23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
March 8, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

EFISIENSI anggaran dijadikan jurus ampuh pada 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Banyak pos Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dipangkas. Efisiensi anggaran pun menjadi kebijakan politis demi gengsi penguasa baru.

Jika dirunut, efisiensi anggaran tercetus setelah program kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan mengusung isu Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Program MBG ternyata terseok-seok lantaran menyedot biaya banyak. Padahal program itu merupakan salah satu nilai jual politis yang sangat tinggi dalam kampanye Pilpres kemarin.

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus memangkas anggaran K/L untuk memenuhi biaya MBG. Hal itu diakui sendiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah terpaksa menggunakan dana hasil efisiensi anggaran sebesar Rp 24 Triliun untuk mendukung program MBG. Pernyataan itu disampaikan Prabowo pada saat pidato Perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Partai Gerindra di Bogor, 15 Februari 2025 ( Kompas.com, 16/2/2025).

Kebijakan tersebut bukan tanpa ironi. Efisiensi anggaran mengakibatkan perubahan pola dan irama kerja pegawai. Beberapa instansi pemerintah membatasi aktivitas yang berkaitan dengan pengeluaran anggaran. Mulai dari tidak diperbolehkan untuk rapat di rumah makan hingga hemat dalam penggunaan listrik dan AC.

Ironinya, di tengah kebijakan efisiensi anggaran, masyarakat disuguhi tontonan yang kontradiktif. Acara retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang menelan biaya Rp 13 miliar. Jumlah yang tidak sedikit bagi rakyat yang ekonominya sedang terjepit.

Kebijakan Reaksioner

Di tengah ironi efisiensi anggaran, muncul gagasan kampanye dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan meluncurkan tagar #MudikYuk dan #LebarandiJakartaAja. Kampanye  itu untuk meningkatkan minat wisatawan melakukan perjalanan wisata selama libur Lebaran 2025.

Kampanye tersebut juga bertujuan mendorong pencapaian 1,08 miliar perjalanan nusantara yang ditargetkan pada tahun 2025. Hal ini  merupakan bagian dari kampanye besar #DiIndonesiaAja, dan program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI). Nantinya, melalui kampanye #MudikYuk, masyarakat diajak untuk menjelajahi destinasi wisata di Indonesia, terutama di sekitar kampung halaman mereka (Kumparan, 2/3/2025).

Kampanye Kemenpar sesungguhnya bukan sesuatu yang inovatif dan progresif. Kampanye Bangga Berwisata di Indonesia justru menggambarkan kebijakan yang reaksioner terhadap kondisi perekonomian yang sedang lesu; ditambah lagi dengan efisiensi anggaran dari pemerintah.

Tagar #MudikYuk tidak berkorelasi terlalu signifikan dengan perkembangan pariwisata Tanah Air. Terkesan Kemenpar hanya mendompleng momentum Lebaran untuk mendorong masyarakat berwisata. Tidak muncul program yang jelas, bagaimana menggairahkan sektor pariwisata di tengah efisiensi anggaran.

Setiap Lebaran sebagian besar masyarakat Indonesia sudah pasti akan mudik. Selain pulang kampung, masyarakat juga akan berkunjung ke tempat-tempat wisata di daerah. Namun kegiatan berwisata itu sesungguhnya bagian dari kultur mudik, bukan terdorong oleh motif berwisata. Semestinya Kemenpar punya gagasan yang lebih bernas untuk menghidupkan sektor pariwisata.

Sektor Terdampak

Bangga Berwisata di Indonesia tidak cukup dengan tagar #MudikYuk. Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah akan berdampak serius terhadap sektor pariwisata. Masalah ini semestinya yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Kemenpar.

Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang menaungi banyak sektor usaha bisnis dan pelayanan. Ada sektor transportasi, akomodasi, objek dan daya tarik wisata, kuliner, industri kreatif, dan usaha kecil kerajinan. Semua sektor itu saling terkait dan saling pengaruh.

Efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah akan berdampak serius pada sektor pariwisata. Banyak kegiatan di K/L yang sangat berkaitan dengan sektor pariwisata. Sebut saja perjalanan dinas, kunjungan kerja, dan studi banding.

