24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
March 8, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

EFISIENSI anggaran dijadikan jurus ampuh pada 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Banyak pos Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dipangkas. Efisiensi anggaran pun menjadi kebijakan politis demi gengsi penguasa baru.

Jika dirunut, efisiensi anggaran tercetus setelah program kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan mengusung isu Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Program MBG ternyata terseok-seok lantaran menyedot biaya banyak. Padahal program itu merupakan salah satu nilai jual politis yang sangat tinggi dalam kampanye Pilpres kemarin.

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus memangkas anggaran K/L untuk memenuhi biaya MBG. Hal itu diakui sendiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah terpaksa menggunakan dana hasil efisiensi anggaran sebesar Rp 24 Triliun untuk mendukung program MBG. Pernyataan itu disampaikan Prabowo pada saat pidato Perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Partai Gerindra di Bogor, 15 Februari 2025 ( Kompas.com, 16/2/2025).

Kebijakan tersebut bukan tanpa ironi. Efisiensi anggaran mengakibatkan perubahan pola dan irama kerja pegawai. Beberapa instansi pemerintah membatasi aktivitas yang berkaitan dengan pengeluaran anggaran. Mulai dari tidak diperbolehkan untuk rapat di rumah makan hingga hemat dalam penggunaan listrik dan AC.

Ironinya, di tengah kebijakan efisiensi anggaran, masyarakat disuguhi tontonan yang kontradiktif. Acara retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang menelan biaya Rp 13 miliar. Jumlah yang tidak sedikit bagi rakyat yang ekonominya sedang terjepit.

Kebijakan Reaksioner

Di tengah ironi efisiensi anggaran, muncul gagasan kampanye dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan meluncurkan tagar #MudikYuk dan #LebarandiJakartaAja. Kampanye  itu untuk meningkatkan minat wisatawan melakukan perjalanan wisata selama libur Lebaran 2025.

Kampanye tersebut juga bertujuan mendorong pencapaian 1,08 miliar perjalanan nusantara yang ditargetkan pada tahun 2025. Hal ini  merupakan bagian dari kampanye besar #DiIndonesiaAja, dan program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI). Nantinya, melalui kampanye #MudikYuk, masyarakat diajak untuk menjelajahi destinasi wisata di Indonesia, terutama di sekitar kampung halaman mereka (Kumparan, 2/3/2025).

Kampanye Kemenpar sesungguhnya bukan sesuatu yang inovatif dan progresif. Kampanye Bangga Berwisata di Indonesia justru menggambarkan kebijakan yang reaksioner terhadap kondisi perekonomian yang sedang lesu; ditambah lagi dengan efisiensi anggaran dari pemerintah.

Tagar #MudikYuk tidak berkorelasi terlalu signifikan dengan perkembangan pariwisata Tanah Air. Terkesan Kemenpar hanya mendompleng momentum Lebaran untuk mendorong masyarakat berwisata. Tidak muncul program yang jelas, bagaimana menggairahkan sektor pariwisata di tengah efisiensi anggaran.

Setiap Lebaran sebagian besar masyarakat Indonesia sudah pasti akan mudik. Selain pulang kampung, masyarakat juga akan berkunjung ke tempat-tempat wisata di daerah. Namun kegiatan berwisata itu sesungguhnya bagian dari kultur mudik, bukan terdorong oleh motif berwisata. Semestinya Kemenpar punya gagasan yang lebih bernas untuk menghidupkan sektor pariwisata.

Sektor Terdampak

Bangga Berwisata di Indonesia tidak cukup dengan tagar #MudikYuk. Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah akan berdampak serius terhadap sektor pariwisata. Masalah ini semestinya yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Kemenpar.

Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang menaungi banyak sektor usaha bisnis dan pelayanan. Ada sektor transportasi, akomodasi, objek dan daya tarik wisata, kuliner, industri kreatif, dan usaha kecil kerajinan. Semua sektor itu saling terkait dan saling pengaruh.

Efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah akan berdampak serius pada sektor pariwisata. Banyak kegiatan di K/L yang sangat berkaitan dengan sektor pariwisata. Sebut saja perjalanan dinas, kunjungan kerja, dan studi banding.

