2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SIAPA yang harus memikirkan masa depan Bali dengan budaya, adat, agama, dan pariwisatanya? Seharusnya masyarakat Bali sendiri. Nyatanya, Bali lebih banyak diintervensi oleh kekuasaan politik dan bisnis di pusat kekuasaan, Jakarta.

Berbagai kebijakan dirumuskan di pusat dengan target capaian peningkatan pendapatan nasional dan devisa negara. Apa hasilnya? Bali padat wisatawan. Jika ada bantahan bahwa yang padat hanya ada di Bali Selatan, itu hanyalah retorika yang mengabaikan realitas bahwa citra Bali adalah satu kesatuan antara Selatan, Utara, Barat, dan Timur.

Bali macet. Itu juga hasil lomba mengejar devisa. Apologi pun muncul. Kemacetan itu hanya terjadi di Badung. Bahwa bukan kemacetan yang terjadi, tetapi penumpukan wisatawan di Badung sehingga menimbulkan kemacetan. Sementara keluh kesah dan sumpah serapah masyarakat terhadap kemacetan lalu lintas nyaris terlontar setiap hari.

Apa lagi hasilnya? Sampah menjadi persoalan klasik di Bali. Solusi yang bersifat teknologi adaptif belum dilakukan, justru solusi ekonomis yang dikedepankan. Wisatawan mancanegara dikenai pungutan untuk mengatasi persoalan sampah. Miliaran rupiah sudah dihasilkan, tapi masalah sampah belum terpecahkan.

Investasi meningkat drastis di Bali. berbarengan dengan itu, terjadi alih fungsi lahan yang berlangsung sejak lama. Lahan-lahan produktif berubah bentuk menjadi tembok-tembok fasilitas pariwisata. Bukan rahasia pula jika kepemilikan tanah di Bali mengalami perubahan begitu drastis. Konglomerat dari Jakarta dan orang asing begitu mudah memiliki lahan di Bali, dengan dalih keterbukaan investasi.

Hanya itu? Tentu tidak. Bule-bule yang berkunjung ke Bali kini semakin brutal. Pelecehan terhadap simbol-simbol agama, adat, dan budaya Bali kerap terjadi. Kriminalitas bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Bali dan pendatang, wisatawan asing pun turut menyumbang angka kriminalitas.

Pesta seks dan sarang narkoba menjadi julukan baru bagi Bali. Dan tentu saja, orang asing begitu mudah untuk bekerja apa saja. Bali yang mendapat julukan Pulau Dewata, kini mendapat predikat baru sebagai surga dunia, lantaran turis bisa melakukan apa saja.

Apakah orang Bali diam? Sebagian kecil berbicara, berteriak, dan protes. Sebagian besar memilih diam. Mereka yang kritis bicara di forum maupun di media tidak jarang mendapat stigma tidak pro pada pembangunan. Sementara yang diam lebih karena apatis; atau ada pula karena pertimbangan diuntungkan oleh relasi politik dan bisnis dengan pusat kekuasaan.

Bagaimana dengan kampus sebagai mata, hati, telinga, dan mulut untuk bicara kritis atas permasalahan di sekitar? Lazimnya kampus di berbagai daerah, kaum intelektual yang semestinya punya kepekaan menjadi terdiam ketika mendapat proyek yang bersumber dari pemerintah maupun donatur. Bagi yang kritis akan dianggap sebagai tidak kebagian proyek dan hanya dapat berwacana.

Bali dan pemerintah pusat bukannya tidak pernah menjadi sasaran kritik akademisi kampus. Tidak sedikit pula kaum intelektual kampus yang berteriak lantang. Namun rezim selalu masih sensitif terhadap kritik, bahkan terkesan anti kritik. Pada satu isu kekinian misalnya, seorang Guru Besar yang mengkritik kebijakan pemerintah justru dianggap tidak tahu apa-apa, bahkan diragukan  profesornya.

Perlu Grand Design

Pariwisata Bali tidak bisa berjalan secara auto pilot. Bali perlu grand design yang jelas terhadap pariwisata ke depan. Disain besar pariwisata Bali itu diperlukan agar perkembangan pariwisatanya tidak hanya berkutat pada Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).

Perlu reorientasi pariwisata yang bertujuan mengembangkan pariwisata dan memakmurkan masyarakat di Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur. Tentu tidak mudah; karena akan memerlukan disain besar yang menyangkut aksesibilitas, amenitas, atraksi, dan kelembagaan.

