, mendukung perekonomian lokal, dan melestarikan budaya serta lingkungan. Namun, untuk benar-benar menjadi ujung tombak, desa wisata harus mengatasi berbagai tantangan terkait infrastruktur, pengelolaan, dan pemasaran yang lebih baik.

Di sisi lain, desa wisata berpotensi besar untuk dieksploitasi oleh investor, terutama mengingat potensi ekonomi dan pengembangan infrastruktur yang ditawarkan. Kendati , eksploitasi yang dilakukan secara tidak bijaksana dengan mengabaikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan dapat merusak keunikan desa wisata itu sendiri.

Oleh karena itu, pengembangan desa wisata harus dilakukan dengan prinsip keberlanjutan, dengan melibatkan masyarakat lokal dan memastikan bahwa mereka mendapat manfaat langsung dari sektor pariwisata. Tanpa itu semua, desa wisata hanya akan menjadi ujung tombak pariwisata yang tumpul.

Peran Desa Wisata

Desa wisata adalah desa yang mengandalkan potensi alam, budaya, dan tradisi lokal sebagai daya tarik utama untuk wisatawan. Konsep desa wisata semakin berkembang, terutama dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik dan keberlanjutan.

Salah satu kontribusi utama desa wisata adalah pemberdayaan masyarakat lokal, dengan menciptakan peluang kerja dan mendongkrak perekonomian desa melalui sektor pariwisata. Banyak desa wisata yang berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat melalui homestay, usaha kerajinan tangan, atau pertanian organik yang dijual kepada wisatawan.

Desa wisata memiliki peran penting dalam diversifikasi dengan menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan destinasi wisata massal seperti Bali atau Jakarta. Dengan keunikan budaya dan alam, desa wisata memperkaya pilihan wisatawan yang mencari pengalaman yang lebih intim dan autentik.

Peran desa wisata adalah menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya. Desa wisata menjaga tradisi lokal sambil memanfaatkan potensi alam untuk pariwisata yang ramah lingkungan. Desa wisata di Kabupaten Bantul, Yogyakarta misalnya, menjaga tradisi lokal sambil memanfaatkan potensi alam untuk pariwisata yang ramah lingkungan.

Tantangan

Menjadi ujung tombak pariwisata nasional, desa wisata dihadapkan dengan banyak tantangan. Keterbatasan infrastruktur adalah problem klasik desa wisata. Kebanyakan desa wisata terletak di daerah yang jauh dari kota besar dan memiliki infrastruktur yang terbatas, baik dalam hal akses transportasi, fasilitas akomodasi, maupun sarana pendukung lainnya.

Pembenahan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan desa wisata. Banyak desa wisata yang terisolasi dengan akses jalan yang buruk. Lemahnya infrastruktur dapat membatasi potensi desa wisata untuk berkembang dan bersaing dengan destinasi wisata yang sudah mapan.

Dari sisi pengelolaan, masih banyak desa wisata yang belum profesional. Masyarakat lokal yang terlibat dalam mengelola desa wisata memiliki keterbatasan dalam hal manajerial, pemasaran, atau pelayanan wisata. Tidak sedikit desa wisata mengandalkan sistem manajemen yang sederhana atau belum memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran.

Tidak heran jika wisatawan lebih memilih mengunjungi destinasi wisata yang telah mapan. Selain infrastruktur lengkap dan daya tarik yang sudah dikenal luas, destinasi wisata yang telah mapan juga memiliki  beragam fasilitas. Oleh karenanya desa wisata sulit untuk bersaing.

Jika desa wisata hendak dijadikan ujung tombak yang tidak tumpul, maka pemerintah dan pihak swasta harus bekerja sama untuk meningkatkan infrastruktur di desa wisata, seperti memperbaiki akses jalan, menyediakan fasilitas publik yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas akomodasi di desa.

Profesionalisme pengelola desa wisata juga perlu terus ditingkatkan. Masyarakat desa perlu diberikan pelatihan dalam pengelolaan desa wisata, termasuk dalam bidang pemasaran digital, pelayanan kepada wisatawan, dan pengelolaan lingkungan.

Tumpul oleh Eksploitasi

Potensi ekonomi yang dimiliki desa wisata seringkali menjadi daya tarik bagi investor. Keadaan ini bisa menjadi dilematis bagi desa wisata. Di satu sisi desa wisata membutuhkan dana untuk memperbaiki infrastruktur dan aksesibilitasnya. Namun di sisi lain, kehadiran investor dari luar desa cenderung eksploitatif.

Eksploitasi terjadi ketika desa wisata berkembang menjadi objek wisata massal serta komersialisasi yang berlebihan. Eksploitasi juga dapat terjadi ketika pembangunan hotel mewah atau resor besar mengubah desa menjadi destinasi wisata yang kurang berakar pada tradisi dan budaya lokal.

Alih-alih menjadi ujung tombak yang dapat menyejahterakan warga, desa wisata justru menjadi tumpul oleh eksploitasi. Bisa saja terjadi kasus, pengembangan desa wisata oleh investor besar  mengabaikan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan keuntungan dari sektor pariwisatanya.

Dampak buruk dari eksploitasi desa wisata yang paling serius tentunya kerusakan ekosistem. Desa yang semula sejuk dan asri dapat berubah menjadi kotor dan polutif ketika dieksploitasi secara berlebihan; dengan dalih meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Desa Wisata Les di Buleleng, Bali, dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik dalam ADWI 2024. Akankah desa wisata di Bali utara itu mampu mengembangkan potensinya? Apakah Desa Wisata Les dapat menjadi ujung tombak pariwisata Bali dan Indonesia?

Bisa saja desa wisata itu menjadi ujung tombak yang tumpul ketika dieksploitasi secara berlebihan. Apalagi bila investasi pengelolaan desa wisata didominasi oleh investor asing. Mengingat nama besar Bali sebagai magnet pariwisata dunia, sebagaimana terjadi di Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar.

Apalagi, rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara di Buleleng semakin menguat. Tidak mustahil investor asing akan menyerbu hingga ke pelosok desa. Keindahan pantai, bukit, dan sawah akan berebut visualisasi dengan hotel-hotel yang berdiri kokoh.

Harapan Menteri Pariwisata agar desa wisata menjadi ujung tombak pariwisata Indonesia tentu sangat menjanjikan. Namun ketika tidak dikelola secara profesional dan hanya dieksploitasi oleh pemilik modal, desa wisata akan menikam dirinya sendiri. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?
“Influencer” dan Promosi Pariwisata
Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia
Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Tags: desa wisatailmu pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Next Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tentang Harimau Jawa

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tentang Harimau Jawa

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tentang Harimau Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co