Sektor transportasi tentu saja akan terdampak. Berkurangnya perjalanan dinas pegawai pemerintahan akan mengurangi mobilitas. Karenanya, target  1,08 miliar perjalanan nusantara tahun 2025 diperkirakan sulit tercapai. Dampak efisiensi anggaran juga akan dirasakan biro perjalanan yang selama ini sering menangani kegiatan-kegiatan instansi pemerintah ke luar daerah.

Akomodasi menjadi sektor yang terdampak pula. Berkurangnya anggaran untuk kunjungan kerja maupun studi banding ke daerah lain akan berdampak pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel dan lama menginap. Kegiatan yang biasanya dapat dilakukan selama tiga atau empat hari, bisa dipangkas menjadi hanya satu atau dua hari saja.

Jika sektor akomodasi terdampak, maka sektor kuliner pun akan terdampak. Restoran dan rumah makan selama ini sangat diuntungkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan instansi pemerintah. Banyak kegiatan rapat dinas yang dilakukan di restoran, rumah makan, dan kafe. Bisa jadi semua rapat akan dilakukan di kantor masing-masing.

Objek dan daya tarik wisata (ODTW) meski tidak terlalu terdampak serius, namun tetap saja akan merasakan imbas efisiensi anggaran. Biasanya kegiatan dinas sebuah instansi merupakan satu paket dengan mengunjungi objek-objek wisata, termasuk mengunjungi sentra-sentra kerajinan dan industri kecil. Padahal kegiatan seperti rapat dinas maupun seminar sering melibatkan banyak peserta.

Penurunan pendapatan diperkiran akan menimpa industri kreatif, event organizer (EO), kelompok kesenian, hingga artis nasional dan daerah. Banyak kegiatan meeting, incentive, conference, dan exhibition (MICE) yang melibatkan mereka. Kegiatan konferensi misalnya, akan melibatkan banyak pihak, mulai dari EO hingga artis.  Begitu pula dengan acara-acara seremonial yang acapkali melibatkan pelaku kesenian di daerah.

Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang progresif dan inovatif dari Kemenpar. Jika tidak, maka industri pariwisata akan mengalami masa paceklik, hidup enggan mati pun tak mau. Meski sesungguhnya sektor pariwisata bukan hanya bergantung pada kegiatan K/L, namun nyatanya para pengusaha dan pelaku pariwisata mulai mengeluhkan kebijakan efisiensi anggaran pemerintahan Prabowo Subianto.

Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Arya Pering Arimbawa mengatakan sebagian hotel bergantung pada acara dan kunjungan kerja pemerintah. Dengan kebijakan efisiensi anggaran, mereka otomatis harus menekan biaya operasional, termasuk gaji pegawai (CNN Indonesia, 5/3/2025).

IHGMA menaungi sekitar 1.000 hotel dari Aceh hingga Papua. Mereka menggelar survei dengan sampel 315 hotel untuk mengetahui dampak efisiensi anggaran terhadap perhotelan.
Hasilnya, pengusaha-pengusaha hotel bintang tiga mengaku pendapatan mereka turun hingga 100 persen. Senada, hotel bintang empat terdampak dengan pendapatan menurun sampai 60 persen. Terutama pada bintang empat yang melaporkan potensi kerugian lebih dari Rp3 miliar per hotel selama efisiensi dilakukan, per satu hotel, demikian kata Wakil Ketua Umum IHGMA Garna Sobhara Swara, seperti diberitakan CNN Indonenia.

Garna mengatakan kerugian itu merembet ke berbagai hal. Misalnya, hotel-hotel mengurangi pembelian pasokan dari ratusan suplier, mulai dari bahan makanan hingga  keperluan hotel. Jika tidak diantisipasi, kebijakan efisiensi anggaran Presiden Prabowo akan dapat berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor pariwisata. Tentu ini akan menjadi ironi di tengah kampanye Bangga Berwisata di Indonesia.

Efisiensi anggaran tampaknya nyaris identik dengan kebijakan mengencangkan ikat pinggang di zaman pemerintahan Soeharto. Penuh ironi. Masyarakat diminta untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang, sementara para pejabat dan konglomerat semakin lebar lingkar pinggangnya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata
“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo  |  Antara Hitam dan Putih

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co