Aksesibilitas menjadi masalah yang krusial bagi pengembangan pariwisata ke barat, utara, dan timur. Mencari solusi untuk mengurai kemacetan di Sarbagita memang penting. Tetapi tak kalah penting adalah menyiapkan aksesibilitas ke barat, utara, dan timur. Sayangnya, wacana aksesibilitas seperti pembangunan Bandara Bali Utara hingga kini hanya sebatas isu kampanye; yang dikalahkan dengan program makan bergizi gratis.

Grand design pariwisata Bali perlu merumuskan secara jelas dan tegas tentang amenitas pariwisatanya. Sebagai destinasi wisata yang berlandaskan budaya Bali, amenitas pariwisata selayaknya berpedoman pada arsitektur Bali. Pembangunan sarana prasarana pariwisata tidak dapat dibiarkan jor-joran tanpa mengacu pada konsep arsitektur tradisional Bali.

Pemetaan daya tarik pariwisata perlu masuk dalam disain besar pariwisata. Ini menjadi penting mengingat atraksi wisata di setiap kabupaten yang ada di Bali begitu beragam. Jika memang pariwisata Bali Barat, Utara, dan Timur hendak dikembangkan, maka perlu disain besar atraksi mana di setiap kabupaten yang memiliki kekuatan daya tarik wisatanya.

Disain besar pariwisata Bali juga perlu menjelaskan posisi kelembagaan sosial ekonomi dalam industri pariwisata. Lembaga-lembaga tradisional perlu memiliki peran penting dalam pengembangan pariwisata. Bukan sekadar ikut berebut kue pariwisata, tetapi lebih penting adalah menjaga alam dan budaya Bali tetap lestari. Lembaga tradisional di tingkat desa harus memiliki kekuatan dan legalitas untuk menolak investor asing jika ditengarai akan merusak alam dan tatanan budaya Bali.

Perlu Terapi Kejut

Bali memerlukan kebijakan yang proaktif dan progresif. Kebijakan itu akan sulit dibuat jika hanya menunggu inisiatif pemerintah pusat. Jika diperlukan, Pemerintah Provinsi Bali dengan dukungan pemangku kepentingan pariwisata dapat membuat kebijakan yang dapat menimbulkan efek kejut dalam industri pariwisata.

Kebijakan yang bertujuan memberikan terapi kejut (shock therapy) memang kadang menyakitkan. Tetapi kebijakan itu diperlukan untuk mencegah dan menyembuhkan kerusakan Bali akibat industri pariwisata yang berjalan tanpa arah.

Pariwisata Bali sedang sakit karena berbagai tekanan yang hebat terhadap lingkungan fisik, sosial, ekonomi, adat, dan budaya. Pariwisata yang sakit membuat masyarakat Bali terpinggirkan di rumah mereka sendiri. Karenanya diperlukan terapi kejut untuk mempercepat penyembuhannya.

Moratorium sarana pariwisata menjadi salah satu pilihan terapi kejut. Semua rencana pembangunan sarana pariwisata dihentikan sementara untuk pemulihan kerusakan. Moratorium terutama diperlukan untuk destinasi di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan,

Sudah pasti terapi kejut moratorium akan mendapat reaksi pro dan kontra. Yang sepakat didasari oleh keprihatinan kerusakan alam dan budaya akibat eksploitasi pariwisata yang berlebihan. Yang menolak tentunya lantaran kepentingan politik dan bisnisnya terganggu.

Usulan agar Bali menjadi Daerah Istimewa dapat menjadi terapi kejut berikutnya. Istimewa apanya? Bukan pariwisata Bali yang istimewa. Agama, adat, dan budaya Bali yang istimewa, sehingga perlu diselamatkan. Untuk menjadi Daerah Istimewa, perlu suara kritis dan komitmen berbagai kalangan di Bali.

Terapi kejut lain yang bisa diterapkan di Bali adalah menjadikannya sebagai Daerah Otonom. Dengan menjadi Daerah Otonom, Bali memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus daerahnya sendiri; tanpa intervensi dan didikte dari pusat.

Bali adalah pulau kecil yang sarat beban akibat ekploitasi pariwisata secara terus-menerus. Seolah tanpa istirahat, Bali terus dipacu dan dituntut menghasilkan pendapatan dan devisa negara. Celakanya, hanya sedikit kewenangan bagi Bali untuk dapat mengatur masa depan pariwisata dan budaya mereka sendiri.

Masa depan Bali ada di tangan masyarakat Bali sendiri. Intervensi politik dan ekonomi yang berlebihan dari pusat kekuasaan mestinya perlu disikapi. Jika tidak, maka Bali secara perlahan akan keropos, hancur, dan lenyap dalam gempuran kapitalisme pariwisata. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali
Meraba Kecenderungan Pilihan Destinasi Wisata
Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Next Post

Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co