Sektor transportasi tentu saja akan terdampak. Berkurangnya perjalanan dinas pegawai pemerintahan akan mengurangi mobilitas. Karenanya, target  1,08 miliar perjalanan nusantara tahun 2025 diperkirakan sulit tercapai. Dampak efisiensi anggaran juga akan dirasakan biro perjalanan yang selama ini sering menangani kegiatan-kegiatan instansi pemerintah ke luar daerah.

Akomodasi menjadi sektor yang terdampak pula. Berkurangnya anggaran untuk kunjungan kerja maupun studi banding ke daerah lain akan berdampak pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel dan lama menginap. Kegiatan yang biasanya dapat dilakukan selama tiga atau empat hari, bisa dipangkas menjadi hanya satu atau dua hari saja.

Jika sektor akomodasi terdampak, maka sektor kuliner pun akan terdampak. Restoran dan rumah makan selama ini sangat diuntungkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan instansi pemerintah. Banyak kegiatan rapat dinas yang dilakukan di restoran, rumah makan, dan kafe. Bisa jadi semua rapat akan dilakukan di kantor masing-masing.

Objek dan daya tarik wisata (ODTW) meski tidak terlalu terdampak serius, namun tetap saja akan merasakan imbas efisiensi anggaran. Biasanya kegiatan dinas sebuah instansi merupakan satu paket dengan mengunjungi objek-objek wisata, termasuk mengunjungi sentra-sentra kerajinan dan industri kecil. Padahal kegiatan seperti rapat dinas maupun seminar sering melibatkan banyak peserta.

Penurunan pendapatan diperkiran akan menimpa industri kreatif, event organizer (EO), kelompok kesenian, hingga artis nasional dan daerah. Banyak kegiatan meeting, incentive, conference, dan exhibition (MICE) yang melibatkan mereka. Kegiatan konferensi misalnya, akan melibatkan banyak pihak, mulai dari EO hingga artis.  Begitu pula dengan acara-acara seremonial yang acapkali melibatkan pelaku kesenian di daerah.

Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang progresif dan inovatif dari Kemenpar. Jika tidak, maka industri pariwisata akan mengalami masa paceklik, hidup enggan mati pun tak mau. Meski sesungguhnya sektor pariwisata bukan hanya bergantung pada kegiatan K/L, namun nyatanya para pengusaha dan pelaku pariwisata mulai mengeluhkan kebijakan efisiensi anggaran pemerintahan Prabowo Subianto.

Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Arya Pering Arimbawa mengatakan sebagian hotel bergantung pada acara dan kunjungan kerja pemerintah. Dengan kebijakan efisiensi anggaran, mereka otomatis harus menekan biaya operasional, termasuk gaji pegawai (CNN Indonesia, 5/3/2025).

IHGMA menaungi sekitar 1.000 hotel dari Aceh hingga Papua. Mereka menggelar survei dengan sampel 315 hotel untuk mengetahui dampak efisiensi anggaran terhadap perhotelan.
Hasilnya, pengusaha-pengusaha hotel bintang tiga mengaku pendapatan mereka turun hingga 100 persen. Senada, hotel bintang empat terdampak dengan pendapatan menurun sampai 60 persen. Terutama pada bintang empat yang melaporkan potensi kerugian lebih dari Rp3 miliar per hotel selama efisiensi dilakukan, per satu hotel, demikian kata Wakil Ketua Umum IHGMA Garna Sobhara Swara, seperti diberitakan CNN Indonenia.

Garna mengatakan kerugian itu merembet ke berbagai hal. Misalnya, hotel-hotel mengurangi pembelian pasokan dari ratusan suplier, mulai dari bahan makanan hingga  keperluan hotel. Jika tidak diantisipasi, kebijakan efisiensi anggaran Presiden Prabowo akan dapat berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor pariwisata. Tentu ini akan menjadi ironi di tengah kampanye Bangga Berwisata di Indonesia.

Efisiensi anggaran tampaknya nyaris identik dengan kebijakan mengencangkan ikat pinggang di zaman pemerintahan Soeharto. Penuh ironi. Masyarakat diminta untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang, sementara para pejabat dan konglomerat semakin lebar lingkar pinggangnya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata
“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo  |  Antara Hitam dan Putih

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co